NovelToon NovelToon
YANG MULIA, MOHON JANGAN PAKSA AKU !

YANG MULIA, MOHON JANGAN PAKSA AKU !

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Balas Dendam / Reinkarnasi
Popularitas:410
Nilai: 5
Nama Author: Bunga_Persik98

Ye Ning, putri sah Menteri Sayap Kiri, hanya ingin membangun kerajaan bisnis, mengumpulkan kekayaan, dan membawa kemakmuran bagi keluarganya. Namun semua menjadi berantakan ketika Tuan Muda Bai datang dan mengacaukan rencananya. Di saat yang sama, Putra Mahkota Li Yan, pria yang dahulu menolak perjodohan dengannya, tiba-tiba berkata bahwa ia akan menceraikan istrinya.

Di antara ambisi, cinta, dan pengkhianatan, Ye Ning harus memilih: tetap menjadi wanita pebisnis yang bebas atau terjerat dalam permainan politik yang mengancam keselamatan keluarganya.

Mampukah Ye Ning melindungi orang-orang yang dicintainya ketika dua pria paling berpengaruh di kekaisaran mulai menginginkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga_Persik98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Apa Solusimu?

Sesosok tubuh wanita ditemukan mengambang di dalam kolam paviliun di Aula Pendidikan Istana. Ibu kota kekaisaran menjadi gempar. Meskipun sudah berusaha ditutupi oleh pihak istana, hal itu tetap bocor keluar hingga menyebabkan masyarakat panik. Sebenarnya, peristiwa kematian seorang pelayan bukanlah suatu berita yang langka.

​Siapa yang tidak tahu bahwa nyawa seorang pelayan tidak begitu berharga ketika menentang sang tuan, bahkan jika itu hanya di rumah para bangsawan. Nyawa para pelayan sepenuhnya tergantung pada selembar surat kontrak yang dipegang oleh para penguasa.

​Tetapi karena berita kematian ini bersamaan dengan proses seleksi Shizi Fei, para orang tua yang putri mereka masih berada di dalam tembok istana menjadi panik. Mereka berkumpul di depan gerbang istana untuk meminta bertemu dengan Kaisar. Terlebih lagi, kematian pelayan itu terjadi tepat di tempat para peserta sedang melaksanakan ujian.

​Oleh karena itu, Bai Zhilan yang merupakan sensor pengawas memiliki tanggung jawab besar untuk menyelidiki kasus ini—apakah mayat yang ditemukan itu karena bunuh diri atau ada seseorang yang sengaja membunuhnya. Motif pelaku sangat diperlukan.

​Kaisar dalam hal ini mendapatkan tekanan dari berbagai pihak. Terutama ketika sidang pagi berlangsung, para pejabat memohon untuk memberikan jaminan agar para peserta selamat hingga mereka dinyatakan lolos atau tidak dan keluar dari istana.

​Maka, Kaisar memberikan ultimatum kepada semua penghuni Kota Terlarang untuk tidak membuat kekacauan selama masa seleksi. Siapa pun yang terbukti bersalah, berusaha menyakiti, atau mencelakai para calon akan dihukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Tidak ada satu orang pun yang boleh mengganggu jalannya seleksi hingga Shizi Fei berhasil diumumkan dan semua peserta keluar dari istana.

​Mendengar berita ini, Ye Ning dan yang lainnya merasa sedikit lega. Mereka bisa kembali fokus untuk melaksanakan ujian lisan yang diadakan siang ini. Akibat penemuan mayat itu, ujian sempat tertunda selama tiga hari.

​Ye Ning dan yang lainnya memasuki aula pertemuan. Kanselir Agung berdiri dan menjelaskan aturan ujian kali ini. Tidak ada yang membicarakan kasus sebelumnya dan semua orang juga tidak ada yang menyinggungnya, seolah-olah kematian pelayan itu tidak pernah ada.

​"Setiap kelompok yang terdiri dari lima orang akan maju bersama dan memilih satu di antara lima gulungan kertas yang telah disiapkan. Semuanya harus menjawab secara lisan, cepat, dan tepat di hadapan para dewan istana," ujar Kanselir Agung.

​Semua peserta terlihat bertekad dan memantapkan hati mereka. Kecuali Ye Ning yang sejak tadi terus menggenggam tangannya yang berkeringat. Ia berjalan mondar-mandir di luar aula dan sesekali menengok ke dalam.

​‘Apa yang harus kulakukan agar tidak lulus kali ini? Soal apa yang menjadi pertanyaan ujian hari ini?’ Ye Ning memikirkan hal itu di dalam hati.

​Sekitar satu jam kemudian, Ye Ning dan kelompoknya dipanggil masuk ke dalam. Semua orang terlihat gugup, bahkan Jiu Lin yang biasanya tenang kini hadir dengan wajah cemas.

​Satu per satu maju mengambil gulungan kertas itu dan serempak membukanya. Lu Wan mendapat soal nomor tiga, Ye Ning soal nomor dua, Qing He mendapatkan soal nomor satu, Ming Zi nomor empat, dan terakhir Jiu Lin nomor lima.

