Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.
Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!
"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.
Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.
Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!
Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Arkan bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah Felicia.
Ia melintas melewati Felicia begitu saja seolah wanita itu hanyalah udara kosong. Fokus mata tajam Arkan sepenuhnya terkunci pada sosok Hilmira yang sedang tersandar gemetar di pilar beton, memegangi dadanya yang sesak.
Melihat kondisi istrinya yang ketakutan dan hampir pingsan akibat serangan panik, rahang tegas Arkan mengeras hebat. Urat-urat di leher kokohnya tercetak jelas, dan kedua tangannya mengepal begitu kuat di sisi tubuhnya.
Arkan mengambil satu langkah lebar, memosisikan tubuh tegapnya tepat di depan Hilmira, memblokir total pandangan semua orang terhadap wanitanya.
"Mira..." suara bariton Arkan terdengar sangat rendah, bernada lembut namun bergetar oleh rasa cemas yang mendalam. Tanpa memedulikan aturan pura-pura asing, Arkan mengulurkan tangannya yang hangat, menahan tubuh Hilmira agar tidak merosot jatuh ke lantai.
"Tenanglah. Aku ada di sini," bisik Arkan di dekat telinga Hilmira, menyebarkan aroma parfum maskulin beraroma cedar dan mint yang langsung menenangkan saraf-saraf ketakutan Hilmira.
Mendengar suara dan merasakan perlindungan fisik dari Arkan, napas Hilmira yang semula berpacu gila perlahan mulai stabil. Di balik cadar hitamnya, sepasang matanya menatap punggung tegap Arkan yang kini berdiri tegak menjadi perisai hidupnya.
Arkan membalikkan tubuhnya secara perlahan. Saat ia berbalik menghadapi Felicia dan kedua temannya, ekspresi di wajah tampannya berubah seratus persen menjadi tatapan membunuh yang paling dingin.
"K-Kak Arkan?" Felicia mencengkeram cincin itu, mulai merasa ada yang tidak beres dengan atmosfer di antara Arkan dan gadis bercadar itu. "Kenapa... kenapa Anda melindunginya? Dia itu pencuri..."
"Tutup mulutmu," potong Arkan.
Dua kata itu diucapkan dengan suara bariton yang sangat pelan, sangat rendah, namun memiliki daya tekan intrik yang sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.
Felicia seketika bungkam, napasnya tertahan di tenggorokan.
Arkan melangkah satu langkah maju mendekati Felicia. Intimidasi visual dari tinggi badannya dan keagungan nama besarnya membuat Felicia dan kedua temannya refleks melangkah mundur dua langkah karena ketakutan yang murni.
"Siapa yang memberimu izin untuk menyentuhnya?" tanya Arkan, matanya menyipit tajam bagai sembilu.
"S-saya hanya mau mengembalikan barang milik keluarga Kak Arkan..." Felicia menyodorkan cincin itu dengan tangan yang mulai gemetar hebat. "Cincin ini... ada nama Kak Arkan dan nama dia. Dia pasti mencurinya dari rumah Anda..."
"Cincin itu," potong Arkan lagi, matanya melirik sekilas pada lingkar perak di tangan Felicia sebelum kembali menatap mata Felicia dengan kilat kejam, "...adalah cincin pernikahan sah yang dirancang khusus oleh desainer terbaik Paris atas perintah pribadiku."
DEG.
Pernyataan itu bergema di seluruh basement sepi tersebut bagai ledakan bom atom.
Wajah Felicia seketika pucat pasi bagai mayat. Ponsel di tangan salah satu temannya terlepas dan jatuh ke lantai dengan bunyi prak yang tajam.
"P-pernikahan sah...?" bisik Felicia dengan bibir yang gemetar hebat, matanya membelalak tidak percaya. "A-Arkan... Anda... sudah menikah? Dengan... dengan gadis ini?!"
Arkan tidak menjawab pertanyaan retorik itu. Sebaliknya, ia menjangkau tangan Felicia, lalu merebut cincin pernikahan platina itu dari genggaman Felicia dengan gerakan yang sangat kasar dan tidak sabaran.
Arkan mengusap permukaan berlian cincin itu dengan ujung jarinya, lalu memasukkannya ke dalam saku kemeja hitamnya, tepat di atas dadanya, dekat dengan detak jantungnya.
Arkan mencondongkan tubuh bidangnya ke depan, menatap Felicia dari jarak yang sangat dekat dengan tatapan mata seorang penguasa korporasi yang siap menghancurkan hidup seseorang dalam satu kedipan mata.
