NovelToon NovelToon
SANGHYANG RASA

SANGHYANG RASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.

Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.

Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.

Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.

Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.

Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.

Dan apinya... baru saja mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: JEBAKAN DI WANA KELOR

Angin berhembus pelan menyibakkan dedaunan di Wana Kelor. Sinar matahari menembus celah kanopi pohon, menciptakan bercak-bercak cahaya di tanah berlumut. Keheningan hutan biasanya menenangkan, tapi pagi itu terasa penuh tekanan. Di balik rimbunnya semak belukar, tali anyaman dan jerat besi sudah dipasang tersembunyi di sepanjang jalan setapak.

Larasati berjongkok di balik batang beringin tua, matanya mengawasi jalur masuk. Di sebelahnya Raden Sukma berdiri tegak, tangannya memegang gagang keris, wajahnya kaku tak sabar.

“Kau yakin dia akan lewat sini?” bisiknya kasar. “Bukankah dia yang hafal setiap sudut hutan? Tak mungkin dia masuk jebakan yang begitu jelas.”

“Jalan ini satu-satunya yang menghubungkan desa Cikabuyutan ke sungai besar,” jawab Larasati pelan. “Mbah Suryanata bilang mereka sering lewat sini untuk mengambil air dan mencari kayu bakar. Kalau dia tak datang lewat sini, tak ada jalan lain yang lebih cepat.”

“Atau dia tahu kita ada di sini,” potong Sukma sinis. “Pencuri selalu punya naluri waspada.”

Dia melangkah maju sedikit, menendang ranting kering sampai patah. Bunyinya terdengar nyaring di tengah sunyi.

“Kak, jangan berisik!” tegur Larasati cepat. “Kita mau menangkapnya, bukan mengusirnya!”

“Biarkan dia tahu kita ada di sini,” sahut Sukma tak peduli. “Biar dia tahu bahwa orang berkuasa sudah menanti langkahnya. Orang seperti dia takkan pernah menghadapi dengan jujur kalau tak dipaksa.”

Larasati menghela napas pelan. Dia tahu sepupunya sudah menutup mata rapat-rapat. Bagi Sukma, gelar menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Dan karena Bayu tak punya nama besar, otomatis dia dianggap salah.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki perlahan mendekat. Larasati memberi isyarat diam. Sukma langsung bersiap, matanya menatap tajam ke arah belokan jalan.

Bayu muncul perlahan. Dia berjalan sendirian, busur tersampir di punggung, wajahnya tenang waspada. Sesekali dia berhenti, menoleh ke kiri dan kanan seolah merasakan ada yang tak beres.

“Maju!” bentak Sukma tiba-tiba.

Tali jerat di atas jalan ditarik cepat. Ranting-ranting besar jatuh menghalangi jalan depan dan belakang. Bayu melompat mundur sigap, tapi kakinya hampir tersangkut tali anyaman yang melilit tanah. Dia segera menekuk lutut, mengangkat busur, tapi belum menarik anak panah.

“Serahkan dirimu!” seru Sukma sambil melangkah keluar dari persembunyian. “Atau kau akan terkubur di sini bersama kebohonganmu!”

Larasati ikut maju, tangannya terbuka damai. “Kita tak bermaksud menyakitimu. Kami cuma ingin bertanya soal gudang yang dirampok dan pusaka yang hilang.”

Bayu menatap keduanya bergantian. Matanya tak menunjukkan takut, melainkan kecewa. “Kalian datang dengan jebakan, bukan dengan pertanyaan.”

“Untuk pencuri, jebakan sudah terlalu baik,” jawab Sukma tajam. “Tangkap dia!”

Dua prajurit yang bersembunyi di pohon melompat turun. Bayu mundur selangkah, tapi di belakangnya sudah ada jerat besi. Dia terpojok.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan konyol dari arah dalam hutan.

“HEI! KENAPA KALIAN NANGKAP KAKANGKU?!”

Semua menoleh. Karta muncul berlari kecil sambil memeluk seikat pisang liar. Dia berhenti di tengah jalan, menatap prajurit dengan wajah berani tapi sedikit gemetar.

“Minggir, anak kecil!” bentak salah satu prajurit. “Ini bukan urusanmu!”

Karta menyeringai, lalu bersiul keras sekali.

Tiba-tiba dari dahan-dahan atas, kawanan monyet liar berjatuhan turun. Mereka berlarian panik ke segala arah, melompat ke punggung prajurit, menarik rambut, atau sekadar melompat di atas jebakan yang sudah dipasang. Jerat-jerat itu jadi berantakan, tali saling melilit, beberapa bahkan terlepas dari pengaitnya.

“Lepaskan! Aduh rambutku!” teriak Sukma sambil menepis ekor monyet yang melintas di bahunya.

Karta tak berhenti di situ. Dia mengambil batang kayu besar, lalu memukul kentongan bambu yang dia pasang di pohon sebelumnya. Bunyinya bergema keras, memecah keheningan hutan: DUNG! DUNG! DUNG!

“ORANG ORANG DATANG! KITA KEPUNG MEREKA!” teriaknya sekuat tenaga, padahal tak ada orang lain sama sekali.

