NovelToon NovelToon
KOK HOROR??? Series.

KOK HOROR??? Series.

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 1: RUMAH DI UJUNG GANG SEPI BAB 6 – Jejak Masa Lalu yang Terbuka

Raka terus berlari tanpa henti hingga paru-parunya terasa seperti terbakar dan kakinya nyaris lemas. Ia baru berani berhenti setelah sampai di depan rumah Pak Surya, napasnya terengah-engah, tubuhnya basah oleh keringat dingin dan sedikit darah yang menetes dari sudut bibir akibat gigitan lidahnya sendiri. Pukulannya di pintu terdengar panik dan keras, membangunkan penghuni rumah yang sudah terlelap.

Tak lama kemudian, lampu teras menyala dan pintu terbuka. Pak Surya berdiri di ambang pintu dengan wajah terkejut melihat kondisi Raka yang berantakan dan pucat pasi.

“Ya Tuhan… apa yang terjadi padamu? Kau sudah ke sana, bukan?” tanya lelaki tua itu dengan nada cemas, segera menarik Raka masuk dan mengunci pintu serta jendela rapat-rapat.

Raka terjatuh duduk di lantai ruang tengah, menjelaskan semuanya dengan kalimat yang terputus-putus—mulai dari tubuhnya yang bergerak sendiri, pemandangan rumah yang berubah menjadi indah, pertemuan dengan keluarga itu, hingga bagaimana ia berhasil memutus kendali sesaat dengan cara menyakiti dirinya sendiri.

Mendengar cerita itu, raut wajah Pak Surya makin muram. Ia duduk bersila di hadapan Raka, matanya menatap tajam seolah sedang menyusun potongan teka-teki yang lama hilang.

“Cara itu hanya bisa memberi jeda sebentar saja, Nak. Rasa sakit fisik membangunkan kesadaranmu karena mereka hanya bisa mengendalikan tubuh yang pikirannya sudah lemah dan takut. Tapi begitu luka itu sembuh dan ketakutan kembali menguasaimu, mereka akan kembali mengikatmu lebih kuat dari sebelumnya,” ujar Pak Surya pelan namun tegas.

“Lalu apa lagi yang bisa kulakukan? Jika lari tidak berguna, jika pindah tempat pun tidak menyelesaikannya… apakah aku memang harus menyerah dan menunggu sampai mereka datang menjemputku lagi?” seru Raka dengan suara bergetar, kepalanya tertunduk lemas.

Pak Surya terdiam lama, tangannya mengusap-usap gagang tongkat kayunya seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang sangat berisiko. Akhirnya, ia mengangkat kepala dan menatap mata Raka dengan pandangan serius.

“Ada satu cara… tapi ini sangat berbahaya. Bahkan aku sendiri tidak pernah berani melakukannya selama puluhan tahun. Kalau salah langkah, bukan hanya dirimu yang lenyap, tapi bisa jadi seluruh penghuni lingkungan ini ikut terseret masuk ke dalam jebakan mereka.”

Raka mengangkat wajahnya dengan sorot mata penuh harapan, meski jantungnya berdebar kencang. “Apa pun risikonya, Pak. Lebih baik aku mencoba daripada hanya duduk menunggu ajal datang perlahan. Katakan padaku apa yang harus kulakukan.”

Pak Surya menarik napas panjang, lalu mulai menjelaskan dengan suara rendah dan hati-hati.

“Dikatakan bahwa ikatan antara dunia mereka dan dunia kita tidak terbentuk dengan sendirinya. Ia terikat pada sebuah benda fisik yang masih tertinggal di dalam rumah itu—sesuatu yang sangat berharga bagi mereka, yang menjadi sumber energi amarah dan penyesalan mereka selama puluhan tahun. Selama benda itu masih ada, mereka tidak akan pernah bisa pergi dan terus mencari korban untuk menggantikan posisi mereka yang terperangkap.”

“Benda apa itu, Pak?” tanya Raka segera.

