NovelToon NovelToon
PARIS NOIR

PARIS NOIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan alternatif / Komedi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Yossi anugrah

Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.

Entahlah.

Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.

Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.

Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.

Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...

Bienvenue à Paris.

Aku akan menjadi pemandu kalian.

Oh, dan satu lagi...

Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 Amplop Putih

Aku menatap amplop putih itu.

Lalu perempuan di depanku.

Lalu amplopnya lagi.

Kemudian kembali ke perempuan itu.

"..."

"..."

Kami saling diam.

Léo yang akhirnya tidak tahan.

"Maël."

"Apa?"

"Kalau kau menatapnya lebih lama lagi..."

"Iya?"

"...dia bisa berubah jadi croissant?"

Aku menghela napas.

"Aku hanya sedang berpikir."

"Itu lebih mengkhawatirkan."

Perempuan itu terkekeh pelan.

Usianya mungkin sekitar tiga puluh tahun. Rambut cokelatnya diikat sederhana. Mantel krem yang dikenakannya masih sedikit berdebu, mungkin akibat tadi terjatuh saat tasnya dirampas.

Ia kembali mengulurkan amplop itu.

"Silakan."

"Ini tanda terima kasih."

Aku menggeleng cepat.

"Tidak usah."

"Kenapa?"

Aku mengangkat bahu.

"Rasanya aneh dibayar karena mengembalikan barang yang memang bukan milikku."

Léo langsung melirikku.

"Maël."

"Hm?"

"Kau demam?"

"Apa?"

"Biasanya kau tidak sebijak ini."

Aku menyikut lengannya.

"Sakit!"

"Biar kau sadar."

Perempuan itu tersenyum semakin lebar.

"Namaku Claire."

Aku mengangguk sopan.

"Maël."

"Léo."

Léo buru-buru menyela sambil mengangkat tangan.

"Kalau ada hadiah untuk orang paling tampan..."

"...itu saya."

Aku menatapnya datar.

"Percaya diri sekali."

"Gratis."

Claire tertawa.

Tawanya ringan.

Sudah lama aku tidak mendengar tawa seperti itu.

Bukan tawa mengejek.

Bukan tawa karena kasihan.

Melainkan tawa yang benar-benar tulus.

"Terimalah."

katanya lagi.

"Setidaknya untuk membeli makan."

Perutku...

Seolah sengaja memilih waktu yang tepat.

Grrrkkk...

Aku memejamkan mata.

Léo langsung menepuk bahuku.

"Nah."

"Itu dia yang bicara."

"Bukan aku."

Aku menunduk malu.

"Maaf."

Claire pura-pura tidak mendengarnya.

Tetapi senyumnya semakin sulit disembunyikan.

Di sampingnya, Adrien Moreau melipat kedua tangan.

"Ambillah."

katanya singkat.

"Kau tidak mencurinya."

"Kau mendapatkannya."

Aku masih ragu.

── Maël kepada kalian ──

Ini yang tidak pernah diceritakan orang.

Kadang menerima bantuan...

Jauh lebih sulit daripada mencarinya.

Karena kalau terlalu sering hidup sendiri...

Kalian mulai lupa bagaimana rasanya menerima kebaikan tanpa curiga.

── Kembali ke cerita ──

Pelan-pelan kuterima amplop itu.

"Merci."

Claire mengangguk.

"Sama-sama."

Ia melirik jam tangannya.

"Aku harus pergi."

Sebelum berjalan, ia berhenti sebentar.

"Oh ya."

katanya.

"Ada satu barang yang belum kukembalikan."

Aku mengernyit.

"Hm?"

Claire mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya.

Sebuah pin logam kecil.

Berbentuk burung layang-layang.

"Ini jatuh dari sakumu."

Aku mengambilnya.

Jantungku langsung berdegup lebih cepat.

Pin itu.

Aku mengenalnya.

Sangat mengenalnya.

"Terima kasih."

gumamku lirih.

Claire tersenyum sebelum berlalu bersama Adrien.

Aku memandangi pin itu cukup lama.

Léo ikut mendekat.

"Masih kau simpan?"

Aku mengangguk.

Pin itu sudah tua.

