Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 - Di Rumah Sakit
Sinar matahari sore menembus jendela lorong rumah sakit, menciptakan garis-garis cahaya yang memanjang di lantai keramik putih. Aroma obat-obatan dan cairan antiseptik memenuhi udara, sementara suara roda brankar yang sesekali melintas berpadu dengan bunyi alat pemantau detak jantung dari beberapa ruang perawatan. Pak Adi berjalan menyusuri koridor dengan langkah tenang, tetapi pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan.
Sejak bertemu Faris di lembaga pemasyarakatan, ia terus merasa ada sesuatu yang janggal. Pengalaman puluhan tahun membimbing narapidana membuatnya cukup peka membaca karakter seseorang. Banyak tahanan memang pandai berpura-pura, tetapi sorot mata Faris berbeda. Tidak ada tatapan licik atau kebiasaan mencari alasan seperti yang sering ia temui. Yang ada justru rasa putus asa, rasa bersalah kepada ibunya, dan keinginan yang begitu besar untuk terus belajar. Semua itu sama sekali tidak cocok dengan gambaran seorang pengedar narkoba.
Di depan ruang rawat nomor dua belas, Nuri sudah menunggu sambil berdiri memegang kantong plastik berisi beberapa buah. Begitu melihat Pak Adi datang, wanita itu langsung menghampiri.
"Pak Adi?"
"Iya, Bu Nuri."
"Dokter bilang kondisi Bu Siti sudah sedikit membaik. Beliau sudah sadar sejak tadi siang."
Pak Adi mengembuskan napas lega. "Syukurlah."
"Tapi kondisinya masih lemah."
"Saya mengerti."
Nuri membuka pintu kamar perlahan. "Silakan masuk."
Ruangan itu tidak terlalu besar. Hanya terdapat dua ranjang pasien yang dipisahkan tirai tipis. Siti berada di ranjang dekat jendela. Wajahnya masih pucat, pipinya tampak semakin tirus dibandingkan beberapa hari sebelumnya, sementara selang infus masih terpasang di tangan kirinya. Meski demikian, matanya sudah terbuka dan tampak lebih segar daripada saat pertama kali ditemukan pingsan di rumah.
Melihat ada tamu datang, Siti mencoba tersenyum.
"Maaf... saya tidak mengenali Bapak."
Pak Adi membalas senyum itu dengan sopan.
"Nama saya Adi. Saya... bertemu Faris beberapa hari yang lalu."
Begitu mendengar nama putranya disebut, wajah Siti langsung berubah penuh harap.
"Faris?"
"Iya."
"Dia di mana sekarang, Pak? Sudah beberapa hari dia tidak pulang. Saya kira dia sedang lembur bekerja."
Nada suara wanita itu dipenuhi kekhawatiran. Jelas terlihat bahwa ia sama sekali belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Pak Adi terdiam beberapa saat. Ia sudah berkali-kali memikirkan bagaimana cara menyampaikan kabar ini. Berbohong bukan pilihan yang baik, tetapi mengatakan semuanya secara langsung juga bisa membuat kondisi kesehatan Siti memburuk.
Nuri yang berdiri di samping ranjang ikut menatap Pak Adi dengan wajah cemas.
Pak Adi akhirnya menarik napas panjang. "Bu Siti... saya harap Ibu tetap tenang."
Jantung Siti mendadak berdegup lebih cepat.."Ada apa dengan Faris?"
"Dia... sedang mengalami masalah."
"Masalah apa?"
Pak Adi menundukkan kepala sejenak. "Faris sedang ditahan."
Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi. Siti hanya memandang Pak Adi tanpa berkedip, seolah belum memahami maksud ucapan tersebut. "Ditahan?"
"Iya."
"Kenapa?"
Pak Adi kembali menghela napas. "Pihak kepolisian menemukan obat-obatan terlarang di dalam tasnya."
Baru saja kalimat itu selesai diucapkan, kepala Siti langsung menggeleng kuat-kuat.
"Tidak."
Suara itu keluar begitu lirih.
"Tidak mungkin!"
Air mata mulai memenuhi kedua matanya. "Itu pasti salah!"
Wanita itu menggenggam erat selimut yang menutupi tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih. "Anak saya tidak mungkin memakai narkoba."
Pak Adi tidak menyela.
Siti justru menangis semakin keras. "Sejak kecil Faris selalu takut melihat orang merokok. Dia bahkan pernah memarahi temannya sendiri karena mencoba minuman keras. Bagaimana mungkin sekarang dia dituduh membawa narkoba?"
Air mata mengalir deras di pipi wanita itu. "Kalau dia memang melakukan kejahatan, saya yang pertama akan menegurnya. Tapi saya mengenal anak saya. Dia bukan anak seperti itu."
Nuri yang sejak tadi berdiri di samping tempat tidur ikut mengusap matanya. "Saya juga yakin begitu, Bu."
Siti menoleh kepadanya. "Nuri..."
