NovelToon NovelToon
Cinta Lama, Dendam Baru

Cinta Lama, Dendam Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cilia

Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

XI - Yang Tak Terucap

Dua hari berlalu, dan Kirana masih mengurung diri di balik pekerjaan, mengubah kantornya sendiri jadi semacam benteng dari segala hal yang mengingatkannya pada malam itu — termasuk semua pesan Radit yang belum ia balas.

Pesan pertama datang pagi hari itu.

Aku ngerti kalau kamu butuh jarak. Tapi aku pengen kamu tau, semalem bukan kesalahan buat aku.

Delapan jam kemudian, pesan kedua cuma berisi:

Kamu udah makan?

Pesan ketiga, sangat singkat, hanya satu kata saja:

Kirana?

Ia membaca semuanya, lalu mengunci layar ponselnya lagi, meletakkannya menghadap ke bawah di sudut meja.

Ia menenggelamkan diri dalam rapat demi rapat, meninjau ulang proposal yang hasilnya masih belum diumumkan, apa pun yang bisa membuat pikirannya cukup sibuk untuk tidak kembali ke momen itu. Tapi, bayangan itu selalu menemukan celah — di sela rapat, di saat ia menandatangani dokumen, bahkan di dalam mimpi Ketika ia tertidur.

Dimas masuk ke ruang kerjanya membawa dua gelas jus alpukat, meletakkan satu di depan Kirana tanpa diminta.

"Lu yakin baik-baik aja?"

"Gua baik-baik aja," Kirana menjawab, terlalu cepat untuk terdengar meyakinkan.

Dimas duduk di kursi seberang mejanya, menatapnya dengan tatapan yang sudah ia kenal — tatapan sahabat yang tahu persis kapan Kirana berbohong.

Ia meminum jusnya sendiri, membiarkan keheningan berlangsung sebentar. "Lu tau, lima tahun lalu, waktu gua baru lulus dan lu nawarin gua kerja di kantor yang ada di ruko dua lantai, gua sempet mikir lu gila. Nggak ada nama, nggak ada modal. Tapi gua tetep ikut, soalnya gua percaya sama lu."

"Dim? Kenapa lu tiba-tiba cerita ini?"

"Karena gua pengen lu inget, sebelum gua ngomong, apa pun jawaban lu nanti, gua tetep di sini. Sebagai partner, minimal."

Kirana meletakkan gelasnya, firasat tidak enak mulai muncul. "Dimas, lu ngomong kayak mau pergi."

"Bukan gitu." Dimas menggeleng, tersenyum kecil yang tidak sampai ke matanya. "Cuma pengen lu tau, apa pun yang terjadi setelah ini, Cipta Prada Land bakal tetap jalan. Lu tetep punya gua di samping lu, apa pun yang terjadi."

"Lu belum cerita apa yang terjadi malam itu, waktu hujan deras dan lu nggak bisa dihubungi semaleman," Dimas melanjutkan kalimatnya, menahan suaranya agar terdengar pelan dan lembut. "Nadia bilang lu pulang pagi, kelihatan kacau."

Kirana meletakkan penanya, menghela napas panjang. Dimas adalah salah satu dari sedikit orang yang benar-benar mengenalnya, yang menemaninya sejak masa sulit setelah bisnis ayahnya runtuh. Ia tidak pantas dibohongi.

"Gua kejebak hujan di gedung Wibowo Group," Kirana akhirnya mengaku, memilih tidak menjelaskan lebih jauh. "Listriknya padam. Gua baru bisa pulang besok paginya."

Sesuatu berubah di wajah Dimas mendengar nama itu, sekilas, nyaris tidak terlihat. "Lu sendirian di sana semaleman?"

Kirana tidak menjawab, dan keheningan itu sendiri sudah jadi jawaban yang tidak pernah ia maksudkan untuk diberikan.

"Kirana," Dimas berkata, suaranya lebih pelan sekarang, "gua nggak berhak nanya ini, tapi... sebenernya ada apa antara lu sama Raditya Wibowo?"

"Nggak ada apa-apa," Kirana menjawab, meski suaranya sendiri terdengar rapuh.

"Kirana." Dimas menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatapnya lama. "Gua kenal lu lima tahun. Gua tau kapan lu bohong, dan ini salah satunya."

"Dimas, tolong. Nggak sekarang."

