Kirana adalah gadis pekerja keras yang hidup sederhana, rela lembur sampai larut malam demi menabung untuk masa depan yang lebih baik. Suatu malam saat hujan deras mengguyur kota, ia melihat seekor anak kucing terlantar di tengah jalan. Tanpa ragu ia menolongnya, namun justru ia yang tertabrak truk melaju kencang. Di detik-detik terakhir hidupnya, Kirana memohon dengan sekuat tenaga agar diberi kesempatan hidup sekali lagi.
Saat terbangun, ia tidak lagi berada di jalan raya atau rumah sakit. Ia kini menempati tubuh Elena—istri dari Leonid, seorang pemimpin kelompok mafia yang ditakuti banyak orang. Elena asli dikenal wanita yang licik, kejam pada anak kandungnya sendiri yang baru berusia empat tahun bernama Alvaro, serta diam-diam menjalin hubungan gelap dan merencanakan pelarian membawa harta suaminya.
Kini Kirana harus bertahan hidup dengan menyamar sebagai Elena. Ia berj
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam yang Berbeda
Bab 5
Sisa ketakutan masih terasa merayap di sekujur tubuh Elena saat ia mengatur napasnya kembali. Ia menatap pintu tempat Rian menghilang, lalu beralih menatap Alvaro yang masih terlelap tenang. Ia tahu ancaman itu bukan sekadar angin lalu. Rian adalah bahaya nyata yang akan terus mengintai setiap langkahnya. Namun ia juga tahu, ia tidak bisa terus bersembunyi. Mulai hari ini, ia harus berani berdiri tegak melindungi apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya.
Perlahan Alvaro mulai bergerak. Matanya yang mungil terbuka perlahan, mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya ruangan yang mulai remang. Saat melihat Elena ada di sampingnya, wajah kecil itu tidak lagi menunjukkan ketakutan seperti biasanya, melainkan senyum malu-malu yang sangat tipis namun tulus.
"Mama..." panggilnya pelan, suaranya masih serak sisa tangis tadi.
Elena langsung merangkul tubuh kecil itu lembut. "Iya, sayang. Mama di sini. Kamu sudah bangun? Ayo kita cuci muka, nanti kita makan malam bersama Ayah."
Alvaro mengangguk patuh. Dengan bantuan Elena, anak itu turun dari tempat tidur. Dulu, Elena asli akan mendorongnya kasar atau membiarkannya berjalan terhuyung-huyung sendiri. Tapi sekarang, Elena menggandeng tangan kecil itu erat, membimbingnya ke kamar mandi, membasuh wajah dan tangannya dengan lembut, bahkan mengajaknya berbicara pelan seolah mereka adalah sahabat lama. Alvaro hanya diam mendengarkan, tapi matanya berbinar penuh rasa ingin tahu dan harapan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Setelah Alvaro tampak lebih segar, Elena merapikan pakaian anak itu, lalu membetulkan sedikit bajunya sendiri. Ia menarik napas panjang sebelum melangkah keluar kamar, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdebar kencang. Saat berjalan menuruni tangga, suara langkah kaki mereka terdengar jelas di rumah yang besar itu. Semua pelayan yang berpapasan menunduk hormat, namun dari sudut mata mereka terlihat rasa heran yang tak bisa disembunyikan—melihat Nyonya yang dulu angkuh dan kejam kini berjalan menggandeng tangan putranya dengan penuh kasih sayang.
Di ruang makan, Leonid sudah duduk menunggu. Meja makan panjang itu penuh dengan berbagai hidangan lezat, namun suasananya biasanya dingin dan hening. Saat melihat mereka berdua masuk, Leonid meletakkan gelas yang dipegangnya. Matanya menatap lama pada tangan mereka yang saling bertaut, lalu beralih ke wajah Alvaro yang kini berani mengangkat kepala sedikit.
"Duduklah," ucap Leonid singkat, namun nadanya tidak setajam biasanya.
Elvaro ragu sejenak, namun saat Elena membimbingnya duduk di kursi kecil yang disiapkan di samping kursi Elena, anak itu duduk dengan tenang. Makan malam dimulai dalam keheningan yang canggung. Leonid makan dengan tenang, matanya sesekali melirik ke arah mereka. Elena mengisi piring Alvaro dengan makanan yang mudah dikunyah, sesekali menyuapinya dengan lembut.
"Makanlah sendiri kalau sudah bisa," ucap Leonid tiba-tiba.
Alvaro tersentak, hampir menjatuhkan sendoknya. Elena segera menenangkan anak itu, lalu menatap Leonid tenang. "Dia masih kecil, Leonid. Dan dia butuh waktu untuk terbiasa. Biarkan aku membantunya sebentar."
Leonid terdiam, menatap piringnya sendiri. "Dia anakku. Dia harus kuat."
