NovelToon NovelToon
Ketika Hati Menemukan Jalannya

Ketika Hati Menemukan Jalannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Teman lama bertemu kembali / Cinta Seiring Waktu / Drama / Bullying dan Balas Dendam / Kontras Takdir / Anak Yatim Piatu / Teen School/College
Popularitas:265
Nilai: 5
Nama Author: Biru_Muda

Amanda yang seorang guru, dihadapkan pada lika-liku sekolah yang semakin hari semakin kehilangan arahnya.

Beban tanggung jawabnya sebagai wali kelas 1A benar-benar tak mudah, karena ia juga mendapatkan tekanan dari berbagai sisi, hingga membuatnya stress dan frustasi.

Disaat Amanda sedang pusing menghadapi berbagai masalah dalam sekolah tempatnya mengajar dan juga masalah bersama sang mantan yang masih kekeh meminta balikan dengannya.

Pertemuanya yang tak terduga dengan Reihan yang merupakan kakak dari salah satu muridnya menambah drama baru dihidupnya.

Membangkitkan kembali kenangan masa kecil yang telah terkubur lama ditambah bayang-bayang masa lalu antara dirinya dan Aqila, teman Reihan membuat hubungan mereka jadi penuh drama.

Kira-kira apa yang terjadi di antara mereka? Apa yang membuat Amanda sampai terlibat dengan Reihan dan Aqila?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru_Muda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rapat Komite Disiplin

"Saya tidak bersalah."

"Saya juga tidak bersalah."

Karina dan Sofia menolak mengakui kesalahan mereka.

"Sa-saya mengaku salah."

"Saya meminta maaf.

"Saya bersalah.",

"Tolong jangan keluarkan saya."

Walau sempat ada yang tak mau mengakui kesalahan saat ditanya pertama kali, saat sudah ditekan dan ada bukti pengakuan beberapa korban, pada akhirnya mereka pun mengakui juga kesalahan mereka sendiri. Dan, seketika langsung meminta untuk di ampuni.

"Anak saya tidak mungkin melakukan itu."

"Iya, benar, mereka tidak mungkin melakukan itu."

"Jangan asal menuduh begitu saja, bisa saja anak itu bohong ingin memfitnah anak saya."

"Kalian tidak kenal siapa aku?"

"Kalian bisa kena masalah kalau berani menghukum anakku!"

Pengelakan datang dari beberapa wali murid yang merasa tak terima anaknya disidang. Ada yang ngotot, ada yang hanya ikut arus, ada juga yang sedikit takut anaknya dikeluarkan sehingga hanya diam mengangguk tanpa berani ikut bersuara.

Dewi Rosita, selaku direktur yayasan SMA Mutiara yang ikut hadir dalam rapat komite disiplin sekolah terpantau hanya diam mengamati bagaimana kepala sekolah dan yang lainnya menyelesaikan masalah ini.

Ia tak mencoba untuk menginterupsi, ataupun memberi pendapatnya. Melihat begitu jelas bagaimana pengelakkan, pertentangan, hingga ancaman mengiringi rapat komite disiplin yang di adakan oleh sekolah.

Dari sini, Dewi Rosita akhirnya bisa melihat lebih jelas bagaimana gambaran dari masalah yang menghantui sekolah belakangan ini. Tentang siapa saja yang berpotensi menjadi biang kerok dalam merusak citra sekolah yang sudah susah payah ia jaga ini.

Rapat yang berlangsung selama 30 menit, masih belum terlihat jelas hasilnya dan justru semakin tak kondusif. Terlihat banyak guru yang tertekan akibat tekanan yang dilakukan oleh beberapa wali murid.

Bang..

Suara yang cukup keras dari hantaman tangan yang memukul meja kayu, membuat suasana yang sebelumnya berisik penuh sanggahan dan protes, mendadak jadi tenang.

Semua berawal dari sosok yang sedari tadi hanya diam mengamati ketegangan rapat, yang kini mulai memberikan reaksinya akibat suasana yang semakin tak kondusif.

"Dulu kupikir mendirikan sekolah khusus perempuan, akan lebih mudah untuk mengurusnya." nadanya terdengar lembut, namun tersirat kekecewaan di dalamnya.

Perempuan lansia yang masih menjaga penampilannya itu terlihat sangat marah. Dewi Rosita membuat semua mata akhirnya tertuju ke arahnya, auranya cukup mengintimidasi bagi siapapun yang melihatnya.

Tak perlu dengan berteriak, ia bisa mengendalikan suasana yang sebelumnya berisik tak kondusif, menjadi lebih tenang hanya dengan gerakan sederhana memukul meja kayu agar semuanya diam.

Menekan satu persatu orang yang ada di dalam ruangan. Seolah sedang memperjelas siapa yang paling berkuasa dalam sekolah ini.

"Saya tidak perduli kalian dari keluarga mana, dan sudah melakukan apa untuk sekolah ini." ucapnya tak perduli dengan status orang tua murid.

"Sesuai aturan yang sudah sekolah ini junjung tinggi dari dulu. Bahwa, perundungan dan kekerasan dalam sekolah sangat dilarang, dan siapapun yang melakukannya harus siap untuk dikeluarkan dari sekolah, tanpa terkecuali!!" ujarnya, kembali mengingatkan pentingnya mematuhi peraturan sekolah yang sudah ada sejak dulu.

