Bagi Lina, pengorbanan adalah bahasa cinta. Ia rela menelan ego, mengubur ambisi, dan menjadi istri sempurna demi Raka, pria yang ia cintai sejak kuliah. Namun, retakan mulai muncul ketika Raka sering pulang larut dengan alasan pekerjaan, sementara Lina sibuk mengurus rumah tangga mereka yang terasa semakin hampa.
Puncaknya terjadi pada malam ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5. Bukan hadiah mewah yang Lina temukan di meja makan, melainkan notifikasi dari ponsel Raka yang tertinggal. Pesan itu bukan dari rekan kerja, melainkan dari "Sayang"—yang ternyata adalah Dinda, adik kandung Lina sendiri. Gadis manis yang selalu Lina lindungi, yang sering menginap di rumah mereka karena "masalah di kosannya", dan yang selalu memeluk Lina erat sambil berbisik, "Kakak adalah segalanya bagiku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA PELARIAN
Mobil Arka akhirnya berhenti di sebuah gang sempit di pinggiran kota, tepat di depan rumah mungil dengan pagar besi yang berkarat. Di atas pagar, tergantung spanduk bertuliskan "Jual Beli Barang Bekas & Jasa Pijat Refleksi – Tanya Ibu Tuti".
"Ini?" tanya Lina, menatap rumah itu dengan skeptis. "Ini markas rahasia mantan sniper elit?"
"Jangan remehkan penampilan," kata Arka sambil mematikan mesin. "Ibu Tuti bilang, tempat terbaik untuk bersembunyi adalah tempat yang paling membosankan. Siapa yang akan mencari buronan politik di tengah tumpukan barang bekas dan bau kaki?"
Mereka turun dari mobil. Hujan sudah reda, diganti oleh gerimis halus yang menyebalkan. Sebelum mereka sempat mengetuk pintu, pintu kayu jati itu terbuka sendiri.
Ibu Tuti berdiri di ambang pintu. Dia tidak lagi mengenakan daster bunga-bunga khas ibu-ibu arisan. Kali ini, dia mengenakan seragam loreng hijau tua yang agak kekecilan di bagian perut, topi baret merah miring, dan kacamata baca yang digantung di leher dengan tali pramuka. Di tangannya, ada sebuah centong nasi besar yang terlihat mengancam.
"Masuk! Cepat!" bisik Ibu Tuti tajam, menarik lengan Lina dan Arka ke dalam. "Kalau tetangga lihat, mereka bakal kira kita lagi ngadain pengajian gelap atau judi togel."
Mereka diseret masuk ke ruang tamu yang penuh dengan patung kucing Hello Kitty dan kaleng-kaleng biskuit marie yang disusun rapi. Tapi di sudut ruangan, terdapat pintu trapdoor tersembunyi di bawah karpet bulu sintetis berwarna pink mencolok.
"Bunker?" tanya Arka, mengangkat alis.
"Bukan bunker militer," koreksi Ibu Tuti sambil membuka trapdoor itu. "Ini gudang penyimpanan kimchi fermentasi tahun 1998. Baunya mungkin agak... pungent. Tapi aman dari radar satelit. Dan yang lebih penting, aman dari suami saya yang suka nyuri uang jajan buat beli ikan asin."
Mereka turun ke tangga sempit. Udara di bawah tanah memang berat, berbau asam kuat yang membuat mata perih. Ruangan itu kecil, hanya berisi rak-rak kaca besar berisi sayuran putih yang direndam cairan merah pekat. Di tengah ruangan, ada satu meja lipat plastik dan tiga kursi goyang.
"Duduk," perintah Ibu Tuti, menutup trapdoor di atas mereka. Suara klik kunci terdengar
Lina duduk di kursi goyang, merasa sedikit pusing karena bau kimchi yang sudah berusia hampir tiga dekade. "Bu Tuti... terima kasih. Tapi... ibu benar-benar mantan sniper?"
Ibu Tuti tertawa renyah, lalu mengambil sebuah toples kimchi, membukanya, dan menyendok isinya langsung ke mulutnya dengan sendok makan. Crunch.
"Dulu, zaman Orde Baru, saya bagian dari unit khusus," katanya santai sambil mengunyah. "Tugas utama saya? Mengintai target dari jarak jauh dan... memastikan mereka 'diam' selamanya. Tapi setelah pensiun, saya bosan. Membunuh orang itu nggak ada tantangannya kalau musuhnya cuma politikus korup yang gemuk dan lambat. Jadi, saya pindah ke hobi baru: mengumpulkan gosip tetangga dan membuat kimchi. Lebih memuaskan. Dan lebih sehat."
Arka menatap wanita tua itu dengan hormat bercampur ngeri. "Jadi, tembakan tadi..."
"Latihan saja," kata Ibu Tuti sambil melirik kuku jarinya yang dicat merah menyala. "Saya sengaja meletuskan ban mobil Victor supaya dia panik. Kalau saya mau membunuh, saya nggak akan kena ban. Saya akan kena... eh, lupakan. Itu rahasia negara."
Lina tersenyum tipis. Rasanya aneh bisa tertawa di tengah situasi genting seperti ini. Tapi kehadiran Ibu Tuti yang absurd memberikan rasa normalitas yang lucu.
