NovelToon NovelToon
Cinderella Ubi Rebus

Cinderella Ubi Rebus

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Komedi
Popularitas:435
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.

Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.

Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!

Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?

"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Malam Jagal di Kediaman Alexius Part 2

"Sudah cukup! Mahen cuma bercanda kok Bun soal mantu tadi, jadi nggak usah kalian pamer kemesraan di depan jomblo," potong Mahen sambil tertawa terbahak-bahak melihat tingkah bucin kedua orang tuanya.

Linzy bangkit dari duduknya, meregangkan tubuhnya yang mungil. "Bun, Yah, Kak, Linzy ke kamar duluan ya? Mata Linzy udah lima watt nih, pengen langsung tidur."

"Iya sayang, kamu kan besok harus sekolah, jangan sampai kesiangan! Kamu juga Mahen, cepat masuk kamar! Besok subuh kamu harus sudah berangkat ke bandara buat penerbangan ke London," pesan Alysa penuh kasih.

"Nanti aja deh Bun, bentar lagi. Tenggorokanku mendadak haus banget, kayaknya minum jus mangga segar enak nih," sahut Mahen sambil melangkah riang menuju area dapur untuk menemui Bi Susi. Sang ayah pun ikut menitip minuman yang sama demi menemani obrolan malam mereka.

Sementara itu, di dapur mansion yang luas dan bersih, Bi Susi tengah sibuk menuangkan tiga gelas jus mangga segar ke atas nampan. Namun, suasana sunyi itu mendadak terusik saat seorang pengawal dengan seragam lengkap—yang tak lain adalah Jack dalam penyamarannya—masuk dengan langkah tergesa.

"Bi, tolong buatkan kopi hitam untuk empat orang pengawal di depan ya? Udara malam ini mulai dingin banget," pinta Jack dengan suara yang dibuat serak dan berat. Ia sengaja menundukkan kepalanya dalam-dalam agar topi pet dan masker hitamnya menutupi seluruh fitur wajahnya.

Saat Bi Susi berbalik membelakanginya untuk menjerang air di atas kompor, tangan Jack bergerak secepat kilat dengan ketepatan seorang psikopat terlatih. Ia mengeluarkan sebotol kecil cairan bening dari balik saku seragamnya—racun saraf mematikan dosis tinggi yang tidak memiliki rasa maupun aroma.

Dengan tangan dingin yang pasti, ia meneteskan cairan maut itu ke dalam gelas-gelas jus mangga yang sudah siap saji di atas nampan.

"Ini Tuan kopinya sudah jadi, saya mau mengantarkan dulu minuman jus ini ke ruang keluarga," ucap Bi Susi beberapa menit kemudian, berbalik membawa teko kopi panas.

"Terima kasih banyak Bi, tapi saya boleh minta tolong? Tolong antarkan sekalian kopinya ke pos depan ya, Bi? Soalnya saya mau ke loker pelayan dulu buat ganti baju. Baju saya kotor dan basah gara-gara ketumpahan kopi tadi," Jack bersandiwara dengan rapi, menunjuk noda gelap di seragam samaran miliknya.

Tanpa menaruh curiga sedikit pun pada pengawal yang ia kira adalah staf baru, Bi Susi mengangguk ramah lalu membawa nampan berisi jus dan kopi tersebut.

Jack menatap punggung Bi Susi yang menjauh dengan seringai dingin yang mengerikan di balik maskernya. Ia tahu, dalam hitungan menit, maut akan menjemput seluruh penghuni rumah ini.

Terlebih, Jack telah memastikan seluruh sistem CCTV di mansion mati total setelah menyuap operator keamanan internal beberapa jam lalu.

"Wah... segar banget jusnya, Bun! Enak lagi, cepetan deh Bun cobain?" Mahen meminum jus mangganya dengan rakus hingga tersisa setengah, lalu menyodorkan gelas milik ibunya.

"Iya sayang, ini beneran segar jusnya. Sayang banget kalau nggak dihabiskan," timpal Bintang yang juga sudah meneguk separuh miliknya demi menghargai buatan Bi Susi.

Alysa tersenyum manis dan turut menyesap jus tersebut. Namun, atmosfer hangat di ruang keluarga itu berubah menjadi neraka jahanam dalam hitungan detik.

"Arrgghh!!... Te-tenggorokan Mahen... kok jadi panas banget gini ya?" Mahen mendadak mencengkeram lehernya dengan brutal. Gelas di tangannya terlepas, pecah berkeping-keping di atas lantai.

Wajah pemuda yang semula cerah itu berubah pucat pasi, membiru dalam sekejap. Ia terbatuk hebat, matanya melotot horor saat dadanya naik turun dengan liar, berjuang mencari pasokan oksigen yang seolah-olah mendadak lenyap dari ruangan itu.

Bintang dan Alysa juga mulai mengerang kesakitan. Rasa terbakar yang luar biasa dahsyat merusak organ dalam mereka. Tubuh mereka ambruk dari sofa beludru, merayap tak berdaya di atas karpet mahal dengan tangan menggapai-gapai udara kosong.

