Arthur, mantan mafia yang tampan dan keren, masih terjebak dalam kenangan bersama Rose, pacarnya di kelompok mafia yang sama. Setelah putus, Arthur tidak bisa move on dan menjadi dingin terhadap perempuan lain. Namun, pelayan kakaknya, Esme, diam-diam menyukai Arthur dan berharap suatu hari bisa mendapatkan hatinya.
Kehidupan Arthur berubah ketika ia bertemu dengan Maureen, seorang perempuan yang ceria dan penuh semangat. Maureen tidak tahu latar belakang Arthur sebagai mantan mafia, dan Arthur tidak ingin memberitahunya. Apakah Arthur bisa melupakan Rose dan jatuh cinta dengan Maureen? Atau apakah Esme akan mendapatkan kesempatan untuk memenangkan hati Arthur?
Apakah Arthur akan mengikuti hatinya atau tetap terjebak dalam masa lalu? 🤔😊
Novel baru othor menceritakan tentang Arthur adiknya Adelle dari novel 'transmigrasi menjadi ibu muda yang tangguh'.
Jangan lupa mampir dan kasih dukungan ya teman-teman..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi mendekati Arthur
Sejak pertemuaan nya dengan Arthur saat makan malam itu, Maureen terus mencari informasi mengenai Arthur. Siapa lagi yang dijadikan sumber informasi jika bukan Adelle.
Maureen bertanya banyak hal pada Adelle dan secara terang-terangan akan membuat pria dingin itu jatuh cinta. Bahkan Maureen kini sudah mengganti panggilannya pada Adelle menjadi Kakak.
Adelle hanya tertawa dan memberikan kata semangat dan selamat berjuang. Ia juga tidak masalah jika Maureen dan Arthur memiliki hubungan meskipun usia Maureen lebih tua tiga tahun dari Arthur.
Salah satu cara yang Mauren gunakan untuk menjerat Arthur adalah ia berencana akan mendaftar di gym pusat milik Arthur. Berharap agar Arthur bisa melihatnya dan tertarik padanya.
Sudah dua minggu dan hampir setiap hari Maureen datang ke tempat tersebut namun sekalipun ia tidak melihat keberadaan Arthur. Apa ia salah informasi ya, pikirnya setiap hari.
Saat ia membereskan barang-barangnya dan hampir keluar tiba-tiba ia melihat Arthur yang baru datang. Sontak saja ia menghentikan langkahnya.
Dengan langkah perlahan, Maureen mendekati Arthur bermaksud menyapanya lebih dulu.
"Hai, Arthur..." katanya selembut mungkin. Sangat jauh berbeda dari karakternya yang biasanya meledak-ledak.
Arthur mengangkat pandangannya, dilihatnya seorang wanita yang tidak asing dengan mengenakan setelan olahraga yang menampilkan lekuk tubuhnya serta memperlihatkan pusarnya.
Arthur belum menjawab sapaan Maureen. Ia menatap Maureen dengan pandangan menyipit.
"Kau mengikuti ku ?" tanya Arthur tertawa kecil.
"Tidak. Aku memang ingin berolahraga disini. Kebetulan saja kita bertemu disini," sangkal Maureen. Dadanya berdegup kencang melihat senyum Arthur yang menambah ketampanannya.
"Sejak kapan kau mendaftar disini ?" tanya Arthur. Pasalnya baru satu minggu ia tidak datang kemari dan ia masih belum melihat Maureen.
"Aku mendaftar minggu lalu. Oh iya, aku belum terlalu bisa menggunakan beberapa alat. Apa kau bisa membantuku ?" tanya Maureen lagi. Ia segera duduk disebelah Arthur yang baru saja mengambil tas ranselnya.
"Kau sangat harum. Parfum apa yang kau pakai ?"
