NovelToon NovelToon
Sang Dewa Cangkul Sakti

Sang Dewa Cangkul Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.

​Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.

​Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Kepiawaian Yang Wei

Keping koin emas itu berdenting pelan. Berputar lincah di sela-sela jari kasar penuh kapalan milik Yang Wei. Koin itu tidak pernah jatuh, terus berputar seolah memiliki nyawa sendiri di bawah temaram lampu kedai teh pinggiran kota yang suram.

Pagi itu, aroma teh murah berpadu dengan bau kayu lapuk. Yang Wei duduk santai di sudut paling gelap, masih mengenakan pakaian lusuhnya yang penuh noda lumpur kering bekas bertani kemarin sore. Penampilannya sangat kontras dengan pria di hadapannya.

Pria itu mengenakan jubah sutra mahal yang sangat halus, namun wajahnya sengaja disembunyikan di balik tudung gelap. Ia adalah seorang ketua serikat dagang elit yang biasanya sangat disegani di pusat kota. Namun saat ini, pria berharta itu justru tampak gelisah, sesekali menyeka dahinya yang basah oleh keringat dingin.

Yang Wei tersenyum tipis. Tidak ada wajah petani lugu atau senyum konyol yang biasa ia tunjukkan di rumah. Sorot matanya begitu tajam, sedalam jurang tanpa dasar.

'Dasar penakut, baru dikepung sedikit saja sudah gemetar,' batin Yang Wei sambil mempertahankan ekspresi datarnya.

Menggunakan ujung pipa tembakaunya, Yang Wei menggeser secarik kertas perkamen kumal ke tengah meja. Kertas itu berisi coretan garis-garis rumit yang membentuk rute distribusi rahasia.

Ketua serikat dagang itu menelan ludah. Ia memandangi kertas itu dengan tangan sedikit gemetar.

"Klan Li dan Xian mulai memblokir jalur utara," bisik ketua serikat itu, suaranya sangat lirih, khawatir ada telinga lain yang mendengar. "Tuan... eh, Kakang Yang, kita harus menghentikan suplai."

Yang Wei tidak langsung menjawab. Ia mengetuk koin emasnya ke atas meja kayu dengan satu ketukan pelan namun mantap. Tok.

"Gunakan jalur gorong-gorong air bekas tambang di wilayah timur," tutur Yang Wei datar. "Mereka terlalu arogan untuk merangkak di lumpur, dan kau akan mendapat keuntungan dua kali lipat dari kelangkaan ini."

Mendengar itu, sang ketua serikat dagang tertegun. Rasa kagum sekaligus ngeri terpancar jelas dari matanya yang pucat. Pria perkasa di hadapannya ini bukan sekadar petani beruntung, melainkan seorang ahli taktik yang dingin.

Yang Wei mengembuskan asap pipa tembakau ke udara, mengaburkan pandangan mereka berdua selama beberapa detik.

Brak!

Suara hantaman keras tiba-tiba terdengar dari arah luar, memutus keheningan kedai teh tersebut secara kasar.

Matahari kini sudah naik ke tengah langit, menyinari pos penjagaan sektor perbatasan dengan terik yang menyengat kulit.

Gerbang kayu besar yang melintang di tengah jalan raya dijaga ketat oleh belasan prajurit lapis baja. Mereka adalah bawahan Klan Li, lengkap dengan tombak panjang yang berkilau tajam di bawah sinar matahari. Jalur utama menuju kota telah ditutup total.

Sebuah kereta kayu sederhana yang ditarik oleh seekor keledai tua terpaksa berhenti di depan barikade. Kereta itu penuh dengan tumpukan keranjang anyaman berisi sayur-mayur segar.

"Berhenti!" bentak salah satu penjaga dengan wajah masam. Ia langsung melangkah maju dan menghunuskan ujung tombaknya tepat di depan hidung sang kusir. "Semua muatan harus disita!"

Yang Wei, yang duduk di kursi kemudi dengan topi jerami lebarnya, segera melompat turun dari kereta. Tubuhnya membungkuk berkali-kali, menunjukkan sikap tunduk yang teramat sangat.

"Ampun, Tuan Penjaga. Ampun," ratap Yang Wei dengan suara bergetar, tampak seperti rakyat jelata yang ketakutan setengah mati menghadapi kemarahan aparat klan. "Kami hanya petani miskin yang ingin menjual sisa panen."

"Persetan dengan petani miskin!" gertak penjaga itu, mendorong pundak Yang Wei hingga ia limbung ke belakang. "Cepat turunkan semua barang ini sebelum aku menusuk lehermu!"

Saat terdorong mundur itulah, sebuah benda kecil tergelincir jatuh dari balik lipatan jubah kumal Yang Wei. Benda itu mendarat di atas tanah berdebu tepat di dekat sepatu bot sang penjaga.

Itu adalah sebuah lencana kayu kusam yang sudah sangat tua, tampak kotor terkena noda tanah kering.

Penjaga itu awalnya berniat menendang mainan kayu tersebut, namun matanya tiba-tiba menangkap detail ukiran di permukaannya.

Napasnya seketika tercekat di tenggorokan.

Seluruh tubuh penjaga itu mendadak kaku bagai batu. Wajahnya yang semula merah padam karena marah kini berubah pucat pasi, persis seperti mayat. Bahkan tombak di tangannya bergetar hebat hingga ujung besi tajamnya berdenting pelan.

"I-ini... maafkan... maafkan kelancangan kami! Silakan lewat!" tutur penjaga itu dengan suara yang bergetar hebat, buru-buru menurunkan tombaknya ke tanah.