"Felicia," panggil Arkan, menyebut nama mahasiswi itu dengan nada yang sangat dingin dan beracun. "Kau tahu betul siapa aku, dan kau tahu betul apa yang bisa dilakukan oleh kekuasaan keluarga Oliver di kota ini."
Tubuh Felicia gemetar semakin hebat. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Satu kata keluar dari mulutmu atau teman-temanmu tentang apa yang terjadi hari ini... satu foto yang kau sebarkan ke forum kampus atau media..." Arkan menjeda kalimatnya, mengamati kehancuran mental Felicia dengan wajah tanpa ampun.
"...maka dalam waktu kurang dari 24 jam, beasiswa dan seluruh investasi bisnis keluarga kalian di bawah Oliver Group akan kucabut sampai tak tersisa. Aku akan memastikan nama keluarga kalian hancur hingga tak ada satu pun universitas di negara ini yang mau menerima kalian."
Ancaman itu diucapkan tanpa emosi berlebihan, namun setiap kata yang keluar dari bibir Arkan terpancar sebagai sebuah kepastian yang mutlak. Arkan tidak sedang menggertak, ia adalah pria dengan kekuasaan finansial tanpa batas yang sanggup mewujudkan ancaman itu sebelum matahari terbit besok pagi.
Kedua teman Felicia langsung berlutut di lantai, menangis ketakutan. "K-Kami janji, Kak Arkan! Kami tidak akan bicara pada siapa pun! Kami akan hapus semua fotonya sekarang juga!" mereka dengan panik menghapus seluruh rekaman di ponsel mereka di depan mata Arkan.
Felicia menundukkan kepalanya dalam-dalam, air mata penyesalan dan ketakutan menetes membasahi lantai basement. "M-Maafkan aku, Kak Arkan... tolong jangan sentuh bisnis keluargaku... aku janji akan diam..."
Arkan membetulkan posisi jam tangan peraknya dengan gestur yang sangat berkelas, seolah baru saja menyelesaikan transaksi bisnis biasa yang tidak berarti.
"Pergi dari hadapanku. Sekarang," perintah Arkan dingin.
Tanpa perlu diperintah dua kali, Felicia dan kedua temannya langsung berlari ketakutan menuju tangga darurat, meninggalkan area basement dalam keheningan yang tebal kembali.
Setelah ketiga mahasiswi itu menghilang, Arkan membalikkan tubuh tegapnya. Aura membunuh yang sejak tadi memancar dari tubuhnya seketika luntur sepenuhnya, berganti menjadi sebuah kelembutan dan rasa cemas yang amat pekat.
Arkan merogoh saku kemejanya, mengeluarkan cincin pernikahan berukir nama mereka.
Ia melangkah mendekati Hilmira yang masih berdiri lemas. Tanpa ragu, Arkan merendahkan tubuh tegapnya, berlutut dengan satu kaki di atas lantai basement yang dingin di hadapan Hilmira.
Arkan meraih tangan kanan Hilmira yang gemetar. Dengan jemarinya yang kokoh namun sangat lembut, Arkan menyematkan kembali cincin pernikahan platina itu ke jari manis Hilmira, sebuah tindakan berani yang secara terang-terangan melanggar batasan kontrak "Satu Semester" yang mereka sepakati.
"Jangan pernah melepaskannya lagi, Hilmira," bisik Arkan dengan suara baritonnya yang rendah, parau, dan dipenuhi oleh ketulusan yang teramat dalam. Matanya menatap lurus ke dalam netra bulat Hilmira yang berkaca-kaca.
"Persetan dengan aturan kampus. Persetan dengan kontrak satu semester. Mulai detik ini... tidak ada satu orang pun yang boleh membuatmu takut selama aku masih berdiri di depanmu."
Hilmira terpaku di tempatnya. Ia menatap cincin yang kini kembali melingkar indah di jari manisnya, lalu beralih menatap wajah tampan Arkan yang berlutut di hadapannya di tengah temaramnya lampu basement.
Di dalam dada Hilmira, pertahanan traumanya runtuh berganti dengan debaran jantung yang gila dan tidak terkendali, terjebak dalam pelukan perlindungan mutlak seorang Arkan Oliver yang menolak menyembunyikan kepemilikannya lagi.
...----------------...
To Be Continue ....
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼♀️😅
padahal bagus Liam
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