Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.
Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.
Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TigaLima—Pedang Tongkat
Jenderal Gu membelai botol porselen tersebut dengan saksama. "Wah, ini terlalu bagus..." gumamnya kagum. Ia kemudian melirik ke arah kedua menantunya dengan senyuman bangga yang mengembang di wajah tuanya.
Atensi sang jenderal tua tiba-tiba tertuju penuh pada pria di samping putri sulungnya. "Jenderal Shen, saya selalu mendengar kabar burung tentang kepiawaian Anda yang luar biasa dalam memainkan pedang di medan tempur Utara. Bagaimana jika hari ini kita mendemonstrasikannya sedikit di sini? Saya benar-benar sangat ingin melihatnya."
Mendengar tantangan terselubung itu, Shen Mufeng menatap balik ayah mertuanya dengan sorot mata yang dipenuhi rasa penasaran yang tenang. "Tentu, Ayah Mertua. Saya akan bersiap," jawabnya lugas.
Melihat kesempatan untuk memulihkan harga dirinya yang sempat anjlok, Zhao Yuchen langsung melangkah maju dengan berani. Dengan dada membusung tegap, ia menyela, "Biarkan saya... Biarkan saya yang menjadi lawan Jenderal Agung dalam demonstrasi ini, Ayah."
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk bersiap. Zhao Yuchen dan Shen Mufeng akhirnya kembali ke ruang tengah setelah berganti pakaian dan mengenakan zirah perang mereka. Keduanya sengaja mengenakan zirah lengkap, memberikan kesan duel yang serius, walaupun senjata yang mereka pegang hanyalah sebilah pedang kayu yang tumpul.
Begitu aba-aba dimulai, Zhao Yuchen langsung mengambil inisiatif. Dengan perpaduan beberapa gerakan dan jurus yang telah ia pelajari, pria itu mulai melancarkan serangan bertubi-tubi. Namun, alih-alih membalas dengan agresif, Shen Mufeng justru hanya bergerak menghindar beberapa kali dengan sangat lincah seolah sedang membaca setiap celah.
Tak! Shen Mufeng menangkis gerakan Zhao Yuchen yang terlanjur ambisius.
Gu Lian yang menyaksikan hal itu dari tepi ruangan langsung berbisik sinis kepada ibunya, namun dengan volume yang sengaja dikeras-keraskan. "Lihatlah, Kakak Ipar tampaknya terlalu penakut menghadapi serangan. Padahal suamiku bertarung dengan sangat berani dan agresif!"
Mendengar ejekan adiknya, Gu Mingyue sama sekali tidak terpancing. Wanita itu hanya tersenyum samar, menatap suaminya dengan keyakinan penuh. Di sisi lain, Jenderal Gu justru terus menatap arena dengan rasa penasaran yang semakin besar; sebagai veteran perang, ia tahu betul Shen Mufeng sedang sengaja mengulur waktu.
Sedikit rasa kagumnya muncul atas sifat tidak tergesa sang menantu. Di medan perang pemenang bukanlah yang paling kuat, tapi mereka yang bisa mengendalikan permainan.
Pertandingan berjalan sengit hingga sekitar seperempat dupa berlalu dari serangan Zhao Yuchen. Begitu gerakan lawan mulai melambat karena kelelahan, Shen Mufeng langsung bergerak cepat. Hanya dengan satu tangkisan tangan yang kuat dan presisi, ia berhasil menjatuhkan pedang kayu milik lawan lalu mencengkeram pergelangan tangan Zhao Yuchen, dan memutarbalikkan arah permainan dalam sekejap mata.
Sebelum Zhao Yuchen sempat menyadari apa yang terjadi, Shen Mufeng sudah berputar cepat ke belakang tubuhnya. Set! Bilah pedang kayu yang tumpul itu kini telah melintang erat di leher Zhao Yuchen, menekan urat lehernya hingga terasa menyakitkan dan mengunci pergerakannya total.
""Anda sudah mati, Tuan Zhao," bisik Shen Mufeng pelan di dekat telinga lawannya, menyunggingkan senyum puas yang teramat tipis.
Keheningan yang sempat mencekam seketika pecah. Seluruh pengawal dan pelayan yang menonton di sekitar aula langsung bersorak kagum atas kemenangan mutlak sang Jenderal Agung.
Gu Mingyue bertepuk tangan anggun dengan senyum kepuasan yang merekah indah di wajahnya. Sepasang matanya menatap bangga ke arah sang suami yang tetap berdiri tegak dengan napas yang teratur tenang. Pemandangan itu berbanding terbalik dengan Zhao Yuchen yang kini membelalakkan mata tak percaya, napasnya memburu hebat dengan dada yang naik-turun cepat karena kelelahan sekaligus syok.
