NovelToon NovelToon
Sistem Pager Iblis

Sistem Pager Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: Sugesti

Ketika keluarganya hancur dihantam utang dan kehancuran finansial, Lin Fan tidak sengaja menemukan gulungan lontar tua milik leluhurnya yang tersembunyi di sudut rumahnya di desa terpencil. Gulungan itu membuka akses ke sebuah ritual terlarang yang membangkitkan entitas misterius bernama [Sistem Pagar Iblis], sebuah kekuatan kuno yang menuntut bayaran mahal untuk setiap keuntungan finansial dan perlindungan yang ditawarkannya. Demi menyelamatkan keluarganya dari ancaman orang-orang licik di sekitarnya, Lin Fan terpaksa melangkah ke dalam kegelapan, tanpa menyadari bahwa setiap keputusan yang ia ambil mulai mengubah dirinya dan membahayakan nyawa orang-orang yang berusaha ia lindungi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Bayaran Pertama yang Aneh

Matahari pagi belum sepenuhnya terbit menembus pepohonan lebat di sekitar desa.

Udara dingin merasuk menembus celah-celah dinding kayu rumah tua milik keluarga Lin.

Lin Fan duduk terlentang di atas kasur tipisnya dengan pandangan lurus menatap langit-langit kamar yang bersarang laba-laba.

Matanya merah dan berkaca-kaca akibat sama sekali tidak tidur sepanjang malam.

Ancaman pesan tugas dari sistem masih terngiang-ngiang dengan sangat jelas di dalam ingatannya.

"Membakar rumah... Zhao Qiang benar-benar berniat memusnahkan kami," bisik Lin Fan dengan suara parau.

Ia melirik ke arah meja kayu kusam di samping tempat tidurnya tempat lontar tua itu berada.

Lontar serat pohon tua itu kini tampak memancarkan getaran halus yang hampir tak terlihat oleh mata telanjang.

Tiba-tiba, layar ponsel tua milik Lin Fan kembali menyala secara mendadak tanpa ada sentuhan.

Sfx: Ting!

Suara notifikasi bernada asing yang bukan dari sistem bawaan ponsel berdenging nyaring di dalam kamar yang sepi itu.

Lin Fan langsung menyambar ponselnya dan membukanya dengan cekatan.

Bukan notifikasi pesan perbankan atau pesan singkat dari operator yang muncul di sana.

Sebuah berkas dokumen digital bertuliskan nama ayahnya, Lin Guo, mendadak terbuka secara otomatis di layar ponsel.

[Mengirimkan Bayaran Sampingan Pertama Dari Sistem Pagar Iblis]

[Item: Dokumen Rahasia Transaksi Masa Lalu Lin Guo]

[Efek: Mengungkap Alasan Sebenarnya Kehancuran Bisnis Keluarga Lin]

Mata Lin Fan membelalak lebar membaca teks pemberitahuan tersebut.

"Dokumen... ayah?" gumam Lin Fan dengan jantung berdebar kencang.

Selama ini, seluruh warga desa dan ibunya sendiri percaya bahwa ayahnya melarikan diri karena terlilit utang bisnis kayu yang bangkrut.

Ayahnya pergi begitu saja di suatu malam tanpa meninggalkan pesan apa pun, membuat keluarganya dihina dan diintimidasi oleh orang-orang tuan tanah.

Lin Fan menggeser layarnya ke bawah untuk membaca isi dokumen bertanggal tiga tahun lalu itu.

Dokumen itu berisi catatan transaksi transfer uang dalam jumlah besar dan surat perjanjian kerja sama lahan.

Nama yang tertera sebagai pihak pembeli bukan nama asing bagi Lin Fan.

Itu adalah nama Tuan Tanah Li, atasan langsung dari Zhao Qiang yang menguasai sebagian besar tanah di desa ini.

Di bawah dokumen transaksi tersebut, terdapat sebuah lampiran foto lama yang diambil secara sembunyi-sembunyi.

Foto itu memperlihatkan ayahnya, Lin Guo, sedang terikat di sebuah kursi kayu di dalam gudang tua yang terasing.

Di depan ayahnya, berdiri Zhao Qiang bersama Tuan Tanah Li yang sedang memegang sebuah dokumen dengan paksa.

Lin Fan menahan napasnya, dadanya terasa seperti dihantam oleh batu besar yang sangat berat.

"Ayah... ayah tidak melarikan diri?" bisik Lin Fan dengan suara yang bergetar hebat.

