Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.
Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Dua Ibu, Satu Anak
Hujan akhirnya reda. Udara pagi segar banget, bau tanah basah dan daun hijau masuk lewat jendela yang terbuka dikit. Badan gue udah jauh lebih enak, tinggal batuk dikit dan sedikit lemas.
Gue baru selesai sarapan, lagi beresin meja belajar, tiba-tiba HP bunyi. Nama di layar bikin gue senyum langsung melebar — Bu Sari.
"Selamat pagi, Amira. Bagaimana kabar kalian di sana?" suaranya lembut dan hangat lewat telepon.
"Pagi, Bu! Kabar kami baik. Kemarin sempat sakit sedikit, sekarang sudah sehat kembali."
"Syukurlah. Farhan ada di dekatmu?"
"Dia sebentar lagi datang. Tadi bilang mau beli sesuatu dulu."
"Baiklah. Kalau dia datang, tolong minta bicara sebentar ya. Terima kasih, Nak."
Sepuluh menit kemudian, Farhan muncul di pintu. Bawa dua bungkus kue dan senyum cerah. "Udah mendingan?"
"Udah sehat banget. Oh ya — Bu Sari telepon tadi. Mau bicara sama lo."
Farhan langsung kaku dikit, pipinya merona pelan. "Bu... Bu Sari?"
"Iya. Telepon balik ya, beliau nunggu."
Dia duduk di tepi kasur, tarik napas dalam sebelum menekan nomor. Gue pura-pura lihat ke luar jendela, kasih ruang. Tapi suaranya terdengar pelan dan jelas di ruangan itu.
"Halo, Bu... iya, ini Han." Diam sebentar, lalu napasnya bergetar pelan. "Baik, Bu. Sehat... Bu sendiri gimana?"
Hening sebentar lagi. Lalu gue dengar suara Bu Sari di seberang sana, lembut tapi tegas. Farhan menunduk, mainin ujung selimut pelan.
"Terima kasih, Bu..." suaranya makin pelan. "Gue senang sekali. Beneran. Tapi... gue takut Bapak sama Ibu sedih kalau gue terlalu dekat sama Bu."
Gue menoleh pelan. Matanya berkaca-kaca.
"Gue gak mau milih, Bu. Gue sayang kalian berdua. Sama besarnya." Dia diam, telan ludah susah. "Baik... baik Bu. Gue pikirkan. Makasih sudah kasih waktu."
Setelah telepon ditutup, dia diam lama banget. Gue duduk di sebelahnya, gak buru-buru tanya. Cuma kasih dia waktu.
"Bu Sari mau pindah ke sini," akhirnya dia bicara pelan. "Di kota yang sama. Katanya mau dekat. Mau kenal gue pelan-pelan. Mau perbaiki waktu yang hilang."
"Itu hal indah banget, Han."
"Iya. Tapi..." Dia menghela napas panjang. "Bapak sama Ibu yang di rumah... mereka besarkan gue dari bayi. Mereka yang nenenin, yang ajarin jalan, yang jaga waktu sakit. Kalau gue dekat sama Bu Sari... takut mereka ngerasa gue gak butuh mereka lagi."
"Han..." Gue pegang tangannya pelan. "Lo tau gak apa yang paling indah dari kasih sayang? Kasih sayang itu gak harus diperebutkan. Kalau Bu Sari sayang lo, kalau Bapak Ibu sayang lo... mereka gak akan minta lo milih. Mereka cuma mau lo bahagia."
Dia natap gue, matanya masih basah. "Lo yakin?"
"Yakin banget. Karena mereka sayang lo. Dan orang yang sayang... gak akan ngerasa tergantikan. Justru ngerasa senang lo makin dicintai."
Sore itu, Farhan telepon ke rumah. Bukan ke Bu Sari dulu — ke Bapak dan Ibu yang merawatnya.
"Pak... Bu..." suaranya gemetar. "Bu Sari mau pindah ke kota ini. Mau dekat sama saya."
Diam sebentar. Lalu mata Farhan membesar pelan, air mata jatuh tanpa ditahan.
"Benarkah, Bu?" Dia duduk tegak. "Ibu tidak keberatan?"
Lama sekali dia diem, cuma dengerin suara di seberang sana. Lalu senyumnya mekar — lega, haru, anak yang akhirnya tenang.
"Terima kasih, Bu... terima kasih banyak." Dia usap air mata punggung tangan. "Saya sayang Ibu. Selamanya. Apapun yang terjadi."
Setelah ditutup, dia cerita pelan ke gue.
"Bapak bilang: 'Kasih sayang tidak dibagi, Nak. Ia bertambah. Kalau ada orang lain yang mau sayang kamu — terimalah. Itu rezeki. Bukan pengganti kami. Tapi pelengkap.'" Dia senyum lebar banget. "Dan Ibu bilang... 'Panggil Ibu tetap Ibu. Panggil dia Bu Sari. Dua nama, satu anak. Tidak ada yang tergantikan.'"
