NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Menantu Keluarga Miskin

Transmigrasi Menjadi Menantu Keluarga Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Romansa Fantasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: BabyKucing

Xian Yue tewas setelah bertahun-tahun menjadi seorang penyintas di dunia Distopia.

Tapi, bukannya bangkit di alam kubur dan menerima semangkuk sup reinkarnasi dari Meng Po, Xian Yue justru terlempar ke tanah antah berantah.

Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Xian Yue tak tau tubuh yang dimasukinya ternyata sudah dijual sebagai menantu yang menumpang, pada keluarga miskin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20 Masa Lalu Xian Xue

Tidak ada seorang pun di Desa Qinghe yang tidur nyenyak malam itu. Kabar mengenai mata air yang berubah merah menyebar lebih cepat daripada api yang tertiup angin.

Sebagian warga menganggapnya pertanda buruk. Sebagian lainnya mulai menghubungkannya dengan pemburu yang ditemukan pingsan. Dan seperti biasa, selalu ada seseorang yang berhasil membuat keadaan menjadi lebih buruk.

"Jangan-jangan ada harta karun di Bukit Timur!"

Suara seorang pemuda terdengar di kedai kecil dekat jalan utama.

"Kalau memang ada harta, kenapa airnya berubah merah?"

"Karena hartanya pasti luar biasa!"

"Logikamu dari mana?"

"Entahlah."

Percakapan itu membuat beberapa orang tertawa. Namun di sudut kedai, tiga orang tidak ikut tertawa.

Mereka adalah pedagang dari Kota Lin'an.

Pria yang kemarin memimpin rombongan duduk sambil memegang cangkir teh. Tatapannya tenang, tetapi jemarinya mengetuk meja secara perlahan.

Tok.

Tok.

Tok.

"Airnya sudah berubah?"

Seorang bawahannya mengangguk. "Sudah."

"Dan batu itu?"

"Belum ditemukan."

Pria tersebut menghentikan ketukan jarinya. "Mustahil."

"Orang-orang kami sudah mencari sampai ke dasar mata air."

"Kalau begitu kalian mencari di tempat yang salah."

Bawahan itu menundukkan kepala. "Maaf."

Pria tersebut tidak memarahinya.

Ia justru mengambil sepotong kertas dari balik pakaiannya. Di atas kertas itu terdapat gambar sebuah lambang. Sebuah lingkaran dengan bentuk seperti mata di tengahnya.

"Periksa semua orang yang datang ke Bukit Timur."

"Termasuk warga desa?"

"Semua."

"Kalau ada yang memiliki lambang ini?"

"Jangan dekati."

Bawahan itu tampak terkejut. "Jangan dekati?"

Pria tersebut mengangguk. "Laporkan kepadaku."

"Kenapa?"

Pria itu menatapnya. "Karena orang yang memiliki tanda itu..." Ia berhenti sebentar. "...bukan orang yang bisa kalian lawan."

Pada saat yang sama, rumah keluarga Han masih diterangi cahaya lampu minyak. Lian Yue duduk di dekat meja. Di hadapannya terdapat beberapa benda yang baru mereka beli dari pasar.

Benih.

Kain.

Garam.

Sedikit minyak.

Semuanya tampak biasa. Namun ada satu benda yang tidak seharusnya berada di sana. Sebuah batu kecil berwarna merah tua.

Lian Yue menatap benda tersebut dengan kening berkerut. "Ini dari mana?"

Han Zheng yang sedang memperbaiki keranjang menoleh. "Aku menemukannya di keranjang sayuran."

"Keranjang siapa?"

"Keranjang yang kita beli tadi."

Lian Yue tidak menyentuhnya. Ia hanya mengamati. Batu itu tidak bersinar. Tidak bergerak. Bahkan tidak terlihat istimewa.

Namun burung-burung di luar rumah terus berisik sejak benda itu dibawa masuk.

Lian Yue akhirnya berkata, "Jangan buang."

Han Zheng mengerutkan kening. "Kenapa?"

"Kita simpan dulu."

Han Zheng menatap benda itu. "Untuk apa?"

"Aku belum tahu." Jawaban tersebut membuat Han Zheng tertawa kecil.

"Kau semakin sering menyimpan barang yang tidak berguna."

Lian Yue meliriknya. "Dan kau semakin sering membeli barang yang sebenarnya tidak perlu."

"Itu berbeda."

"Di mana bedanya?"

"Aku membeli dengan uang."

Lian Yue menunjuk batu tersebut. "Aku juga tidak mengambilnya dengan mencuri."

Han Zheng terdiam. "...Benar juga."

Lian Yue hampir tertawa. Namun saat ia hendak memindahkan batu itu ke dalam kotak kayu, sesuatu terjadi.

