NovelToon NovelToon
Gairah Musuhku

Gairah Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Teen / Nikahmuda / Enemy to Lovers
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: HyMaira

Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.

Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.

Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4

Papa Evan dan Altan berdiri di depan mobil, sejak tadi sebenarnya mereka sudah memantau keadaan dari jauh.

“EMILY!” teriak Papa Evan dengan suara menggelegar, jelas sekali amarahnya sudah memuncak.

“Papa, tolong tahan dulu… ini di tempat umum,” ucap Altan mencoba meredam.

Tanpa banyak bicara, Altan langsung meraih lengan adiknya dengan keras.

“Pulangg!” katanya tegas.

“Ab… Abang… Papa… ma—”

“Masuk ke mobil! Adek bicara di rumah!” potong Altan ketus, matanya dingin menatap Emily.

Dalam perjalanan, suasana hening menyesakkan. Tidak ada satu pun kata yang terucap. Emily hanya menunduk, tangannya gemetar, antara takut dan bersalah.

Setibanya di rumah, jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Di ruang tamu, Ibu Amanda duduk dengan mata sembab, air matanya tak henti menetes.

Melihat itu, Emily langsung berlari dan memeluk ibunya erat.

“Ibu… maaf… maafin Ilyi, Ibu… maaf, Bu…” suara Emily bergetar, penuh panik.

Namun, Ibu Amanda menepis pelukan itu dengan kasar. Hati Emily seakan diremas.

“Jangan cuma maaf dan janji, Emily! Ucapanmu sudah nggak bisa dipegang! Semalam kamu bilang ‘maaf, janji yang terakhir kalinya’… lalu ini apa?! Kamu masih berangkat diam-diam!”

“I… iya, Ibu… Emily minta maaf. Emily janji, Bu… nggak bakal balapan lagi. Tolong, maafin Emily, Bu… janji, Bu…”

Belum sempat Emily menyelesaikan kalimatnya—

PLAAAAAAAAAAKKK!

Untuk pertama kalinya, tangan Papa Evan mendarat di pipi Emily. Suara tamparan itu menggema, membuat ruangan seketika hening.

Emily terperanjat, matanya langsung berkaca-kaca. Tangannya refleks menyentuh pipinya yang panas. Ia tidak pernah menyangka, Papa yang selama ini hanya marah dengan kata-kata, kini benar-benar menamparnya.

Papa Evan berdiri tegak, napasnya memburu, matanya merah menahan amarah.

“Papa sudah benar-benar geram sama kamu, Emily! Kamu bukan cuma keras kepala, tapi

juga terus-terusan berbohong”

“Papa please, jangan pukul Emily!” ucap Altan cepat, meskipun dia marah besar pada adiknya, tapi rasa sayangnya lebih kuat. Dia sama sekali tidak tega melihat Emily diperlakukan begitu.

“Tapi dia sudah keterlaluan, Bang!” suara Papa Evan bergetar penuh amarah. “Dia masih bisa bohongi kita!”

“Abang tahu, Pa… tapi jangan memukul. Jangan dengan kekerasan, Pah. Adik itu perempuan, Pah,” ucap Altan mencoba menengahi, nadanya penuh harap.

Papa Evan menarik napas panjang, wajahnya tetap keras. “Anak perempuan macam apa dia ini?! Masih saja nggak kapok! **Ambil semua media sosialnya, sita HP-nya! Altan, sembunyikan kunci motornya! Juga kunci jendela dan pintu kamarnya!”

Lalu dengan teriakan lantang ia berkata,

“MASUK KE KAMAR!!!”

Dengan wajah penuh air mata, Emily langsung berlari naik ke lantai atas. Sesuai perintah Papa, laptop, handphone, kunci motor, bahkan jendela dan kunci pintu kamarnya sudah disembunyikan oleh Altan. Dia keras, tapi sebenarnya hatinya perih juga melihat adiknya begitu.

Malam itu, Emily benar-benar menangis. Tangisannya pecah, pikirannya campur aduk. Dia sudah pasrah—apapun yang terjadi esok hari, dia harus tetap menerimanya.

---

Keesokan harinya, pintu kamarnya digetok keras dari luar.

Tok tok tok!

“Emily, cepat keluar! Bangun!” ucap Ibu Amanda dengan nada tegas.

Emily mengucek matanya yang bengkak.

“I… iya, Ibu…” sahutnya lemah, lalu membuka pintu dengan mata yang masih terpejam.

“Astaghfirullah, Emily… jam berapa ini?!”

“Hah? Jam berapa, Bu?”

“Udah hampir jam 10.00!”

“Haaaah?!” Emily menepuk jidat, lalu terkekeh kecil,

“Cepat mandi! Di bawah ada tamu.”

“Hah? Tamu siapa, Bu?”

“Pokoknya cepat bersiap, dandan yang sopan, Emily!”

“Huuuh, baru juga tidur pagi…” gumam Emily kesal, tapi akhirnya dia masuk kamar mandi juga.

