NovelToon NovelToon
Jalan Dewa Kehampaan

Jalan Dewa Kehampaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Timur, kekuatan mutlak adalah hukum tertinggi, dan mereka yang tidak bisa berkultivasi hanyalah debu yang pantas diinjak-injak. Lin Tian, Tuan Muda dari Klan Lin, harus menanggung kehinaan selama bertahun-tahun karena cacat bawaan pada meridiannya. Takdirnya mencapai titik terkelam ketika ia dikhianati, disergap oleh pembunuh bayaran suruhan sepupunya, dan dilemparkan ke dasar Jurang Hukuman yang mematikan.
​Namun, jurang itu bukanlah akhir, melainkan awal yang baru.
​Di ambang kematian, darah dan tekad Lin Tian yang pantang menyerah membangkitkan sebuah artefak kosmis yang bersemayam dalam dirinya—Mutiara Kehampaan. Tubuh fananya dihancurkan dan ditempa ulang, meridiannya disucikan, dan ia mewarisi Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit, sebuah kekuatan tabu yang ditakuti oleh alam semesta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Istana Darah

​Pusat Alam Rahasia Makam Kuno kini tampak seperti sepotong neraka yang diangkat ke langit. Pilar cahaya merah darah selebar seratus meter menembus pusaran awan hitam, menopang sebuah istana kuno yang melayang megah di udara. Istana itu terbuat dari obsidian hitam dan tulang-belulang binatang buas raksasa, memancarkan aura purba yang menekan jiwa siapa pun yang memandangnya.

​Satu-satunya jalan menuju istana melayang tersebut adalah sebuah tangga panjang terbuat dari batu giok merah yang membentang dari tanah, meliuk-liuk ke atas menembus pilar cahaya darah.

​Di pelataran luas di bawah tangga giok itu, sekitar tiga puluh murid inti Sekte Awan Ungu berkumpul.

​Dari seratus murid jenius yang masuk ke Alam Rahasia dua puluh tujuh hari yang lalu, hanya tiga puluh orang yang berhasil bertahan hidup dan mencapai titik ini. Pakaian mereka compang-camping, berlumuran darah, dan wajah mereka dipenuhi kelelahan yang ekstrem. Namun, mata mereka menyala oleh keserakahan saat menatap istana di atas awan.

​Di salah satu sudut, Mu Qingxue berdiri dikelilingi oleh beberapa murid wanita. Aura dingin yang memancar dari tubuhnya jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Berkat racikan biji Teratai Api Neraka yang diberikan Lin Tian, meridiannya telah stabil. Kultivasinya kini berada di ambang batas mutlak menuju tahap Inti Emas.

​"Kakak Senior Mu, situasinya aneh," bisik seorang murid wanita berambut pendek di samping Mu Qingxue. "Gerbang Makam Utama sudah terbuka selama dua jam, tapi kelompok Kakak Senior Lu Changkong belum juga muncul. Tidak mungkin faksi terkuat sekte melewatkan harta karun sebesar ini."

​Mu Qingxue mengerutkan kening. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang salah. Pikirannya tiba-tiba melayang pada sosok pemuda berbaju putih yang membawa pedang hitam raksasa.

​Apakah Lin Tian benar-benar bentrok dengan Lu Changkong di Lembah Kuburan Pedang? Tidak... meskipun Lin Tian kuat, Lu Changkong sudah mencapai Inti Emas. Mustahil Lin Tian bisa bertahan hidup.

​Di tengah pelataran, seorang pemuda jangkung berbaju ungu melangkah maju. Ia adalah Zhao Kuang, peringkat keempat Murid Inti, yang menggunakan seni elemen petir. Karena Lu Changkong (peringkat 1) dan dua jenius peringkat tiga besar lainnya tidak terlihat, Zhao Kuang merasa ini adalah saatnya untuk mengambil alih kepemimpinan.

​"Dengarkan aku, semuanya!" seru Zhao Kuang, suaranya diperkuat oleh gemuruh petir kecil yang melilit lehernya. "Lu Changkong mungkin terjebak di suatu tempat atau sedang mengasingkan diri. Kita tidak bisa menunggunya! Waktu ujian hanya tersisa kurang dari tiga hari!"

​Ia menunjuk ke arah ujung bawah tangga giok merah. Di sana, menghalangi jalan masuk pertama, berdiri dua buah patung Golem Darah setinggi sepuluh meter. Patung-patung itu memegang kapak raksasa, memancarkan aura mengerikan setara dengan puncak tahap Pondasi Bumi.

​"Kedua Golem Darah itu memiliki pertahanan setingkat Inti Emas," lanjut Zhao Kuang dengan wajah muram. "Aku baru saja mencoba menyerang salah satunya, dan seranganku bahkan tidak meninggalkan goresan. Jika kita ingin masuk dan menjarah Istana Utama, kita harus menyatukan formasi! Semua kultivator Pondasi Bumi Akhir, bergabunglah denganku di garis depan!"

​Beberapa murid ragu-ragu, namun karena godaan harta karun Makam Utama terlalu besar, mereka mulai bergerak maju membentuk formasi tempur.