Api lampu minyak tiba-tiba mengecil. Kemudian membesar. Lian Yue berhenti. Ia menatap nyala api.

Tidak ada angin.

Jendela tertutup.

Namun api tersebut bergerak seperti tertarik ke arah batu. Lian Yue segera menutup kotak.

Api kembali normal.

Han Zheng menatapnya. "Kau melihatnya?"

"Ya."

"Kau tahu apa itu?"

Lian Yue menggeleng. "Belum."

Han Zheng tidak bertanya lagi. Namun kali ini wajahnya tidak lagi santai. Ia mulai memahami bahwa beberapa kejadian aneh yang muncul belakangan ini mungkin memang saling berhubungan.

.

.

Keesokan harinya, Kepala Desa Luo mengumpulkan beberapa warga. Termasuk Han Zheng.

Lian Yue tidak ikut. Bukan karena tidak ingin. Tetapi karena sejak pagi rumah kepala desa sudah dipenuhi orang. Dan salah satu dari mereka adalah pria yang datang dari Kota Lin'an.

Kepala Desa Luo berdiri di depan halaman. "Orang-orang dari kota mengatakan Bukit Timur harus ditutup sementara."

Seorang warga langsung protes. "Kenapa?"

"Karena mata airnya berubah."

"Air itu milik desa!"

"Benar!"

"Kenapa kami tidak boleh masuk?"

Pedagang dari Kota Lin'an akhirnya berbicara. "Karena air tersebut mungkin tercemar."

Seorang petani mencibir. "Sejak kapan pedagang kota peduli pada air desa?"

Beberapa orang tertawa. Tapi pria itu tidak marah. Ia hanya tersenyum. "Kalian benar."

Kemudian ia mengeluarkan beberapa keping perak. "Kami akan membayar kompensasi kepada siapa pun yang biasanya mengambil hasil hutan dari Bukit Timur."

Keributan langsung mereda. Jumlahnya cukup besar. Bahkan terlalu besar untuk sekadar membayar hasil hutan.

Han Zheng yang berdiri di belakang kerumunan menyadari sesuatu. Pria itu tidak sedang membeli hasil bumi. Ia sedang membeli hak untuk memasuki Bukit Timur tanpa diganggu warga.

Han Zheng segera pulang.

Lian Yue sedang menjemur sayuran ketika melihat ekspresi suaminya. "Ada apa?"

"Orang kota membayar warga agar tidak pergi ke Bukit Timur."

Lian Yue menghentikan pekerjaannya. "Berapa?"

Han Zheng menyebut jumlahnya. Lian Yue terdiam. "Itu terlalu banyak."

"Benar."

"Untuk apa mereka mengeluarkan uang sebanyak itu?"

Han Zheng menggeleng. "Aku tidak tahu."

Lian Yue menatap ke arah hutan. Kemudian berkata pelan, "Karena mereka tahu sesuatu yang tidak kita ketahui."

.

.

Malam berikutnya, sesuatu yang jauh lebih aneh terjadi. Seekor kelinci putih muncul di depan rumah keluarga Han. Lian Yue langsung mengenalinya. Kelinci itu adalah salah satu hewan yang sering berada di sekitar mata air.

Namun kali ini bulunya kotor. Salah satu telinganya terluka. Dan yang paling aneh...

Ia tidak mendekati Lian Yue. Hewan itu justru terus mundur.

Lian Yue berjongkok. "Apa yang terjadi?"

Kelinci itu gemetar. ["Air..."]

"Apa?"

["Air itu bukan air lagi."]

Lian Yue terdiam. Kelinci tersebut melanjutkan.

["Sesuatu ada di bawahnya."]

"Apa?"

Kelinci itu menggeleng panik. ["Tidak tahu."]

["Tapi ketika batu itu diambil..."] Tubuh kecilnya semakin gemetar. ["Ia bangun."]

Lian Yue merasa tengkuknya dingin. "Siapa?"

Kelinci tersebut menatapnya. Dan untuk pertama kalinya sejak Lian Yue mengenal hewan-hewan di Bukit Timur...

Seekor hewan tidak menjawab pertanyaannya. Ia hanya berbalik. Lalu lari.

Lian Yue berdiri perlahan. Tatapannya menuju hutan. Jadi batu merah itu bukan sumber dari sesuatu yang terjadi di sana.

Batu itu...

adalah penutupnya.

Sebuah penutup yang selama ini menjaga sesuatu tetap tertidur.

Lalu di waktu yang hampir bersamaan Jauh dari Desa Qinghe, di jalan menuju Kota Lin'an...

Sebuah kereta bergerak perlahan. Di dalamnya duduk seorang wanita muda mengenakan pakaian putih. Tangannya memegang sebuah surat.

Wajahnya terlihat pucat. "Sudah dipastikan?"

