NovelToon NovelToon
Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.

Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.

Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.

Mampukah mantan ku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Fitnah yang Kejam

Malam baru saja larut di Desa Sukamaju. Bumi baru selesai membersihkan badannya setelah seharian penuh mencangkul parit di ladang Pak Jaya. Di dalam rumah peninggalan orang tuanya yang reyot, ia baru saja menyalakan lampu minyak kecil. Namun, ketenangan malam itu mendadak pecah ketika suara derap langkah kaki beramai-ramai terdengar mendekati gubuknya, diiringi teriakan-teriakan penuh amarah.

"Keluar lu, Bumi! Keluar! Jangan sembunyi lu maling!" teriak Doni dari luar pagar, suaranya menggelegar membelah keheningan malam.

Bumi yang kaget langsung membuka pintu kayunya yang seret. Di halaman rumahnya, sudah berkumpul puluhan warga yang dipimpin oleh Doni dan beberapa orang kepercayaannya. Beberapa di antara mereka membawa obor dengan wajah memerah menahan geram.

"Eh, ada apa ini, Don? Kenapa ramai-ramai ke rumah saya malam-malam begini?" tanya Bumi bingung, menatap kerumunan warga.

"Halah, gak usah sok polos lu, Bum! Rumah bokap gua, baru aja kerampokan! Perhiasan emas sama uang kas desa di lemari ilang semua!" bentak Doni sambil menunjuk muka Bumi dengan kasar.

"Innalillahi... kok bisa, Don? Tapi, apa hubungannya sama saya? Saya seharian di ladang Pak Jaya, baru pulang pas magrib tadi," jelas Bumi, berusaha tetap tenang walau jantungnya mulai berdegup kencang.

"Gak usah banyak alesan lu! Joni, geledah gubuk reotnya ini! Periksa semuanya sampai ketemu!" perintah Doni pada anak buahnya.

Joni dan dua orang pemuda lain langsung menerobos masuk ke dalam rumah Bumi. Mereka mengacak-acak kasur tipis, melempar pakaian Bumi yang hanya sedikit, dan membuat seisi ruangan berantakan. Tak lama kemudian, Joni keluar dengan senyum culas sambil mengangkat sebuah kotak beludru merah dan seikat uang tebal.

"Ketemu, Don! Bener kan kata lu, barangnya disembunyiin di bawah tumpukan baju dekilnya!" seru Joni lantang agar didengar semua warga.

Warga yang melihat barang bukti itu langsung riuh. Sebagian besar warga yang memang pro kepada Doni dan ayahnya langsung tersulut emosinya.

"Wah, bener-bener gak tahu diri lu, Bum! Udah ditampung di desa ini malah maling!" teriak salah seorang warga pendukung Doni.

Bumi terbelalak menatap kotak merah itu. "Demi Allah, Don! Itu bukan punya saya! Saya gak pernah megang barang itu, apalagi masuk ke rumah Kepala Desa! Saya dijebak!"

"Halah! Bukti udah jelas ada di rumah lu, masih mau ngelak lu? Dasar maling! Bakar aja sekalian rumahnya biar desa kita bersih dari sampah kayak dia!" hasut Doni kepada massa.

Seseorang melemparkan obor menyala ke arah atap rumbia gubuk Bumi. Dalam sekejap, api langsung berkobar melahap bangunan kayu yang sudah kering dan lapuk tersebut. Bumi hanya bisa menatap nanar tempat tinggal satu-satunya peninggalan orang tuanya hancur menjadi abu dalam hitungan menit.

"Jangan! Kenapa dibakar, Pak? Saya beneran gak salah!" jerit Bumi, matanya berkaca-kaca menatap kobaran api.

"Gak usah banyak bacot lu! Seret dia ke balai desa! Arak!" perintah Doni kejam.

Joni dan beberapa warga langsung meringkus kedua lengan Bumi. Mereka menyeret Bumi menyusuri jalanan desa yang berbatu. Sepanjang jalan, Bumi dipaksa berjalan dengan kepala tertunduk, diarak seperti seorang kriminal kelas berat. Beberapa warga yang terhasut bahkan tega melayangkan pukulan dan tendangan ke tubuh Bumi.

"Ngaku gak lu? Ngaku lu yang maling!" bentak seorang warga sambil mendaratkan pukulan di pipi Bumi hingga sudut bibirnya berdarah.

Bumi meringis kesakitan, rasa perih menjalar di sekujur tubuhnya, namun tatapan matanya tetap lurus. "Saya tidak bersalah, Pak. Saya bersumpah saya tidak mengambil uang itu."

"Masih keras kepala juga lu ya!" Doni ikut menendang punggung Bumi dari belakang hingga pemuda itu tersungkur di tanah berbatu. "Ayo bangun! Jangan akting lu!"

Di antara kerumunan yang beringas, sebenarnya ada beberapa warga yang berdiri di pinggir jalan dengan tatapan iba dan tidak percaya. Pak Jaya dan Kang Maman yang baru tiba di lokasi langsung berusaha menerobos kerumunan.

"Heh, Don! Berhenti dulu! Jangan main hakim sendiri begini! Kasihan si Bumi!" teriak Pak Jaya mencoba melerai.

