Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23: Asbak Kristal
Belum ada yang bicara.
Hujan di luar apartemen terdengar lebih keras daripada napas empat orang di ruang tamu itu.
Rayhan berdiri di ambang pintu, masih bau alkohol, matanya merah tetapi fokusnya hanya pada Keira. Steven dan William berada di belakangnya, bersama seorang teman konglomerat muda yang jelas menyesal ikut mengantar. Mereka semua tampak seperti pria yang baru menyeret badai ke tempat yang salah.
Keira menurunkan ponsel perlahan.
"Masuk," katanya.
Steven langsung lega setengah detik, sampai ia melihat wajah Keira. Itu bukan izin damai. Itu undangan eksekusi.
Rayhan melangkah masuk. Ia hampir tersandung karpet, tetapi menolak dibantu. "Kei."
"Duduk."
Rayhan duduk di sofa. Steven dan William berdiri di dekat pintu, tidak berani terlalu jauh. Teman yang satu lagi mencoba tersenyum sopan, lalu menyerah.
Keira berdiri di depannya, ponsel masih di tangan. "Kamu yang memberikan sumber daya film itu ke Vanessa?"
Rayhan mengangkat kepala. Matanya berkabut, tetapi ia mengerti pertanyaan itu.
"Ya."
Satu kata.
Pendek.
Cukup untuk membuat udara di ruang tamu pecah.
Steven langsung menoleh. "Ray."
Rayhan mengangkat tangan, menyuruhnya diam. Ia menatap Keira, mencoba menyusun kalimat dalam kepala yang terlalu penuh alkohol dan rasa bersalah.
"Tapi beberapa hari lagi kamu akan mengerti."
Keira tertawa kecil.
Suara itu membuat William menutup mata sebentar. Ia tahu ini bukan tawa.
"Beberapa hari lagi?" Keira mengulang pelan. "Vanessa berdiri di depan kamera sebagai korban bullying sekarang. Kamu memberinya panggung sekarang. Safira tidur delapan tahun sekarang."
Rayhan mengernyit. "Safira?"
Keira berhenti.
Di situlah retaknya menjadi lebih dalam.
Rayhan bahkan belum tahu.
Ia tidak tahu kenapa nama Vanessa di film itu bisa membuat Keira muntah. Tidak tahu bahwa kata bullying bukan sekadar isu sosial di poster kampanye. Tidak tahu bahwa perempuan yang ia jadikan bagian transaksi adalah orang yang berdiri paling depan di koridor lantai enam.
"Keluar," kata Keira.
Rayhan berdiri. "Dengar aku dulu."
"Aku sudah dengar. Kamu bilang ya."
"Ini bukan seperti yang kamu pikir."
"Kalau begitu jelaskan sekarang."
Rayhan terdiam.
Ia tidak bisa. Bukan karena tidak mau, tetapi karena kontrak dengan keluarga Tanujaya belum selesai, kondisi Lilian belum stabil, dan kepala mabuknya tidak cukup jernih untuk membongkar rencana tanpa menghancurkan posisi yang sedang ia susun. Dalam diam itu, Keira menemukan jawaban yang paling menyakitkan.
Di meja kecil samping sofa, ada asbak kristal berat. Rayhan jarang merokok di apartemen Keira sejak Bali, tetapi benda itu masih ada, hadiah lama dari salah satu acara bisnis.
Keira mengambilnya.
Steven bergerak. "Keira..."
Asbak itu melayang.
Rayhan tidak menghindar.
Benda kristal itu melewati sisi kepalanya, menghantam dinding belakang dengan suara pecah yang keras. Serpihan jatuh ke lantai. Teman konglomerat muda itu mengumpat dan maju satu langkah, wajahnya berubah marah.
"Lo keterlaluan! Dia sudah seminggu di rumah sakit karena..."
"BERANI SENTUH DIA, MATI KAU!"
Suara Rayhan menghantam ruangan.
Teman itu langsung berhenti.
