NovelToon NovelToon
Love Story: Menemukan Cinta Sejati

Love Story: Menemukan Cinta Sejati

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / CEO
Popularitas:402
Nilai: 5
Nama Author: Irma Nirmala

kisah seorang wanita yang berusaha melupakan mantannya yang mengkhianati kepercayaan.

diperjalanan menemukan jati diri dan kehidupan baru

sebuah kisah cinta yang manis namun penuh komedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

...****************...

  Mansion keluarga Andreas berdiri megah dalam balutan cahaya lampu taman yang temaram.

  Pintu utama terbuka.

  Seorang pria paruh baya dengan aura kuat melangkah masuk, dia adalah Antonio Van Andreas.

  Langkahnya tenang, namun penuh wibawa. Jas mahal yang ia kenakan masih rapi, seolah perjalanan panjang dari luar negeri tidak sedikit pun mengurangi karismanya.

  Para maid langsung berbaris rapi.

  “Selamat datang kembali, Tuan Antonio.”

  Antonio hanya mengangguk singkat.

  “Di mana Arseno?”

  Kepala maid maju satu langkah.

  “Tuan muda masih berada di kantor, Tuan.”

  Antonio terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan.

  “Masih saja.”

  Nada suaranya datar, tapi jelas menyimpan ketidakpuasan.

  “Baik. Kalian bisa kembali bekerja.”

  “Baik, Tuan.”

  Antonio langsung berjalan menuju lift, tanpa berkata apa pun lagi.

  Waktu berlalu...

  Malam semakin larut.

  Jam hampir menunjukkan tengah malam.

  Pintu lift terbuka pelan di lantai dua.

  Arseno keluar dengan langkah sedikit lelah, jasnya masih rapi tapi wajahnya menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

  Lorong mansion gelap, hanya diterangi lampu hias yang redup.

 Kesunyian terasa jelas di dalam mansion, namun itu hal yang sangat biasa bagi Arseno.

  Namun di tengah hening lorong mansion, terdengar suara yang cukup jelas ditelinga Arseno.

  “Pulang juga.”

  Suara itu memecah keheningan.

  Arseno berhenti.

  Matanya bergerak ke arah ruang duduk.

  Di sana Antonio duduk dengan santai di sofa, segelas minuman di tangannya, menatap lurus ke arah putranya.

  Arseno menghela napas kecil. “Ayah, sudah pulang dari luar negri ternyata.”

  Antonio mengangkat alis.

  “Masih ingat punya ayah, ternyata. kukira kau sudah durhaka, hampir saja aku mengutuk mu jadi batu." ujarnya setelah sarkas.

  Arseno berjalan mendekat, berdiri beberapa langkah dari sofa.

  “Kapan ayah pulang?” tanyanya sekilas.

  “Tadi sore. Tapi sepertinya aku lebih cepat pulang daripada kamu yang tinggal di kota ini.”

  Arseno tidak menjawab.

  Antonio menyesap minumannya pelan.

  “Kamu bekerja sampai tengah malam lagi.” ucap Antonio.

  “Itu hal biasa.” jawab Arseno.

  “Hal biasa yang tidak sehat.”

  Arseno menghela napas tipis. “Aku baik-baik saja.”

  Antonio menatapnya tajam. “Tidak. Kamu hanya terbiasa, kepala pelayan mengatakan kau lebih sering tidur di kantor dari pada di rumah.”

  Hening sesaat menunjukkan suasana mulai tegang.

  Arseno menyilangkan tangannya. “Ayah menungguku hanya untuk mengatakan itu?”

  Antonio meletakkan gelasnya di meja.

  “Aku menunggumu karena kita perlu bicara.”

  “Kalau soal pekerjaan, kita bisa bahas besok.” sela Arseno.

  “Bukan soal pekerjaan.”

  Arseno mengernyit. “Lalu?”

  Antonio menatapnya lurus. “Soal hidupmu dan masa depan keluarga Andreas ini.”

  Arseno langsung terlihat tidak tertarik. “Kalau itu, tidak ada yang perlu dibahas.”

  “Kamu yakin?”

  “Aku tidak melihat masalah.” sahut Arseno yakin.

  Antonio tersenyum tipis, senyum yang lebih terlihat seperti sindiran. “Tiga puluh tahun, Arseno, mau membujang sampai kapan ?”

  Arseno diam.

  “Kamu punya segalanya. Uang, kekuasaan, nama besar.” lanjut Antonio mengingat putranya.

  “Aku tahu.” jawab Arseno seakan tidak perduli.