"Kau sangat cocok dengan model rambut itu,"
"Harusnya aku menyadari kalau kau sedikit mirip dengan Kak Adelle ya,"
Maureen bicara sendiri. Secara tidak langsung ia mulai memberitahu Arthur jika ia mengagumi nya. Dan Arthur hanya melihatnya saja tanpa bersuara.
Berada di dekat Maureen rasanya membuat Arthur terlempar ke masa lalu saat ia masih bersama Rose. Mantan kekasihnya itu juga begitu cerewet saat bersamanya dan akan bersikap tegas saat melaksanakan tugas. Rambut mereka juga sama-sama pirang.
"Apa perutmu sudah tidak sakit ?" tanya Arthur.
"Oh tidak. Aku sembuh dengan cepat," jawab Maureen. Sejak tadi ia memasang senyum semanis mungkin. Sesuatu yang jarang ia lakukan termasuk pada kekasih-kekasihnya yang dulu.
Arthur berdiri dari duduknya. Menatap Maureen dengan dalam seolah mencari jawaban atas apa yang dilakukan oleh wanita ini.
"Baiklah. Kemari, aku akan mengajarimu" ajak Arthur. Ia membawa Maureen ke tempat alat olahraga ringan untuk para pemula.
Maureen mengangguk dan tersenyum. Ia akan mengikuti apa kata Arthur.
Arthur dengan sabar mengajari Maureen menggunakan alat-alat tersebut. Wajahnya yang tegas dan dingin menambah kesan tampannya. Beberapa kali Mauren sempat tidak fokus karena pandangannya selalu tertuju pada Arthur. Dan Arthur sama sekali tidak menanggapi hal itu. Baginya, sudah biasa jika seorang mencari perhatian padanya dan itu bukanlah hal aneh lagi.
Selama tiga puluh menit Maureen berlatih dan berganti alat, selama itu pula Arthur tetap berada di sampingnya. Pria itu hanya memberi contoh dan sedikit bicara, selebihnya ia berolahraga sendiri sembari mendengarkan musik menggunakan alat yang dipakai dikedua telinga nya.
"Arthur, apa kau makan siang denganku sebagai ucapan terima kasih ku dulu ?" tanya Maureen.
Arthur melepas headset nya, ia mengerutkan keningnya sebagai tanda tanya.
"Mau makan siang denganku setelah ini ? Anggap saja sebagai ucapan terima kasih ku. Aku belum berterima kasih dengan benar karena kau menolongku dulu," kata Maureen.
"Memangnya kau tidak bekerja ?" tanya Arthur.
"Aku libur hari ini. Jadi apa kau bersedia ?" tanya Maureen penuh harap.
"Baiklah," putus Arthur. Ia setuju untuk makan siang dengan Mauren dan tidak berpikir hal lain.
Setelah mereka membersihkan diri, akhirnya keduanya menuju restoran yang sudah dipilih menggunakan mobil masing-masing.
"Apa kau sering kemari ?" tanya Arthur. Pasalnya ia sedikit tidak nyaman berada disini sebab dulu ia dan Rose sering menghabiskan waktu disini.
Restoran tersebut di desain dengan konsep romantis dan berganti-ganti tema berbeda setiap harinya.
"Tidak sering, hanya beberapa kali bersama kakakku," jawab Maureen.
Arthur tertawa kecil. Restoran bernuansa cinta seperti ini tidak mungkin di datangi oleh dua bersaudara. Pastilah Maureen kemari bersama dengan kekasihnya. Pikir Arthur. Tapi Arthur memilih menyimpan nya dalam hati sebab tidak mau ikut campur terlalu jauh.
Arthur mengajak Maureen duduk di area terbuka yang dekat dengan kolam ikan. Entahlah ia sendiri juga bingung mengapa tiba-tiba kakinya melangkah ke tempat yang menjadi favoritnya dan Rose. Ia seakan tenggelam dalam masa lalunya sendiri tanpa melihat sekelilingnya.
