Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Singkat cerita...
Hari‑hari berlalu, hubungan mereka semakin erat. Raka mulai merasa nyaman dan perlahan rasa sayang tumbuh dalam hatinya. Ia selalu menyempatkan waktu di tengah kesibukan, bahkan setiap akhir pekan mereka selalu pergi bersama.
“Laras, sudah siap belum? Kenapa lama sekali? Aku tidak suka melihatmu dandan berlebihan,” ujar Raka dari sofa sambil menunggu.
“Siapa yang dandan berlebihan? Aku hanya ingin terlihat cantik supaya suamiku senang. Harus seimbang dengan ketampanan Kakak, supaya serasi saat jalan berdua,” jawab Laras sambil tersenyum.
“Kamu cantik tanpa riasan,” ujar Raka tanpa sadar.
“Terima kasih pujiannya… sayang. Kalau begitu ayo berangkat, aku sudah siap,” jawab Laras lembut.
Raka tertegun mendengar panggilan itu. Hatinya berdebar tak terduga.
“Kakak, ayo, kok diam saja?” ajak Laras sambil menarik tangannya.
Hari ini Raka mengajak Laras menonton film seperti yang diinginkannya. Sejak itu mereka sering bercerita sebelum tidur, semakin saling mengenal. Raka merasa iba mendengar bahwa selama ini Laras selalu hidup terbatas dan dikekang oleh orang tua kandungnya sendiri.
Dulu banyak hal yang menyenangkan tak pernah bisa dinikmati Laras, karena selalu dibatasi oleh orang tuanya. Ketika dia bilang ingin menonton di bioskop, Raka sempat heran. Keluarganya sebenarnya sangat mampu, namun kebebasan anaknya justru dibatasi begitu ketat.
Tanpa ragu, Raka langsung menyanggupi permintaan itu.
Mereka berjalan beriringan sambil saling menggenggam tangan. Di jalan, Raka membelikan minuman dan jagung bakar. Setelah mendapat tiket, masuk ke ruangan bioskop pun tangan mereka tak terlepas. Banyak orang melihat dan memuji bahwa mereka pasangan yang serasi. Hal itu membuat Laras tersenyum lebar dan merasa senang.
Setelah selesai menonton, mereka mencari tempat makan malam. Tangan tetap saling dipegang erat. Raka sengaja tidak melepaskannya karena tak suka melihat pandangan pria lain yang menatap istrinya dengan tatapan tak pantas. Memang Laras tidak setinggi atau seanggun Rara, namun wajahnya yang manis dan sederhana tetap menarik perhatian banyak orang. Berbeda dengan Rara yang suka pakaian terbuka dan riasan tebal, Laras lebih suka berpakaian sopan dan tampil alami.
Hal yang berbeda Ketika bersama Laras, rasa ingin melindunginya jauh lebih kuat dibandingkan dulu saat bersama Rara. Dulu dia tidak keberatan jika orang lain menatap Rara, namun sekarang dia ingin memberi tanda tegas bahwa Laras adalah istrinya. Genggaman tangannya semakin erat.
“Kamu mau makan apa?” tanyanya lembut.
“Terserah Kak, aku ikut saja apa yang Kakak pilih,” jawab Laras sambil tersenyum.
“Jangan begitu, pilih yang benar‑benar kamu inginkan. Aku ingin kita makan di tempat yang memang kamu sukai,” ujar Raka.
“Kalau begitu, disana saja ya,” tunjuk Laras ke sebuah restoran di seberang jalan.
Suasana makan malam berjalan tenang dan hangat. Mereka mengobrol santai sepanjang waktu, saling bercerita hal‑hal kecil yang belum sempat disampaikan. Malam itu terasa begitu damai, seolah jarak yang dulu ada di antara mereka perlahan mulai hilang. Pulang ke rumah pun perasaan itu masih terasa menyenangkan, membuat keduanya tidur dengan hati yang lebih tenang dari biasanya.
*****
Pagi harinya saat terbangun, Raka langsung menoleh ke samping. Tempat tidur sebelah sudah kosong. Dia segera bangun dan memakai celana yang sudah tergeletak di lantai.
Langkahnya membawa ke arah dapur. Di dekat kompor, Laras sedang sibuk menyiapkan sarapan. Sesekali terdengar suara senandung pelan dari bibirnya.
Entah kenapa pemandangan itu selalu membuat hati Raka tenang sekaligus terpikat. Dengan baju rumah yang sederhana dan rambut diikat santai, kecantikannya tampak lebih tulus dan memikat. Tak cukup hanya diam memandang dari jauh, Raka pun berjalan perlahan mendekat.
Ia mendekat perlahan, lalu memeluk pinggang Laras dari belakang. Mencium pipinya lembut, sesekali juga di lehernya.
“Aduh, Kak Raka… kaget tahu. Jangan suka tiba‑tiba begini, jantungku hampir copot,” kata Laras sambil terus mengaduk masakan.
“Mana mungkin sampai begitu. Kamu masih muda, mana mungkin punya penyakit jantung atau penyakit keras lainnya,” jawab Raka semakin erat memeluknya.
“Siapa yang tahu, Kak. Sakit tak lihat umur. Lagipula, tak ada yang bisa menjamin hari esok kan? Bisa saja besok aku sudah dipanggil Tuhan,” ujarnya pelan.
“Jangan bicara aneh‑aneh. Kamu sedang masak apa?” Raka cepat mengalihkan topik.