"Selama bertahun-tahun saya tinggal di sebelah rumah Ibu, saya belum pernah melihat Faris membuat masalah. Dia kerja pagi sampai malam. Kalau punya uang lebih, dia belikan obat untuk Ibu. Kalau tidak punya uang, dia memilih menahan lapar. Orang seperti itu... mana mungkin menghabiskan uang membeli narkoba."
Suasana kamar kembali dipenuhi isak tangis..Pak Adi hanya berdiri memandangi keduanya. Semakin lama, keyakinannya terhadap Faris semakin kuat. Ia memang belum memiliki bukti apa pun..Namun nalurinya mengatakan bahwa pemuda itu sedang dijebak.
Setelah beberapa menit, Siti perlahan menghapus air matanya.
"Pak..."
"Iya, Bu."
"Bapak bertemu Faris?"
"Iya."
"Bagaimana keadaannya?"
Pak Adi tersenyum tipis. "Dia sehat."
Jawaban itu sedikit menenangkan hati Siti.
"Dia terus memikirkan Ibu."
Mata Siti kembali berkaca-kaca.
"Hal pertama yang dia minta kepada saya bukanlah agar dibebaskan. Dia hanya meminta saya memastikan keadaan Ibu."
Tangisan Siti kembali pecah. "Itu memang Faris. Dia selalu begitu. Bahkan saat hidupnya sendiri susah, dia tetap memikirkan saya."
Pak Adi mengangguk pelan. "Itulah yang membuat saya merasa ada sesuatu yang tidak beres."
Nuri langsung menatapnya. "Maksud Bapak?"
Pak Adi menyilangkan kedua tangannya. "Saya sudah membimbing narapidana hampir lima belas tahun. Saya memang bukan penyidik. Tapi saya cukup sering bertemu pelaku narkoba. Faris... tidak terlihat seperti mereka."
Nuri langsung mengangguk cepat. "Betul."
Pak Adi melanjutkan, "Cara dia berbicara, cara dia bekerja, semangatnya belajar, semuanya berbeda. Dia bahkan menghabiskan waktu membuat berbagai inovasi furnitur di workshop."
"Inovasi?"
Pak Adi tersenyum kecil. "Saya belum pernah melihat narapidana yang begitu bersemangat ketika diberi kesempatan membuat lemari."
Baik Siti maupun Nuri memandangnya heran. Pak Adi kemudian menceritakan bagaimana Faris memodifikasi lemari sehingga memiliki rak geser tersembunyi, membuat kursi lipat dengan ruang penyimpanan, hingga menciptakan desain meja yang lebih kuat sekaligus lebih hemat bahan.
Semakin lama mendengar cerita itu, wajah Siti perlahan dipenuhi rasa bangga.
"Itu memang cita-citanya."
"Cita-cita?"
"Sejak kecil dia ingin menjadi insinyur. Sampai rela bekerja sebagai apa saja demi bisa belajar."
Pak Adi terdiam cukup lama. Kini semua kepingan cerita mulai tersusun di dalam kepalanya. Anak itu bukan sekadar suka membuat furnitur. Ia memang mencintai dunia teknik sejak lama.
Tak heran ide-idenya terus bermunculan. Pak Adi akhirnya menatap Siti dengan serius.
"Bu."
"Iya?"
"Saya tidak bisa menjanjikan apa pun."
"Tapi saya akan mencoba mencari tahu."
"Mencari tahu?"
"Saya ingin memastikan apakah benar Faris bersalah. Kalau memang ada yang menjebaknya..." Pak Adi mengepalkan tangannya perlahan.n"...saya tidak akan tinggal diam."
Nuri langsung mengangguk mantap. "Saya juga akan membantu. Saya mengenal banyak warga di sekitar rumah. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan sebelum Faris ditangkap, mungkin kami bisa mengingatnya."
Siti kembali menangis, tetapi kali ini tangisannya berbeda. Di tengah rasa sedih yang menyelimuti hatinya, akhirnya muncul secercah harapan. Mungkin masih ada orang yang percaya kepada anaknya.
Pak Adi melirik jam tangannya. Hari sudah mulai sore. Ia masih harus kembali ke lembaga pemasyarakatan untuk memeriksa hasil pekerjaan para narapidana.
"Saya pamit dulu, Bu."
Siti mengangguk pelan. "Tolong... sampaikan kepada Faris..." Wanita itu berhenti sejenak karena suaranya kembali bergetar.b"...katakan bahwa Ibu percaya padanya."
Pak Adi tersenyum hangat. "Saya pasti akan menyampaikannya."
Ia pun meninggalkan rumah sakit dengan langkah yang jauh lebih berat dibanding saat datang. Namun di balik langkah itu, tekadnya justru semakin kuat. Bukan hanya karena rasa kasihan kepada Faris, melainkan karena ia benar-benar mulai percaya bahwa pemuda itu pantas mendapatkan kesempatan kedua. Bahkan jauh di dalam pikirannya mulai muncul sebuah harapan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Kalau anak itu bebas nanti. Aku ingin merekrutnya bekerja di workshop. Bakat seperti itu tidak boleh terkubur di balik jeruji besi."