Ia membaca catatan kecil di bagian bawah foto tersebut yang dibuat oleh sistem.

[Keterangan: Lin Guo Menolak Menjual Lahan Leluhur Keluarga Lin Kepada Tuan Tanah Li]

[Status Lin Guo: Dipaksa Memalsukan Surat Utang Dan Dibuang Ke Luar Kota Dalam Kondisi Lumpuh]

[Fakta: Seluruh Utang Keluarga Lin Adalah Rekayasa Palsu Dari Zhao Qiang Dan Tuan Tanah Li]

Plak!

Lin Fan memukul kasurnya kuat-kuat dengan kepalan tangan kanannya.

Rasa amarah yang luar biasa mendadak meledak di dalam dadanya, membakar seluruh rasa takut yang sempat bersarang semalam.

Selama ini keluarganya dihancurkan, dihinakan, dan dipaksa hidup melarat di atas kebohongan besar yang dirancang oleh orang-orang licik tersebut.

Ibunya menangis setiap malam meratapi nasib, adiknya harus putus harapan untuk melanjutkan sekolah tinggi, dan dirinya disiksa secara mental oleh tagihan-tagihan palsu.

"Zhao Qiang... Tuan Tanah Li..." geram Lin Fan dengan mata menyala penuh rasa dendam yang amat mendalam.

Tanda luka bakar lingkaran di telapak tangan kanannya mendadak berdenyut panas memancarkan warna merah kehitaman.

Sfx: Bzzzzzt!

Cahaya merah samar itu merambat ke permukaan meja kayu dan menyentuh gulungan lontar tua di sampingnya.

[Gejolak Emosi Dan Dendam Pengikat Kontrak Terdeteksi]

[Resonansi Energi Iblis Meningkat: 12%]

[Fitur Baru Terbuka Sementara: Jebakan Api Spiritual (Dapat Dipasang Di Batas Wilayah Rumah)]

Lin Fan menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya agar tetap jernih dan rasional.

Dendam tidak boleh membuat langkahnya menjadi ceroboh dan berantakan.

Malam ini, Zhao Qiang dan kelompok preman kota akan datang untuk membakar rumahnya.

Ini bukan lagi sekadar bertahan hidup dari intimidasi penagih utang, melainkan sebuah pertarungan hidup dan mati untuk membalaskan penderitaan keluarganya.

"Aku harus mempersiapkan segala hal sebelum malam tiba," batin Lin Fan dengan nada dingin penuh kepastian.

Ia bangkit dari tempat tidurnya dan menyembunyikan ponselnya ke dalam saku celana.

Saat Lin Fan keluar dari kamarnya, ia melihat ibunya sedang sibuk menata beberapa mangkuk nasi hangat di atas meja makan kayu yang sederhana.

Ibunya menoleh dan tersenyum lembut begitu melihat Lin Fan keluar dari kamar.

"Lin Fan, ayo makan dulu. Ibu buatkan sup sayur hangat untuk sarapanmu," panggil ibunya dengan suara ramah.

Melihat wajah ibunya yang polos dan tidak tahu apa-apa tentang kejahatan Tuan Tanah Li, hati Lin Fan makin merasa teriris.

Ia melangkah mendekati meja makan dan duduk di kursi kayu.

"Terima kasih, Bu," kata Lin Fan sambil memegang sendok kayunya.

"Di mana Lin Mei, Bu?" tanya Lin Fan menyadari adiknya tidak ada di meja makan.

"Mei-mei sedang menyapu halaman depan, Nak. Dia bilang ingin membantu merapikan rumah setelah kejadian kemarin," jawab ibunya sambil menuangkan air hangat ke gelas Lin Fan.

Lin Fan menganggukkan kepala pelan, menikmati tiap suapan sup hangat buatan ibunya.

Ia memandang sekeliling rumah tua ini dengan cermat.

Dinding-dinding kayu yang lapuk, atap seng yang sering bocor saat hujan turun, dan perabotan tua yang menopang kehidupan mereka selama puluhan tahun.

Rumah ini adalah satu-satunya peninggalan leluhur mereka yang ingin direbut oleh Tuan Tanah Li dengan cara-cara kotor.

"Bu," panggil Lin Fan secara tiba-tiba di tengah makan sarapannya.

"Ya, Lin Fan? Ada apa?" tanya ibunya sambil memandang wajah putranya.