Cat birunya mulai mengelupas.

Di bagian belakangnya bahkan ada sedikit karat.

Namun bagiku...

Benda kecil itu lebih berharga daripada uang.

"Itu pemberian Marcel, kan?"

"Tiga tahun lalu."

jawabku pelan.

"Waktu pertama kali kita ketemu."

Aku memasukkannya kembali ke dalam saku bagian dalam jaket.

Di tempat yang paling aman.

Léo menepuk pundakku.

"Ayo."

"Kita lihat isi amplopnya."

Aku baru ingat.

"Oh iya."

Kami berjalan menuju bangku taman kecil di dekat Sungai Seine.

Di sana tidak terlalu ramai.

Hanya ada beberapa orang yang sedang memberi makan burung merpati.

Aku membuka amplop itu perlahan.

Tidak tebal.

Aku mengeluarkan isinya.

Beberapa lembar uang euro.

Dan...

Sebuah kartu nama.

Aku mengangkat alis.

"Hah?"

Léo ikut membaca.

Di kartu itu tertulis:

Claire Beaumont

Galerie Beaumont

Kurator Seni

Alamatnya berada di kawasan Le Marais.

Aku membalik kartu itu.

Di belakangnya ada tulisan tangan.

"Kalau suatu hari kau butuh pekerjaan yang jujur, datanglah."

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Lalu tiga kali.

Léo bersiul pelan.

"Wah..."

"Apa?"

"Ada orang yang menawarkan pekerjaan."

Aku mendengus.

"Belum tentu."

"Katanya datang."

"Belum tentu diterima."

Léo menyenggolku.

"Kau pesimis sekali."

"Aku realistis."

"Tidak ada bedanya."

"Oh, ada."

"Apa?"

"Realis biasanya tetap punya harapan."

Aku melipat kartu itu dengan hati-hati.

Kemudian kusimpan di dompet kecilku.

Dompet itu bahkan lebih tipis daripada buku catatan.

Isinya hanya uang receh...

Dan sekarang...

Sebuah kemungkinan.

Tiba-tiba perutku berbunyi lagi.

Léo menatapku sambil tersenyum jahil.

"Jadi..."

katanya.

"Orang jujur."

"Mau makan apa?"

Aku melihat uang di dalam amplop.

Jumlahnya cukup banyak.

Lebih banyak daripada yang biasanya kuhasilkan dalam tiga hari.

Aku tersenyum.

"Croissant."

"Lalu?"

"Sup bawang."

"Lalu?"

"Cokelat panas."

"Lalu?"

Aku menoleh.

"Léo."

"Apa?"

"Kita beli dua."

Mata Léo membelalak.

"Dua?"

"Iya."

"Untuk kita?"

Aku menggeleng.

"Bukan."

"Untuk Marcel."

Léo terdiam.

Lalu tersenyum kecil.

"Itu baru Maël."

Aku tertawa.

"Jangan bilang ke Marcel."

"Kenapa?"

"Nanti dia menangis."

"Marcel?"

"Iya."

"Dia selalu bilang debu masuk mata."

Kami berjalan meninggalkan taman.

Tanpa kusadari...

Di seberang jalan...

Seseorang berdiri memperhatikan kami.

Pria berjas hitam.

Topi fedora.

Sarung tangan kulit.

Tatapannya tidak pernah lepas dari pin berbentuk burung layang-layang yang tadi sempat kupegang.

Ia mengangkat ponsel.

Lalu berkata pelan,

"Je l'ai trouvé."

"Aku menemukannya."

Aku tidak mendengar satu kata pun.

Aku hanya sibuk membayangkan rasa croissant hangat yang sebentar lagi akan memenuhi perutku.

Dan kadang...

Malapetaka memang datang ketika seseorang sedang merasa paling bahagia.

── Maël kepada kalian ──

Kalian percaya kebetulan?

Aku dulu juga percaya.

Sampai akhirnya aku sadar...

Beberapa pertemuan memang terlihat seperti kebetulan.

Padahal...

Seseorang sudah mengaturnya sejak lama.

1
aytysz
Semangat yaa kak! kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku 🤍 di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka 💙
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!