"Kuat bukan berarti harus kesepian," jawab Elena pelan namun tegas. "Kuat itu karena ada orang yang mendukungnya, ada orang yang menyayanginya."
Kalimat itu membuat Leonid berhenti mengunyah. Ia menatap Elena lekat-lekat. Selama ini ia mengajarkan kekuatan dengan cara yang keras, sama seperti yang ia jalani. Tapi mendengar ucapan itu, ia sadar ada hal yang hilang dari cara pandangnya. Alvaro bukan prajurit yang harus dilatih sejak bayi. Ia adalah anak yang butuh kasih sayang.
Elena kemudian mengajari Alvaro memegang sendok dengan benar. Saat anak itu berhasil menyendok sedikit nasi ke mulutnya sendiri, Elena tersenyum lebar dan memuji anak itu dengan tulus. "Wah, pintar sekali anak Mama! Bagus sekali!"
Wajah Alvaro berseri-seri. Ia tertawa kecil, suara tawa yang begitu jernih dan manis, suara yang belum pernah terdengar di rumah itu selama empat tahun terakhir. Leonid terpaku melihatnya. Hatinya yang beku terasa meleleh perlahan mendengar suara tawa itu. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat sedikit, sebuah senyum tipis yang hampir tak terlihat namun sangat berharga.
Makan malam itu berlangsung berbeda dari biasanya. Tidak ada bentakan, tidak ada tatapan sinis, tidak ada ketakutan yang mencekam. Elena sesekali bercerita hal-hal sederhana, Alvaro sesekali menimpali dengan suara kecilnya, dan Leonid mendengarkan dalam diam, sesekali mengangguk atau menjawab pertanyaan Alvaro dengan nada yang jauh lebih lembut.
Setelah selesai makan, Alvaro tampak mengantuk. Elena menggendongnya sebentar, lalu berniat membawanya naik ke kamar.
"Aku yang membawanya," kata Leonid tiba-tiba sambil berdiri.
Elena terkejut. "Kau yakin?"
Leonid mengangguk pelan. Ia merentangkan tangan besarnya menerima tubuh kecil Alvaro. Alvaro sempat menatap Elena ragu, tapi saat Elena mengangguk memberi semangat, anak itu memeluk leher ayahnya dengan malu-malu. Langkah kaki Leonid terasa berat namun penuh kehati-hatian saat ia membawa putranya naik ke lantai atas. Elena mengikuti dari belakang, membiarkan ayah dan anak itu menghabiskan waktu bersama.
Sesampainya di kamar, Leonid meletakkan Alvaro di tempat tidur. Ia berdiri diam sejenak menatap wajah putranya. "Maafkan Ayah..." bisiknya pelan, begitu pelan sampai hampir tak terdengar. "Ayah tidak tahu... Ayah tidak tahu kau menderita begitu."
Elena berdiri di ambang pintu, hatinya terasa sesak namun hangat. Ia tahu pria bengis ini sebenarnya tidak jahat, ia hanya terluka dan tidak tahu cara menunjukkannya.
Saat Alvaro sudah terlelap kembali, Leonid berbalik menghadap Elena. Ruangan itu kini hanya berisi mereka berdua. Tatapan Leonid kembali dalam, namun tidak lagi penuh kemarahan, melainkan penuh pertanyaan yang belum terjawab.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Elena?" tanyanya lembut namun serius. "Kau bukan istriku yang dulu. Kau... kau terasa seperti orang lain."
Elena menelan ludah. Ia tahu pertanyaan ini pasti akan datang. Ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, tapi ia juga tidak ingin berbohong terus-menerus.
"Aku memang berubah," jawabnya pelan. "Entah karena kejadian kemarin, entah karena rasa takut kehilangan... aku sadar banyak hal yang salah dalam hidupku. Aku hanya ingin memperbaikinya, Leonid. Demi anak kita."
Leonid melangkah mendekat perlahan. "Jika kau bermain-main denganku... atau ada rencana lain di balik perubahanmu ini..."
"Aku tidak akan pernah menyakiti kalian lagi," potong Elena tegas. "Percayalah padaku sekali saja."
Leonid menatapnya lama sekali, seolah mencoba melihat ke dalam jiwanya. Akhirnya ia menghela napas panjang, napas kelelahan yang mendalam. "Baik. Aku akan memberimu waktu. Tapi ingat, aku akan terus memantau setiap gerak-gerikmu. Dan jika kau berkhianat lagi..."
"Aku tahu," potong Elena lembut. "Aku siap menerima apa pun darimu."
Malam itu menjadi awal yang baru bagi mereka. Meski masih banyak rahasia yang tersembunyi, meski bahaya masih mengintai dari sudut gelap, setidaknya untuk malam ini, ada secercah harapan yang menyala di tengah kegelapan yang selama ini menyelimuti rumah besar itu.
Bersambung...