NovelToon NovelToon
BANGKITNYA PENDEKAR TERKUAT

BANGKITNYA PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

aku akan mengguncang dunia persilatan, aku yang memiliki ingatan masa depan memiliki keunggulan yang akan menghacurkan segala yang merebut waktu dan duniaku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 - Kesempatan Kedua

Darah kental menetes dari ujung jubah hitam Sun Chen, membasahi batu-batu dingin di tepi tebing yang menjulang. Napasnya memburu, berat dan serak. Luka tusukan di dada kirinya menembus dalam, sementara bahu kirinya terkulai mati rasa akibat hantaman tenaga dalam berdaya hancur tinggi.

Di hadapannya, puluhan pendekar dari Aliansi Persilatan mengepung dalam formasi setengah lingkaran yang rapat. Baju zirah dan jubah mereka yang megah tampak berkilau di bawah naungan langit mendung. Di barisan paling depan, Pemimpin Sekte Pedang Langit berdiri tegak dengan pedang lurus terhunus, disandingkan oleh Pemimpin Sekte Gunung Suci yang menggenggam tasbih besar di tangannya.

"Hari ini adalah akhir perjalananmu, Sun Chen. Serahkan Kitab Naga Hitam... atau jurang di belakangmu akan menjadi makam tanpa nama," ancam Pemimpin Sekte Pedang Langit, suaranya dingin dan sarat ancaman yang mengintimidasi.

Sun Chen tidak langsung menjawab. Dengan sisa tenaganya, ia perlahan memutar pandangan, menoleh ke belakang melewati celah formasi musuh. Ia mencari sosok rekan-rekannya sesama Jenderal Demonic yang beberapa saat lalu bersumpah akan bertempur mati-matian bersamanya.

Kosong.

Tak ada seorang pun.

Rekan-rekannya telah meninggalkannya tanpa menoleh sedikit pun.

Sun Chen nyaris tertawa.

Beginilah wajah sejati Kultus Demonic. Selama puluhan tahun ia menyaksikan pengkhianatan demi pengkhianatan, tetapi ketika giliran dirinya menjadi tumbal, rasa pahit itu tetap menusuk jauh lebih dalam daripada luka di dadanya.

Meski begitu, wajah Sun Chen tidak menunjukkan sedikit pun kerapuhan. Sebagai Jenderal Demonic berusia lima puluh empat tahun yang ditakuti di seluruh benua, ia menolak memperlihatkan rasa sakit di hadapan para musuhnya. Tatapannya tetap dingin, tajam, dan penuh keangkuhan yang tak tergoyahkan.

"Menyerahkan kitab?" Sun Chen tertawa pelan. Darah segar menyembur kecil dari sudut bibirnya saat ia terkekeh. "Kalian bicara seolah-olah akan membiarkanku hidup jika aku menyerahkannya. Aku tahu betul bagaimana cara Aliansi Persilatan bekerja. Menyerahkan kitab hanya berarti mati perlahan di dalam penjara bawah tanah kalian setelah disiksa habis-habisan."

"Bicara omong kosong!" sahut Pemimpin Sekte Gunung Suci sembari melangkah maju. Tangannya mengangkat tasbih kayu, memancarkan gelombang tenaga dalam yang menekan udara di sekitar. "Tenggat waktumu sudah habis, Sun Chen! Pilih mati di tangan kami, atau serahkan kitab itu sekarang!"

Sun Chen menegakkan punggungnya yang terluka. Ia memandang para pendekar di depannya dengan tatapan mencemooh. Menghentak lantai batu di bawah kakinya, ia melangkah mundur satu kali. Tumitnya memijat udara kosong di tepi jurang.

Ia mendongak, menatap langit kelam yang tertutup awan hitam untuk terakhir kalinya.

"Aku tidak akan pernah berlutut pada kalian," bisik Sun Chen pelan.

Tanpa ragu sedikit pun, Sun Chen menjatuhkan tubuhnya ke belakang. Ia meluncur ke dalam kegelapan jurang tanpa dasar. Teriakan kaget dan kepakan jubah para pendekar Aliansi Persilatan yang panik terdengar samar-samar dari atas, sebelum akhirnya sepenuhnya lenyap ditelan deru angin malam.

