Demi rasa iba, Arhan menikahi Dira, seorang gadis yatim piatu yang baru kehilangan kedua orang tuanya. Dira mengira pernikahan itu adalah awal dari kehidupan yang penuh kasih sayang. Nyatanya, ia hanya dijadikan istri untuk mengurus rumah, melayani suami, dan merawat ibu mertuanya.
Lima tahun berlalu tanpa kehadiran buah hati. Dira terus menyalahkan dirinya karena dianggap mandul. Ia tak pernah tahu bahwa setiap hari Arhan memberinya pil KB yang dikemas sebagai obat penyubur agar ia tak pernah mengandung.
Ketika alasan "mandul" itu digunakan Arhan untuk menikahi wanita yang sejak dulu dicintainya, hati Dira hancur. Lebih menyakitkan lagi, ia tak sengaja mendengar percakapan yang mengungkap bahwa selama ini dirinya hanyalah seorang babu yang sengaja dipertahankan sampai wanita pujaan Arhan kembali.
Namun, semua kebohongan memiliki waktunya untuk terbongkar. Saat rahasia pil KB akhirnya terungkap, penyesalan mulai menghantui Arhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasih Sayang yang Berlimpah
Suasana rumah sakit diruang tunggu pengambilan obat cukup terasa ramai, tidak banyak banyak orang yang bergemuruh tidak juga sepi, tampak hening dan teratur. Beberapa orang menunduk sambil melihat isi resep obat yang telah dokter berikan, serta beberapa orang hanya menatap kosong melihat pemandangan hilir mudik orang yang sedang berjuang untuk kesembuhan, termasuk Dira.
Wanita dengan balutan switer rajut berwarna coklat tua itu tampak tenang dan damai dalam diamnya, sesekali matanya melirik orang yang lewat didepan, demam ditubuhnya masih turun naik tapi tidak separah seperti semalam, berkat perhatian yang Arya berikan semalaman demam tinggi itu perlahan turun dengan signifikan.
Malam itu bahkan Arya tidak beranjak dari tempat tidur Dira sebelum memastikan suhu tubuh Dira benar-benar turun, beberapa kali Dira mengigau tak jelas membuat Arya semakin khawatir pada wanita yang ia anggap sebagai adiknya itu, serta tubuh Dira sempat menggigil yang akhirnya Arya membalut selimut tambahan pada tubuh mungil Dira.
Semalam penuh Arya benar-benar menjaga Dira, memberikan perhatian sepenuhnya. Sesekali tangannya memijat tipis kepala Dira sampai dengan rintihan yang keluar dari bibir mungil Dira itu mereda. Bahkan sampai menjelang subuh pun Arya belum benar-benar memejamkan matanya, matanya terus tertuju pada Dira yang berada disampingnya, hatinya was-was, bahkan rasa lelah yang mendera tubuhnya itu seketika hilang ketika melihat tubuh Dira yang terbaring lemah diatas kasur.
Paginya Arya memaksa Dira untuk pergi kerumah sakit, setelah melewati penolakan yang cukup ketat dari Dira, akhirnya Arya bisa meluluhkan Dira dengan imingan jika besok Lara meminta Dira untuk pergi bermain bersama, akhirnya Dira menyanggupi untuk pergi kerumah sakit dengan diantar Arya.
Jadilah pagi ini Dira sudah duduk bersampingan dengan Arya diruang tunggu obat, hatinya kalut oleh perasaan tidak nyaman karena telah terlalu banyak menyita waktu Arya untuk istirahat. Dira melirik Arya disebelahnya, pria dengan hidung mancung itu tampak tenang, bertumpang kaki dengan kepala menunduk sambil memandangi resep obat untuk ditebus.
Setelah diperiksa oleh dokter, Dira tidak mengalami hal serius, hanya demam yang diakibatkan oleh imun tubuh yang lagi lemah serta sedikit tekanan setres dari tubuhnya. Hal itu dapat memicu virus yang mudah masuk kedalam tubuh Dira kemudian menyebabkan suhu tubuh yang tinggi.
"Mas.." Dira mendongak melirik pria yang kini sudah menyandarkan lengan kokohnya pada kursi yang diduduki oleh Dira.
"Hemmm?" Arya menoleh, kemudian senyum tipis yang selalu mempesona itu terukir pada wajah tampan bak artis ternama, Arya menaikan kedua alisnya. Sorot matanya yang lembut menatap binar mata kesukaannya.
"Dira ngerepotin banget ya?, udah banyak menyita waktu istirahat mas, waktu mas menghabiskan waktu bersama Lara.." ucap Dira pelan, sarat akan tubuhnya yang masih terasa lemah.
Arya terkekeh pelan, suara kekehan yang terdengar seksi untuk ukuran pria matang sepertinya. Tangannya yang bersandar pada kursi kemudian bergerak pelan. Meraih kepala Dira untuk bersandar nyaman pada bahu kokohnya, kepala yang masih terasa hangat dan berdenyut nyeri itu seketika bersandar nyaman pada bahu kokoh.
Dira memejamkan matanya, merasakan kenyamanan yang teramat sangat, dan baru ia rasakan lagi setelah sekian lama. Seketika denyutan nyeri pada kepalanya, perlahan luntur oleh rasa nyaman yang mendera hatinya.