“Konon, itu adalah kotak tempat penyimpanan surat dan perhiasan milik Nyonya Handoko. Sebelum kejadian naas itu, ia sering menulis surat isinya keluhan tentang perbuatan suaminya dan doa agar keluarganya dibebaskan dari keserakahannya. Benda itu tidak pernah ditemukan oleh polisi atau warga saat itu—tersembunyi di tempat yang hanya diketahui oleh mereka saja.”

Pak Surya melanjutkan, “Jika kau bisa masuk kembali ke dalam rumah itu, menemukan benda itu, lalu menghancurkannya atau mengeluarkannya dari lingkungan tempat itu, maka ikatan yang menahan mereka akan putus. Mereka akan kehilangan kekuatannya dan perlahan lenyap, dan tanda yang menempel padamu pun akan hilang dengan sendirinya.”

Mendengar penjelasan itu, rasa takut Raka berpadu dengan semangat untuk bertahan hidup. Namun satu pertanyaan besar terlintas di pikirannya.

“Tapi Pak… bagaimana aku bisa masuk ke dalamnya dengan selamat? Tadi saja mereka hampir menarikku masuk selamanya. Sekarang jika aku datang dengan sengaja, bukankah mereka akan lebih waspada dan menyerangku seketika?”

“Memang benar. Kau tidak bisa datang sebagai orang yang takut atau orang yang menyerah pada mereka. Kau harus datang dengan membawa sesuatu yang menjadi penghalang bagi kekuatan mereka,” jawab Pak Surya sambil berdiri dan berjalan ke sudut ruangan.

Ia membuka lemari tua kayu yang sudah lapuk, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan kain putih yang terlihat sudah sangat tua. Saat dibuka, tampak sebilah pisau dapur biasa yang gagangnya terbuat dari kayu jati tua, dan seikat daun sirih serta biji kemenyan kering.

“Pisau ini dulunya milik kakekku, yang juga pernah mengalami hal serupa namun berhasil selamat dengan melarikan diri. Katanya, besi yang sudah lama dipakai untuk kebutuhan sehari-hari memiliki energi yang bisa menahan makhluk terikat itu. Bakarlah kemenyan dan daun sirih ini, asapnya akan mengaburkan pandangan mereka dan mengurangi kekuatan mereka sementara waktu. Tapi ingat—waktunya sangat terbatas, hanya cukup untuk masuk, mencari, dan segera keluar. Jangan menyentuh apa pun selain kotak itu, dan jangan sekali-kali berbicara atau menatap mata mereka secara langsung.”

Raka menerima benda-benda itu dengan tangan gemetar, merasakan beban tanggung jawab yang berat sekaligus satu-satunya kesempatan yang ia miliki.

“Malam ini juga aku harus melakukannya, bukan? Jika menunggu besok, kekuatan mereka akan makin kuat dan kesempatanku bisa hilang selamanya,” katanya tegas, meski suaranya masih menyembunyikan rasa gentar.

Pak Surya mengangguk pelan. “Benar. Tapi ingat satu hal terakhir: apa pun yang kau lihat dan dengar di dalam sana nanti, itu semua hanyalah jebakan untuk membuatmu ragu dan takut. Tetapkan hatimu, fokus pada tujuan, dan jangan biarkan mereka membodohimu lagi.”

Beberapa jam kemudian, ketika malam semakin larut dan lingkungan sudah sunyi senyap kembali, Raka berdiri sendirian di mulut Gang Melati. Ia sudah membakar kemenyan dan daun sirih dalam sebuah wadah kecil, asapnya membungkus tubuhnya, dan genggamannya pada gagang pisau semakin erat.

Di ujung gang itu, rumah tua itu kembali tampak gelap dan sunyi seperti semula. Namun Raka tahu, di balik tembok-tembok itu, sesuatu sedang menunggu—dan kali ini, ia datang bukan sebagai korban yang dipaksa, melainkan sebagai orang yang akan memutus rantai yang telah mengikat selama puluhan tahun.

Dengan langkah mantap meski hati berdebar kencang, ia melangkah masuk ke dalam kegelapan gang itu sekali lagi.

📌 jangan lupa follow,like,dan komen setiap novel di akun ini ya.. 🥰

1
anggita
mulai horor👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!