Keira juga membeku, bukan karena takut, tetapi karena melihat Rayhan yang setengah mabuk masih berdiri di antara dirinya dan orang lain yang hendak membalas. Matanya merah, napasnya berat, tetapi perlindungan itu keluar tanpa jeda.
William menarik teman itu mundur. "Jangan ikut campur."
Steven memegang lengan Rayhan. "Ray, cukup. Lo mabuk."
Rayhan menatap Keira. Ada luka di pipinya, bukan dari asbak, melainkan serpihan kecil yang memantul. Darah tipis muncul di bawah tulang pipi.
"Aku tidak akan menyakiti kamu," katanya serak.
Keira menatap darah itu. "Kamu sudah."
Rayhan seperti kehabisan udara.
Ia ingin menjelaskan Lilian pingsan. Ingin menjelaskan perjodohan yang ia tolak. Ingin menjelaskan bahwa film itu bukan hadiah untuk Vanessa, melainkan umpan agar Vanessa sendiri menolak perjodohan dari sisi Tanujaya. Namun semua penjelasan terdengar terlambat ketika Keira berdiri di depannya dengan mata yang sudah menutup pintu.
"Kita pergi," kata William pelan.
Rayhan tidak bergerak.
"Ray," Steven menekan suaranya. "Sekarang."
Akhirnya Rayhan berbalik. Di ambang pintu, ia menoleh sekali.
"Beberapa hari lagi," katanya. "Aku janji kamu akan mengerti."
Keira tidak menjawab.
Pintu tertutup.
Apartemen mendadak terlalu sunyi.
Asbak kristal yang pecah di dinding meninggalkan serpihan di lantai seperti es kecil. Keira berdiri beberapa detik tanpa bergerak. Kemarahannya belum padam, tetapi setelah Rayhan pergi, yang tersisa bukan kemenangan. Hanya suara napasnya sendiri dan bau alkohol yang masih tertinggal di udara.
Ia mengambil sapu. Satu pecahan kecil menggores ujung jarinya. Darah muncul tipis. Keira menatap darah itu, lalu tertawa tanpa suara.
Rayhan berdarah karena hampir terkena asbak.
Ia berdarah karena membereskan pecahannya.
Mereka berdua terluka oleh benda yang sama, tetapi tidak satu pun mengerti luka yang sebenarnya.
Di lift turun, tidak ada yang bicara sampai teman konglomerat muda tadi mendesis, "Perempuan itu hampir memecahkan kepala lo."
Rayhan menatap pantulan dirinya di pintu lift. "Dan kalau lo menyentuh dia, aku benar-benar memecahkan tangan lo."
Teman itu langsung diam.
Mereka membawa Rayhan ke bar privat milik salah satu teman Steven, bukan untuk pesta, melainkan karena tidak ada yang ingin ia kembali ke rumah sakit dalam keadaan seperti itu. Di ruang VIP, William membersihkan luka kecil di pipi Rayhan.
Steven akhirnya meledak. "Lo kenapa tidak jelaskan dari awal?"
Rayhan menutup mata. "Karena Vanessa belum menandatangani."
"Tanda tangan apa?"
"Surat penolakan perjodohan dari pihak Tanujaya." Rayhan membuka mata. Alkohol mulai turun, menyisakan lelah yang lebih tajam. "Dia mau proyek film itu, jalur distribusi, dan kompensasi promosi. Aku beri. Setelah itu dia sendiri yang bilang ke keluarganya tidak mau dijodohkan. Mama tidak bisa memaksaku kalau pihak Tanujaya mundur duluan."
Steven menatapnya seperti ingin memukul meja. "Jadi lo membantu Vanessa supaya Vanessa mundur?"
"Ya."
"Dan Keira tahu bagian membantu, tapi tidak tahu bagian mundur."
Rayhan diam.
William menghela napas. "Selamat. Lo menciptakan salah paham paling mahal tahun ini."
Rayhan mengambil ponsel. "Belum selesai."
Ia menelepon produser film itu tengah malam.
Suara di seberang terdengar panik ketika mendengar nama Rayhan. Rayhan tidak memberi basa-basi.
