Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tuduhan pahit dan luka di dahi
Entah sudah berapa lama aku duduk terpaku memandang adikku, hingga tersadar saat jarum jam dinding menunjukkan hari makin larut. Bangkit perlahan, ada rasa kecewa samar karena Aslan belum sadar, namun segera kuusir perasaan itu — yang terpenting nyawanya selamat dan tubuhnya pulih perlahan.
Keluar dari rumah sakit, beberapa perawat dan pengunjung menatap campur heran, kagum, ada yang berbisik pelan tentang siapa diriku. Aku abaikan semua pandangan itu, berjalan lurus ke tempat parkir tempat mobil menunggu. Benar saja, mobil melaju perlahan mendekat — namun langkahku terhenti mendadak. Di hadapanku berdiri tegak seorang wanita yang sengaja menghalangi jalan: pemilik restoran makan yang dibicarakan tadi, di belakangnya berjejer karyawan seolah sudah lama menunggu kedatanganku.
Ia menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki penuh penghinaan dan sikap meremehkan yang tak disembunyikan sedikit pun. “Jadi kaulah gadis menjijikkan yang dulu sering minta sedekah dan memanfaatkan orang lain ya? Sekarang tiba-tiba jadi kaya? Singkat saja sudah bisa tampil semewah ini? Pakaian itu pasti mahal sekali, bukan?”
Tiba-tiba pandangannya tertuju tajam ke tanganku, tepat ke cincin di jariku. “Tunggu sebentar!” Langkah cepat mendekat, mencengkeram kasar pergelangan tanganku lalu menarik paksa agar terkena cahaya. “Cincin ini… harganya pasti selangit, ya?” Serakah terpancar jelas di matanya, lalu ia mencoba memaksa menarik cincin itu keluar dari jariku. Aku menahannya dengan sisa tenaga yang hampir tak ada. “Tolong… jangan!”
“Diam saja!” Cengkeramannya makin kuat hingga terasa nyeri menembus tulang, lalu melempar tanganku kasar hingga aku terhuyung mundur. “Dulu restauranku ramai dan disukai semua orang! Sejak kau dan adikmu datang bikin keributan, tempatku sepi tak ada yang mau datang lagi! Kau harus tanggung jawab semua kerugianku!” Tawanya sinis, tajam dan menyakitkan hati. “Enak sekali hidupmu sekarang ya, tiba-tiba bergelimang harta, naik mobil mewah. Sebenarnya pekerjaan apa yang kau lakukan? Begitu cepat dapat semua ini? Pasti kau menjual dirimu pada orang kaya, bukan?”
Aku menggelengkan kepala kuat berulang kali, matanya penuh air mata, dadaku sesak menahan sakit hati luar biasa yang tak terlukiskan. Namun ia tak peduli, malah makin tajam melontarkan kata-kata yang menyayat hati. “Ya Tuhan, tak sanggup ada yang mau beli gadis pengemis sepertimu! Jangan-jangan kau cuma simpanan orang tua renta ya? Pria tua macam apa yang kau rayu sampai memberi semua ini?” Tawa jahatnya pecah jelas, menggema di udara, hingga air mataku jatuh membasahi pipi tak tertahankan lagi.
Melihatku diam dan menangis, ia makin merasa puas dan bangga. Berteriak keras pada orang-orang yang berkumpul melihat kejadian itu: “Lihat wajah polosnya ini! Semua hati-hati dengannya! Dia pandai merayu dan menipu! Sebarkan berita ini ke mana-mana, masukkan ke media sosial agar seluruh kota tahu — gadis lembut ini bisa saja datang merayu dan merebut suami orang, tak ada yang tahu niat aslinya!”
Beberapa orang segera mengangkat ponsel, merekam dan membagikan ke mana-mana tanpa mau mendengar penjelasanku sedikit pun. Aku hanya bisa menunduk dalam, menangis dalam diam. Percuma membela diri atau menjelaskan kebenaran — tak ada yang mau mengerti. Tak ada yang mau mendengar.