"Oke, Bu Tuti," kata Lina. "Sekarang kita di sini. Ayah saya mungkin sedang diinterogasi polisi. Victor mungkin marah besar. Dan Raka... entah di mana. Dinda sudah kabur ke Swiss dengan uang hasil kejahatan. Apa rencana selanjutnya?"
Ibu Tuti menelan kimchinya, lalu menatap Lina serius. Matanya yang tadi bercanda kini tajam seperti elang.
"Rencananya sederhana," kata Ibu Tuti. "Kita tunggu badai reda. Polisi akan sibuk dengan kasus korupsi ayahmu. Victor akan sibuk mencoba menyelamatkan aset tanahnya yang sekarang disita negara karena bukti yang kamu berikan. Dan Raka... well, Raka akan sadar bahwa dia telah dimanfaatkan oleh semua orang, termasuk adik iparnya sendiri."
"Lalu Dinda?" tanya Lina, suaranya datar.
"Dinda?" Ibu Tuti mengerutkan hidung. "Dia akan belajar bahwa hidup di Swiss itu mahal. Dan uang haram itu cepat habis kalau kamu nggak punya skill kerja selain tidur sama orang kaya. Biarkan dia menikmati 'liburan'-nya. Nanti juga balik kok. Biasanya sih, balik dalam keadaan bangkrut dan hamil anak kedua dari pria lain. Siklus alamiah wanita materialistis."
Arka tertawa. "Analisis yang sangat ilmiah, Bu."
"Tapi," lanjut Ibu Tuti, menunjuk Lina dengan centong nasinya, "kamu nggak bisa diam saja, Lin. Kamu harus muncul kembali. Bukan sebagai korban. Tapi sebagai saksi kunci yang kooperatif. Kamu harus memberikan kesaksian lengkap tentang peran ayahmu dan Victor. Dengan begitu, nama kamu bersih. Harta yang tersisa yang nggak disita negara—bisa kamu klaim sebagai hak sah korban penipuan."
Lina mengangguk perlahan. "Dan setelah itu?"
"Setelah itu," kata Ibu Tuti sambil berdiri, "kamu mulai hidup baru. Mungkin buka usaha kimchi bersama saya? Atau jadi detektif swasta? Kamu punya bakat observasi yang bagus. Dan Arka..." Dia menoleh pada Arka. "...kamu bisa jadi asisten pribadi yang ganteng tapi cerewet."
Arka pura-pura tersinggung. "Hei, saya bukan cerewet. Saya detail-oriented."
"Same thing," celetuk Ibu Tuti.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan keras dari atas trapdoor. Tok! Tok! Tok!
Ketiganya membeku.
"Siapa itu?" bisik Lina panik.
Ibu Tuti mengambil pisau dapur dari saku celana lorengnya (ya, dia menyimpan pisau di saku). Dia memberi isyarat pada Arka dan Lina untuk diam.
Pintu trapdoor terbuka perlahan. Wajah seorang pria muda muncul. Dia mengenakan seragam kurir paket.
"Paket untuk Ibu Tuti!" panggil kurir itu lantang. "Ada tanda tangan!"
Ibu Tuti menghela napas lega, lalu naik ke atas dengan lincah. Beberapa detik kemudian, dia kembali turun membawa sebuah kotak kardus kecil.
"Apa itu?" tanya Arka penasaran.
"Baju baru," jawab Ibu Tuti sambil membuka kotak itu. Isinya adalah sebuah jaket bomber hitam keren dengan tulisan "I Survived My Family Drama" di punggungnya.
"Untuk kamu, Lin," kata Ibu Tuti sambil melempar jaket itu ke arah Lina. "Hadiah selamat datang di dunia bebas. Pakai itu besok saat kamu menghadap polisi. Biar kelihatan keren. Dan biar wartawan foto kamu dari belakang. Gratis publisitas."
Lina memegang jaket itu. Bahannya lembut, hangat. Dia tersenyum, kali ini senyuman yang tulus dan ringan.
"Terima kasih, Bu Tuti," kata Lina. "ibu benar-benar orang yang luar biasa."
"Ah, biasa saja," kata Ibu Tuti sambil duduk kembali dan membuka toples kimchi lainnya. "Yang luar biasa itu kimchi saya. Mau coba? Rasanya seperti kemenangan."
Lina mengambil sepotong kimchi, memasukkannya ke mulut. Pedas, asam, dan segar. Persis seperti hidupnya sekarang. Kacau, menyakitkan, tapi penuh kehidupan.
Di bawah tanah, di tengah bau kimchi tua, tiga orang yang tak terkait oleh darah tapi terikat oleh nasib aneh ini duduk bersama. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi malam ini, mereka aman. Dan itu cukup.
"Ngomong-ngomong," kata Arka tiba-tiba, memecah keheningan. "Apakah kimchi tahun 1998 ini masih layak makan? Atau kita akan keracunan bakteri purba?"
Ibu Tuti menatapnya datar. "Kalau kamu mati, berarti kamu lemah. Dan orang lemah nggak cocok jadi asisten detektif."
Arka tertawa gugup. Lina tertawa lepas.
Dan di luar sana, dunia terus berputar. Tapi di dalam bunker kimchi ini, waktu seolah berhenti sejenak, memberi mereka ruang untuk bernapas, tertawa, dan bersiap untuk babak berikutnya.
Babak di mana Lina bukan lagi putri yang hilang, tapi ratu yang baru saja menemukan mahkotanya—yang terbuat dari baja, pedas, dan sedikit berbau asam.