"Tolong hentikan, tolong!" teriak Zena.
Saat ini gadis dalam ketakutan itu hanya pasrah, tidak bisa berbuat apa-apa, pria yang sudah pasti dipengaruhi alkohol itu melecehkannya dengan menyobek pakaian Zena.
Tidak ada satupun yang menolong gadis malang itu.
"Tolong jangan lakukan itu!"
"Tolong..."
"Tolong...."
Zena menghindar dengan memukul-mukul dada pria tersebut.
"Aaaaaaaaaa!" Zena seketika berteriak menahan rasa sakit disaat tubuhnya digagahi tanpa ampunan.
Zena pada akhirnya pasrah dengan air matanya menetes, dengan penuh hawa nafsu pria di atas tubuhnya terus mencari kenikmatan.
Zena tampak setengah sadar dengan mata yang terbuka, namun pasrah, sosok pria di atas tubuhnya benar-benar tidak terlihat dan hanya kalung yang tampak bergoyang dan perlahan mata Zena tertutup.
Siapakah sosok pria misterius tersebut dan apakah Zena mampu menjalani kehidupannya setelah kejadian kelam?
Jangan lupa untuk membaca dari bab 1 sampai akhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7 Kejujuran Membawa Luka
Zena dan Samudra sudah kembali pulang ke apartemen Samudra, ketika Samudra kembali ke Jakarta mereka memilih untuk tinggal sendiri dan berpisah dari orang tua agar mandiri. Zena setuju, begitu juga dengan kedua orang tua Samudra, hanya saja jika Samudra sedang mendapatkan tugas di luar kota atau negeri yang membuatnya tidak kembali ke rumah.
Amelia dan Faisal meminta Zena untuk kembali tinggal di rumah mereka, semua keputusan diambil secara bersama dan disetujui masing-masing oleh mereka.
Zena dan Samudra sama-sama memasuki kamar, ketika Zena ingin melangkah pergi tiba-tiba saja Samudra menahan tangannya. Zena kebingungan.
"Ada apa kak?" tanyanya.
Samudra menghela nafas dengan tersenyum, kemudian memegang kedua tangan Zena semakin gugup.
Tangan Samudra perlahan memegang pipi Zena. Zena semakin gugup terlihat dari tatapan matanya. Samudra melepaskan cadar pada wajah istrinya dan lagi-lagi kecantikan istrinya dapat disaksikan secara jelas.
Zena beberapa kali kesulitan menelan ludah, menunduk malu. Samudra memegang dagu sang istri dan mengangkat perlahan sehingga wajah mereka sejajar.
Tangan Samudra melepaskan peniti di bagian bawah leher Zena, perlahan hijab yang dililit sebagai penutup auratnya itu terlepas.
Zena semakin gugup, jantungnya berdebar semakin tidak menentu, tidak berhenti sampai di situ Samudra juga melepaskan pengikat rambut Zena yang membuat rambut itu tergerai indah sepanjang bahunya.
"Lihat saya Zena....." suara serak Samudra mampu menggetarkan hati yang membuat Zena kesulitan menelan ludah.
"Saya suami kamu," nada suara itu terdengar seperti ada penegasan.
Mungkin saja sudah saatnya Samudra mengambil haknya sebagai suami. Setelah menikah harus dipisahkan karena tugas yang harus dilaksanakan. Samudra merasa sudah pasti istrinya juga siap untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri.
Tetapi kegugupan itu terlihat jelas dari wajah cantik Zena dan termasuk Samudra yang sebenarnya juga terlihat gugup.
Sejak tadi Zena berusaha untuk tenang, di saat kembali matanya mengalihkan pandangannya dan disaat itu Samudra memegang dagunya sehingga pandangan mereka terlihat sama-sama lurus.
Mata Samudra fokus pada bibir merah merona milik Zena, perlahan wajah Samudra mendekat, hampir saja bibir itu menempel tetapi tiba-tiba saja Zena memalingkan wajahnya membuat Samudra kebingungan dengan menaikkan satu alisnya.
"Ada apa Zena?" tanya Samudra.
"Kamu belum siap?" tanya Samudra.
"Bukan....Kak....."
"Lalu kenapa? Kamu kenapa menghindari saya?" tanya Samudra.
"Ada sesuatu yang ingin Zena sampaikan kepada Kakak," ucapnya.
"Katakan?" tanya Samudra dengan dahi mengkerut.
"Hmmmmm....." Zena terlihat gugup, tidak berani untuk menyampaikan sepatah kata yang ingin dilontarkan.
"Ada apa Zena?"
"Katakan?" tanya Samudra.
Zena mencoba tenang dengan menarik nafas dan membuang perlahan ke depan, menatap Samudera yang begitu penasaran dengan apa yang terjadi.
"Kak sebenarnya Zena sudah......"
"Zena sudah ...
"Zena sudah tidak perawan lagi," ucapnya dengan satu tarikan nafas akhirnya kata-kata tersebut berhasil keluar dari mulutnya.
Deg
Jantung Samudra berdebar kencang, masih menatap 2 bola mata yang terus memperhatikannya, terlihat ada ketakutan didalam dua bola mata yang indah itu.
Perlahan tangan Samudra terlepas dari genggaman tangan istrinya yang terasa begitu bergetar. Zena seketika menjadi panik dan melihat reaksi suaminya.
"Kamu mengatakan apa?" tanya Samudra dengan suara bergetar.