"Kapan lagi? Lu udah dua hari ngumpet di balik rapat sama laporan yang bahkan udah lu apalin di luar kepala. Nadia khawatir, gua khawatir, bahkan staf-staf di kantor ini bisa ngelihat perubahan lu. Tapi… lu cuma diem aja seakan nggak ada yang salah sama diri lu."

Kirana meletakkan penanya lagi. Dimas tidak salah. Mungkin memang sudah waktunya berhenti berpura-pura.

Dimas menatapnya lama. "Gua udah nunggu waktu yang tepat buat ngomong ini bertahun-tahun. Mungkin nggak akan pernah ada waktu yang bener-bener tepat, jadi biar gua ngomong sekarang."

Jantung Kirana berdegup lebih cepat. Sebagian dari dirinya sudah menebak apa yang akan Dimas katakan.

"Gua sayang – bukan, bisa dibilang, gua cinta sama lu," Dimas berkata, suaranya bergetar meski ia berusaha keras menjaganya tetap stabil. "Bukan cuma sebagai sahabat, bukan cuma sebagai partner bisnis. Perasaan ini udah gua simpen lama, Kir. Sejak masa-masa lu berjuang sendirian bangun semua ini dari nol, dan gua milih berdiri di samping lu bukan cuma karena gua percaya sama visi lu, tapi karena gua nggak bisa bayangin hidup gua tanpa ada lu di dalamnya."

"Dimas —" Kirana mencoba menyela, tapi Dimas menggeleng pelan, minta kesempatan untuk menyelesaikan apa yang sudah lama ia tahan.

"Biarin gua selesai dulu," katanya, matanya tampak berkaca-kaca. "Gua inget setiap malem lu nangis diam-diam di kantor setelah rapat sama investor yang nolak kita, lu pasti mikir gua nggak liat, kan? Gua inget setiap kali lu maksain diri senyum di depan tim padahal gua tau lu lagi capek banget. Gua udah lama pengen bilang lu nggak harus selalu kuat sendirian. Ada gua, kalau lu mau jadiin gua jadi lebih dari sekadar sahabat."

Kirana terdiam, kata-kata itu menghantam kesadarannya. Dimas, sahabat yang selalu ada, yang tidak pernah sekali pun membuatnya merasa harus berpura-pura kuat, kini duduk di hadapannya, menunjukkan sisi yang selama ini ia sembunyikan.

"Dimas, gua —" Kirana memulai, tidak yakin bagaimana harus melanjutkan.

"Lu nggak perlu jawab sekarang," Dimas memotong cepat. "Gua cuma pengen lu tahu. Itu aja."

Tapi keheningan Kirana sendiri, jeda yang terlalu lama sebelum ia sempat merangkai kata penolakan yang halus, sudah cukup menjawab pertanyaan yang belum sempat Dimas ajukan langsung.

"Ada orang lain, ya?" Dimas bertanya pelan, matanya menatap Kirana tatapan nanar.

"Dimas, ini rumit —"

"Lu nggak perlu jelasin." Dimas berdiri dari kursinya, mencoba tersenyum meski senyum itu terlihat dipaksakan. "Gua udah duga, sebenernya. Sejak Wibowo Group muncul di hidup lu, ada yang berubah dari cara lu ngomong, cara lu natap sesuatu, kayak pikiran lu selalu ada di tempat lain."

Kirana ingin membantah, tapi kata-kata itu tidak bisa keluar dari mulutnya. Jauh di lubuk hatinya, ia tahu Dimas tidak sepenuhnya salah.

"Maaf," Kirana berkata pelan, suaranya bergetar menahan rasa bersalah. "Lu salah satu orang paling penting dalam hidup gua, Dimas. Gua nggak pernah bermaksud nyakitin lu."

"Gua tahu." Dimas berjalan menuju pintu, berhenti sejenak sebelum benar-benar keluar, menoleh dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Gua cuma berharap, siapa pun dia, dia adalah orang yang pantes dapetin semua yang lu perjuangkan selama ini, Kir. Karena lu pantas dapetin orang yang nggak akan bikin lu ragu kayak gini."

Ia keluar dari ruangan tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Kirana sendirian dengan gelas jus alpukat pemberiannya dan hati yang terasa berat.

Kirana menatap pintu yang baru saja tertutup. Ia sadar bahwa Dimas, tanpa sengaja, baru saja mengucapkan kebenaran yang belum pernah ia akui bahkan pada dirinya sendiri.

Ia meraih ponselnya, membuka pesan Radit yang belum ia balas, jarinya melayang lama sebelum akhirnya mengetik satu balasan singkat yang sudah ia tahan dua hari terakhir.