"Dari dulu juga emang kamu hobinya ngerepotin mas, tapi anehnya mas nya seneng banget direpotin." suara berat dan dalam itu terdengar sangat nyaman pada telinga Dira, membuat desiran halus yang akhir-akhir ini ia rasakan itu kembali hadir.
"Maap, sekarang kan udah beda. Mas Arya sudah berkeluarga dan udah punya seorang putri, ya Dira jadi merasa bersalah banget." ucap Dira pelan. Hembusan nafas hangatnya menembus kaos polo berwarna denim yang membungkus tubuh pria tinggi tegap dengan pesona memikat itu.
Mendengar kata keluarga dari mulut Dira, membuat Arya ingin segera mengalihkan pembicaraan. Seperti ada sesuatu yang Arya tutupi selama ini, tentang dirinya dengan keluarga yang ia gagal bangun dengan kehangatan.
"Kepalanya masih panas Ra." Arya menyentuh lembut kening Dira dengan telapak tangannya, kemudian ada elusan halus yang membuat Dira dibalut oleh rasa aneh yang semakin berdesir didalam rongga dadanya.
"Masih sakit kepalanya?" tanya Arya lagi, ia melirik wajah Dira yang terlihat masih kemerahan.
Dira mengangguk pelan. "Sedikit aja.."
"Pulang minum obat dan langsung tidur. Ini perintah bukan penawaran dari mas. Kamu harus nurut!"
Dira terkekeh, perkataan Arya barusan membuatnya bernostalgia pada beberapa tahun yang lalu. Arya yang selalu membimbingnya belajar, tapi Dira yang selalu mengeluh karena ngantuk.
"Ternyata mas Arya gak berubah ya."
"Emangnya perasaan harus berubah Ra?" celetuk Arya, jawabannya tidak ada sangkut pautnya dengan pertanyaan yang Dira lontarkan.
"Mas, kok gak nyambung si. Perasaan Dira yang lagi demam bukan mas."
Arya membeku ditempat, perkataan itu keluar begitu saja, karena dalam otaknya yang sedang sibuk menerka sebuah perasaan aneh yang kian menelusup didalam hati.
"Mas, ambil dulu obat Ra. Kamu tunggu sini aja." Arya menarik diri perlahan, ada perasaan panas yang kian mengalir dipipinya.
Tepat setelah Arya pergi, seseorang yang sedang bergandengan mesra muncul dari arah pintu. Senyum mengembang menghiasi sepasang suami istri itu. Ayu bergelayut manja pada lengan Arhan, sambil memegang perut yang mulai terlihat perubahan, semakin membuncit.
Dira sadar, menatap sepasang suami yang terlihat bahagia itu. Bukan denyutan nyeri didalam hati yang kini ia rasakan, melainkan denyutan kepala yang semakin mengencang kala teringat perlakuan Ayu yang telah membuatnya celaka, sampai kehilangan bayi yang didalam kandungannya.
Arhan pun tiba-tiba menoleh kearah Dira, seketika tatapan kosong itu bertemu dengan manik bening milik Dira, langkahnya seketika terhenti, perasaan aneh mulai Arhan rasakan, seperti menemukan apa yang selama ini telah hilang dari sebagian hidupnya.
"Liat apa sih mas? kok tiba-tiba berhenti." tanya Ayu, tidak sadar orang yang sedang dilihat Arhan merupakan mantan istri suaminya.
Arhan cepat memalingkan wajah dari Dira, ia tatap Ayu yang masih bergelayut manja pada lengannya. Kemudian Arhan mengecup kening Ayu tanpa sebab, berharap tindakan itu akan memantik sebuah api cemburu pada hati Dira. Perbuatan itu seolah menggambarkan Arhan yang terlihat bahagia setelah menceraikannya.
"Eh engga sayang...kita duduk disana yuk." suara Arhan sengaja dikeraskan, kemudian merangkul mesra bahu Ayu menuju ruang yang berbeda dengan Dira.
Dira hanya menggedikkan bahunya tidak peduli, nama Arhan benar-benar telah hilang didalam hatinya.
"Aman Ra?" Arya datang dengan membawa kantung obat, bukan obat sembarangan didalam kantung itu. Terdapat beberapa vitamin yang harganya sangat mahal, yang berfungsi untuk meningkatkan dan menjaga imun tubuh. Arya benar-benar memberikan yang tebaik untuk Dira.
"Kepalanya sakit lagi mas.." keluh Dira kemudian meraih uluran tangan Arya yang membantunya untuk berdiri. Telapak tangan besar itu merasakan tangan Dira yang masih terasa panas.
Kemudian Arya merangkul bahu sempit Dira, memastikan agar wanita yang ia anggap adik itu tetap aman dalam penjagaannya.
Sementara diruangan lain Arhan sesekali berdiri dan menengok pada ruang yang tadi Dira tempati, matanya memicing mencari keberadaan Dira, bangku yang Dira tempati sudah kosong.
Sakit apa dia, wajahnya terlihat sangat pucat sekali.
Batin Arhan yang kembali duduk disebelah Ayu.
Bersambung