Rasa melayang menghantam Sun Chen saat tubuhnya meluncur turun dalam kecepatan tinggi. Angin tajam menyayat kulitnya yang terluka, namun rasa sakit itu perlahan menghilang. Sun Chen memejamkan mata, membiarkan tubuhnya pasrah menantikan saat-saat kegelapan menelan nyawanya.

Namun, rasa hantam tanah yang ia tunggu-tunggu tidak pernah berkunjung.

Kecepatan jatuh tubuhnya perlahan melambat. Kegelapan di sekelilingnya berubah. Ruang di sekitarnya mengembang tanpa batas, melenyapkan tebing, angin, dan gravitasi. Tidak ada atas maupun bawah di tempat ini.

Tiba-tiba, jauh di kedalaman kegelapan abadi itu, sepasang mata keemasan terbuka. Ukuran bola mata itu luar biasa besar, menyerupai dua gunung bercahaya yang memandang lurus ke arah jiwa Sun Chen. Di belakang sepasang mata tersebut, melilit wujud raksasa seekor naga hitam dengan sisik-sisik sekeras baja legendaris yang menyelimuti ruang kosong di sekitarnya.

"Jadi... akhirnya ada juga manusia yang berhasil datang ke sini..."

Sun Chen membeku.

Suara itu tidak terdengar melalui telinga. Ia langsung mengguncang jiwanya.

"Kitab yang kau rebut selama puluhan tahun hanyalah sepotong sisik yang kutinggalkan."

Mata naga itu perlahan menyipit.

"Dan kau mengira telah menyentuh puncak kekuatan."

Sun Chen berusaha keras menggerakkan tenaganya, membakar sisa Qi jahat di dalam dirinya untuk bertahan dari tekanan hebat ini. "Tunggu! Jelaskan padaku! Jika kau pemilik sejati kitab itu, apa yang kau inginkan dariku?!"

Naga raksasa itu mulai memejamkan matanya kembali. Wujudnya perlahan mengabur di dalam kegelapan, namun suaranya kembali bergemung menembus kesadaran Sun Chen.

"Ingat baik-baik..."

"Takdir memberimu satu kesempatan lagi."

"Jika kali ini kau tetap memilih jalan yang sama..."

"Bahkan kematian tidak akan mampu menyelamatkanmu."

Seketika, cahaya putih yang sangat menyilaukan meledak dari pusat kegelapan, merampas seluruh pandangan Sun Chen. Tubuhnya terasa menyusut secara tidak alami. Tulang-tulangnya berderak, memendek dan mengecil. Suara deru angin jurang yang sunyi mendadak berganti dengan derit kayu bergesekan dan getaran roda yang menghantam jalanan berbatu.

Sun Chen tersentak bangkit, matanya terbuka lebar.

Pemandangan di hadapannya berputar. Bau darah, lumpur, dan kotoran menyerbu hidungnya hingga membuat dadanya sesak. Ia menatap ke bawah dan membeku.

Yang terbentang di hadapannya adalah sepasang tangan kecil yang kurus, dipenuhi goresan dan bekas lumpur kering. Kakinya pendek, terikat erat bersama belasan anak kecil lainnya di atas jerami busuk. Mereka berada di dalam gerobak kayu tertutup yang bergoyang-goyang kasar.

Sun Chen mengertakkan gigi. Pikiran dan ingatan berusia lima puluh empat tahun bergolak hebat di dalam benaknya. Ia mengenali tempat ini. Ia mengenali bau busuk ini.

Ini adalah usianya yang ke-4.

Ingatan kelam yang selama puluhan tahun ia kubur di dasar hatinya mendadak mendobrak keluar. Hari ini adalah hari ketika desanya dibakar habis oleh kelompok perampok. Hari ketika ayah dan ibunya dibantai tepat di depan matanya sendiri, sebelum ia diseret dan dilemparkan ke dalam kereta budak ini.