​Namun, sebelum mereka bisa melepaskan serangan gabungan...

​ZRAAAASH!

​Suara robekan kain yang luar biasa keras bergema di langit di atas mereka. Langit berdarah tiba-tiba beriak, melengkung ke dalam, lalu sobek seperti selembar kertas.

​Semua murid serempak mendongak. Mata mereka terbelalak ngeri.

​Dari dalam celah kehampaan yang gelap gulita itu, seberkas cahaya abu-abu keperakan melesat keluar. Sepasang sayap energi spasial raksasa terbentang megah, menutupi pilar cahaya berdarah sejenak. Sesosok pemuda berpakaian putih dengan pedang hitam raksasa di punggungnya melayang perlahan, sebelum mendarat dengan dentuman keras di tengah pelataran, tepat di depan anak tangga giok.

​BUM!

​Batu pelataran retak membentuk jaring laba-laba selebar sepuluh meter. Sayap keperakan di punggung pemuda itu melipat dan menghilang ke dalam tubuhnya.

​Hening. Angin di pelataran seolah berhenti berhembus.

​Semua mata menatap punggung pemuda itu. Aura yang memancar darinya begitu pekat, purba, dan mematikan—jauh melampaui tekanan dari kedua Golem Darah. Fluktuasi kultivasinya berada di tahap Pondasi Bumi Puncak, namun hawa membunuh yang dibawanya terasa setara dengan dewa iblis.

​"L-Lin Tian?!" seru beberapa murid yang mengenalinya saat turnamen sekte.

​Mu Qingxue menutup mulutnya, matanya membelalak tak percaya. Pondasi Bumi Puncak?! Hanya dalam waktu kurang dari sebulan?! Bagaimana mungkin dia melesat secepat ini? Dan sayap energi spasial itu...

​Zhao Kuang, yang merasa panggungnya direbut, mengerutkan kening dalam-dalam. Ia tidak pernah menganggap Lin Tian penting, karena Lin Tian masuk melalui jalur khusus dan hanya berada di tahap awal saat memasuki Alam Rahasia.

​"Kau! Murid jalur belakang!" bentak Zhao Kuang, mencoba menutupi kegugupannya dengan suara keras. "Dari mana saja kau bersembunyi? Dan seni ilusi apa yang kau gunakan untuk memalsukan teleportasi spasial tadi? Kemarilah dan bergabung di formasi belakang untuk menyumbangkan Qi-mu menghancurkan Golem itu!"

​Lin Tian tidak menoleh sama sekali. Ia berdiri santai menatap anak tangga giok dan kedua Golem Darah raksasa di hadapannya.

​"Berisik sekali," gumam Lin Tian pelan.

​Merasa diabaikan di depan puluhan murid lainnya, wajah Zhao Kuang memerah karena amarah. "Beraninya kau mengabaikanku! Jangan kira kau bisa berlagak sombong karena selamat sejauh ini! Tombak Petir Penghukum!"

​Zhao Kuang memusatkan Qi petirnya ke tangan kanan, membentuk sebuah tombak kilat yang berderak ganas. Dengan kecepatan penuh, ia melesat maju, berniat menusuk bahu Lin Tian untuk memberinya 'pelajaran' dan menegaskan otoritasnya.

​Melihat serangan mematikan dari peringkat empat sekte itu, beberapa murid wanita menjerit tertahan.

​Saat tombak petir itu tinggal berjarak satu jengkal dari pundak Lin Tian...

​Wussh!

​Lin Tian tidak menoleh. Ia bahkan tidak menarik pedang hitam raksasanya. Ia hanya mengangkat tangan kirinya ke belakang, telapak tangannya terbuka menyambut tombak petir tersebut.

​BZZZZT—BLUP.

​Suara petir yang menggelegar mendadak padam seperti lilin yang ditiup angin. Tombak petir kebanggaan Zhao Kuang, yang mampu menembus batu karang setebal sepuluh meter, menghilang tak berbekas saat menyentuh telapak tangan Lin Tian! Pusaran Lautan Qi Kehampaan di Dantian Lin Tian telah menelan energi elemen petir itu mentah-mentah.

​"A-Apa?!" Mata Zhao Kuang melotot, otaknya berhenti berfungsi sesaat.

​"Petir yang lemah," suara Lin Tian terdengar datar.

​Detik berikutnya, tangan kiri Lin Tian yang baru saja memakan petir itu melesat kilat ke depan, mencengkeram leher Zhao Kuang, dan mengangkat pemuda bertubuh besar itu ke udara seolah mengangkat anak kucing.

​Zhao Kuang meronta-ronta, wajahnya berubah ungu. Ia mencoba menggunakan kedua tangannya untuk melepaskan cengkeraman Lin Tian, namun tangan pemuda berbaju putih itu terasa terbuat dari besi suci yang tak bisa digoyahkan.

​Kekuatan fisik tahap Inti Emas Menengah bukanlah sesuatu yang bisa dilawan oleh seorang kultivator Pondasi Bumi.

​"L-Lepaskan..." cekik Zhao Kuang, matanya memancarkan teror absolut.

