NovelToon NovelToon
Top 1%

Top 1%

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Pertandingan Pertama

Arena Virtual War Room dipenuhi dengan dengung mesin pendingin yang berputar kencang. Sepuluh siswa Kelas Alpha berdiri di balkon komando, menatap hamparan peta taktis yang terproyeksi di tengah ruangan. Di seberang arena, Kelas Beta kelas dengan reputasi agresif dan fisik yang tangguh sudah siap dengan formasi pertahanan yang solid.

"Mereka menggunakan formasi Phalanx," ucap Gavin, matanya bergerak cepat membaca fluktuasi angka di pad miliknya. "Probabilitas serangan frontal mereka mencapai 85%. Jika kita bertahan di titik tengah, kita akan hancur dalam tiga menit."

Raka, yang berdiri di posisi kapten, mencengkeram pembatas balkon dengan buku jari memutih. "Kita tidak akan bertahan. Kita akan memancing mereka ke zona perangkap di sektor timur. Atharva, bagaimana dengan strateginya?"

Atharva menatap peta itu dengan tenang, jemarinya mengetuk permukaan meja dengan pola ritmis. "Jangan pancing mereka secara terbuka. Gunakan sinyal. Biarkan Nareswara mengirimkan data palsu bahwa unit inti kita sedang melemah di sisi barat. Saat mereka terpancing untuk melakukan penetrasi, kita akan menutup jalur keluar mereka dari dalam."

"Itu terlalu berisiko," potong Celine. "Jika mereka tidak terpancing, kita akan kehilangan posisi kunci."

"Mereka akan terpancing," Keisya menyela, suaranya tegas dan tenang, menatap anggota timnya satu per satu. "Mereka egois. Mereka ingin kemenangan instan untuk menaikkan skor peringkat mereka. Yang perlu kita lakukan hanyalah memercayai perhitungan Gavin dan menahan posisi hingga saat yang tepat."

Keisya memastikan napas timnya tetap stabil, menjaga agar tingkat stres mereka tidak terdeteksi oleh sensor sistem yang bisa mengurangi efektivitas tempur.

Pertandingan dimulai. Arena seketika meledak dalam simulasi tembakan laser dan pergerakan unit tempur digital. Kelas Beta langsung menyerbu sisi barat dengan agresivitas tinggi, persis seperti yang diprediksi Gavin.

"Sekarang!" perintah Atharva.

Raka memimpin unit garis depan, bergerak dengan sinkronisasi yang sempurna. Mereka tidak menyerang balik, melainkan melakukan manuver menjepit yang elegan. Nareswara dengan cepat menanamkan virus kecil ke sistem komunikasi Kelas Beta, memutus koordinasi mereka saat mereka mencapai titik jebakan.

Dalam hitungan detik, Kelas Beta terjebak dalam zona simulasi yang telah dimanipulasi oleh Atharva. Mereka mencoba membalas, namun taktik mereka sudah hancur berantakan. Pertandingan berakhir dengan kemenangan tipis bagi Kelas Alpha. Skor NRS mereka melonjak secara otomatis.

Ketika mereka keluar dari Virtual War Room, suasana koridor berubah drastis. Para siswa dari kelas lain yang berpapasan dengan mereka tidak lagi menatap dengan rasa ingin tahu, melainkan dengan tatapan benci dan waspada.

"Lihat mereka," bisik seorang siswa Kelas Gamma saat Atharva dan timnya melintas. "Mereka baru saja menghancurkan Kelas Beta tanpa sedikit pun keringat. Mereka bukan lagi siswa, mereka adalah mesin pembunuh."

Kemenangan itu bukannya membawa kedamaian, justru menjadi lonceng peringatan. Kelas Alpha kini telah menaruh target besar di punggung mereka sendiri. Atharva merasakan tatapan dingin dari Leonard yang berdiri di ujung koridor, memperhatikannya dari kejauhan dengan senyum yang tidak bisa diartikan.

"Kita menang," gumam Dimas, mencoba bersikap optimis, namun suaranya terdengar ragu.

Atharva menatap langit-langit koridor, menyadari bahwa setiap kemenangan di akademi ini adalah cara sistem untuk mengadu domba para siswa. "Ya, kita menang hari ini. Tapi sekarang kita punya musuh baru di setiap kelas yang kita lewati. Dan itulah tepatnya yang mereka inginkan: agar kita tidak pernah memiliki sekutu di luar ruangan kelas kita sendiri."

...****************...

Suasana di lorong utama menuju asrama terasa jauh lebih sesak daripada biasanya. Meski Kelas Alpha baru saja mencetak kemenangan yang telak, tidak ada sorak-sorai atau perayaan. Yang ada hanyalah keheningan yang menekan, diselingi bisik-bisik tajam dari para siswa kelas lain yang berpapasan.

