NovelToon NovelToon
Membatasi Rasa

Membatasi Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:986
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

Pernah gak sih, kamu sayang banget sama seseorang, tapi demi menjaga hati dan prinsip, kamu terpaksa bersikap sedingin es ke dia?

Itu yang dirasain Zaza. Waktu hatinya mulai telanjur jauh sama Rayyan, dia milih buat mundur perlahan. Gak ada chat basa-basi, gak ada modus pengen ketemu. Semua rindu dan riuhnya perasaan cuma dia tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati.
Rayyan pun sama. Dia kelihatan cuek dan gak peduli, padahal aslinya lagi berjuang mati-matian nahan rasa demi sebuah komitmen. Akhirnya, mereka berdua terjebak dalam kesunyian, sama-sama ngira kalau cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan.

Saling menjauh, tapi saling mendekat lewat doa apa mungkin cara sedekat ini malah bikin mereka makin jauh selamanya? Atau justru, menjaga jarak demi ibadah bakal berujung pada akhir yang gak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu di Balik Tirai Kabut

Suasana di dalam ruang tamu vila mewah itu mendadak hening untuk beberapa saat, hanya menyisakan suara petikan gitar lembut dari pemutar musik di sudut ruangan dan desau angin Batu yang membawa kabut semakin tebal ke arah jendela kaca. Kalimat Rayyan yang begitu jujur dan takzim barusan seolah mengunci lidah semua orang yang ada di sana.

Papa Rayyan, Pak Dafril, berdehem pelan sembari membetulkan posisi duduknya. Matanya menatap sang putra dengan pandangan tak percaya. Seumur-umur, ia belum pernah melihat Rayyan berbicara se-sopan dan se-rendah hati itu di depan orang lain, apalagi menggunakan kata "menjaga jarak karena belum mahram".

"Wah, jadi kalian ini sebenarnya sudah saling tahu di kampus?" Pak Dafril akhirnya membuka suara, memecah kecanggungan dengan tawa kecil yang dipaksakan. "Dunia memang sempit ya, Pak Zain."

Pak Zain, abi dari Zaza, tidak langsung tertawa. Beliau menatap Rayyan dengan pandangan menyelidik yang tajam khas seorang ayah yang sangat protektif terhadap anak perempuan satu-satunya. Tatapannya beralih pada Zaza yang masih menunduk dalam, lalu kembali pada Rayyan.

"Satu kampus bukan berarti saling mengenal, Pak Dafril," ucap Pak Zain dengan nada suara yang tenang namun berwibawa. Beliau memajukan posisi duduknya, menumpukan kedua tangannya di atas lutut. "Anak saya, Zaza, memang selalu saya pesankan untuk tidak sembarangan bergaul, apalagi dengan laki-laki yang bukan urusannya. Jadi, kalau Nak Rayyan bilang Zaza selalu menjaga jarak... alhamdulillah, berarti anak saya mendengarkan nasihat abinya."

Rayyan merasakan tenggorokannya mendadak kering. Tekanan dari Pak Zain terasa jauh lebih menegangkan daripada saat ia harus mempresentasikan laporan bisnis di depan para direksi perusahaan papanya. Ia tahu, di mata pria paruh baya yang bersahaja ini, status kekayaan Dafril Group sama sekali tidak punya nilai tawar jika menyangkut keselamatan akhirat putrinya.

"Benar, Om... maksud saya, Pak Zain," jawab Rayyan dengan suara yang diusahakan tetap stabil. Ia tidak berani menatap Zaza, melainkan fokus menatap lurus ke arah netra Pak Zain. "Zaza tidak pernah memberi celah sedikit pun untuk saya. Bahkan saat pertama kali saya ingin berkenalan dengan cara yang salah di koridor kampus, Zaza menolak bersalaman dan langsung pergi. Jujur, sikap dingin Zaza itulah yang membuat saya sadar... bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa didekati dengan cara yang biasa."

Umi Zaza yang sejak tadi diam, perlahan menyunggingkan senyum tipis yang sangat teduh. Perempuan paruh baya itu menyenggol pelan lengan putrinya. "Zaza, kok diam saja? Benar apa yang dibilang Nak Rayyan?"

Zaza perlahan mengangkat wajahnya. Pipinya yang putih kini tampak bersemu merah muda, senada dengan motif bunga pada pashmina yang dikenakannya. Ia melirik Rayyan sekilas, kali ini tanpa tatapan sedingin es seperti di perpustakaan kampus lalu menatap abinya.

"Iya, Abi... Umi. Rayyan memang beberapa kali mencoba menyapa di kampus. Tapi Zaza selalu berusaha untuk tidak merespons lebih jauh karena... Zaza takut mengecewakan Abi dan Umi," ucap Zaza, suaranya bergetar halus namun terdengar sangat jujur.

Mendengar pengakuan tulus dari mulut Zaza, pertahanan Pak Zain perlahan mencair. Gurat ketegasan di wajah tua itu digantikan oleh senyuman hangat seorang ayah yang merasa perjuangannya mendidik anak tidak sia-sia. Beliau mengembuskan napas lega, lalu bersandar kembali ke sofa.