​Lin Tian menolehkan kepalanya sedikit, melirik Zhao Kuang dari sudut matanya. Sepasang pupil ungunya berkilat dingin.

​"Jika kau ingin hidup, belajarlah untuk menutup mulutmu di hadapanku."

​BAM!

​Lin Tian mengayunkan lengannya, melempar tubuh Zhao Kuang menghantam tanah batu pelataran. Tanah seketika hancur berkeping-keping. Zhao Kuang memuntahkan darah segar yang bercampur dengan beberapa gigi yang tanggal, lalu pingsan tak sadarkan diri, tulang rusuknya retak parah.

​Seluruh pelataran terdiam. Para murid inti yang tadinya bersiap membentuk formasi langsung mundur beberapa langkah tanpa sadar, wajah mereka sepucat kertas.

​Peringkat keempat Murid Inti... dikalahkan hanya dengan satu tangan tanpa Lin Tian perlu berbalik badan?! Kekuatan tiran macam apa ini?!

​Mengabaikan tubuh Zhao Kuang yang terkapar, Lin Tian kembali menatap ke arah tangga giok. Kedua Golem Darah raksasa itu mulai bereaksi terhadap hawa membunuh Lin Tian. Mata batu mereka menyala merah terang.

​ZREENG!

​Kedua Golem itu mengangkat kapak raksasa mereka secara bersamaan, siap menebas siapa pun yang berani menginjakkan kaki di anak tangga pertama. Aura puncak Pondasi Bumi yang berpadu dengan ketahanan fisik batu ajaib menekan ke bawah.

​Di barisan belakang, Mu Qingxue menahan napas. Pertahanan golem itu kebal terhadap serangan Qi di bawah tingkat Inti Emas. Lin Tian kuat secara fisik, tapi kapak raksasa itu cukup berat untuk menghancurkan gunung.

​Lin Tian tersenyum tipis. Tangan kanannya bergerak ke balik bahunya, memegang gagang Logam Hitam Tanpa Nama.

​Sring.

​Pedang ditarik. Tidak ada kilatan cahaya, tidak ada suara logam bergesekan yang tajam. Hanya sebuah benda hitam legam seukuran pintu yang ditarik dari punggungnya. Namun, begitu pedang itu berada di genggaman Lin Tian, udara di sekitarnya mendadak menjadi berat dan mencekik.

​Ini adalah pertama kalinya Lin Tian akan menguji integrasi antara Seni Pedang Penelan Langit dan Jantung Pedang Surgawi yang baru saja ia serap.

​"Jalan ini... telalu sempit."

​Lautan Qi Kehampaan di Dantiannya bergejolak. Energi hitam keunguan meluap, membalut bilah Logam Hitam Tanpa Nama.

​Kedua Golem Darah itu menerjang maju secara serempak, kapak raksasa mereka menebas silang ke arah kepala Lin Tian, menciptakan badai angin berdarah yang membuat murid-murid di belakang terpaksa berlutut menahan tekanan.

​Lin Tian tidak merapal jurus pamungkas. Ia hanya memutar pinggangnya dan mengayunkan pedang raksasanya secara horizontal dari kanan ke kiri, melakukan tebasan dasar yang diperkuat oleh Niat Pedang Kegelapan.

​WUUUSSSHHHH!

​Sebuah busur energi berwarna hitam legam—tidak lagi tipis seperti benang, melainkan setebal sungai—melesat keluar dari bilah pedang. Sabit kegelapan itu tidak memancarkan cahaya, ia menelan cahaya di sekitarnya, meninggalkan jejak kehampaan mutlak.

​SREEEK—BUM!

​Sabit kegelapan itu menghantam kedua Golem Darah raksasa secara bersamaan. Tidak ada suara ledakan dahsyat. Kapak baja, pelindung batu giok, dan inti formasi di dada kedua patung itu terpotong sehalus membelah tahu.

​Tebasan itu terus melaju tanpa hambatan, merobek pilar cahaya darah, dan menghancurkan setengah dari tebing batu di belakang tangga tersebut menjadi debu kosmis.

​Tubuh bagian atas dari kedua Golem Darah itu perlahan tergelincir, jatuh menghantam anak tangga giok, lalu hancur menjadi puing-puing batu tanpa nyawa.

​Hanya dengan satu ayunan pedang... pertahanan absolut yang menghentikan seluruh murid jenius sekte, dimusnahkan.

​Lin Tian menurunkan Logam Hitam Tanpa Nama, ujungnya yang tumpul menghantam lantai giok dengan dentuman pelan. Ia mengayunkan pedangnya ke punggung, lalu mulai melangkah menaiki tangga batu giok merah dengan santai, jubah putihnya berkibar ringan ditiup angin ketinggian.

​Tidak ada satu pun dari tiga puluh murid inti di pelataran yang berani bergerak, apalagi mengikuti di belakangnya. Mereka hanya bisa menatap punggung pemuda itu dengan teror mistis yang mengukir dalam di jiwa mereka.

1
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Makjlebz
hadad fernandez khan
lanjut tor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!