Aku masih butuh waktu. Tapi aku nggak akan ngilang.

Ia mengirimkannya sebelum pikirannya berubah.

Nadia masuk beberapa menit kemudian, membawa map berisi laporan yang harus ditandatangani, tapi berhenti begitu melihat ekspresi sahabatnya. "Lu kenapa? Pucat banget."

"Dimas baru aja nyatain perasaannya ke gua," Kirana berkata pelan.

Nadia terdiam sejenak, meletakkan map itu tanpa suara. "Dan lu nolak dia?"

Pertanyaan yang dilontarkan oleh Nadia lebih terdengar seperti penyataan di telinga Kirana.

"Kok lu tau?" Kirana bertanya, menoleh.

"Karena gua kenal lu, Kir. Dan karena gua udah tahu dari lama kalau hati lu ada di tempat lain, jauh sebelum Dimas berani ungkapin perasaannya." Nadia duduk di kursi yang tadi ditempati Dimas. "Lu harus hati-hati. Lu lagi main di tepi jurang yang lebih berbahaya dari yang lu sadari."

"Gua tau." Kirana menunduk, menatap tangannya sendiri. "Tapi gua nggak tau harus mulai dari mana buat berhenti."

"Mulai jujur dulu aja," Nadia berkata pelan. "Sama diri lu sendiri dulu, baru sama orang lain. Lu nyakitin Dimas hari ini bukan karena lu jahat, Kir. Tapi karena lu masih bohong sama diri lu."

Kirana tidak menjawab, hanya menatap map yang belum ia buka, merasakan beban dari semua pilihan mulai menumpuk. Dimas yang terluka. Radit yang menunggu. Dan dirinya sendiri, terjebak di antara keduanya.

Nadia berdiri, menepuk bahu sahabatnya sekali sebelum berjalan ke pintu. "Gua nggak akan maksa lu buat cerita semuanya sekarang. Tapi kalau lu udah siap, gua di sini."

Setelah pintu tertutup, Kirana duduk sendirian, membiarkan tangannya berhenti di atas map yang belum ia buka. Ia memikirkan Dimas, tatapannya yang berusaha tegar, langkahnya yang cepat Ketika meninggalkan ruangan. Ia memikirkan Radit, pesan yang menumpuk, satu balasan singkat yang baru saja ia kirim tanpa tahu ke mana akan membawanya.

Untuk pertama kalinya sejak malam itu, Kirana mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia sedang berdiri di persimpangan yang tidak bisa terus ia hindari. Cepat atau lambat, seseorang akan terluka lebih dalam dari ini.

1
m.marsela
kalau masih sayang, kenapa melepaskan sih duit, kepo banget sama alasannya ninggalin kirana
Ade Chubi
Radit hebat 👍
Ade Chubi
selalu nyerang pihak perempuan nya ,kalo menyerang Radit , Valerie tau akan konsekuensinya 😂😂
Cilia: Radit punya kuasa ka😂
total 1 replies
m.marsela
padahal ada orang baru yang siap untuk selalu ada
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
Cilia: Terlsdang masa lalu selalu menang ka… huhu
total 3 replies
Raudhatul Zannah
buat penasaran kak ceritanya, semangat ya kak
Ery Sithi Badriyyah
seru bgt ceritanya
Ery Sithi Badriyyah
seru ceritanya lanjut yuk
white star ⭐
bikin ketagihan membacanya
mary dice
Nah gitu dong Kirana 🔥🔥 ditunggu gebrakan-gebrakanya melawan m
para musuh 💪💪
Arni Arlinawati pratiwi
semangat anak ku sayang..
helena
lanjut thoor
m.marsela
Fix lanjut baca, penasaran banget
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat merekomendasi ceritanya... Yang belum baca wajib baca sih ini
Cilia
Penjelasannya bisa dibaca di bab-bab selanjutnya! Makin seru loh😆
Putri Ayu/PqxxyZ
terjadi salah paham ya...tapi kenapaa gak dijelasin sih malah ilang 😊
Putri Ayu/PqxxyZ
yuk bisa yuk cari cowok selain Raditya...💪💪 🤭
Cilia
Terimakasih atas dukungannya kak❤️
Raudhatul Zannah
semangat kak
Wawan
Satu iklan dan mawar buat mu Thor 💪
Wawan
Clue nya menarik 👍
Cilia: Terimakasih, kak! Bab-bab berikutnya akan lebih menarik! Ditunggu, ya😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!