"Mulai sekarang, setiap satu jam sekali, kamu harus mencium bibirku! Aku tidak akan menerima penolakan," tegas Nathan lagi. "Kamu wajib menciumku di mana pun kita berada, bahkan di dalam kelas atau di tempat umum."
Jenny mulai merasa panik, "Tu - tuan, tapi itu sungguh tidak masuk akal!"
"Jenny, jika ingin ibumu selamat dan semua alat medis tetap terpasang di tubuhnya yang lemah itu, turutilah apa mauku!" ujar Nathan dengan nada mengancam. Ancaman tersebut membuat lamunan Jenny terhenti seketika.
****
Jenny terkejut saat mendengar apa yang baru saja diucapkan Nathan, tuan muda culun yang menjadi murid terbodoh di antara 450 siswa di SMA Taruna. "Jadi, jika kamu ingin aku sembuh dari semua luka trauma yang ditimbulkan oleh ayahmu, mulai sekarang kamu harus menciumku setiap satu jam sekali," ucap Nathan tegas.
****
Jenny adalah seorang perempuan yang sedari kecil hidup penuh kebahagiaan, bahkan hidupnya nyaris sempurna.
Ia terlahir dengan paras yang cantik, hidup penuh kebahagia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21.
Nathan berjalan dengan wajah merah padam, mencari keberadaan Jenny. Di dalam hatinya, kekhawatiran dan kemarahan bercampur menjadi satu.
Terbesit dalam pikiran buruk Nathan, apa jangan-jangan Jenny sekarang ini memilih menyerah dan mengakhiri hidupnya. "Sungguh, aku takut kehilangan Jenny, tapi di lubuk hati paling dalam, aku tak bisa menghindari rasa benci padanya," gumam Nathan tak terdengar, penuh konflik batin. Semakin ia mencintai Jenny, semakin pula benci itu menghujam.
Sungguh mencintai dan membenci adalah hal yang sangat menyiksa bagi Nathan. Di satu sisi, ia ingin membuat hidup Jenny hancur, seolah mampu menghilangkan rasa sakit yang sudah lama menghantui hatinya. Tapi, di sisi lain, ia merasa tak bisa hidup tanpa adanya Jenny di sisinya, apakah mungkin hidupnya akan kembali hampa tanpa bayang-bayang Jenny yang selama ini menghiasi hidupnya?
"Aku harus menemukannya segera, karena setiap satu jam sekali memang ia harus mencium ku," bisik Nathan pada dirinya sendiri, berusaha menyemangati dirinya sendiri dalam pencariannya akan keberadaan Jenny yang entah dimana.
Rahangnya terasa mengeras ketika ia melangkah ke arah kamar mandi perempuan yang ada di sekolahnya.
"Kenapa aku merasa Jenny tidak ada di sini? Sebenarnya dimana kah dirinya?" Nathan bertanya-tanya dalam hati.
Tanpa malu, Nathan memasuki kamar mandi perempuan itu, mencoba mencari Jenny. Suara teriakan murid perempuan yang ada di dalam kamar mandi itu menggema di telinganya, namun ia seolah tak peduli.
Nathan berpikir bahwa keberadaan Jenny lebih penting dari pada reputasinya saat ini. Toh bukankah semua orang penghuni sekolah ini menganggap nya sebagai murid paling bodoh. Jadi ia tidak peduli, jika aksi yang di lakukan nya sekarang ini terlihat begitu memalukan.
"Argggh!" teriak salah seorang siswi yang berpapasan dengannya, namun ia tetap tidak perduli.
Bahkan, dengan bodoh dan polosnya, Nathan terlihat menanyakan keberadaan Jenny kepada setiap murid perempuan yang ia temui di dalam kamar mandi itu.
Umpatan dan kata-kata kasar yang dilontarkan oleh para murid perempuan itu seakan tak ada artinya baginya.
"Apa peduli mereka? Aku harus menemukan Jenny secepatnya," batin Nathan, dengan rasa tidak sabar yang semakin menggumpal.
Walaupun demikian, Nathan tetap merasa bahwa dirinya berkuasa di sekolah ini. Toh pemilik utama saham SMA Taruna memang jatuh di tangan keluarganya. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa tindakannya ini tidak sia-sia, semata-mata demi menemukan Jenny.
Setelah mencari beberapa menit, sang tuan muda itu tetap saja tidak menemukan keberadaan pelayannya.
Lantas ia pun memilih untuk kembali masuk ke dalam kelasnya. Kelas jajaran murid murid pintar.
Nathan berjalan melewati koridor kelas yang mulai sepi dengan langkah kaki yang terlihat begitu cepat.
"Aku berharap jika Jenny sekarang ini sudah berada di dalam kelasnya, jadi aku bisa membuat perhitungan padanya." gumam Nathan dalam hati sembari terus melangkahkan kaki jenjangnya.
Laki laki dengan bola mata ber Irish kan hazel, mempunyai kulit putih, badan tidak terlalu kurus dan terlihat berotot saat keadaan marah begini sedang membuat perhitungan pada pelayannya. Ia sedang menimang nimang hukuman yang pantas untuk membuat Jenny jera dan tidak pernah berniat untuk kabur darinya.
Ceklek
Pintu jajaran kelas murid pintar nampak di buka oleh Nathan, ia buru buru mengubah ekspresi wajahnya untuk menjadi polos kembali.
"Ma - maaf Pak, jika saya terlambat. Soalnya saya baru saja dari toilet!"
"Iya sudah, kembali ke tempat duduk mu!"
Padahal saat awal Nathan meninggalkan kelas pada jam pelajaran, ia beralasan jika kebelet buang air kecil dan ijin untuk pergi ke kamar mandi, tentu saja teman temannya itu tau akan hal itu.
Namun murid murid yang ada di kelasnya sekarang ini nampak acuh, bahkan tidak memperdulikan keberadaaan Nathan. Apalagi sekarang status Nathan yang sudah berubah menjadi anak kepala sekolah sekaligus anak pemilik saham utama di SMA Taruna. Siapa yang berani untuk mencari gara gara dengannya?
kalo berkenan mampir juga ya😉