Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.
Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.
Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Dengan suara pelan yang hampir tidak terdengar, Tara akhirnya mengaku, "Kirain aku langsung diterkam."
Beberapa detik Sarif hanya terdiam. Lalu ia tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di hotel. "Tara..."
"Iya?"
"Kamu kebanyakan nonton drama."
Tara langsung tertawa malu. "Iya juga ya."
Suasana yang semula penuh kecanggungan berubah menjadi hangat. Tara pun semakin yakin bahwa pria yang kini menjadi suaminya akan selalu berusaha menghormati perasaannya dan membangun rumah tangga mereka dengan kelembutan, komunikasi, dan saling menghargai.
Suasana kamar kembali tenang setelah tawa mereka mereda. Rasa canggung yang sejak tadi menyelimuti perlahan mulai mencair. Tara kini duduk di sofa dekat jendela sambil memainkan cincin di jari manisnya, sesekali melirik Sarif yang sedang menuangkan dua gelas air minum.
Sarif menghampiri, lalu duduk di samping istrinya..Beberapa detik ia hanya memandang wajah Tara dengan senyum tipis. "Entah kenapa...Aku punya keyakinan... Pernikahan kita ini akan seru."
Tara langsung tersenyum lebar. "Ya iyalah."
"Kenapa?"
"Soalnya aku pemeran utamanya."
Sarif terkekeh pelan. "PD."
"Hehe... bukan PD. Tapi itu kenyataan."
Sarif menggeleng geli. "Kamu memang tidak pernah kehabisan jawaban."
Tara mengangkat dagunya sedikit. "Itu namanya bakat. Bakat bikin ramai. Biar rumah tangga kita nggak sepi."
Sarif mengangguk pelan. "Itu yang aku suka."
Tara menoleh."Suka apanya?"
"Kamu selalu bisa membuat orang di sekitarmu tersenyum."
Pipi Tara mulai memerah. Untuk sesaat, gadis yang biasanya cerewet itu justru kehilangan kata-kata.
Sarif mengangkat tangan, lalu menjawil pelan pipi Tara yang merona. "PD."
Tara mengusap pipinya sambil terkekeh. "Ih, Bang."
Sarif kembali tertawa kecil. Ia lalu menatap Tara dengan lebih dalam, seolah ingin mengingat setiap detail wajah perempuan yang kini telah menjadi istrinya. Dengan lembut, ia mengecup bibir Tara sejenak. Ketika keduanya saling berpandangan lagi, suara Sarif terdengar pelan namun penuh keyakinan. "Aku mencintaimu."
Tara membeku beberapa detik. Jantungnya kembali berdetak tidak karuan. Perlahan, senyum malu menghiasi wajahnya. "Aku juga mencintaimu, Bang." tapi ia menjawab sambil megap-megap karena terlalu deg-degan.
Sarif menggenggam tangan Tara dengan hangat. "Mari kita jalani rumah tangga ini bersama."
Tara mengangguk mantap. "Siap." Tawa kecil mereka kembali memenuhi kamar, menutup hari pertama sebagai suami istri dengan kehangatan, cinta, dan harapan akan perjalanan panjang yang akan mereka lalui bersama.
Bersama Tara, ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk mencairkan suasana. Gadis yang penuh canda itu mampu mengubah kamar yang semula dipenuhi kecanggungan menjadi hangat oleh tawa. Bahkan Sarif, perwira yang dikenal dingin, tenang, dan tidak banyak bicara, perlahan ikut larut dalam obrolan ringan istrinya.
Mereka saling bercerita tentang masa kecil, pengalaman lucu, cita-cita yang belum sempat terwujud, hingga kebiasaan-kebiasaan kecil yang mungkin akan mereka temui dalam kehidupan sehari-hari nanti. Tara baru menyadari bahwa di balik wajah serius dan pembawaan disiplin itu, Sarif memiliki selera humor yang sederhana namun menghangatkan hati. Sementara Sarif semakin yakin bahwa Allah benar-benar menghadiahkannya seorang istri yang mampu membawa ketenangan sekaligus keceriaan ke dalam hidupnya.
Malam semakin larut. Tawa mereka perlahan berubah menjadi percakapan yang lebih pelan dan penuh kehangatan. Tidak ada lagi rasa canggung seperti saat pertama memasuki kamar hotel. Kini yang ada hanyalah dua insan yang telah sah menjadi suami istri, saling memandang dengan rasa syukur dan kasih sayang.
