Kisah perjalanan Pendekar Naga dalam membasmi kejahatan yang di sebabkan oleh Pendekar Aliran Hitam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adih Supriadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 10
Arden dan rombongan dari kerajaan Rinjani sampai di kerajaan Kencana, dengan perasaan gembira dan penasaran.
Dewi kunang kagum terhadap kemegahan kerajaan Kencana, kerajaan yang mempunyai dekorasi yang mewah dan anggun.
Bangunan-bangunan tinggi dengan ukiran-ukiran yang indah dan detail, serta taman-taman yang terawat dengan baik, membuat Dewi merasa seperti berada di dalam sebuah mimpi.
Panglima kerajaan Kencana menyambut hangat rombongan kerajaan Rinjani, dengan senyum yang lebar dan tangan yang terbuka.
Arden, pendekar naga putih, ngobrol dengan panglima perang kerajaan Kencana, membahas tentang hubungan antara kedua kerajaan dan kemungkinan kerjasama di masa depan.
"Rupanya Arden cukup dikenal oleh orang kerajaan Kencana," ucap Dewi Tanjung dalam hati, sambil mengamati interaksi antara Arden dan panglima perang.
Ia merasa bangga melihat Arden yang begitu percaya diri dan karismatik, mampu membangun hubungan yang baik dengan orang-orang penting di kerajaan Kencana.
Dewi Kunang sendiri juga disambut dengan hangat oleh para pejabat kerajaan Kencana, yang tampaknya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan putri kerajaan Rinjani yang cantik dan berani ini.
Panglima kerajaan meminta untuk beristirahat siang ini karena mungkin lelah dalam perjalanan.
"Sebaiknya kalian beristirahat dulu, perjalanan jauh pasti melelahkan," kata panglima perang dengan nada yang ramah.
Arden menceritakan kepada panglima perang tentang kejadian di hutan, "Kami sempat bertemu dengan perampok di hutan, tapi kami berhasil mengusir mereka."
Panglima perang mengangguk serius, "Untunglah kalian bisa mengusir mereka. Tapi sepertinya ada beberapa prajurit yang terluka, bukan?"
Arden mengangguk, "Ya, ada beberapa prajurit yang terluka akibat pertempuran dengan perampok. Apakah mungkin untuk memanggil tim medis untuk mengobati mereka?"
Panglima perang mengangguk, "Tentu saja, saya akan memanggil tim medis untuk mengobati prajurit-prajurit yang terluka."
Dengan cepat, panglima kerajaan mengkoordinir bagian pengobatan untuk mengobati beberapa prajurit Rinjani yang terluka.
Tim medis kerajaan Kencana segera datang dan memberikan perawatan yang tepat kepada prajurit-prajurit yang terluka.
Arden dan rombongannya merasa lega dan berterima kasih atas bantuan kerajaan Kencana.
Mereka kemudian beristirahat sambil menunggu waktu sore untuk bertemu dengan Raja Kencana.
Pihak kerajaan juga telah menyiapkan tempat istirahat untuk Arden, pendekar naga putih.
Namun, Arden menolak dengan sopan, "Terima kasih atas tawaran Anda, tapi saya tidak akan menginap. Saya hendak pulang ke rumah orang tua saya yang berada di desa belakang kerajaan."
Panglima perang mengangguk mengerti, "Baiklah, jika itu yang Anda inginkan. Tapi sebelum Anda pergi, saya ingin meminta Anda untuk menemui seseorang di dalam kerajaan."
Arden penasaran, "Siapa itu?" Panglima perang menjawab, "Jasiren, ayah Anda. Beliau menjabat sebagai penasehat kerajaan dan pasti ingin bertemu dengan Anda."
Arden mengangguk, "Baiklah, saya ingin menemui ayah saya."
Panglima perang mengantar Arden menemui Jasiren, yang berada di ruangannya di dalam istana kerajaan.
Arden merasa senang bisa bertemu dengan ayahnya, walaupun hanya sebentar.
Terjadi obrolan hangat dan ceria antara ayah dan anak.
Arden menceritakan tentang pertemuannya dengan rombongan kerajaan Rinjani secara tak sengaja ketika rombongan prajurit Rinjani sedang bertarung dengan perampok di hutan.
"Aku memutuskan untuk ikut mengawal rombongan prajurit Rinjani karena satu tujuan," kata Arden dengan senyum.
Jasiren, ayah Arden, mendengarkan dengan penuh perhatian dan bangga.
"Bagus, anakku. Tampaknya kamu sudah menjadi seorang pendekar yang bijak dan berani." Arden tersenyum dan menceritakan lebih lanjut tentang petualangannya.
Setelah obrolan yang hangat, Arden pamit untuk pulang ke rumah untuk menemui ibunya dan adik-adiknya.
Jasiren berpesan, "Mungkin ayah akan pulang malam karena ada rapat dengan Raja dan pihak dari kerajaan nanti sore. Tolong sampaikan salamku kepada ibu dan adik-adikmu."