Setelah selesai mandi, Emily bingung harus pakai baju apa. Kata ibunya harus sopan, apa harus pakai kerudung? Tapi rasanya dia belum siap. Akhirnya dia hanya mengenakan dress rumahan saja.

Tak lama, pintu kembali diketuk.

Tok tok tok!

“Emily, cepat! Ini udah lebih dari satu jam. Kamu lagi apa, Emily?” tegur Ibu Amanda.

“Iya, Ibu, iya… Emi keluar,” jawab Emily sambil membuka pintu.

Begitu melihat pakaian anaknya, Ibu Amanda langsung mendesah kecewa.

“Loh, kok pakai pakaian kayak gini?”

“ya … terus  harus gimana lagi, Bu…” ucap Emily lemas.

“Sudah, ya sudah. Daripada kelamaan. Ayo turun. Ayah sudah nunggu.”

“Ada apa sih sebenarnya, Bu?” tanya Emily curiga.

“ga perlu banyak nanya, Emily? Sekarang kamu harus nurut!” jawab Ibu Amanda tegas.

Emily akhirnya menuruni anak tangga perlahan bersama ibunya. Namun begitu sampai di ruang tamu, langkahnya langsung terhenti. Matanya membelalak tak percaya.

“Reyyy?!”

“Emily…?!”

Mereka sama-sama terkejut melihat satu sama lain duduk di ruang tamu bersama orang tua masing-masing.

“Oh… jadi kalian sudah kenal. Baguslah kalau begitu, jadi tidak perlu diperkenalkan lagi,” ucap Bunda Rania sambil tersenyum.

“Ya betul itu. Kamu beneran kenal, Ily, sama dia?” tanya Ibu Amanda.

“Kenal, Bu. Dia satu fakultas…” jawab Emily gugup.

“Oh, itu malah lebih bagus. Jadi nggak perlu kenalan lebih jauh, adaptasi pun lebih gampang. Kalau satu fakultas, sudah tahu dong sifat masing-masing,” sambung Bunda Rania.

Emily langsung menoleh cepat pada ibunya.

“Maksudnya apa ini, Bu?”

Ibu Amanda hanya menunduk sedikit lalu berbisik di telinga Emily, “Sudah, Emily. Ingat ucapan Papa tempo hari kan? Dan sekarang… Papa benar-benar mewujudkannya.”

Emily langsung membelalak.

“Bu… jangan bilang… dia calon suamiku?”

“Nah, itu tepat sekali, sayang. Kamu sudah tahu kan? Jadi, Reyze inilah calon suamimu.”

“Haaaaaah?!” Emily dan Rey teriak bersamaan.

Para orang tua malah tersenyum puas.

“Rey, cepat berikan cincinnya kepada Emily sebagai tanda pengikat,” ucap Bunda Rania lembut.

Rey tidak berani membantah. Ia hanya menuruti perkataan bundanya. Emily menatapnya penuh kebencian, tatapannya seolah berteriak: “Tolak, Rey! Tolak!”.

Namun Rey hanya mengangkat bahu, pasrah.

Tukar cincin berlangsung kaku, bahkan agak kasar. Tapi bagi kedua keluarga, momen itu adalah kebahagiaan besar.

“Sepertinya jangan dilama-lamakan, Jeng,” ucap Bunda Rania. “Apalagi Jeng Manda kan mau berangkat ke Los Angeles. Jadi lebih baik dipercepat saja biar Emily tinggal di rumah kita.”

“Itu yang terbaik,” sahut Papa Bimo. “Akad dulu saja, nanti resepsinya setelah mereka lulus kuliah.”

Emily langsung terperanjat.

“Apanya yang dipercepat, Ibu?”

“Akadnya, Emily.” ucap Bunda Rania mantap.

“Nggak bisa! Nanti aja… setelah lulus kuliah!” Emily mencoba menolak.

“Nggak bisa, sayang!” Ibu Amanda menatapnya tajam.

“Mas Evan, kapan berangkat ke Los Angeles-nya?” tanya Papa Bimo.

“Minggu-minggu ini, Bim.”

“Oke. Bagaimana kalau akad mereka dilaksanakan malam Minggu saja? Biar enakan.”

“Haaaaaah?!” Emily dan Rey kembali bersuara bersamaan.

“Kenapa? Mau sekarang aja langsung akad?”

“Nggakkk! Nggak bisa, Pa! Nggak, nggak, nggak!” Emily gelagapan.

“Tidak ada yang memberi kalian pilihan.” Suara Papa Evan bulat. “Kalian tetap akan menikah malam Minggu nanti. Hanya akad dulu bersama penghulu. Resepsinya nanti setelah lulus kuliah. Bagaimana, Rey?”

“Iya, Om… gimana baiknya saja,” jawab Rey, meskipun Emily terus melototinya.

Papa Evan menepuk meja.

“Ini demi kebaikan kamu, Emily. Papa dan Ibu nggak bisa ngawasin terus.

Kakakmu juga sibuk. Kalau kamu sudah punya suami yang jagain kamu, itu akan lebih baik. Ibu dan Papa bisa berangkat dengan tenang.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!