Bayangan wajah ibunya yang bersimbah darah, menangis memohon agar Sun Chen kecil diselamatkan, membakar dadanya dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Air mata menetes di pipi mungil Sun Chen tanpa bisa ia tahan.

Sudah puluhan tahun ia mengira kenangan itu telah mati. Ternyata luka yang paling dalam tidak pernah benar-benar sembuh.

Namun, Sun Chen menghentakkan kepalanya ke dinding kayu kereta. Rasa sakit fisik itu membangkitkan kesadarannya.

"Cukup," bisik Sun Chen dalam hatinya, suaranya dingin dan tajam.

Ia memejamkan mata sejenak, menekan emosi liar itu dalam-dalam. Ia adalah Sun Chen, Jenderal Demonic yang telah melewati ribuan pertarungan mematikan. Ia bukan lagi anak kecil yang tidak berdaya. Pikirannya kembali jernih dan terkontrol, berganti menjadi ketenangan seorang ahli strategi yang telah melewati ratusan medan perang.

Ia tahu persis ke mana kereta budak ini bergerak. Kereta ini menuju ke Pasar Budak di perbatasan, di mana ia nantinya akan dibeli oleh utusan Kultus Demonic dan dibawa ke Lembah Terpencil. Di sana, ia dihantam latihan neraka yang mengubahnya menjadi mesin pembunuh dingin, membawanya pada takdir pengkhianatan dan kematian di tebing jurang.

"Aku tidak akan menempuh jalan yang sama," ikrar Sun Chen dalam batinnya. "Kali ini, aku yang menentukan takdirku sendiri."

Tanpa membuang waktu, Sun Chen mulai bergerak pelan, memastikan gerakan mungilnya tidak memancing perhatian anak-anak lain yang menangis sesenggukan di sekitarnya. Matanya yang tajam mengamati sekeliling.

Ia menghitung lima penjaga berkuda berjalan di samping dan belakang kereta. Dua penjaga duduk di kursi depan kereta memegang kendali kuda. Konstruksi kereta terbuat dari kayu tebal, namun saat mata Sun Chen meneliti sudut bawah dekat kakinya, ia menemukan celah kecil. Salah satu pasak kayu di sudut kanan bawah telah lapuk dan retak akibat erosi air.

Perlahan, Sun Chen menjatuhkan tangannya ke bawah jerami. Jari-jarinya yang mungil meraba-raba dasar kereta hingga menemukan sepotong batu kecil berujung tajam. Ia menggenggam batu itu erat-erat di dalam telapak tangannya.

Dengan ketelitian tinggi, Sun Chen mulai menempelkan ujung batu tajam itu ke celah pasak kayu yang lapuk. Setiap kali roda kereta menghantam batu jalanan dan menimbulkan suara getaran keras, Sun Chen mencungkil celah kayu itu secara berulang dan teratur, memperbesar keretakan tanpa menimbulkan kecurigaan.

Klek. Pasak kayu itu semakin longgar.

Kereta budak bergoyang keras saat mulai melintasi sebuah jembatan kayu tua. Di bawah mereka, arus sungai deras menghantam bebatuan, menghasilkan buih putih yang bergemuruh di bawah jembatan, menutup derit kayu retak dari pengerjaan Sun Chen.

Sun Chen menahan napas, bersiap memanfaatkan kelonggaran papan kayu untuk merayap keluar begitu kereta mencapai pertengahan jembatan.

"Hei!"

Bentakan kasar itu membuat seluruh anak di dalam kereta tersentak.

Penjaga bertubuh besar menarik kudanya hingga sejajar dengan sisi kereta. Tatapannya berhenti tepat pada tangan kanan Sun Chen yang masih tersembunyi di balik jerami.

"Apa yang kau sembunyikan di sana, bocah?"

Sun Chen perlahan mengangkat wajahnya.

Tatapan seorang anak berusia empat tahun seharusnya dipenuhi ketakutan.

Namun yang menatap balik sang penjaga adalah sepasang mata sedingin pembunuh yang telah melewati ratusan medan perang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!