Yang Wei dengan cepat berjongkok, memungut lencana kayu itu lalu buru-buru menyembunyikannya kembali ke balik kantong bajunya. Ia tertawa canggung, sambil menggaruk bagian belakang kepalanya dengan polos.

"Ah, Tuan Penjaga terlalu baik pada petani tua seperti saya," sahut Yang Wei dengan senyum lebar yang terlihat konyol. "Terima kasih banyak, Tuan. Terima kasih!"

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Yang Wei segera menuntun keledainya melewati barikade kayu yang perlahan dibuka oleh para penjaga lain yang juga tampak kebingungan sekaligus ketakutan. Kereta kayu itu melenggang bebas, meninggalkan sekelompok prajurit tangguh yang masih berdiri gemetar di tengah jalan berdebu.

Senja perlahan turun, menyisakan warna merah jingga yang mulai memudar di ufuk barat.

Di dalam dapur belakang rumah kediaman keluarga Yang, suasana terasa sangat sunyi. Cahaya temaram dari lampu minyak di sudut ruangan hanya mampu menerangi sebagian kecil meja kayu yang sudah lapuk.

Di atas meja itu, puluhan biji jagung kuning tersusun sangat rapi, membentuk formasi-formasi aneh di atas selembar peta kulit kasar yang menggambarkan seluruh wilayah teritorial kota dan perbatasan klan.

Yang Wei duduk membelakangi pintu masuk. Jari-jarinya yang kasar bergerak dengan kecepatan luar biasa, menggeser dan menata biji jagung itu seolah sedang memimpin ribuan pasukan tempur di atas papan catur raksasa. Matanya berkilat penuh konsentrasi yang sangat tajam, merancang rute untuk menembus kepungan musuh tanpa meninggalkan celah sedikit pun.

Langkah kaki terdengar mendekat, berhenti tepat di ambang pintu dapur yang terbuka.

Yang Chan berdiri di sana dengan kedua tangan bersilang di dada. Ia yang bosan kemudian menyipitkan matanya, mengamati dengan saksama.

Memusatkan Qi di bagian matanya, wujud getaran aura tipis berwarna keemasan mulai muncul, samar-samar menyelimuti tubuh ayahnya.

'Getaran aura ini...'

Kerutan tipis muncul pada dahi Yang Chan. Ia sudah sering melihat ayahnya melakukan hal ambigu seperti ini, ia hanya menganggap kegiatan ini sebagai rutinitas hiburan. Namun setelah melihat ini...

"Ayah..." tegur Yang Chan dengan nada santai, suaranya memecah keheningan malam yang sunyi. "... Sungguh hebat, aku tidak menyangka bahwa ada metode Kultivasi seperti ini."

Mendengar suara anaknya, gerakan tangan Yang Wei seketika terhenti. Tubuhnya sempat menegang selama sepersekian detik sebelum akhirnya ia melakukan gerakan menyapu yang sangat heboh.

Srak!

Seluruh biji jagung di atas peta kulit itu berantakan dalam sekali sapu. Yang Wei buru-buru melipat peta kasar itu dan menjejalkannya ke bawah meja dengan gerakan panik yang sengaja dibuat-buat.

Ia lalu berbalik dengan cepat, memasang wajah kaget yang sangat berlebihan sembari tertawa terbahak-bahak hingga deretan giginya terlihat jelas.

"Hahaha! Kau mengagetkan Ayah saja, Chan!" seru Yang Wei dengan suara keras, mencoba menutupi kegugupannya sembari menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Ini... ini hanya ramalan cuaca tradisional! Ya, ramalan cuaca untuk menanam besok pagi!"

Yang Chan tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya menyandarkan bahunya pada kusen pintu.

'Kenapa ayah kaget begitu?'

1
ಠ⁠ω⁠ಠ
oke, kalau jurusnya pakai bahasa inggris keren juga ya /Sweat/, tapi aku kembalikan ke kalian. Apakah perlu aku revisi agar jadi bahasa indo saja, atau aku pertahankan perubahannya? /Slight/
ಠ⁠ω⁠ಠ: /Scare//Scare//Scare/
total 2 replies
Sulaeman Effendi
bagaimana selanjutnya ?
Sulaeman Effendi
kapan peningkatan kultifasi nya?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Sebenarnya aku lupa perhatiin aspek Kultivasinya /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
seorang pendekar yang bijak 👍
Sulaeman Effendi
tehnik yang tepat 👍😄
Sulaeman Effendi
Asyik tanpa risiko berhasil memuaskan 👍
Sulaeman Effendi
era baru menjelajahi hutan
Sulaeman Effendi
mulai terasa ada perkembangan pertemanan yg menggetarkan
Sulaeman Effendi
iya boy, hidup tenang, menyenangkan dan berhasil gemilang 👍💪😀
Sulaeman Effendi
awal untuk maju dengan sekolah boy
Sulaeman Effendi
sekolah apa kuliah boy
ಠ⁠ω⁠ಠ: Agak beda ini, nggak mirip sekolah, kuliah juga gak mirip /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy ?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Iya, sekolah. Tapi enggak fokus ke sekolahnya, lebih ke hal lain di sekolah/akademi /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy agar pintar dan sakti
Sulaeman Effendi
Tingkatkan terus Boy
M Mugni
ceritanya mantap 💪💪💪
Sulaeman Effendi
terus semangat Boy 💪
Sulaeman Effendi
tak disangka ternyata hebat
ಠ⁠ω⁠ಠ: Udah ada tanda-tandanya /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
waduh bagaimana selanjutnya???
Sulaeman Effendi
bangkitlah petani miskin tunjukkan taring mu
Sulaeman Effendi
mulai seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!