Pandangan Mahen menggelap total, tubuh atletisnya mengejang hebat selama beberapa detik sebelum akhirnya terkapar diam, kehilangan nyawa di lantai dingin. Sang ayah, Bintang Alexius, menyusul mengembuskan napas terakhirnya hanya beberapa detik kemudian dengan mata yang masih terbuka, menatap langit-langit penuh keputusasaan.

Di luar mansion, empat pengawal yang meminum kopi pemberian Bi Susi pun bernasib sama. Mereka tergeletak kaku di dalam pos penjagaan tanpa sempat menekan tombol sirine darurat.

Drrtt!! Drrtt!!

"Halo Jack, apakah kau sudah menyelesaikan tugas berdarahmu?" tanya Bram melalui sambungan telepon terenkripsi. Pria itu berdiri di kegelapan garasi belakang, memegang dua jerigen besar berisi bensin murni.

"Sudah beres, Bram. Rencana pembantaian berhasil total. Aku akan segera keluar menyusulmu," jawab Jack dingin, melangkah keluar melewati pintu darurat.

Pukul sebelas malam tepat. Malam yang seharusnya sunyi kini bertransformasi menjadi panggung horor. Bram dan Jack berlari mengelilingi perimeter mansion dan paviliun pelayan, menumpahkan cairan bensin secara merata ke dinding kayu dekoratif dan tanaman hias yang kering.

Klik!

Pemantik api kuningan dinyalakan. Api kecil itu menari sejenak di ujung jari Bram sebelum akhirnya dilemparkan ke atas genangan bensin.

Blarrr!

Ledakan api raksasa membumbung tinggi, menjilati langit malam Jakarta yang pekat. Lidah api merambat dengan buas, langsung menghanguskan paviliun belakang tempat para pelayan yang tengah terlelap tidur.

Mereka bahkan tidak sempat terbangun; asap tebal karbon monoksida yang dihasilkan bensin murni langsung membuat mereka pingsan dalam tidur, mati lemas sebelum lidah api menyentuh kulit mereka.

Berbeda dengan paviliun pelayan yang sudah habis dilalap api dalam sekejap karena bermaterial kayu, mansion utama yang begitu luas dan berbahan beton kokoh itu masih berdiri tegak, meski kepulan asap hitam dan lidah-lidah api mulai menjilati bagian jendela luarnya dengan sangat rakus.

Bi Susi baru saja selesai mengelap meja pantry dapur hingga mengkilap setelah kembali dari pos depan. Namun, saat ia hendak melangkah menuju kamarnya untuk beristirahat, langkah kakinya terhenti seketika.

Matanya membelalak lebar melihat kepulan asap hitam pekat menyelinap masuk dari celah pintu belakang, disusul oleh pendar cahaya oranye yang menakutkan dari luar jendela. Kobaran api yang berasal dari paviliun kini telah berhasil merambat masuk, membakar tirai-tirai sutra mahal di sepanjang lorong dapur.

Kepanikan luar biasa menghantam dada Bi Susi. Ia lantas berbalik dan berlari sekuat tenaga ke arah ruang keluarga, berniat memperingatkan majukannya. Namun, begitu kakinya menginjak karpet ruang keluarga, jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia dikejutkan oleh pemandangan yang jauh lebih mengerikan dari sekadar kobaran api: ketiga majikannya tergeletak tak berdaya dengan posisi mengenaskan.

"Apa yang terjadi?! Tuan... Nyonya... Tuan Muda... tolong bangun!!" jerit Bi Susi histeris, air matanya langsung tumpah.

Tangannya yang gemetar hebat berusaha menggoyang-goyangkan tubuh Bintang dan Mahen yang sudah kaku, namun keduanya tetap bergeming dengan wajah yang mulai membiru gelap akibat efek racun saraf.

"Bi... to-long... se-lamat-kan... Linzy. Di-dia... ada di ka-marnya..." Alysa berucap dengan sisa tenaga yang sangat tipis, suaranya terbata-bata nyaris tak terdengar di antara deru api.

Wanita itu tampak sangat lemas, tangannya mencengkeram dadanya yang terasa melepuh akibat racun yang mulai melumpuhkan otot jantungnya. Beruntung bagi Alysa, ia hanya meminum jus maut itu setengah gelas, berbeda dengan suami dan putra sulungnya yang meminumnya hingga tandas dan tewas seketika.

Alysa sudah pasrah pada takdirnya. Di sisa kesadarannya yang meremang, ia tahu bantuan medis tidak akan datang tepat waktu. Sesaat setelah menitipkan pesan terakhirnya kepada Bi Susi, Alysa perlahan menutup matanya rapat-rapat. Napas terakhirnya terbuang perlahan, meninggalkan dunia yang mulai runtuh dimakan api.

Bi Susi yang menyaksikan mata sang nyonya terpejam selamanya langsung meledak dalam tangisan histeris. Ia menggoyang-goyangkan tangan Alysa yang mulai mendingin.

"Hikss... Hiksss... Nyonya, saya mohon jangan bercanda! Tolong bangun! Saya takut... Nyonya!!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!