Karena jam makan siang, restoran nampak ramai. Mereka hanya duduk di kursi kosong tanpa memperhatikan orang di sekeliling mereka.
Sepasang mata tajam dengan eyeliner tebal menatap keduanya dengan tangan terkepal. Namum mulutnya dipaksa terkunci sebab tidak ingin membuat seseorang yang bersamanya mengetahui apa yang ia lihat.
"Makanlah yang banyak, sayang.. Aku tidak mau kau anakku kelaparan," kata seorang pria yang suaranya begitu familiar bagi Arthur.
Arthur ingin menoleh, namun ia urungkan sebab tau siapa pemilik suara itu dan untuk siapa ucapan itu ditujukan.
Ia menelan salivanya dengan berat dan mencoba menetralkan amarah dalam dadanya. Jangan sampai ia membuat masalah. Yang bisa ia lakukan hanya berusaha menatap Maureen yang duduk di depannya sembari mencuri pandang dengan lirikan ke meja di sebelahnya.
"Aku sudah kenyang, Carlos. Kau saja yang memakan itu," Suara Rose benar-benar mengobrak-abrik hati Arthur.
"Baiklah, aku akan habiskan makananmu," jawab Carlos.
Posisi duduk Carlos membelakangi Arthur, jadi hanya Rose yang bisa melihat Arthur dari samping sedangkan Arthur berusaha memusatkan pandangan ke depan. Kearah Maureen.
"Kau mau makan apa ?" tanya Maureen sambil melihat buku menu.
"Samakan saja denganmu. Aku tidak pemilih perihal makanan," jawab Arthur.
"Baiklah," kata Maureen tersenyum senang. Memilihkan makanan untuk Arthur baginya adalah suatu kemajuan.
Maureen memilih beberapa makanan dan minuman tidak lupa hidangan penutup yang cukup untuk keduanya. Arthur mengangguk saja dan merasa tidak keberatan.
"Arthur, sudah lama kita tidak bertemu !" sapa Carlos berdiri di dekat meja Arthur.
Maureen menatap pria yang tinggi menjulang di dekat meja mereka. Ia mengira jika Arthur dan prai itu pasti saling mengenal. Tapi ada yang aneh. Arthur sama sekali tidak menatap kearah pria itu dan secara terang-terangan mengacuhkan nya.
"Arthur, dia bicara denganmu.." kata Maureen menyenggol tangan Arthur yang diletakkan diatas meja.
Arthur menatap Maureen dan berkata. "Abaikan saja sesuatu yang tidak kau sukai,"
Maureen ingin menjawabnya namun Carlos lebih dulu menyela. "Jadi kau masih merasa sakit hati padaku ya ?" tawanya mengejek.
Mendengar itu, wajah Arthur memerah dan tangannya mengepal erat. Perubahan itu dapat Maureen lihat.
"Pergilah jika sudah selesai, Tuan. Jangan mengganggu makan siang kami," kata Maureen. Ia merasa ada kemarahan yang tidak terlihat diantara kedua pria itu.
"Carlos, ayo kita pergi. Jangan membuat kerusuhan disini," bisik Rose. Ia berusaha menggenggam tangan Carlos dan menariknya keluar dari restoran.
"Tidak, sayang. Jangan takut. Aku tidak akan membuat kerusuhan. Aku hanya ingin menyapa mantan kekasihmu saja," kata Carlos dengan nada mengejek.
...
Maapin ya teman-teman othor lama tidak up cerita...
kejutan besar..
pantesan moses langsung ngeklik saat ngurus enzźoo
😍😍👍👍💪
🤣😍😍🙏💪
😍😍🙏💪💪
❤❤❤💪💪😍😍😍
😍😍❤❤💪💪
yg mau ketemu istri ...
😄😄😍😍❤❤💪💪
gak usah ketemulah irang masih ada anak mantan
😍😍❤💪💪💪💪
😄😄😍❤❤💪