"Pak Jaya gak usah ikut campur! Barangnya ketemu di dalam gubuknya sendiri kok! Udah jelas dia pelakunya!" sahut Doni ketus.

"Tapi saya tahu betul Bumi, Don! Dia seharian kerja sama saya sampai sore, gak mungkin dia punya waktu buat merampok rumah Kepala Desa!" bela Pak Jaya dengan nada tinggi.

"Bisa aja dia suruhan orang, atau dia ngelakuinnya pas magrib! Pokoknya hukum harus ditegakkan!" potong Joni memprovokasi warga lain.

"Iya, betul! Siksa aja sampai ngaku! Bikin malu Desa Sukamaju aja!" seru warga yang pro-Doni.

Arak-arakan itu akhirnya sampai di halaman depan balai desa yang terang benderang. Bumi dipaksa berlutut di atas tanah yang dingin, dikelilingi oleh lingkaran warga yang marah. Tubuhnya sudah penuh memar dan pakaiannya robek di beberapa bagian.

"Bumi, dengar ya. Mending lu ngaku sekarang di depan semua orang, biar pukulan ini berhenti!" ancam Doni sambil menjambak rambut Bumi agar mendongak.

Bumi menahan rasa sakit di kepalanya, menatap langsung ke mata Doni dengan keteguhan yang luar biasa. "Mau dipukuli sampai mati pun, Don... saya tetap akan bilang kalau saya tidak bersalah. Karena mencuri itu dosa besar, dan saya tidak melakukannya."

"Lu bener-bener nantangin gua ya!" Doni mengangkat tangannya, bersiap melayangkan pukulan lagi.

"Stop! Doni, berhenti!" sebuah teriakan melengking menghentikan gerakan tangan Doni.

Siti berlari kencang dari arah rumahnya, menerobos kerumunan warga bersama Pak Haji Somad. Wajah Siti tampak pucat dan matanya berkaca-kaca melihat kondisi Bumi yang mengenaskan.

"Siti? Ngapain kamu ke sini malam-malam? Ini urusan kriminal, kamu masuk rumah aja," kata Doni, mendadak melunakkan suaranya.

"Kamu yang apa-apaan, Don! Kenapa Kang Bumi dipukuli sampai kayak gini? Memangnya kamu punya bukti kuat?" tanya Siti dengan suara bergetar karena marah dan sedih.

"Bukti? Tuh, kotak perhiasan emas bokap gua sama uang kas desa ketemu di rumahnya sendiri! Kurang kuat apa lagi?" jawab Doni bangga sambil menunjuk barang bukti yang dipegang Joni.

Pak Haji Somad melangkah maju, memeriksa kotak beludru merah tersebut, lalu menatap Bumi yang masih berlutut bersimbah darah.

"Bumi, bapak tanya sama kamu dengan jujur. Apa benar kamu yang mengambil barang-barang ini dari rumah Kepala Desa?" tanya Pak Haji Somad dengan nada bicaranya yang tenang namun berwibawa.

Bumi menatap Pak Haji Somad, air matanya menetes pelan mengalir di sela darah di pipinya. "Pak Haji, demi Allah yang memegang jiwa saya... saya tidak pernah menyentuh atau mengambil barang-barang itu. Saya dijebak, Pak Haji. Seseorang menaruh barang itu di rumah saya tanpa sepengetahuan saya."

"Tuh kan, Pak Haji! Maling mana ada yang mau ngaku! Jangan dipercaya, Pak Haji!" seru Joni memotong.

"Diam kamu, Jon! Saya tidak sedang bicara dengan kamu!" bentak Pak Haji Somad tegas, membuat Joni langsung terbungkam.

Siti mendekati Bumi, mengabaikan tatapan sinis dari Doni. "Kang Bumi, saya percaya Kang Bumi gak mungkin ngelakuin ini. Saya tahu betul sifat Kang Bumi."

"Makasih, Neng Siti... tapi gak apa-apa. Biar Gusti Allah yang tahu kebenarannya," bisik Bumi lirih, tubuhnya mulai lemas akibat luka-luka yang dideritanya.

"Don, bawa urusan ini ke jalur hukum yang benar besok pagi. Serahkan ke pihak berwajib, jangan main hakim sendiri sampai membakar rumah orang begini. Ini sudah keterlaluan!" tegas Pak Haji Somad kepada Doni.

Doni mendengus kesal, menyadari bahwa kehadiran Pak Haji Somad dan pembelaan beberapa warga mulai membuat massanya ragu. "Ya sudah! Malam ini kita kurung dia di sel balai desa dulu! Besok pagi baru kita bawa ke kantor polisi biar dia membusuk di penjara!"

Beberapa warga pro-Doni langsung menarik tubuh Bumi yang sudah tidak berdaya, menyeretnya masuk ke dalam ruang tahanan kecil di belakang balai desa. Sementara itu, malam yang pekat di Desa Sukamaju meninggalkan puing-puing rumah Bumi yang masih membara, menyimpan misteri dari sebuah fitnah kejam yang sengaja dirancang untuk menghancurkan hidup pemuda sabar tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!