​Qing He maju duluan, dan Guru Akademi Hanlin membacakan soal ujian untuknya.

​"Di wilayah selatan, baru saja terjadi bencana banjir bandang yang menghancurkan ribuan rumah rakyat, sedangkan saat itu dana darurat kekaisaran sedang menipis. Pada saat yang sama, delegasi dari Kekaisaran Asing akan tiba, dan istana wajib menggelar pesta megah demi menjaga martabat diplomasi dan mencegah negara dinilai sedang melemah. Suami Anda yang merupakan seorang Shizi mendapatkan tugas untuk menyelesaikan masalah ini. Jika Anda adalah seorang Shizi Fei, saran apa yang akan Anda berikan pada suami dan tindakan apa yang akan Anda lakukan untuk membantu mengatasi krisis?"

​Qing He berpikir sejenak, lalu menjawab dengan tenang,

"Sebagai keluarga kekaisaran yang juga seorang pejabat, kami memiliki tanggung jawab yang besar. Maka membantu rakyat untuk menanggulangi bencana adalah sesuatu yang wajib dan tidak bisa ditunda, apalagi bertindak seolah tidak tahu. Saya sebagai Shizi Fei akan mengumpulkan dana dari semua kerabat, teman, dan juga lapisan masyarakat yang tidak terdampak."

" Semua pajak upeti yang dikumpulkan pada bulan itu harus dialokasikan seluruhnya ke daerah bencana. Kita juga harus hidup lebih sederhana dan tidak memakai uang rakyat secara berlebihan. Ambil apa yang menjadi hakmu, dan gunakan apa yang menjadi hak mereka sebagaimana mestinya."

" ​Lalu untuk masalah delegasi dari Kerajaan Asing, kami akan tetap menjamu mereka dengan makanan sederhana yang sama seperti yang dimakan oleh rakyat di daerah bencana. Kita menegaskan kepada mereka bahwa kekaisaran tidak pernah melupakan penderitaan rakyat dan selalu mementingkan tugas negara."

" Kita bisa memberikan tur ibu kota kepada mereka dan memperlihatkan keanekaragaman budaya kita. Bukankah bangsa kita adalah bangsa yang besar dan berbudaya? Jika mereka menilai rendah kita hanya karena kekaisaran memiliki hati untuk rakyatnya, maka mereka bukanlah kerajaan yang pantas untuk kita hormati."

​Mendengar jawaban itu, semua dewan istana sedikit tertegun. Ada yang mengangguk dan ada juga yang menggeleng. Mereka menuliskan penilaian di atas kertas, lalu menyuruh Qing He untuk kembali ke tempatnya.

Setelah Qing He kembali dengan tenang dan mendapatkan dua jempol dari Ming Zi, ia berdiri di barisan dengan sedikit salah tingkah.

​Selanjutnya giliran Ye Ning. Ia maju dengan telapak tangan yang basah oleh keringat. Guru Akademi Hanlin kemudian membacakan soalnya dengan lantang.

​"Di perbatasan utara, seorang Jenderal Besar yang telah berjasa terhadap kekaisaran selama dua dekade terbukti telah melakukan korupsi dana logistik militer. Namun, Jenderal tersebut adalah kerabat dekat dari Yang Mulia Permaisuri. Jika hukum ditegakkan secara adil sesuai undang-undang, maka putusannya adalah hukuman mati serta penyitaan harta. Akibatnya, stabilitas militer di perbatasan akan menggila dan faksi istana akan bergejolak. Tetapi, jika diampuni, wibawa hukum kekaisaran akan cacat. Sebagai calon Shizi Fei, saran apa yang akan Anda berikan untuk mengatasi dilema antara hukum dan stabilitas ini?"

​Mendengar soal ini, Ye Ning mengerutkan kening dan meremas erat kain roknya. Ia teringat kembali pada kejadian mengerikan yang menimpa keluarganya dulu. Zhilan yang menyadari perubahan ekspresi ini langsung menatapnya tajam, lalu memberikan isyarat rahasia kepada Tang Momo agar bersiap.

​Setelah emosinya sedikit tenang, Ye Ning justru bertanya dengan nada santai. "Lalu, siapa kali ini yang akan menjadi kambing hitamnya?"

​Menteri Ritus yang mendengar kalimat lancang itu langsung berdiri dan menampar meja dengan keras. "Nona! Anda jangan sembarangan berbicara!"

​Ye Ning mendengus, bahkan dengan berani berkacak pinggang.

"Sembarangan? Hah."

​Ia kemudian berjalan keluar aula selama beberapa detik dan kembali masuk sambil membawa sebuah tongkat kayu panjang—entah dari mana ia mendapatkan barang itu.

​Semua orang di dalam aula terkejut melihat penampilannya. Bahkan Permaisuri Wanhui dan Junwang Fei yang berada di belakang tirai sutra sampai melongokkan kepala mereka karena penasaran.

​Ye Ning berdiri di titik tengah balai dan berseru, "Para Dewan yang terhormat, silakan lihat ini!"

​WUSH!