"Jangan menoleh," bisik Keisya saat mereka melewati kerumunan siswa Kelas Delta yang menatap mereka dengan tatapan tidak suka. "Mereka hanya sedang mencari celah untuk melihat apakah kita terlihat 'berbeda' atau tidak."

Atharva berjalan di barisan paling belakang, matanya terus mengamati sudut-sudut langit-langit. Ia tahu kemenangan tadi telah memicu perubahan algoritma pada papan peringkat di lobi. Nama mereka kini dipajang dengan warna emas yang mencolok sebuah target yang dipasang langsung oleh sistem untuk memancing tantangan dari kelas-kelas lain.

Saat mereka hampir sampai di area asrama, Farel menghentikan langkahnya, matanya menatap tajam ke arah di lengannya. "Kalian sadar tidak? Sejak simulasi tadi selesai, papan skor NRS di seluruh koridor tidak lagi menampilkan peringkat individu. Semuanya digabung menjadi satu."

"Apa maksudmu?" tanya Raka, berhenti melangkah.

Farel menggeser layar hologramnya, menampilkan data yang ia ambil secara diam-diam. "Sistem baru saja mengaktifkan Protocol: Total Conflict. Mereka tidak lagi menilai kita berdasarkan prestasi individu. Mereka mulai menilai kelas sebagai satu kesatuan. Jika satu orang di kelas kita gagal, seluruh nilai kelas Alpha akan terjun bebas."

"Ini untuk memastikan kita saling mengawasi," sahut Nareswara, suaranya terdengar frustrasi. "Mereka memaksa kita untuk menjadi penjaga satu sama lain. Jika salah satu dari kita mencoba melakukan langkah yang berisiko, yang lain akan dipaksa untuk menghentikannya agar peringkat kelas tidak turun."

Atharva terdiam. Ia baru menyadari bahwa kemenangan tadi adalah bagian dari desain sistem yang lebih besar. Mereka tidak hanya memenangkan pertandingan; mereka baru saja masuk ke dalam perangkap yang lebih dalam. Sekarang, setiap anggota tim adalah beban bagi anggota lainnya.

"Jadi, kalau kita ingin menyelidiki Sektor 9-G lagi," gumam Celine, "kita harus memastikan tidak ada satu pun dari kita yang tertangkap. Jika salah satu dari kita tertangkap, maka seluruh kelas Alpha akan habis."

"Dan Leonard tahu itu," tambah Atharva dingin. "Dia membiarkan kita menang supaya dia bisa melihat bagaimana kita bereaksi saat tanggung jawab seluruh kelas diletakkan di pundak kita. Dia ingin menguji loyalitas kita sebelum dia benar-benar menghancurkan kita."

Saat mereka memasuki pintu asrama, mereka disambut oleh kondisi kamar yang masih berantakan sisa perdebatan tadi. Namun, ada satu hal yang berbeda. Di tengah ruangan, tepat di atas meja utama, tergeletak sebuah kotak logam kecil berwarna perak yang tidak ada di sana sebelumnya.

Semua orang terdiam. Tidak ada yang berani mendekat.

"Siapa yang menaruh itu di sini?" tanya Dimas dengan suara bergetar.

Atharva melangkah maju dengan hati-hati. Kotak itu tidak memiliki kunci fisik, hanya pemindai biometrik di permukaannya. Saat Atharva menyentuhnya, kotak itu terbuka dengan desis tekanan udara, menampilkan sepuluh kepingan akses kunci yang identik dengan yang diberikan Leonard sebelumnya.

Di bawah kepingan-kepingan itu, terdapat sebuah catatan digital singkat yang berkedip: "Kemenangan kecil bukanlah tujuan. Ujian sesungguhnya dimulai saat kalian menyadari bahwa kalian tidak bisa menang sendirian. Temui saya di Sektor 9-G malam ini. Sendiri.”

"Itu dari Leonard," bisik Keisya, wajahnya menegang. "Dia memanggilmu, Atharva. Dan dia tahu kita akan mendapatkan pesan ini."

Atharva mengambil salah satu kepingan akses itu, menatapnya dengan tajam. Ia tahu ini berbahaya, mungkin ini adalah langkah terakhir sebelum eliminasi. Namun, di dalam dirinya, ia tahu ia tidak punya pilihan. Jika ia tidak pergi, mereka semua akan terjebak dalam permainan yang sudah diatur oleh sistem.

"Aku akan pergi," kata Atharva mantap. "Tetaplah di sini. Jangan biarkan sistem mendeteksi aktivitas mencurigakan dari akun kalian. Apa pun yang terjadi malam ini, jangan mencoba mengikutiku."

Ia memasukkan kepingan itu ke sakunya dan berbalik menuju pintu, meninggalkan teman-temannya yang masih terdiam dalam ketakutan akan apa yang akan terjadi selanjutnya di Sektor 9-G.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!