Gue senyum sampe mata panas. "Mereka luar biasa ya, Han."
"Mereka memang luar biasa." Dia tarik napas dalam, lega banget. "Dan Bu Sari... beliau mau sewa rumah dekat sini. Mau mulai kerja di sekolah juga. Katanya mau bangun hidup baru — bareng gue."
"Kapan beliau datang?"
"Besok lusa." Dia natap gue, sedikit canggung tapi senang. "Lo... mau ikut sambut beliau?"
"Tentu saja. Dengan senang hati."
Hari kedatangan Bu Sari, kita berdua nunggu di stasiun. Kereta masuk perlahan, penumpang turun satu-satu. Lalu beliau muncul — baju rapi, senyum lembut, rambutnya sedikit memutih di pelipis.
Farhan berdiri tegak, napasnya tertahan. Saat Bu Sari melihatnya, beliau berhenti sebentar, lalu berjalan cepat. Tanpa kata, mereka berpelukan — pelukan yang lama, penuh tahun-tahun yang hilang, penuh rindu yang tertahan.
"Maafkan Ibu..." bisik Bu Sari di bahu anaknya. "Maafkan Ibu terlambat."
"Gak apa-apa, Bu..." Farhan menahan isak. "Yang penting sekarang ada."
Mereka lepas pelukan, lalu Bu Sari menoleh ke gue. Tangan beliau pegang tangan gue pelan, hangat dan lembut.
"Terima kasih, Amira. Terima kasih sudah menemani anakku."
"Terima kasih sudah mempercayainya, Bu."
Malam itu kita makan bareng di rumah sewa Bu Sari — sederhana, baru dirapikan, penuh kotak yang belum dibuka. Tapi meja makan penuh makanan hangat, dan udaranya penuh damai.
"Besok Ibu urus kerja," kata Bu Sari sambil tuang teh hangat. "Pelan-pelan saja. Yang penting dekat."
"Kami bantu pindahkan barang sisa ya, Bu," kata gue.
"Tentu saja. Dan kalau kalian berdua berkenan... kapan pun ke sini. Rumah ini rumah kalian juga."
Saat pulang, kita jalan pelan-pelan ke kos. Langit malam cerah, angin sejuk menyapu muka.
"Lo tau gak..." buka Farhan pelan, "sebelumnya gue takut banget. Takut dihukum harus milih salah satu. Takut nyakiti salah satu."
"Dan sekarang?"
"Sekarang gue tau. Gue punya dua Ibu. Dua orang yang sayang gue dengan cara masing-masing. Dua kasih sayang yang beda bentuknya, tapi sama besar." Dia senyum tenang. "Gue gak berkurang. Gue nambah."
"Keluarga lo makin lengkap, Han."
"Iya." Dia pegang tangan gue erat. "Dan lo tetap di tengahnya. Karena tanpa lo... gue mungkin gak pernah berani terima semuanya ini."
Malamnya, gue tulis panjang di buku catatan:
"Dulu gue pikir punya dua ibu itu berat. Ternyata indah banget. Satu melahirkan, satu membesarkan. Satu memberi nyawa, satu memelihara hidup. Bukan saling gantikan. Tapi saling melengkapi. Seperti dua sayap satu burung — kalau saling tarik ke arah berbeda jatuh. Kalau sama-sama ke atas... terbang tinggi."
Tiba-tiba HP bunyi. Pesan dari Ibu di rumah gue:
"Dengar kabar baik tentang Bu Sari. Bagus sekali, Nak. Kasih sayang yang bertambah selalu berkah. Jaga mereka berdua ya."
Gue senyum, balas cepat: "Siap, Bu. Ibu juga jaga diri di rumah."
Lalu pesan dari Dimas:
"Bagus, Han! Dua ibu, dua rumah, satu hati. Gue senang banget buat lo. Minggu depan gue kirim oleh-oleh dari sini — hasil karya tangan sendiri!"
Gue tunjuk ke Farhan. Dia ketawa, matanya berbinar bahagia.
"Besok kita telepon Dimas ya," katanya. "Kasih kabar lengkap."
"Pasti."
Di kamar, sebelum tidur, gue lihat ke jendela. Di lantai atas, lampu Farhan masih menyala. Pesan masuk:
"Malam, Mir. Hari ini gue belajar satu hal — bahagia itu bukan dapet semua yang lo mau. Bahagia itu sadar semua yang lo punya itu cukup, bahkan lebih dari cukup. Makasih udah bantu gue lihat itu."
Gue ketik balas:
"Malam, Han. Selamat menikmati bahagia bareng dua ibu. Lo pantes banget. Tidur nyenyak."
Gue taruh HP, tarik selimut. Besok masih ada tugas, masih ada ujian, masih ada jalan panjang. Tapi hari ini... hari ini penuh kasih sayang yang meluap-luap.
Dan gue sadar — di dunia ini, bukan cinta yang harus diperebutkan. Yang sejati itu... selalu cukup untuk semua.