​Ia mengayunkan tongkat kayu itu layaknya sebilah pedang, menebas ke depan dengan kuda-kuda yang sangat sempurna, lalu membalikkan tubuhnya dan melakukan gerakan menyerbu yang gesit.

​"Ada tiga prinsip dari kakekku, seorang JENDERAL BESAR, yang selalu dia gaungkan ke telinga cucunya ini!"

​(Ye Ning melakukan salto di udara dan memperagakan jurus pedang ikonik yang terkenal merupakan milik kakeknya)

​"Pertama! Sebagai seorang manusia, melakukan tindak korupsi itu adalah hal yang memalukan!"

​(Ye Ning berlari cepat ke arah meja dewan istana seolah ingin menyerang, namun langsung berbalik di detik terakhir dan menghentakkan tongkat itu ke tanah)

​"Kedua! Sebagai seorang pejabat, memakan uang rakyat itu adalah perbuatan paling tercela, dan kepalanya sangat layak digantung di gerbang kota!"

​(Ia melemparkan tongkat kayu itu tinggi-tinggi ke atas, lalu menyambutnya kembali dengan tangkapan yang tepat tanpa perlu melihatnya)

​"Ketiga! Membantu menutupi perbuatan tercela itu adalah hal yang lebih rendah dari seekor binatang!"

​Saat mendengar tiga kalimat provokatif itu, seluruh orang yang ada di dalam aula langsung berdiri dari kursi mereka. Menteri Ritus menunjuk Ye Ning dengan jari gemetar, mengecam perbuatannya yang dianggap sangat tidak sopan.

Para Guru Akademi Hanlin hanya bisa menggelengkan kepala melihat kegilaan ini. Di balik tirai, Permaisuri Wanhui yang merasa terhina langsung bangkit dan meninggalkan tempat duduknya, disusul oleh Junwang Fei yang justru tersenyum penuh arti.

​Lu Wan dan Ming Zi yang melihat aksi nekat itu dari barisan belakang bahkan hampir menangis karena ketakutan. Qing He tetap tidak bergerak dengan wajah datar, sementara hanya Jiu Lin yang tersenyum senang di sudut ruangan, yakin bahwa Ye Ning kali ini pasti akan dieksekusi.

​Saat seluruh Dewan Istana mulai ribut dan Tang Momo sudah bersiap maju membawa pengawal untuk mengamankan situasi, tiba-tiba Kanselir Agung mengangkat tangannya. Isyarat itu seketika menyuruh semuanya untuk tenang dan diam.

​Kanselir Agung menatap Ye Ning dengan pandangan yang sangat serius, lalu bertanya dengan nada rendah yang berwibawa.

"Sungguh prinsip yang hebat. Lalu, apa solusimu, Nona Jenderal?"

​Ye Ning menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan untuk mengusir sisa adrenalin di tubuhnya.

​"Hukuman yang adil adalah hukuman yang sesuai dengan dampaknya, tanpa memandang status ataupun jabatan. Namun, jika harus mempertimbangkan jasa masa lalunya, maka jalur hukuman mati bisa diubah menjadi pengabdian bakti seumur hidup kepada rakyat di garis depan."

​Kanselir Agung bertanya lagi, memancing pemikirannya. "Kenapa tidak dihukum penjara saja? Misalnya, selama lima puluh tahun?"

​Ye Ning menggeleng tegas. "Itu terlalu mudah dan hanya menghabiskan kas negara untuk memberinya makan. Tetapi, hukuman juga harus adil secara menyeluruh. Para pelayan tingkat bawah yang hanya bekerja di kediaman Jenderal tersebut dan hanya diupah sesuai porsi kerja mereka, tidak adil jika mereka juga harus ikut dihukum akibat kesalahan tuannya."

​Kanselir Agung mengangguk puas mendengar pertimbangan kemanusiaan dan hukum yang seimbang itu, membuat Menteri Ritus di sebelahnya tercengang kehilangan kata-kata.

Kanselir Agung kemudian menuliskan sesuatu di atas kertas penilaiannya, lalu menyuruh Ye Ning untuk mundur.

​"Kau boleh keluar."

​Ye Ning menunduk hormat, lalu berbalik dan berjalan keluar aula dengan langkah yang diatur seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, begitu kakinya berhasil menapakkan diri di luar pintu aula yang luput dari pandangan para penguji, seluruh sendi kakinya mendadak terasa seperti jeli. Pertahanan mentalnya runtuh, dan tubuhnya spontan meluncur jatuh ke bawah.

​"Ye Ning!"

​Sebuah teriakan panik yang sangat tidak biasa memecah keheningan koridor luar. Zhilan berlari cepat meninggalkan posisinya tanpa memedulikan tatapan orang lain. Di saat yang sama, Lu Wan dan Ming Zi yang ikut panik langsung bergerak maju untuk menahan tubuh Ye Ning yang lemas kehabisan tenaga.

1
Marini Dewi
menarik
BUNGA PERSIK: Terima kasih atas supportnya ya 😍.. Aku senang sekali
total 1 replies
BUNGA PERSIK
Ini karya baru, mohon dukungannya. Maaf kalau masih agak berantakan, beneran masih newbie. 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!