  “Lalu apa yang kurang?”

  Arseno menjawab datar, “Tidak ada.”

  Antonio menggeleng pelan. “Kamu bahkan tidak menyadari apa yang kurang.”

  Arseno mulai terlihat kesal. “Ayah bisa langsung ke inti pembicaraan?”

  Antonio mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Menikahlah .."

  Satu kata itu jatuh dengan berat di ruangan.

  Arseno langsung mengalihkan pandangan.“Tidak tertarik. terlalu merepotkan memiliki seorang wanita rewel di dekat ku.”

  Jawaban cepat. Tanpa ragu.

  Antonio menghela napas panjang. “Seperti biasa. atau jangan-jangan kau tidak suka wanita ?”

  “Ayah tidak bisa memaksaku seperti ini, dan aku bukan gay !!!, aku hanya lebih suka melajang tanpa pernikahan.” Arseno tetap menolak.

  “Ayah tidak menuduh, Ayah hanya mengingatkan, jika pria dewasa butuh pendamping hidup.”

  “Itu tidak penting ayah, aku bahagia dengan hidupku sekarang."

  “ kamu tidak bisa hidup seperti ini selamanya.” sambung Antonio.

  Arseno tertawa kecil, dingin. “Kenapa tidak?”

  “Karena kamu manusia, bukan mesin.”

  “Aku tidak melihat masalah menjadi produktif.”

  “Ini bukan soal produktif!” suara Antonio mulai meninggi. “Ini soal hidupmu!”

  Arseno menatapnya tajam.

  “Hidupku berjalan dengan baik.”

  “Sendirian?” sahut Antonio dengan suara keras.

  “Aku tidak butuh siapa pun.”

  Antonio berdiri dari sofa.

  “Kamu bilang begitu sekarang. Tapi suatu hari kamu akan menyesal.”

  “Aku tidak akan menyesal.”

  “Kamu terlalu yakin.”

  “Karena aku tahu apa yang aku lakukan.”

  “Tidak,” Antonio menggeleng. “Kamu hanya menghindar.”

  Arseno mengerutkan dahi. “Menghindar dari apa?”

  “Dari sesuatu yang tidak bisa kamu kontrol, dan suatu saat kau akan terjebak dengan perasaan mu sendiri” ujar Antonio memperingati Arseno.

  Kata-kata itu tepat mengenai sasaran.

  Namun Arseno tetap memasang wajah datar.

  “Aku tidak tertarik dengan hubungan yang tidak pasti.”

  Antonio menatapnya dalam. “Atau kamu takut?”

  Tatapan Arseno langsung berubah tajam. “Ayah salah orang kalau mau bermain psikologi denganku.”

  Antonio tidak mundur sedikit pun.

  “Aku ayahmu. Aku mengenalmu lebih dari siapa pun.”

  “Kalau begitu, ayah harus tahu bahwa aku tidak akan menikah hanya karena usia.”

  “Ini bukan soal usia, ini soal masa depan keluarga Andreas!”

  Arseno langsung menyela, “Perusahaan sudah aman. Nama keluarga tetap terjaga. Apa lagi yang ayah inginkan?”

  Antonio menatapnya dengan serius. “Seorang penerus.”

  Arseno tersenyum tipis, tapi dingin. “Jadi ini soal itu.”

  “Ini penting.” tegas Antonio.

  “Untuk ayah, mungkin.” sela Arseno.

  “Untuk kita semua!”

  “Aku tidak hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain.” Arseno masih tidak mau menuruti kemauan ayahnya.

  Antonio melangkah mendekat.

  “Kamu adalah bagian dari keluarga ini!”

  “Aku juga individu.”

  Keduanya saling menatap dengan keteguhan masing-masing.

 Ayah dan anak itu tidak ada yang mau mengalah.

  Antonio akhirnya berbicara lebih pelan, tapi penuh tekanan.

  “Kamu tidak akan bisa menghindari ini selamanya.”

  Arseno menjawab tanpa ragu, “Kita lihat saja.”

  Akhirnya, Arseno berbalik. “Aku lelah. Aku mau istirahat.”

  “Arseno...!!"

  Langkahnya berhenti, tapi ia tidak menoleh.

  “Kamu akan berubah pikiran suatu hari nanti.”

  Arseno tersenyum tipis, tanpa berbalik. “Tidak.”

  Ia melanjutkan langkahnya menuju kamar.

  Meninggalkan Antonio sendirian di ruang yang kembali sunyi.

......................

1
Nanda Sa
oke 👍❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!