Gu Mingyue sengaja menoleh ke arah adiknya, lalu berujar dengan nada santai yang menusuk, "Adik, kurasa aku sendiri sampai lupa... suamiku ini adalah seorang jenderal perang yang sesungguhnya."
Jenderal Gu tertawa pelan, lalu ikut bertepuk tangan dengan raut kagum yang tak bisa disembunyikan. Sebagai veteran, ia jelas sudah tahu siapa pemenangnya bahkan sebelum permainan dimulai. Namun, melihat bagaimana Shen Mufeng mengalahkan Zhao Yuchen—yang notabene pernah menjadi muridnya sendiri—tanpa perlu mengeluarkan tenaga berlebih, benar-benar membuat sang jenderal tua takjub.
Setelah permainan selesai, kedua pria itu saling memberikan hormat militer sebelum akhirnya menjauh dari arena. Shen Mufeng langsung melangkah menghampiri istrinya.
Melihat sang suami mendekat, Gu Mingyue bergerak menyambutnya dengan binar bangga yang tak ditutupi. "Tuan sangat hebat," bisik gadis itu pelan, tangannya yang lentik mulai terulur dengan luwes untuk membantu melepaskan zirah pelindung dari tubuh kekar suaminya.
Shen Mufeng menunduk, menatap dalam ke sepasang mata istrinya sembari menyahut dengan suara berat yang melembut, "Tentu saja. Semua ini demi Nyonya."
Gu Mingyue pun terkekeh pelan, merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya di tengah tatapan iri yang membakar dari seberang.
Di seberang, Shen Mufeng dan Gu Mingyue sepenuhnya mengabaikan tatapan iri dari Gu Lian. Gadis itu mencebikkan bibirnya dalam-dalam sambil menatap sebal ke arah suaminya yang masih terduduk lemas.
"Kenapa kau bisa kalah semudah itu?!" tanya Gu Lian dengan nada kesal dan menuntut.
Zhao Yuchen mengernyitkan dahinya dalam, menatap istrinya dengan sisa napas yang memburu. "Bagaimana mungkin aku bisa menang jika lawan yang kuhadapi adalah Dewa Perang?" sahutnya dengan nada frustrasi yang tertahan.
Mendengar jawaban itu, Gu Lian menepuk dada suaminya dengan kesal lalu berlalu begitu saja dari sana dengan wajah memerah menahan malu. Ia membiarkan Zhao Yuchen melepas sendiri zirah beratnya dengan hanya dibantu oleh pelayan pribadi.
Gu Mingyue sempat melirik ke arah kepergian adik tirinya itu. Kelakuan Gu Lian benar-benar sangat kekanak-kanakan di matanya.
Tak berselang lama, Jenderal Gu melangkah mendekat ke arah Shen Mufeng. Sebagai sesama orang militer, matanya yang jeli langsung mendikte penampilan fisik serta gestur tubuh menantu sulungnya itu pasca-duel.
"Aku tahu jika Jenderal Shen sengaja menahan diri sejak awal," ujar Jenderal Gu dengan nada kagum yang tulus. "Anda bahkan tidak mengeluarkan satu pun jurus andalan selama bertarung tadi."
Shen Mufeng tersenyum tipis. Sorot matanya dengan sengaja melirik ke arah Zhao Yuchen yang di kejauhan tampak meringis sembari memegangi pergelangan tangannya yang sempat diputar.
"Jika saya sampai mengeluarkan jurus," ucap Shen Mufeng dengan nada suara yang tenang namun terdengar teramat dingin, "mungkin Tuan Zhao sudah membutuhkan tabib untuk menyambung tulang tangannya sekarang."
Tawa Jenderal Gu terdengar sedikit meremehkan—bukan kepada Shen Mufeng, melainkan kepada Zhao Yuchen yang masih tampak payah di sudut ruangan. Pandangan sang jenderal tua kemudian beralih, menatap bergantian ke arah kedua menantunya.
"Karena hari sudah beranjak malam, saya harap kalian semua dapat menginap di sini malam ini. Ada banyak cerita yang ingin kubagikan dengan kalian," ujar Jenderal Gu, memberikan tawaran yang lebih terdengar seperti titah seorang kepala keluarga.
Mendengar itu, Shen Mufeng tidak langsung mengiyakan. Ia justru menoleh ke samping, melirik takzim ke arah istrinya. "Bagaimana menurut Nyonya?" tanyanya lembut, sengaja menunjukkan kepada semua orang di sana bahwa keputusan sang istri adalah prioritas utamanya.
Dipandang seperti itu di depan ibu dan adik tirinya, senyum Gu Mingyue mengembang dengan sempurna. Ia mengangguk anggun. "Tentu saja, Tuan. Kita harus mengikuti pinta orang tua dan berbakti malam ini."
...----------------...
Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭
Semoga kalian menyukainya