NovelToon NovelToon
Sinyal Terakhir

Sinyal Terakhir

Status: tamat
Genre:Sci-Fi / Dunia Masa Depan / Fantasi / Tamat
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Mirage Ink

SINYAL TERAKHIR

Sinopsis

Tahun 2487.

Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?

Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.

Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 – Memasuki Pos Observasi Tujuh

ESS Horizon terus bergeser menuju struktur raksasa itu.

"Jarak tinggal lima belas kilometer," lapor Niko.

Mesin pendorong utama masih menyala penuh.

Namun hasilnya hampir tidak terasa.

Darius melihat data reaktor.

"Kita mengeluarkan delapan puluh persen daya."

"Kecepatan tetap bertambah."

Kapten Idris mengambil keputusan.

"Matikan pendorong."

Beberapa kru menoleh.

"Kapten?"

"Kalau tarikan itu memang tidak bisa dilawan, kita hanya membuang energi."

Darius mengangguk.

"Pendorong dimatikan."

Getaran di dalam kapal langsung berkurang.

ESS Horizon tetap meluncur perlahan menuju Pos Observasi Tujuh.

---

"AURA."

"Ya, Kapten."

"Hitung kemungkinan tabrakan."

"Tidak terdeteksi."

"Lho?" gumam Evan.

Pilot utama itu memperbesar simulasi lintasan.

ESS Horizon tidak mengarah ke dinding struktur.

Sebaliknya, salah satu sisi struktur perlahan terbuka membentuk lorong raksasa.

Panjang lorong hampir delapan kilometer.

Lebarnya cukup untuk dilewati tiga kapal seukuran Horizon secara berdampingan.

Reza menghela napas.

"Sepertinya mereka memang mengundang kita."

"Tetap waspada," jawab Kapten Idris.

---

Di laboratorium, Lyra masih mempelajari simbol-simbol yang direkam drone.

Leo masuk membawa tablet.

"Aku mencoba mencocokkannya dengan bahasa manusia."

"Hasilnya?"

"Tidak ada yang cocok."

Lyra menunjuk salah satu simbol.

"Yang ini muncul berulang."

Leo memperbesar gambar.

"Benar."

"Kalau ini sebuah bahasa..."

"...simbol itu mungkin memiliki fungsi seperti spasi, angka, atau tanda baca."

Leo tersenyum.

"Setidaknya kita punya titik awal."

---

Sementara itu, Reza memeriksa perlengkapan keamanan.

"Senjata kejut?"

"Lengkap."

"Pelindung medan?"

"Normal."

Seorang petugas bertanya, "Kita benar-benar akan turun ke sana?"

Reza menjawab tenang.

"Belum tentu."

"Tugas kita bersiap, bukan menebak keputusan Kapten."

---

ESS Horizon akhirnya memasuki lorong raksasa.

Tidak ada benturan.

Tidak ada getaran.

Seolah-olah kapal sedang dipandu oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Lampu-lampu di sepanjang lorong menyala satu per satu saat Horizon melintas.

Owen memperhatikan sensor.

"Aneh."

"Apa lagi?" tanya Darius.

"Medan gravitasi di dalam lorong sama persis dengan gravitasi buatan PPM."

"Kebetulan?"

"Aku tidak percaya kebetulan."

---

Beberapa menit kemudian lorong berakhir di sebuah ruang berbentuk kubah.

Diameter ruangan itu lebih dari dua puluh kilometer.

Di tengahnya terdapat platform melingkar.

Tanpa ada perintah dari siapa pun, ESS Horizon berhenti tepat di atas platform tersebut.

Kemudian...

seluruh mesin kapal mati.

Lampu dek komando sempat padam selama satu detik sebelum menyala kembali menggunakan daya cadangan.

Darius langsung berdiri.

"Bukan reaktor yang mati."

"Lalu?"

"Seseorang memutus hubungan antara reaktor dan sistem penggerak."

"Apa bisa diperbaiki?"

"Bisa."

"Tapi sistemnya seperti... dikunci."

---

AURA tiba-tiba berbicara.

"Perhatian."

"Saya menerima transmisi."

Leo segera membuka konsol komunikasi.

"Dari mana?"

"Tidak diketahui."

"Putar."

Suara statis terdengar selama beberapa detik.

Lalu sebuah suara pria yang tenang memenuhi dek komando.

> "Selamat datang..."

Suara itu berhenti sejenak.

> "...ESS Horizon."

Semua kru saling berpandangan.

Suara itu kembali terdengar.

> "Sudah seratus dua puluh enam tahun..."

> "...sejak manusia terakhir memasuki tempat ini."

Kael maju selangkah.

"Siapa Anda?"

Tidak ada jawaban.

Sebaliknya, layar utama berubah menampilkan denah sederhana struktur.

Sebuah titik hijau berkedip.

Di bawahnya muncul tulisan:

**RUANG PERTEMUAN**

Beberapa detik kemudian muncul kalimat berikutnya.

**MAKSIMAL EMPAT ORANG.**

---

Kapten Idris menatap seluruh kru.

"Kita tidak mungkin mengirim semua orang."

Reza langsung menyahut.

"Aku ikut."

"Keamanan tetap prioritas."

Kael mengangguk.

"Aku juga."

Lyra menatap denah di layar.

"Kalau tempat ini memang pusat penelitian, mungkin mereka membutuhkan seseorang dari divisi ilmiah."

Kapten Idris mengangguk.

"Baik."

Ia melihat satu per satu anggota kru.

"Yang turun hanya empat orang."

"Aku."

"Kael."

"Reza."

"Lyra."

"Lalu kami?" tanya Mira.

Kapten Idris menjawab tegas.

"Darius tetap memantau reaktor."

"Niko dan Evan siaga di jembatan."

"Leo terus analisis sinyal."

"Rina salin semua data yang bisa diakses."

"Hana dan Owen lanjutkan pemindaian struktur."

"Mira siapkan ruang medis."

Semua menjawab hampir bersamaan.

"Siap, Kapten."

---

Pintu hanggar ESS Horizon terbuka perlahan.

Empat orang melangkah keluar mengenakan baju antariksa ringan lengkap dengan pelindung medan.

Begitu kaki mereka menyentuh platform...

AURA memberikan laporan terakhir.

"Atmosfer terdeteksi."

"Kandungan oksigen 20,9 persen."

"Tekanan udara normal."

"Radiasi aman."

Lyra melihat hasil analisis itu dan tersenyum tipis.

"Kalau begitu..."

Ia melepas helmnya.

Semua terkejut.

"Dokter!" seru Reza.

Lyra menarik napas dalam.

"Udara ini... benar-benar bisa dihirup."

Kael ikut memeriksa datanya.

Beberapa detik kemudian ia juga melepas helm.

Udara terasa sejuk.

Tidak berbau.

Sama seperti udara di koloni-koloni manusia.

Di ujung platform, sebuah pintu logam perlahan terbuka dengan sendirinya.

Di baliknya hanya ada satu lorong panjang yang diterangi cahaya putih.

Seseorang...

atau sesuatu...

sedang menunggu mereka di dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!