Diantha dan Althaf saling mengenal dan menjadi sahabat di bangku SMA..
di sekolah, mereka benar benar tidak terpisahkan, bahkan satu sekolah mengira mereka pacaran.
sebenarnya mereka sama sama memiliki perasaan cinta, hanya saja , mereka sepakat untuk selalu menjadi sahabat dan tidak akan pernah pacaran, agar persahabatan mereka langgeng..
Sayangnya Diantha tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi hingga membuat jarak di antara meraka..
bagaimana kisah Diantha dan Althaf dalam cinta yang rumit dan persahabatan yang ingin di jaga..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cita Cita
Saat Diantha sampai di tempat duduknya, Diantha menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dadanya yang masih bergemuruh.
Sambil berpura-pura mengeluarkan buku dan kotak pulpennya , matanya melirik ke arah jendela.
Di sana, Althaf sudah duduk tenang, tampak asyik memutar-mutar pulpen di jarinya dengan ekspresi santai seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Saat itulah sebuah pertanyaan mendadak melintas di benak Diantha. Tunggu dulu, pikirnya heran. Ini kan hari pertama orientasi untuk semua murid baru. Tapi kenapa Althaf bisa tahu banyak hal tentang sekolah ini?
Diantha mengingat kembali ucapan cowok itu saat mereka berjalan di koridor tadi. Althaf tahu letak gazebo belakang yang tersembunyi, tahu mitos tentang makanan kantin, bahkan tahu kalau ruang seni sering dikunci. Cara Althaf menceritakannya terdengar sangat paham tentang sekolah mereka, seolah-olah ia sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun di sekolah ini, bukan baru beberapa jam.
Rasa penasaran mulai menggelitik hati Diantha, dan ia memutuskan untuk menanyakannya langsung kepada Althaf begitu ada kesempatan nanti.
Lamunan Diantha buyar ketika langkah kaki yang berat terdengar memasuki ruangan. Pak Gunawan kembali ke posisinya di depan kelas dengan senyum kebapakan yang khas.
"Baiklah, anak-anak, harap tenang kembali," ujar Pak Gunawan sambil mengetukkan spidol ke papan tulis. "Untuk sisa waktu orientasi hari ini, Bapak ingin kalian melakukan refleksi kecil.
Silakan ambil selembar kertas, lalu tulis sebuah karangan singkat mengenai cita-cita kalian dan alasan di baliknya."
Suara desahan pelan terdengar dari beberapa sudut kelas, namun Diantha justru langsung terdiam memandangi kertas putih di hadapannya. Cita-cita. Kata itu membuatnya merenung.
Diantha menggoreskan pulpennya perlahan, menuliskan baris demi baris kalimat. Ia memantapkan hatinya untuk menulis bahwa ia bercita-cita menjadi seorang guru.
Mengingat hal itu, Diantha tersenyum tipis. Lucu rasanya jika mengingat betapa dinamisnya isi kepala manusia.
Dulu, saat masih duduk di bangku SD, ia selalu dengan lantang menjawab ingin menjadi dokter setiap kali ditanya tentang masa depan.
Namun, seiring berjalannya waktu dan setelah memasuki jenjang sekolah baru, pikirannya berubah total.
Diantha sendiri tidak tahu pasti apa pemantik utamanya—entah karena apa, keinginan mengenakan jas putih itu menguap begitu saja, digantikan oleh impian tulus untuk berdiri di depan kelas dan membagikan ilmu.
Di barisan dekat jendela, Althaf tidak butuh waktu lama untuk berpikir. Cowok itu langsung menulis dengan cepat, tampak sangat yakin dengan apa yang digoreskannya di atas kertas.
Berbeda dengan Diantha yang penuh perenungan, cita-cita Althaf sangat linier dengan kepribadiannya yang aktif. Sejak kecil hingga sekarang, impian Althaf tidak pernah bergeser satu sentimeter pun: ia ingin menjadi pemain sepak bola profesional.
Bagi Althaf, hidup tanpa olahraga—terutama sepak bola—pasti akan terasa sangat membosankan.
Lapangan hijau adalah tempat di mana ia merasa paling hidup.
Waktu berlalu begitu cepat diiringi suara goresan pulpen dan petunjuk-petunjuk kecil dari Pak Gunawan. Ketika tugas mengarang selesai dikumpulkan, jarum jam dinding kelas sudah menunjukkan pukul tiga sore.
Kringgggggg!..
Bel panjang yang menandai akhir jam pelajaran berbunyi nyaring, disambut sorak sorai riang dari seluruh penjuru koridor sekolah.
"Baik, anak-anak, sekian untuk hari ini. Sampai jumpa besok pagi, tetap semangat!" tutup Pak Gunawan sebelum merapikan berkas-berkasnya dan keluar kelas.
Kelas langsung berubah riuh seketika. Semua murid bergegas memasukkan buku-buku mereka ke dalam tas, bersiap untuk pulang. Diantha mengemas barang-barangnya dengan ritme santai, sambil sesekali melirik ke arah bangku Althaf. Ia masih ingat betul niatnya untuk menginterogasi cowok misterius yang tahu terlalu banyak soal seluk-beluk sekolah baru mereka itu.