"Sore nanti, aku ingin Ibu dan Lin Mei pergi menginap di rumah Bibi Xiu di desa sebelah," ujar Lin Fan dengan nada tenang yang dibuat-buat.

Ibunya mengerutkan dahi heran mendengar permintaan Lin Fan yang mendadak.

"Menginap di rumah Bibi Xiu? Kenapa mendadak sekali, Lin Fan? Ada masalah lagi?" tanya ibunya cemas.

Lin Fan menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum tipis.

"Tidak ada masalah, Bu. Aku hanya ingin memperbaiki beberapa bagian atap dan dinding kayu gudang belakang yang rapuh hari ini," kelih Lin Fan beralasan.

"Pekerjaannya akan sangat berdebu dan kotor, kasihan Ibu dan Mei-mei kalau harus menghirup debu seharian di rumah," lanjutnya meyakinkan.

Ibunya menatap Lin Fan cukup lama, seolah berusaha mencari kebohongan di mata putranya.

Namun Lin Fan berhasil menyembunyikan seluruh kecemasan dan ketegangannya di balik tatapan matanya yang tenang.

"Baiklah kalau begitu... Tapi kamu jangan terlalu lelah ya, Nak. Tubuhmu kelihatan makin kurus belakangan ini," ucap ibunya akhirnya mengalah.

"Aku mengerti, Bu," jawab Lin Fan singkat.

Setidaknya, jika ibu dan adiknya berada di desa sebelah malam nanti, ia tidak perlu khawatir keselamatan mereka akan terancam saat bentrokan terjadi.

Setelah menyelesaikan sarapannya, Lin Fan berjalan ke luar rumah menuju area halaman samping.

Sinar matahari pagi mulai menghangatkan tanah desa yang tadinya dibasahi embun.

Lin Mei tampak sedang menyapu daun-daun kering di bawah pohon mangga depan rumah sambil bersenandung pelan.

Lin Fan melangkah mendekati adiknya dan menepuk bahunya secara perlahan.

"Mei-mei, sore nanti ikut Ibu pergi ke rumah Bibi Xiu ya," kata Lin Fan.

Lin Mei menghentikan sapunya dan menatap kakaknya dengan cemas.

"Gege tidak ikut?" tanya Lin Mei.

"Gege ada pekerjaan yang harus diselesaikan di rumah sampai besok pagi," jawab Lin Fan sambil mengelus kepala adiknya.

"Nanti malam kalau sudah sampai di sana, kunci pintu dan jangan keluar rumah sampai Gege jemput besok siang, mengerti?" lanjut Lin Fan dengan nada yang sedikit lebih tegas.

Lin Mei mengangguk pelan meskipun matanya menunjukkan kebingungan.

"Iya, Gege. Aku mengerti," jawab Lin Mei patuh.

Lin Fan menghela napas lega, lalu melangkah menuju ke bagian belakang rumah tempat gudang tua itu berada.

Ia membuka pintu gudang yang berderit kaku dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang agak gelap tersebut.

Di sinilah tempat ia pertama kali menemukan gulungan serat lontar tua milik leluhurnya dua hari lalu.

Lin Fan merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan gulungan lontar tersebut.

Ia meletakkan lontar itu di atas meja kayu bekas di tengah gudang.

Garis-garis teks transparan dari [Sistem Pagar Iblis] langsung muncul mengapung di atas lontar begitu benda itu diletakkan.

[Persiapan Ritual: Jebakan Api Spiritual]

[Bahan Yang Dibutuhkan: Darah Pengikat Kontrak Dan Garis Batas Tanah Rumah]

[Peringatan: Pemasangan Jebakan Ini Akan Mengonsumsi 5% Energi Vital]

Lin Fan menatap jarinya yang masih memar akibat luka kemarin sore.

Ia tidak ragu-ragu sedikit pun.

Ia menekan luka di bibirnya menggunakan jari telunjuk kanan sampai darah segar kembali menetes.

Lin Fan kemudian menggunakan darah di jarinya untuk menggambar simpul pola angka delapan di atas tanah gudang yang berdebu.

Sfx: Ssssssh...

Begitu darahnya menyentuh tanah, asap tipis berwarna merah kehitaman keluar dari garis tanah tersebut.

Hawa dingin yang sangat pekat langsung menyebar ke seluruh penjuru gudang, membuat suhu udara di dalam ruangan merosot tajam.