Pria yang duduk di depan mengangguk. "Ya."

"Xian Yue masih hidup." Wanita itu meremas surat tersebut. "Bagaimana mungkin?"

"Kami juga tidak tahu."

"Sudah berapa tahun?"

"Delapan."

Wanita itu terdiam. Delapan tahun. Delapan tahun sejak keluarga Xian kehilangan putri mereka.

Delapan tahun sejak sebuah konspirasi membuat seluruh keluarga percaya bahwa Xian Yue telah menghilang untuk selamanya.

Wanita itu menatap keluar jendela. "Kalau dia benar-benar masih hidup..."

Ia menutup mata. "...berarti orang yang membunuh keluarganya dulu juga mungkin masih hidup."

Pria di depannya tidak menjawab. Kereta terus bergerak menuju Kota Lin'an. Namun sebelum kereta tersebut menghilang di balik kabut, wanita itu membuka mata.

"Jangan beri tahu keluarga Xian."

Pria itu terkejut. "Nona?"

"Belum."

"Kenapa?"

Wanita itu menatap keping logam di tangannya. Lambang mata di permukaannya telah retak. "Karena kalau mereka tahu Xian Yue masih hidup..."

Tatapannya menjadi dingin. "...orang pertama yang akan mereka cari bukanlah Xian Yue."

"Melainkan orang yang selama ini menyembunyikannya."

.

.

Di Desa Qinghe, Lian Yue berdiri di depan rumah. Ia memandang Bukit Timur.

Tidak ada suara aneh.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada tanda-tanda apa pun.

Namun entah mengapa, ia tahu bahwa sesuatu telah berubah. Bukan hanya di hutan. Melainkan juga di dalam dirinya.

Tangannya perlahan menyentuh dada. Detak jantungnya terdengar normal. Tetapi jauh di dalam sana, ada sensasi asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Seolah tubuh ini sedang mengingat sesuatu. Sesuatu yang tidak pernah dialami oleh jiwa Lian Yue. Sebuah nama tiba-tiba muncul dalam pikirannya.

Xian Yue.

Lian Yue langsung membuka mata. Ia tidak tahu dari mana nama itu datang.

Namun kali ini...

Untuk pertama kalinya, nama tersebut tidak terasa asing. Justru terasa seperti sesuatu yang telah lama menunggu untuk dipanggil.

Di belakangnya, Han Zheng muncul membawa dua cangkul. "Istriku."

Lian Yue menoleh. "Ya?"

"Besok kita mulai memperluas ladang."

Lian Yue menatapnya beberapa detik. Kemudian tersenyum. "Baik."

Ia tidak menceritakan tentang nama yang baru saja muncul di kepalanya.

Belum. Karena sebelum mencari tahu siapa dirinya...

Lian Yue ingin memastikan satu hal terlebih dahulu. Jika masa lalu Xian Yue benar-benar datang mencarinya...

Maka ia harus tahu satu hal. Apakah masa lalu itu ingin menyelamatkannya atau justru membunuhnya.

1
tinie
ya kamu harus tau masa lalumu apa hubungmu dgn mereka
sehingga apa yg membuat mereka ingin membuang mu jauh jauh dan dilarang kesana bertemu batu merah
tinie
tetep semangaat 💪💪💪
tinie
kenapa mengulangi faragraf yg sama
dgn diatas
tinie: ok
semangaaat thor
total 2 replies
tinie
ada dgn mereka
apakah mereka sengaja membuang kian Yue .agar tidak mampu membangkitkan ilmunya
makanya dia dilarang bertemu batu merah
Srie Ncii Herdiansyah
aku baru nemu cerita ini, padahal aku pecinta cerita Time travel kok gk muncul awal2 yah?? semoga rajin up thorr
tinie
makin penasaran🤔🤔
tinie
wah apakah itu batu apa

sehingga para burung dan binantang lainnya sangat ketakutan
tinie
ya kecambah pertumbuhanmu sedikit lamban namun pasti
semoga kau bisa menyelamatkan keluarga han
tinie
yang gak tumbuh
mungkin terlalu tua 💪💪
tinie
meskipun dekat dgn gunung ternyata
disaat kemarau juga sama ya kadang tak kunjung datang hujan
tinie
saking baiknya ya keluarga Han
sampai sampai mendoakan kejayaan untk mereka
tinie
apa kalian tidur dikamar sang sama
saling bertanya
deep talk gitu😁😁🤔
tinie
war biasa
bisa mendengar BHS binatang
tinie
h a d i r 💪 💪 💪
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
luar biasa
Fauziah Daud
hadir thor
Anita Rahayu
lebih banya upnya thor👌👌👌👌👌👌👌
Ailurophile 🐯: Oke kakak 👌
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!