Pria yang selama ini mereka remehkan adalah Dewa Perang yang mampu menghancurkan kerajaan dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Dia tahu persis apa yang sedang direncanakan oleh anak manja dari keluarga mafia ini.
Ini adalah trik kuno untuk menunjukkan dominasi dengan cara meremukkan tulang tangan lawan saat berjabat tangan.
"Oh, jadi kamu pria malang yang ditolak oleh istriku ya?" balas Devan dengan suara bariton yang sangat tenang.
Mendengar ucapan telak itu, wajah Leo langsung berubah merah padam karena amarahnya memuncak.
Para tamu yang mendengar ucapan Devan menahan napas mereka karena tidak menyangka pria miskin itu punya nyali sebesar itu.
Devan akhirnya mengangkat tangan kanannya dan membalas uluran tangan Leo Sanjaya.
Grep.
Tangan mereka bersalaman.
Leo langsung mengerahkan seluruh tenaga di tangannya untuk meremukkan jari-jari Devan tanpa ampun.
Dia sudah sering mematahkan jari para pesaing bisnisnya hanya dengan trik salaman ini.
Namun sedetik kemudian, senyum angkuh di wajah Leo perlahan memudar dan digantikan oleh raut kebingungan yang amat sangat.
Tangan Devan terasa seperti bongkahan besi baja padat yang sama sekali tidak bisa ditekan apalagi diremukkan.
Berapa pun besarnya tenaga yang Leo keluarkan, tangan pria di depannya itu sama sekali tidak bergeming sedikit pun.
"Tanganmu dingin sekali, Tuan Leo," ucap Devan dengan senyuman ramah yang terlihat sangat mengerikan di mata Leo.
"Apakah kamu sedang sakit gigi atau sedang menahan takut kepadaku?"
Setelah mengatakan kalimat itu, Devan perlahan mulai mencengkeram balik tangan Leo.
Krek.
Suara tulang yang saling bergesekan terdengar sangat pelan namun cukup membuat Leo membelalakkan matanya ngeri.
Rasa sakit yang luar biasa dahsyat tiba-tiba menjalar dari telapak tangannya langsung menuju ke otak.
Leo merasa seolah tangannya sedang digiling oleh mesin penghancur batu yang sangat kuat.
Wajah pria angkuh itu seketika berubah menjadi sangat pucat pasi dan keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Dia ingin berteriak dan menarik tangannya, tapi cengkeraman Devan mengunci tangannya dengan sangat erat seolah mereka dilem.
"A... aakh..." rintih Leo pelan dengan bibir yang gemetar hebat menahan rasa sakit yang tidak tertahankan.
Lutut Leo perlahan mulai lemas dan dia nyaris jatuh berlutut di depan Devan saking sakitnya.
Clarissa yang berdiri tepat di sebelah Devan bisa melihat dengan jelas bagaimana tubuh Leo gemetar ketakutan.
Wanita itu menatap wajah suaminya dari samping, dan dia bisa melihat ketenangan yang luar biasa mengerikan dari seorang Devan.
"Tuan Devan, saya rasa salamannya sudah cukup," ucap sebuah suara tua yang tiba-tiba menginterupsi.
Seorang pria paruh baya dengan rambut yang sudah mulai memutih berjalan maju dari belakang Leo.
Pria itu memegang tongkat kayu berukir naga dan menatap Devan dengan pandangan mata yang sangat tajam dan membunuh.
Itu adalah Bram Sanjaya, sang Tuan Besar pemimpin keluarga mafia ini yang menelepon Devan kemarin.
Devan melepaskan tangannya dengan sangat santai, seolah dia baru saja membuang tisu kotor ke tempat sampah.
Leo langsung mundur beberapa langkah sambil memegangi tangan kanannya yang kini membengkak merah dan mati rasa.
"Maaf Tuan Besar, anak anda ini cengkeramannya lemah sekali seperti wanita kurang gizi," sindir Devan tanpa rasa takut sedikit pun di depan sang bos mafia.
"Saya hanya bermaksud memberinya sedikit semangat jabat tangan antar pria sejati."
Bram Sanjaya menghentakkan tongkat kayunya ke lantai marmer dengan cukup keras hingga menimbulkan bunyi yang bergema.
"Kamu punya nyali yang sangat besar untuk seorang pesuruh miskin, anak muda," ancam Bram dengan suara serak yang berat.
"Kita lihat saja apakah mulut besarmu itu bisa menyelamatkan nyawamu malam ini."