Kekacauan sempurna terjadi. Prajurit sibuk menepis monyet dan menghindari jebakan yang bergerak tak menentu. Larasati terpaku melihat tingkah aneh anak itu. Dan kesempatan itu tak disia-siakan Bayu.

“Ayo lari!” bisiknya pada Karta.

Mereka berdua menyelinap lewat celah yang terbuka, masuk ke semak belukar yang paling rimbun, menghilang seketika seperti bayangan.

“KEJAR!” raung Sukma marah sekali. Dia berusaha mengejar, tapi kakinya sendiri tersangkut tali yang terurai. Wajahnya merah padam menahan amarah dan rasa malu. “JANGAN SAMPAI LEPAS! AKU AKAN MENANGKAPNYA DENGAN CARA APA PUN!”

Larasati mendekat, membantu melepaskan kakinya. Tatapannya penuh tanya. “Mereka bisa melukai kita kalau mau. Tapi lihat tadi—panahnya tak pernah ditarik sampai ujung. Mereka cuma lari.”

“Trik!” potong Sukma ketus. “Dia tak berani melawan karena tahu dia salah. Dan anak kecil itu... berani sekali mengacaukan tugasku! Aku takkan lupa wajahnya. Kalau ketemu lagi, takkan kubiarkan begitu saja!”

Sukma berbalik pergi dengan langkah berat, dendam sudah tertanam kuat di hatinya. Dia tak terima dikalahkan oleh jebakan yang dihancurkan sekawanan monyet dan teriakan anak kecil.

 

Di sisi lain hutan, jarak cukup jauh dari tempat kejadian, Karta berhenti berlari. Dia duduk di atas akar pohon besar sambil terengah-engah, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit.

“Kau lihat wajah dia Kang?!” serunya sambil menepuk tanah. “Dia kaget banget waktu monyet-monyet loncat ke punggungnya! Kira-kira dia pikir itu hantu apa ya?”

Bayu tersenyum tipis, meski napasnya masih belum teratur. “Kau nekat sekali tadi. Bagaimana kau tahu monyet itu ada di sana?”

“Kemarin aku kasih mereka pisang,” jawab Karta santai. “Jadi mereka kenal aku. Begitu dengar siulan, mereka langsung datang. Lagipula aku juga takut kalau dia benar-benar menangkapmu.”

Tapi tawa itu perlahan hilang saat dia teringat tatapan tajam Sukma. Dia mencengkeram gagang pisaunya erat, membayangkan wajah sepupu Larasati yang angkuh itu.

“Sombong sekali orang itu,” gumamnya kesal. “Kira-kira dia lebih hebat dari siapa? Kalau dia berani menyakitimu, aku...”

Belum selesai bicara, tangannya terasa berat luar biasa. Dia terhuyung ke depan, pisau Sanghyang Waja seberat batu besar menariknya ke bawah.

“Aduh... lagi-lagi berat!” keluhnya sambil menggelengkan kepala. “Aku cuma kesal dikit kok! Kenapa kau rewel banget sih?”

Bayu duduk di sebelahnya, menepuk pundak anak itu pelan. “Ingat aturannya. Pisau itu tak suka kalau hatimu penuh dendam atau ingin membalas kesalahan orang dengan cara yang sama. Sukma salah menilai kita, tapi kita tak boleh berubah jadi sama seperti dia.”

Karta mengangguk pelan, mencoba menenangkan napas dan hatinya. Perlahan beban di tangannya berkurang sampai hilang sama sekali.

“Baiklah,” katanya akhirnya. “Tapi kalau dia lagi-lagi mau pasang jebakan licik, aku panggil beruang hutan aja deh!”

Bayu tertawa kecil. “Beruang itu tak suka dipaksa, Karta. Lebih baik kita cari cara lain.”

Mereka duduk diam sejenak mendengarkan suara hutan yang kembali tenang. Jebakan yang dipasang Larasati dan Sukma gagal total. Tapi kekalahan itu membuat Sukma makin keras kepala. Dia takkan berhenti sampai dia merasa menang.

“Kita tak bisa diam di sini lagi,” kata Bayu pelan. “Dia tahu kita hafal hutan ini. Lain kali dia akan membawa pasukan lebih banyak, atau mencari cara yang lebih kejam.”

“Terus kita ke mana?” tanya Karta.

“Ke arah jalan perdagangan,” jawab Bayu menatap jauh ke depan. “Kalau mereka menutup jalan kita, kita harus menunjukkan wajah kita di tempat terbuka. Biar rakyat sendiri yang bicara siapa yang benar dan siapa yang salah.”

Karta berdiri, menyeka debu di celananya. Matanya kembali berbinar semangat. “Berarti kita mau mulai rencana baru? Asal ada makanan, aku ikut!”

Bayu tersenyum. “Ada. Dan kali ini bukan cuma buat kita berdua.”

Matahari makin condong ke barat, menyisakan bayangan panjang di antara pepohonan. Di balik rimbunnya Wana Kelor, dua sosok itu melangkah pergi, meninggalkan jebakan yang tak pernah berhasil menangkap kebenaran. Dan di kejauhan, langkah kaki yang penuh dendam mulai menyusun rencana lain yang lebih berbahaya.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!