"Lalu, sekarang bagaimana?" tanya Pak Zain, tatapannya kini beralih pada Pak Dafril dan istrinya. "Tujuan kita berkumpul di sini kan memang untuk silaturahmi sekaligus... membahas niat baik yang pernah kita bicarakan di telepon waktu itu. Kalau ternyata anak-anak kita sudah memiliki takdir jalannya sendiri di kampus, bagaimana menurutmu, Pak Dafril?"

Mama Rayyan, Bu Dafril, yang sejak tadi sibuk menilai penampilan Zaza dari ujung kepala hingga ujung kaki, akhirnya ikut tersenyum. Meskipun Zaza berasal dari keluarga yang sederhana, pembawaan gadis itu yang sangat tenang, anggun, dan berwibawa di dalam balutan abaya hitamnya ternyata mampu meruntuhkan ego kelas atas yang selama ini dijunjung tinggi oleh Bu Dafril.

"Apalagi yang mau ditunggu, Pak Zain? Kalau saya lihat, Rayyan ini sudah kepincut setengah mati," goda Bu Dafril yang langsung membuat Rayyan salah tingkah dan pura-pura terbatuk kecil. "Saya seumur-umur belum pernah lihat Rayyan mau pakai baju batik serapi ini kalau bukan karena dipaksa. Ternyata, dia punya alasan sendiri toh."

Gelak tawa akhirnya pecah di ruang tamu mewah tersebut, menghangatkan atmosfer yang sempat membeku oleh ketegangan kasta dan prinsip.

Di tengah keriuhan obrolan kedua orang tua mereka yang mulai merencanakan proses kelanjutan hubungan ke arah yang lebih serius, sebuah proses taaruf yang sesungguhnya Rayyan memanfaatkan momen itu untuk melirik ke arah Zaza.

Zaza yang merasa sedang diperhatikan, perlahan mendongak. Untuk pertama kalinya di dunia nyata, dalam jarak yang sedekat ini, kedua pasang netra itu bertemu tanpa ada benteng es yang menghalangi. Tidak ada lagi pesan singkat yang dibatasi, tidak ada lagi rute jalan yang sengaja dihindari.

Zaza menyunggingkan sebuah senyuman kecil yang sangat tulus, senyuman lembut di balik ketenangannya yang seolah menyampaikan sebuah pesan tanpa kata: Terima kasih karena sudah berjuang di sepertiga malammu.

Rayyan membalas senyuman itu dengan binar mata yang penuh rasa syukur. Di luar sana, kabut Kota Batu semakin tebal membungkus vila, namun di dalam ruangan itu, mendung dan sunyi yang selama ini menyelimuti hati mereka berdua telah sepenuhnya sirna, digantikan oleh hamparan rida yang turun perlahan dari langit.

1
Nurul
mending ta'aruf saja, Zaza
Nurul
mulai terbayang, cepat beristighfar
Xlyzy
kalau merasa ga pantas seharusnya harus bisa merubah diri agar pantas untuk nya
Xlyzy
Dilema si ini jadi nya mau nolak gimana sama orang tua
Xlyzy
Tapi ga harus di jodohin jugak sih cukup kenalkan mereka dulu kalau mereka saling suka baru nikahkan mereka
Cimol krispy
padahal temenan aja nggak di larang loh za
Sarifah_Aini97: bukan mahram kak
total 1 replies
Cimol krispy
jadi dari tadi kamu bikin heboh koridor karna nyariin Zaza ya rayyan
Miu.Nuha
barangkali jodohny ya itu rayyan
beruntung kalo perjodohan itu mengarah kesana 😙
Miu.Nuha
makanya...
bikin abang rayyan bingung
si eneng berada dijalur lain sih 😁
Filan
doanya pakai gue /Facepalm/
Sarifah_Aini97: Wkwk iya nih, biar doanya terasa lebih akrab dan personal langsung ke pencipta-Nya 🤣
total 1 replies
Filan
susah sih ya, kalau dia masih belom bisa sholat. gimana bisa jadi imam?
Filan
langsung sholat malam aja nih... sholat wajibnya gimana, Ray? /Chuckle/
Filan
menghindar nih ceritanya
Filan
skateboard apa udah jadi bagian dirinya? 😅
Aquarius97 🕊️
bagus Rayyan.. awalnya berubah karena Zaza, tapi lama2 dari hati yaa

. sampai kamu gak bisa meninggalkan sholat hehe
Three Flowers
semoga doa Rayyan terkabul, karena dia sudah meminta dengan jalan yang benar
Three Flowers: okay kakak
total 2 replies
Three Flowers
Rayyan dapat hidayah sejak bertemu Zaza
Three Flowers
bau-bau mau dijodohkan, apalagi calonnya baru lulus dari luar negeri
Three Flowers
seperti dikejar hantu, ya😅
Mega Siregar
hindari siapa tuh, za🤭?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!