"Ganti pemeran utama."
"Pak Rayhan, kontrak dengan Bu Vanessa sudah..."
"Saya bayar penalti. Ganti dia sebelum pagi."
"Tapi kampanye sudah berjalan."
"Kalau nama Vanessa masih ada di poster besok siang, tidak akan ada distribusi, tidak akan ada sponsor, dan tidak akan ada karier untuk siapa pun yang memaksakan ini."
Tidak ada teriakan. Justru karena suara Rayhan dingin, produser di seberang tidak berani menawar lagi.
Keesokan paginya, pengumuman resmi muncul.
Vanessa Tanujaya diganti dari film Kebenaran Dunia karena penyesuaian jadwal dan pertimbangan kreatif.
Netizen bingung. Fans Vanessa marah. Akun gosip mencium sesuatu lebih besar. Keira membaca berita itu di meja makan apartemennya dengan wajah kosong.
Ia tidak tahu Rayhan menelepon tengah malam.
Ia hanya tahu Vanessa sempat diberi panggung, lalu ditarik.
Di bandara, Rayhan naik jet pribadi menuju Jerman. Pada tiket bisnis resmi, alasannya adalah pertemuan investasi. Di saku jasnya, ada alamat seorang maestro perhiasan pensiunan yang hanya menerima pesanan dari keluarga lama Eropa dan Asia. Rayhan membawa sketsa cincin yang digambar sendiri dengan garis kaku: batu utama biru tua, detail merah kecil di sisi, bentuk yang mengingatkan pada mata Keira.
Steven melihat sketsa itu sebelum Rayhan berangkat. "Lo mau melamar setelah dilempar asbak?"
"Aku mau menunjukkan niatku sebelum dia benar-benar pergi."
"Ray, mungkin mulai dari menjelaskan."
"Cincin juga penjelasan."
"Kadang gue capek jadi teman lo."
Rayhan tidak membalas. Sebelum pesawat lepas landas, ia mengirim pesan ke Keira.
Ada kejutan untukmu. Aku tidak sabar pulang.
Di Jakarta, Keira membaca pesan itu saat laptopnya terbuka.
Di layar, folder bernama bukti Safira sudah lengkap: video koridor, tangkapan layar chat lama, foto luka, kesaksian anonim, dan catatan medis awal setelah jatuh. Semua sudah disusun rapi oleh Kevin agar bisa dipahami pihak hukum dan media.
Ada juga surat lama dari Panti Asuhan Kasih Sayang, tulisan Fira yang pernah kabur terkena air. Keira tidak mengirim bagian itu. Surat itu bukan untuk publik. Dunia boleh melihat kejahatan Vanessa, tetapi tidak berhak memakan seluruh kelembutan Safira sebagai tontonan.
Ia hanya memasukkan hal yang perlu: tanggal, lokasi, nama saksi, rekaman, laporan medis, dan jejak uang yang dulu membuat sekolah memilih diam. Kevin sudah menandai bagian yang bisa diverifikasi tanpa membuka identitas anak panti lain.
Keira memasukkan file terakhir ke dalam paket terenkripsi untuk Bu Farida Habibie, politisi perempuan yang sedang berkampanye dengan isu perlindungan anak dan pendidikan aman.
Pesan dari Rayhan masih menyala di ponsel.
Ada kejutan untukmu.
Keira menatap kalimat itu, lalu menutup ponsel tanpa membalas.
Ia menekan tombol kirim.
Semua bukti bullying Safira berpindah tangan malam itu.
Di Jerman, Rayhan turun dari pesawat dengan sketsa cincin di saku.
Di Jakarta, Keira mulai menghapus jejak kecil hubungan mereka dari apartemennya.
Keduanya bergerak cepat.
Tidak satu pun tahu bahwa arah mereka sudah berlawanan.
Satu membawa cincin untuk menahan.
Satu membawa bukti untuk pergi.
Dan malam itu, tidak ada doa yang sampai tepat waktu.
Hanya keputusan yang berjalan tanpa menoleh lagi.