Tiba-tiba langkah kaki berlari mendekat — sopir yang mengantarku menerobos kerumunan. Berdiri tegak di depanku, melindungiku dari segala bahaya, wajahnya penuh cemas dan khawatir yang tulus. “Apa yang terjadi di sini? Kenapa kalian memperlakukan dia seperti ini?” Lalu berbalik memeriksa keadaanku dengan saksama dan lembut, nadanya berubah sepenuhnya: “Nyonya Zara… apakah Nyonya terluka?”
Aku terisak pelan, hanya bisa mengangguk lemah, tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
Senyum sinis wanita itu lenyap seketika, lalu tertawa meremehkan lagi — lebih keras, lebih tajam: “Nyonya? Jadi gadis sial rendahan ini sekarang dipanggil Nyonya, ya?”
Wajah sopir berubah tegas, dingin, penuh wibawa yang tak bisa diremehkan siapa pun. “Tutup mulutmu dengan sopan sebelum saya bertindak lebih jauh!” Matanya menyapu tajam satu per satu orang yang ada di sana, lalu kembali lembut dan khawatir padaku: “Nyonya Zara, mari segera pergi. Saya khawatir Tuan Adrian menunggu dan akan sangat cemas jika Nyonya terlambat pulang.”
Mendengar nama itu, wanita itu makin meledak emosi. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya liar menelusuri tanah seolah mencari sesuatu — lalu melihat batu kecil di dekat kakinya. Menyambar batu itu dengan cepat, berteriak sekuat tenaga dengan wajah yang bengis penuh kebencian: “Kau pikir bisa lari begitu saja setelah bikin kerugian besar? Dasar wanita sial tak tahu berterima kasih!”
Tanpa ragu sedetik pun — ia melempar batu itu tepat ke arah wajahku. Sopir dan orang-orang hendak melindungiku namun terlambat bergerak. Waktu seakan berhenti sejenak.
Duar!
Batu menghantam tepat di dahiku. Rasa perih tajam menyebar cepat ke seluruh wajah, setetes darah menetes perlahan turun membasahi pelipisku yang pucat. Ku sentuh bagian yang sakit dengan punggung tangan — dan melihat warna merah yang menempel di sana. Dunia seakan berputar perlahan.
Sopir gemetar hebat — menahan amarah yang meluap-luap sekaligus ketakutan melihatku terluka. Tanpa sadar ia melangkah maju dan menampar pipi wanita itu dengan keras sekali — suara tamparan yang nyaring pecah di keheningan, terdengar oleh setiap orang yang hadir. “Berani sekali kau menyakiti Nyonya Zara! Tidakkah kau tahu siapa orang yang kau perlakukan begini? Kau dan semua yang ada di sini pasti akan menyesal!”
Segera kembali ke sampingku, suaranya selembut mungkin meski masih bergetar menahan emosi yang mendidih: “Nyonya… sebaiknya kita segera ke dokter untuk mengobati luka ini. Agar tidak ada bahaya yang menimpa Nyonya.”
Namun hatiku sudah hancur dan lelah menanggung semua sakit ini. Hanya menggeleng perlahan, suaraku hampir tak terdengar di antara isak tangis: “Aku hanya ingin pulang saja sekarang.”
“Tapi Nyonya… jika Tuan Adrian melihat luka di dahi ini…” cemas ketakutan mencoba menjelaskan betapa berbahayanya hal ini.
“Kumohon… aku hanya ingin pulang,” potongku pelan dan lemah, air mata masih mengalir deras di pipi, darah masih menetes perlahan dari dahi.
Melihat ketegasan permohonanku, sopir akhirnya pasrah. Membukakan pintu mobil dengan sangat hati-hati agar tidak menambah lukaku. Sebelum naik ke kemudi, ia menatap tajam sekali lagi ke arah wanita yang masih terpaku memegang pipinya yang merah — bergumam pelan namun penuh makna yang menakutkan: “Kau… akan segera menyesali perbuatanmu.”
Mobil melaju perlahan menjauh, meninggalkan kerumunan yang kini mulai hening dan cemas — meninggalkan wanita yang baru saja menyadari bahwa mungkin saja ia baru saja menghancurkan hidupnya sendiri. Dan di dalam mobil yang sunyi itu, aku hanya menatap pantulan wajahku yang terluka di kaca jendela.