Arden mengangguk dan memacu kuda putihnya menuju rumah ibunya yang ada di desa bagian belakang desa terdekat dengan istana kerajaan.
Saat melewati sawah dan sungai, Arden mengingat masa kecilnya bermain di sawah dan sungai.
Ia tersenyum dan merasa nostalgia, mengenang kenangan indah masa lalunya.
Kuda putihnya berlari dengan lincah, membawa Arden menuju rumah dengan hati yang gembira.
Akhirnya Arden sampai di rumahnya, dan ibunya menyambutnya dengan gembira.
"Arden, anakku! Senang sekali melihatmu sehat dan selamat!" Ibu Arden menyapa anaknya yang sudah lama tak bertemu, merasa bangga melihat anaknya yang sudah menjadi pendekar sakti.
Arden tersenyum dengan ceria.
"Ibu, aku juga senang bertemu denganmu. Aku sudah lama tidak pulang." Ibu Arden mengangguk dan mengajaknya duduk di ruang tamu.
Selama 2 jam, Arden ngobrol dengan ibunya dan bibinya, membahas tentang kehidupan sehari-hari dan petualangan Arden sebagai pendekar.
Arden juga bercanda dengan adik-adiknya, Oden yang berusia 14 tahun dan Jesika yang berusia 12 tahun.
Oden dan Jesika sangat menyukai Arden dan selalu menantikan kedatangannya.
Setelah sore, Arden ditemani oleh kedua adiknya untuk bersilaturahmi ke tetangga sekitar.
Mereka berjalan-jalan di desa, menyapa tetangga dan berbagi cerita.
Arden merasa bahagia bisa menghabiskan waktu dengan keluarga dan tetangga, menikmati kehidupan desa yang sederhana dan damai.
***
Tiap sore, Arden menemani adiknya Oden berenang di sungai yang jernih dan tenang.
Mereka berdua menikmati kesegaran air sungai dan bermain-main di dalamnya.
Setelah puas berenang, mereka akan pergi ke lapangan bola yang tak jauh dari rumahnya untuk bermain bola bersama teman-teman desa.
Oden sangat menyukai bermain bola dan Arden senang melihat adiknya begitu bersemangat.
Arden juga ikut bermain bola dengan adiknya dan teman-temannya, menikmati waktu bersama dan berbagi tawa.
Setelah puas bermain, mereka akan pulang ke rumah, merasa lelah tapi bahagia.
Kehidupan desa yang sederhana dan damai membuat Arden merasa sangat nyaman dan bahagia.
Ia merasa bersyukur bisa memiliki keluarga yang mencintainya dan teman-teman yang baik.
Waktu yang dihabiskan bersama adiknya dan teman-temannya membuat Arden merasa lebih dekat dengan mereka dan lebih menghargai kehidupan sehari-hari.
Setiap pagi dan sore, Arden mengajari Oden latihan silat dan olahraga fisik untuk menguatkan tubuhnya.
Oden sangat bersemangat dan antusias dalam belajar, karena ia bercita-cita ingin menjadi pendekar seperti kakaknya, Arden.
Oden ingin berkelana dan membasmi kejahatan, membuat dunia menjadi tempat yang lebih aman dan adil.
***
Ketika Arden baru datang, ia melihat halaman belakang terdapat beberapa alat olahraga dan alat latihan bela diri.
Arden mengira itu peralatan milik ayahnya, tapi setelah bertanya kepada ibunya, ternyata itu peralatan milik Oden yang berambisi menjadi pendekar.
Ibu Arden tersenyum bangga, "Ya, Oden sangat ingin menjadi seperti kamu, Arden. Ayahnya juga sangat mendukung, bahkan ketika di rumah, ayah selalu menyempatkan diri untuk melatih Oden bela diri."
Arden tersenyum dan merasa bangga melihat adiknya memiliki semangat dan cita-cita yang sama dengan dirinya.
Ia merasa senang bisa menjadi contoh dan mentor bagi Oden, dan berharap adiknya bisa menjadi pendekar yang hebat dan membuat keluarga menjadi bangga.
"Kak, bawa aku ke Perguruan Naga Langit, Oden ingin belajar ilmu bela diri dan kesaktian di Perguruan Naga Langit tempat Kakak berlatih."ucap Oden kepada Arden.
"Boleh saja, asal ibu dan ayah mengizinkan, jika tak ada izin orang tua ya tidak bisa."ucap Arden.
"Ya di beri izin donk.. kan ibu dan ayah juga mendukung Oden untuk menjadi Pendekar dan Oden ingin jadi murid dari Pendekar Legenda , yaitu Pendekar Naga Langit yang terkenal di seluruh Nusantara ini."ucap Oden.
Arden hanya tersenyum melihat adiknya yang bersemangat ingin menjadi pendekar.