[Jebakan Api Spiritual Berhasil Diaktifkan]

[Garis Perlindungan Dan Serangan Balik Telah Ditanam Di Empat Sudut Rumah]

[Efek: Setiap Niat Jahat Yang Membawa Api Ke Area Rumah Akan Memicu Ledakan Api Hitam Gaib]

Lin Fan memandangi garis-garis merah samar di tanah yang perlahan-lahan meresap masuk ke dalam bumi dan menghilang dari pandangan mata.

Jebakan mistis ini kini telah siap menyambut siapa saja yang berani membawa api untuk membakar rumahnya.

Namun rasa pusing yang hebat kembali menghantam kepala Lin Fan secara mendadak.

Tubuhnya limbung dan ia harus menyandarkan badannya ke dinding gudang agar tidak ambruk ke tanah.

[Pengurangan Energi Vital: 5%]

[Status Energi Vital Saat Ini: 78%]

[Kondisi Fisik: Lemah / Wajah Pucat]

Lin Fan memegangi dadanya yang berdetak cepat dengan napas yang terengah-engah.

Setiap penggunaan kekuatan sistem selalu menyedot daya hidupnya secara nyata.

Wajahnya di dalam pantulan kaca jendela gudang tampak kian tirus dengan warna kulit pucat bagaikan orang yang mengidap penyakit parah.

Namun di dalam matanya yang tajam, tidak ada sedikit pun rasa menyesal atau ketakutan.

"Tujuh puluh delapan persen..." gumam Lin Fan sambil menyapu keringat dingin di dahinya.

"Energi ini cukup untuk menghancurkan Zhao Qiang malam ini," tegasnya pada diri sendiri.

Sore hari tiba dengan cepat di desa terpencil tersebut.

Awan hitam tebal menyelimuti langit, menutup cahaya matahari yang hendak terbenam di ufuk barat.

Angin kencang bertiup membawa hawa dingin dari dalam hutan terlarang menuju pemukiman warga.

Lin Fan berdiri di depan pintu rumahnya, mengantar ibu dan adiknya yang sedang bersiap naik ke atas sepeda motor paman sepupu mereka yang datang menjemput.

"Hati-hati di jalan ya, Bu," kata Lin Fan sambil mengancingkan jaket tipis yang dipakai ibunya.

"Kamu juga, Lin Fan. Jangan tidur terlalu larut malam ini," pesan ibunya sambil mengusap pipi Lin Fan yang terasa dingin.

"Iya, Bu. Aku akan langsung tidur setelah pekerjaan perbaikan selesai," kilih Lin Fan berbohong dengan tenang.

Sepeda motor paman sepupunya perlahan-lahan mulai melaju menyusuri jalanan tanah desa, membawa ibu dan adiknya makin jauh dari area berbahaya ini.

Lin Fan berdiri mematung di pinggir jalan sampai suara mesin motor itu benar-benar menguap dan menghilang di kejauhan.

Kini, ia sendirian.

Lin Fan membalikkan badan dan berjalan kembali melangkah masuk ke dalam rumahnya yang sepi.

Ia menutup semua jendela kayu dan mengunci pintu depan rapat-rapat.

Suasana di dalam rumah terasa sangat hening dan gelap, hanya diterangi oleh satu lampu pijar redup di ruang tamu.

Lin Fan duduk di sofa tua ruang tamu, meletakkan gulungan lontar tua di atas meja kayu di depannya.

Ia merogoh ponselnya dan membuka tampilan radar ancaman sistem yang mengapung transparan di sudut penglihatannya.

Lingkaran hijau Pagar Perlindungan Rumah tampak menyala tenang di peta mini tersebut.

Namun jauh di luar batas desa, pada jalur jalan raya utama yang menuju ke kota, lima titik merah berukuran cukup besar mendadak muncul dan bergerak bersamaan dengan kecepatan tinggi.

Titik-titik merah itu melaju menggunakan kendaraan roda empat menuju ke arah desa tempat tinggalnya.

Lin Fan memperhatikan pergerakan lima titik merah itu dengan mata yang menyipit tajam.

"Zhao Qiang dan preman kotanya... mereka sudah datang," bisik Lin Fan dingin.

Perhitungan mundur pada pesan tugas sistem di depan matanya kini tersisa kurang dari dua jam lagi.

Malam penentuan telah tiba, dan Lin Fan siap menyambut para tamu tidak diundang itu dengan kegelapan [Sistem Pagar Iblis].

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!