"Tidak bisa begitu dong! Masa cuma begitu saja sampai mengeluarkan murid? Ini kerugian buat saya yang sudah habis banyak disekolah ini!!" mama Karina tak terima mendengar pernyataan yang Dewi Rosita ucapkan, karena merasa sayang dengan biaya yang sudah ia keluarkan untuk sekolah.

"Korban dari kekerasan yang anak anda lakukan sampai masuk rumah sakit dan anda hanya bilang cuma?" Dewi Rosita menatap dingin mama Karina.

Mama Karina pun terkesiap melihatnya.

"Ta-tapi anak saya juga menjadi korbannya disini. Lihat! muka dan tanganya terluka oleh anak itu." tunjuknya pada wajah sang anak yang tergores oleh cakaran. "Jadi, ini tidak adil untuk anak saya." mama Karina masih tak mau mengakui anaknya bersalah.

"Benar, harusnya anak itu juga ikut dihukum." mama dari Sofia ikut bersuara, tak terima anaknya disalahkan begitu saja.

"Yang kalian sumbang hanya uang recehan, tapi lagak kalian sudah seperti sudah membangun sekolah ini." ucap Dewi Rosita yang akhirnya memilih untuk berdiri.

"Enak saja anda bilang recehan! Saya sudah memberi uang hampir 500 juta untuk sekolah ini. Jadi, saya berhak untuk bersuara dan ikut campur dalam sekolah ini." mama Karina tak terima bantuannya dibilang recehan.

"Iya, saya juga sama. Sudah lebih dari 5 kali saya menyumbang uang untuk sekolah ini, jadi saya tidak terima anak saya di intimidasi begini." kali ini, mama Sofia ikut berkomentar.

Karena sudah memberikan bantuan besar, mereka merasa berhak untuk ikut campur dalam peraturan sekolah.

"500 juta?" Dewi Rosita terkejut dengan nominal yang besar itu, mengingat ia tak pernah menerimanya dan dalam aturan sekolahnya ia tak pernah memberikan pembebanan bagi wali murid untuk biaya bantuan bagi sekolah. Karena itu bukan kewajiban.

Saat itu, ia langsung tahu siapa yang sudah menerima uang itu ketika melihat sikap kepala sekolah yang menjadi tak tenang.

"Jadi, karena itu kalian jadi bersikap angkuh disekolah ini." tatapnya pada Karina dan Sofia.

Dewi Rosita yang sebelumnya terlihat tenang, akhirnya naik pitam ketika melihat sikap angkuh para orang tua murid yang merasa sudah berjasa pada sekolah, hanya karena memberikan bantuan. Dari 6 orang tua murid yang dipanggil dalam rapat komite disiplin, hanya mereka berdua yang terlihat paling angkuh dan sok berkuasa, sedangkan yang lainnya terlihat ciut ketika melihat kemarahan Dewi Rosita.

"Memangnya kalian siapa berani merubah aturan sekolah ini? Lancang sekali!" Dewi Rosita menatap marah pada orang tua murid yang berlagak angkuh di depannya.

"Peraturan adalah peraturan! Jika kalian melanggar peraturan sekolah silahkan keluar dari sini!!" Tekan Dewi Rosita menatap marah pada semuanya.

Diam, tanpa kata. Seketika suasana hening saat melihat Dewi Rosita, yang merupakan direktur yayasan sekolah SMA Mutiara menaikan nada suaranya penuh lantang.

"Kalau anda mengeluarkan anak saya, sekolah ini akan terkena imbasnya." ucap mama Karina dengan nada yang terdengar mengancam.

"Iya, saya juga akan menuntut sekolah ini karena sudah mengeluarkan anak saya." mama Sofia tak mau kalah.

Saat para orang tua murid sedang berdebat, anak-anak mereka yang duduk disamping mereka hanya bisa diam menyimak. Menunggu hasil keputusan hukuman bagi mereka.

Karina dan Sofia sendiri terlihat cukup tenang, karena melihat orang tuanya yang cukup kuat membelanya, namun ada anak lain yang merasa takut jika sampai dikeluarkan dari sekolah.

"Cukup!" bentak Dewi Rosita menghentikan perdebatan.

"Justru anda yang akan terkena imbasnya. Bukankah citra suami anda yang seorang pejabat itu akan tercoreng? Jika tahu bahwa anaknya merupakan pelaku perundungan?" Dewi Rosita tak gentar mendengar ancaman itu. Ia justru menantang balik mama Karina, yang langsung membuatnya terdiam.

Karina yang melihat sang mama yang mendadak diam, ikut menciut dan tak tenang.

"Anda yang gagal mendidik anak, mengapa malah masih bersikap angkuh dan tidak tahu malu?" Dewi Rosita menatap wajah mama Sofia yang hendak melaporkan sekolah.

"Dalam aturan sekolah yang sudah jelas di awal, jika ada bukti indikasi murid itu melakukan perundungan dan kekerasan di dalam sekolah, maka sekolah akan langsung mengeluarkannya." Dewi Rosita kembali menjelaskan aturan sekolah yang wajib dipatuhi.

"Bukankah, saat kalian mendaftarkan anak kalian ke sekolah ini, kalian sudah dikasih tahu akan aturan ini?" lanjutnya.

Semua terdiam tak ada yang bersuara ketika Dewi Rosita kembali mengingatkan perihal peraturan sekolah yang sudah sangat jelas itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!