Sarif menggenggam tangan Tara dengan lembut, memastikan istrinya merasa tenang dan nyaman. Tara membalas genggaman itu sambil tersenyum malu. Malam pertama mereka pun menjadi awal yang indah untuk membangun rumah tangga, ditandai dengan kepercayaan, penghormatan, dan cinta yang kini telah halal bagi keduanya. Di balik pintu kamar itu, mereka memulai babak baru kehidupan sebagai pasangan suami istri, dengan doa agar Allah senantiasa menjaga cinta, ketenteraman, dan keberkahan dalam setiap langkah yang akan mereka tempuh bersama.
***
Pagi pertama setelah resmi menjadi suami istri terasa begitu berbeda bagi Tara. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kamar hotel membangunkannya perlahan. Sesaat ia masih bingung berada di mana, sampai kemudian matanya menangkap sosok Sarif yang berdiri di dekat jendela sambil menikmati secangkir kopi. Lelaki itu menoleh ketika mendengar Tara mulai bergerak. "Selamat pagi, Ibu Sarif."
Tara yang masih setengah mengantuk langsung tersenyum lebar. "Selamat pagi juga, Pak Suami."
Entah mengapa, sapaan sederhana itu membuat keduanya sama-sama tertawa kecil.
Tara bangkit dari tempat tidur lalu berjalan menghampiri Sarif. Dari balik jendela kamar, hamparan kota terlihat begitu indah. Ia mengembuskan napas panjang sambil tersenyum. "Kalau dipikir-pikir, seminggu lalu aku masih ngajar les bahasa Inggris. Sekarang bangun tidur sudah jadi istri perwira."
Sarif tersenyum.."Hidup memang penuh kejutan."
"Iya."
"Dan kejutan terbaikku ternyata Abang."
Sarif hanya menggeleng pelan, sementara pipinya sedikit memerah mendengar ucapan spontan istrinya.
Hari itu mereka menghabiskan waktu menikmati fasilitas hotel. Tara yang baru pertama kali menginap di hotel berbintang lima terlihat begitu antusias. Hampir setiap sudut ingin ia lihat. Saat memasuki restoran untuk sarapan, matanya langsung berbinar melihat begitu banyak pilihan makanan.
Tara langsung mengambil piring, tetapi beberapa menit kemudian ia berdiri kebingungan di depan deretan makanan. "Aku bingung mau makan yang mana. Semuanya kelihatan enak."
Sarif terkekeh. "Kalau begitu ambil sedikit-sedikit."
Tak lama kemudian, piring Tara penuh dengan berbagai macam makanan.
Sarif melihatnya lalu tersenyum geli.."Katanya sedikit-sedikit."
"Iya. Ini sedikit kok."
Sarif hanya bisa menggeleng sambil tertawa. "Hati-hati, nanti gendut lho." tiba-tiba Sarif berbisik di telinga Tara. Bisikan yang membuat Tara langsung merinding.
Usai sarapan, mereka berjalan santai di taman hotel. Tara bercerita tentang murid-murid lesnya yang lucu, tentang impiannya suatu hari nanti bisa membuka tempat kursus sendiri, juga tentang ibunya yang selalu menjadi perempuan paling hebat dalam hidupnya. Sarif mendengarkan tanpa menyela, sesekali mengajukan pertanyaan kecil yang membuat Tara merasa benar-benar diperhatikan.
Sebaliknya, Sarif juga mulai bercerita tentang pengalamannya selama bertugas, tentang alasan ia memilih menjadi dokter militer, dan tentang mimpinya untuk terus mengabdi kepada negara tanpa melupakan keluarganya.
Menjelang sore, mereka duduk berdampingan menikmati langit yang perlahan berubah jingga. Tidak banyak percakapan. Keheningan di antara mereka justru terasa nyaman..Tara kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Sarif. "Bang. Kalau nanti kehidupan kita nggak selalu semudah hari ini, kita tetap saling pegang tangan ya."
Sarif menoleh, lalu mengangguk mantap. "Bukan hanya saat bahagia. Tapi juga saat lelah, saat sedih, dan saat diuji."
Tara tersenyum. "Janji?"
"Janji."
Di tengah suasana senja yang tenang, keduanya menyadari bahwa bulan madu bukan sekadar tentang hotel mewah atau perjalanan indah. Yang paling berharga adalah kesempatan untuk mengenal satu sama lain lebih dalam, saling mendengar, saling menguatkan, dan memulai rumah tangga dengan keyakinan bahwa cinta akan terus tumbuh selama mereka memilih berjalan beriringan setiap hari.