NovelToon NovelToon
Antagonis Yang Menghindari Alur

Antagonis Yang Menghindari Alur

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: okolele

Apakah tidak ada pilihan lain?
kenapa sakalinya bertransmigrasi malah ke tubuh Antagonis,lucu sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon okolele, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

Keesokan paginya.

Malika menuruni anak tangga sambil mengancingkan seragam sekolah putihnya.

Rambut panjangnya kali ini dibiarkan tergerai begitu saja, hanya sebagian kecil yang diselipkan ke belakang telinga agar tidak menutupi wajah.

Aroma roti panggang yang baru keluar dari pemanggang memenuhi ruang makan.

"Selamat pagi, Non," sapa Bi Inah sembari meletakkan segelas susu di atas meja lengkap dengan roti panggang yang sudah di oles selai.

"Pagi, Bi."

Malika menarik kursi lalu duduk. Tangannya meraih sepotong roti, sementara matanya sesekali melirik ponsel yang tergeletak di samping piring.

Masih sunyi.

Tidak ada pesan.

Tidak ada nomor asing baru yang menghubunginya.

Aneh... tapi justru itu yang ia harapkan.

"Si lampir ke mana bi?. "

Bi inah yang paham siapa yang di maksud Malikapun menimpali.

"Gak tau non dari kemaren gak pulang-pulang. "

"Oh gitu. "

"Oh ya Bi, nanti sore jangan masak banyak-banyak ya."

"Memangnya kenapa non?"

"Lagi pengin makan di luar."

Bi Inah tersenyum kecil. "Baik, Non."

Setelah menghabiskan segelas susu, Malika mengambil tasnya, dan menyalimi Bi inah.

"Bi, aku berangkat."

"Hati-hati di jalan."

"Iya."

______

Begitu mesin mobil menyala, radio otomatis ikut hidup. Seorang penyiar sedang berceloteh soal kemacetan pagi sambil sesekali menyelipkan candaan receh. Malika hanya menggeleng pelan lalu mengganti saluran hingga menemukan lagu yang lebih enak didengar.

Sekitar dua puluh menit kemudian, mobilnya memasuki area parkir sekolah.

Suasananya sudah ramai.

Beberapa siswa berjalan tergesa-gesa menuju gedung utama karena bel masuk tinggal beberapa menit lagi. Ada yang sibuk menghafal catatan, ada pula yang asyik mengobrol sambil tertawa seolah tidak memiliki beban hidup.

"Mal!"

Malika baru saja mengunci mobilnya ketika seseorang menepuk bahunya dari belakang.

"Astaga!" Malika memegangi dadanya dan Ia refleks menoleh. "Aira, lo bikin kaget gue tau gak."

Aira nyengir tanpa rasa bersalah. "Salah sendiri, bengong. Dari tadi gue panggil juga kagak denger."

"Gue lagi capek."

"Capek apaan? Baru Senin, woy."

Malika cuma mendengus pelan sambil menyampirkan tas ke bahu.

Mereka berjalan berdampingan menuju gedung utama.

Koridor sekolah sudah dipenuhi siswa yang lalu-lalang. Ada yang buru-buru masuk kelas karena bel hampir berbunyi, ada juga yang masih santai jajan di kantin.

"Oh iya," ujar Aira tiba-tiba. "Ruka nyariin lo dari tadi."

"Ngapain?"

"Gatau. Katanya penting."

"Paling juga disuruh nemenin ke kantin."

Aira langsung ngakak.

"Ya emang iya. Dia pengen beli seblak, tapi males antre sendirian."

"Najis. Bilang aja dia nyari bodyguard."

"Gue juga bilang gitu."

Malika ikut terkekeh. Baru kali ini sejak kemarin kepalanya terasa sedikit ringan.

"Eh, bentar." Aira menarik lengan Malika pelan. "Lo kenapa, sih? Dari tadi gue liatin kok diem mulu."

Malika menggeleng.

"Kurang tidur."

"Yakin cuma kurang tidur?"

"Hmm."

Aira menatapnya beberapa detik, lalu mengangkat bahu.

"Yaudah. Kalo nanti mau cerita, cerita aja."

Mereka kembali berjalan.

Aira masih asyik bercerita entah tentang apa. Malika hanya sesekali menanggapi sambil berjalan di sampingnya.

"Eh, nanti pulang jangan langsung kabur, ya," kata Aira. "Bu Rina ngadain rapat buat ketua kelompok."

"Hah? Bukannya minggu depan?"

"Iya, dipindahin. Tadi gue lihat pengumumannya."

"Yaudah, nanti gue ikut."

Belum sempat percakapan mereka berlanjut, langkah Aira tiba-tiba melambat.

"Eh..."

Malika mengikuti arah pandangnya.

Di ujung koridor, Soren berjalan berdampingan dengan Rara. Entah sedang membicarakan apa, keduanya tampak begitu larut hingga Rara beberapa kali tertawa kecil sambil memukul pelan lengan Soren.

"Lengket banget ya mereka kaya perangko," gumam Aira lirih.

Malika hanya melirik sekilas.

"Oh."

Cuma itu responsnya.

Ia kembali melangkah seperti tidak melihat apa-apa.

Justru sikap datarnya itulah yang membuat

Aira menoleh heran.

"Loh?"

"Apa?"

"Biasanya..."

"Biasanya apa?"

Aira menggaruk tengkuknya sendiri.

"Nggak... lupa."

Malika mengangkat sebelah alis, lalu mendahului Aira beberapa langkah.

Di saat yang sama, Soren tanpa sengaja mengangkat kepala.

Pandangan mereka bertemu sesaat.

Hanya sesaat.

Malika tidak berhenti, tidak tersenyum,ataupun membuat keributan karena cemburu dengan Rara

bahkan tidak mengalihkan arah jalannya dengan menoleh ke arah Soren.

Ia lewat begitu saja, seolah Soren hanyalah salah satu siswa lain yang kebetulan berada di koridor yang sama denganya.

Sebaliknya, Soren justru menoleh mengikuti langkah Malika.

"Aneh."

"Hm?"

Rara ikut menoleh. "Kenapa?"

Soren menggeleng pelan.

"Nggak."

Rara mengerucutkan bibir. Tatapannya sempat singgah pada punggung Malika yang semakin menjauh.Ia sempat melihat Soren yang mematung sesat dan Menoleh pada Malika.

"Malika kenapa gak cari perhatian atau nempel sama kamu lagi Soren?"

Soren tidak langsung menjawab.

Entah mengapa, Mendengar Rara yang berbicara begitu membuat Soren sedikit merasa muak.

Kalau memang ingin mencari perhatian...

Bukankah seharusnya Malika menghampirinya, seperti yang selalu ia lakukan dulu?

Namun akhir-akhir ini, jangankan menyapa.

Meliriknya lebih lama pun tidak.

Dan justru perubahan kecil itu membuat Soren tanpa sadar terus memikirkan sosok yang baru saja berjalan melewatinya.

______

For you🌷,and Thankyou.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!