Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.
Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.
Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.
Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namun kali ini, takdir berubah.
Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.
Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
"Murid baru?" tanya Kieran, nadanya sopan namun berwibawa.
"I-iya. Rean Vale," jawab Rean, sedikit gugup namun berusaha menjawab dengan tenang.
"Kieran Ashford." Ia mengangguk singkat. "Selamat datang di 10-B."
Singkat, formal, tanpa basa-basi berlebihan — tapi tidak dingin. Kieran kemudian melangkah menuju bangkunya sendiri di dekat jendela belakang, disambut sapaan beberapa teman lain.
Rean menghembuskan napas yang tanpa sadar ia tahan. Entah kenapa, ada semacam tekanan tidak terlihat di sekitar sosok Kieran — bukan sesuatu yang buruk, hanya... aura seseorang yang terbiasa menjadi pusat perhatian.
"Jangan tegang gitu," Ethan menyikut lengannya sambil terkekeh pelan. "Kieran orangnya baik, kok. Cuma emang dari lahir udah kelihatan kayak pemeran utama aja gitu, hahaha."
Rean tersenyum kecil mendengarnya, meski tidak sepenuhnya paham maksud candaan itu. Namun untuk pertama kalinya, duduk di kelas yang ramai, dikelilingi obrolan dan tawa teman-teman barunya, Rean merasakan sesuatu yang selama bertahun-tahun hanya bisa ia bayangkan lewat halaman-halaman buku.
Ia benar-benar menjadi bagian dari dunia ini sekarang.
Dan di bangku dekat jendela, Kieran sesekali melirik ke arah anak baru itu, tanpa benar-benar tahu bahwa kehadiran sosok berwajah baby face tersebut kelak akan mengubah banyak hal dalam hidupnya — jauh lebih besar dari yang bisa ia duga saat ini.
Bel istirahat berbunyi nyaring, mengakhiri jam pelajaran ketiga. Rean masih sedikit kaku merapikan bukunya ketika Ethan sudah menepuk bahunya.
"Ayo, makan siang bareng. Kenalin kamu ke yang lain juga."
Kantin Starline jauh lebih besar dari yang Rean bayangkan — langit-langit tinggi berkaca, meja-meja kayu tertata rapi, dan aroma makanan dari berbagai penjuru bercampur menjadi satu. Rean mengikuti Ethan, Lucas, dan Adrian menuju salah satu meja panjang dekat jendela.
Di sanalah, untuk pertama kalinya, Rean melihat dari dekat sosok yang tadi pagi hanya ia lihat sekilas dari kejauhan.
"Eh, ada anak baru," seorang gadis berambut cokelat madu duduk di seberang meja menoleh, matanya langsung menangkap sosok Rean. Ia mengenakan seragam yang sama rapinya dengan yang lain, tapi ada sesuatu di caranya tersenyum yang membuat suasana sekitar terasa lebih hangat.
"Elora, ini Rean. Rean Vale," Ethan memperkenalkan sambil menaruh nampannya di meja. "Rean, ini Elora Roswell."
"Halo," sapa Rean, sedikit kaku namun sopan. "Senang berkenalan."
Elora menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, memperhatikan wajah baby face di depannya dengan mata berbinar yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
"Kamu... imut banget, ya," celetuknya spontan, lalu buru-buru menutup mulut dengan tangan begitu sadar ucapannya keluar begitu saja. "Eh—maksudku, salam kenal! Aku Elora."
Rean mengerjap, tidak sepenuhnya paham harus bereaksi bagaimana terhadap pujian semacam itu.
"Terima kasih," jawabnya polos, lalu duduk di kursi kosong yang ditunjukkan Ethan.
Di sebelah Elora, Lily Anderson menyikut pelan sambil menahan tawa, sementara Chloe hanya tersenyum geli melihat reaksi sahabatnya. Emma, seperti biasa, tetap tenang membaca buku sambil sesekali menyuap makanannya.
"Kamu dari kelas mana asalnya sebelum ini?" tanya Elora, mencoba mengalihkan topik dari kecanggungan tadi.
"Aku sebelumnya homeschooling," jawab Rean jujur. "Ini pertama kalinya aku benar-benar sekolah."
Ruangan itu sejenak hening. Ethan dan yang lain saling melempar pandang, tidak menyangka jawaban sesederhana itu.
"Wah, serius?" Lily membelalak. "Terus... gimana rasanya sekarang?"
Rean berpikir sejenak, mencoba merangkai kata yang tepat. "Ramai," katanya akhirnya, dengan senyum tulus yang muncul begitu saja. "Tapi aku suka. Rasanya menyenangkan."
Jawaban polos itu entah kenapa membuat suasana di meja itu terasa lebih hangat. Elora mendapati dirinya tersenyum tanpa sadar, memperhatikan cara Rean makan dengan hati-hati dan sopan, caranya menjawab pertanyaan dengan jujur tanpa berusaha terlihat keren di depan orang baru.
Anak ini benar-benar berbeda, pikirnya.
Ia belum tahu apa artinya perasaan kecil yang mulai tumbuh di dadanya hari itu. Yang ia tahu hanyalah, entah kenapa, ia ingin duduk di meja yang sama lagi besok.