"Zena sudah tidak perawan lagi," ucapnya kembali dengan kejujuran.
"Apa-apaan kamu Zena? Kamu mengkhianati pernikahan kita?"
"Laki-laki mana yang menyentuh kamu yang mendahuluiku?" pertanyaan itu terdengar menekan.
Wajah Samudra berubah menjadi merah, terlihat kemarahan yang besar dari wajah tampannya, seolah-olah tidak terima dengan apa yang dikatakan istrinya.
"Kak dengarkan penjelasan Zena dulu....." Zena berusaha untuk mengendalikan Samudera, saat tangannya mencoba memegang lengan Samudra dan di saat itu juga langsung ditepis oleh Samudra yang membuat Zena kaget dengan sikap suaminya.
"Jadi kamu berzina dengan laki-laki itu di saat saya sedang bertugas?"
"Kamu mengkhianati pernikahan kita dengan perbuatan zina yang kamu lakukan!" tuduh Samudra.
"Katakan kepada saya siapa laki-laki itu?" teriak Samudra dengan suara menggelegar dan bahkan air mata Zena sampai jatuh karena pertama kali mendapat bentakan dari Samudra.
"Saya bahkan hanya pergi bertugas, kamu bisa-bisanya menghancurkan pernikahan kita dengan kamu yang bersama laki-laki lain, kamu dengan penampilan kamu yang seperti ini dan kamu tutupi dengan keburukan kamu dengan dosa yang paling dibenci oleh Allah!" Samudra benar-benar kecewa dan terus memberi tuduhan.
"Tidak kak, Zena tidak mengkhianati pernikahan kita, Zena bersumpah demi Allah, Zena tidak pernah menodai pernikahan kita, Zena tidak pernah bermain tapi selama Kakak sedang bertugas, Zena menjaga diri Zena atas nama Marwah suami!" tegas Zena berusaha membela diri.
"Kalau begitu katakan apa yang terjadi? kamu mengatakan sudah tidak perawan dan bagaimana mungkin jika tidak ada perbuatan zina yang kamu lakukan dengan orang lain sebelumnya?" teriak Samudra.
"Hal ini terjadi sebelum kita menikah!" tegas Zena.
"Oh begitu, jadi kamu menipu saya?" Samudra ternyata menanggapi lebih parah lagi atas kejujuran istrinya.
"Kamu sengaja menerima perjodohan ini, kamu menerima perjodohan ini karena kamu sudah tidak perawan lagi dan kamu ingin saya yang menanggung semuanya, saya harus mengerti dengan kamu karena kamu tahu dari laki-laki lain?"
"Saya lupa kamu kuliah di luar negeri, saya tidak tahu kebebasan seperti apa yang menjadi aktivitas hidup kamu di sana sampai kamu dengan mudahnya berbuat zina dan menipu saya dalam pernikahan ini!" tegas Samudra.
"Kenapa Kakak setega ini berbicara seperti itu kepada Zena," ucapnya dengan lirih
Air matanya yang jatuh merasa tertusuk atas perkataan suaminya yang sangat kasar.
"Lalu saya berbicara apa? Saya memilih kamu karena orang tua saya, orang tua saya percaya kepada kamu, kamu gadis baik menutup aurat kamu dan bahkan bercadar, saya bahkan menjalin hubungan serius dengan wanita lain dan tetapi Mama tidak setuju hanya karena penampilan wanita itu tidak tertutup seperti kamu dan Mama harus menjodohkan saya dengan kamu,"
"Kamu bukan hanya menipu saya, tetapi juga kedua orang tua saya yang menganggap kamu gadis baik-baik dan ternyata kamu gadis yang bergaul terlalu bebas lihatlah kamu menyerahkan kehormatan kamu kepada sembarangan orang tanpa adanya ikatan suci pernikahan,"
"Orang lain yang mau makan nangkah dan saya yang harus yang kena getahnya akibat perbuatan kalian yang bersenang-senang, kamu tidak sadar jika kamu dan laki-laki itu berhasil menipu saya dan keluarga saya!" tegas Samudera.
"Saya bener-bener kecewa kepada kamu Zena, kamu menutup diri kamu seolah-olah menjadi wanita yang paling suci, tetapi kamu wanita yang sangat buruk yang berhasil menipu saya dan keluarga saya,"
Samudra mengeluarkan semua amarahnya dan sementara Zena hanya diam saja dengan air mata yang terus.
"Bersiaplah kita akan pulang ke rumah dengan menceritakan semua kepada Bunda dan Ayah, mereka harus tahu alasannya mengapa saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini agar saya tidak disalahkan," ucap Samudra.
Air mata Zena semakin terus mengalir mendengar semua pernyataan yang diberikan oleh Samudra, ternyata tidak memberi kesempatan apapun kepada Zena untuk menjelaskan apa yang terjadi di masa lalu dan justru menyudutkan, menyalahkan, menuduh dan bahkan mengeluarkan kata-kata kasar.
Kesuciannya yang ditutupi dengan pakaian Islami bercadar ternyata dibandingkan dengan mantan kekasih Samudra yang lebih bersih dibandingkan.
Betapa hancurnya Zena menerima kenyataan ketika kejujurannya ternyata tidak dihormati tidak diberi kesempatan dan dianggap perempuan yang paling buruk.
Bersambung .....
cepet terungkaplah kasusnya..
klo bener samudra ayahnya..jangan biarkan dia mengetahuinya..biar menyesal seumur hidupnya..