Di bawah rembulan yang dingin, seorang jenderal berdiri tegak, pedangnya berkilauan memantulkan cahaya. Bukan hanya musuh di medan perang yang harus ia hadapi, tetapi juga takdir yang telah digariskan untuknya. Terjebak antara kehormatan dan cinta, antara tugas dan keinginan, ia harus memilih jalan yang akan menentukan nasibnya—dan mungkin juga seluruh kerajaannya. Siapakah sebenarnya sosok jenderal ini, dan pengorbanan apa yang bersedia ia lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Fha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis pembawa Berkah
"Nona Yun!" Sapa salah seorang warga yang tengah memotong kayu, Yun Xiao menyapanya.
"KAKAK YUN!!!" Segerombolan anak kecil dengan kompak menyapa kearah Yun Xiao.
Waktu berlalu, dan Feng Yu’er kini telah sepenuhnya melebur dalam identitas barunya sebagai Yun Xiao.
" Yun Xiao, kau dari mana? sepertinya itu sangat berat apa boleh aku bantu?,"Tanya Lin Dan, yang merupakan tetangga keluarga Yun.
"Aiya, Kakak Lin tidak usah , Aku baru saja ke rumah Pak kepala desa untuk mengambil pasokan bibit, Kau tahu sendiri 'kan, Desa Luoyang sudah mulai memasuki musim penghujan, curah hujan yang pas adalah berkah untuk memulai masa tanam."Jelas Yun Xiao.
"Sudah kubilang,tidak usah sungkan memanggil namaku."Ucap Lin Dan.
"Ah....,ba.. baiklah Xiao Dan."Yun Xiao merasa lidahnya aneh begitu menyebut Lin Dan tanpa marga.
pemuda bernama Lin Dan itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah sampai bertemu di ladang...!"
Yun Xiao hanya mengangguk lalu memasuki gerbang rumah Yun.
Semenjak Kedatangan Feng Yu'er sebagai putri angkat keluarga Yun, keluarga Yun dan desa Luoyang selalu dibanjiri berbagai keberuntungan.vv
contohnya curah hujan di tahun ini stabil dan sangat ideal untuk menanam ketimbang tahun tahun sebelumnya.
Yang menjadikan desa terpuruk ini bangkit kembali dan menjadi lebih baik lagi.
...
Ibu Yun Mulai membagi tugas untuk keempat anaknya; Yun zhao si bungsu bertanggung jawab untuk menjaga rumah,Si sulung membantu ibu Yun menggarap ladang,dan Yun Ling bertugas untuk mencari sayuran liar ataupun berburu di sekitar bukit.
Awalnya, Nyonya Yun melarang Yun Xiao ikut berburu karena khawatir akan kondisi fisiknya yang sempat lemah. Namun, Yun Xiao bersikeras.
"Jika aku hanya berdiam diri, kesehatanku justru akan semakin memburuk, ibu," ucapnya meyakinkan. "Aku berjanji akan menjaga diri dengan baik."
Sesampainya di jalur perbukitan pegunungan Bei , Yun Xiao hendak membagi tugas tiba tiba Yun Ling datang membawa peralatan berburu.
"Xiao Ling sebaiknya kau saja yang...."Yun Ling memotong.
"he -eh! Tidak Nona, biarkan aku yang berburu, anda saja yang mencari sayuran li-" Yun Ling tertegun melihat Yun Xiao sudah menghilang di sampingnya, meninggalkan seonggok keranjang untuk menampung sayuran liar untuknya.
Yun Ling menendang pelan keranjang itu dengan cemberut kesal.
"Kenapa selalu aku yang mendapat bagian mencari sayuran!" Gumamnya sambil mengenakan keranjang sayur itu.
...
Mega merah keemasan mulai melarut di antara siluet dedaunan, menandakan senja telah tiba.
"Kami pulang!" seru Ling dengan nada riang yang tak tertahankan. Tanpa menunggu sedetik pun, ia langsung melesat menuju dapur bak anak panah, mengabaikan Yun Xiao yang masih berjuang menahan keseimbangan gerobak yang sarat muatan di depan gerbang pekarangan.
Keheningan sore itu pecah seketika oleh teriakan melengking.
"APA YANG—?! LING! KEMBALI KE SINI! LIIIING!!!!"
Yun Ban xia yang baru saja hendak masuk ke di depan gerbang rumah tersentak. Ia bergegas masuk mendengar teriakkan Yun xiao yang meminta tolong, namun langkahnya terhenti secara mendadak. Di depannya, Yun Xiao tampak malang; akibat beban di bak belakang yang terlalu berat, gerobak itu terjungkit kebelakang yang membuat Tubuh ramping nan mungil Yun Xiao terangkat ke udara, kakinya menendang-nendang hampa sementara pakaiannya tersangkut erat pada kayu kemudi gerobak. Sialnya, kain yang sudah lapuk itu tidak kuat menahan tarikan.
Srattt!
Suara Suara sobekan kain terdengar nyaring tepat saat Yun Ban xia melompat untuk menangkap tubuh gadis itu sebelum terhempas ke tanah.
Yun Zhao dan Yun Ling yang berada di dalam rumah tersentak. mereka bergegas keluar karena mendengar kehebohan di luar, Keduanya menghampiri Ibu dan kakak pertama mereka yang membantu Yun xiao yang memegangi punggungnya yang terasa perih.
ibu Yun panik melihat punggung putrinya terluka akibat kegores kayu kemudi.
Di tengah kepanikan keluarga nya Mata Yun zhao terfokus pada Punggung Yun Xiao yang dipenuhi bekas luka lama terekspos jelas di depan mata Yun Zhao.
Yun Zhao terhenyak. Ia tak menyangka gadis itu menyimpan begitu banyak luka di tubuhnya. Tanpa membuang waktu, Yun Zhao melepas pakaian luarnya dan menyampirkannya ke bahu Yun Xiao untuk menutupi tubuhnya.
"kakak ( perempuan) pertama Pergilah ke dalam. Biarkan aku yang menyelesaikan ini," ucap Yun zhao dengan nada rendah, sengaja mengalihkan pandangan untuk menghormati privasi Yun Xiao.
Yun Xiao hanya mengangguk kecil.
Tanpa ia sadari tangannya gemetar mengingat bekas luka di punggung kakak perempuannya.
"Xiao Zhao? Kau kenapa? "Suara Yun Ling membuat pemuda berusia 12 tahun itu terkejut.
"I... itu...pu... punggung Kakak pertama..."Ucap Yun zhao.
"Aku tau ,Aku tau ..., Sepertinya identitas kakak pertama tidak biasa , Dilihat dari teknik pedang-" Ucapan Yun Ling terhenti.
"Kalian berdua! Cepat Masuklah!"Ucap Yun ban Xia.
"Ba...baik!" Ucap keduanya kompak.
...
"hei...hei....Hei kalian! Lihat! Aku memasak sup jamur spesial!" seru Ling dengan bangga di meja makan.
Yun Banxia dan Yun Zhao, penggemar berat jamur, langsung menyambar mangkuk mereka, Yun Ling memang jago memasak.Namun, Nyonya Yun tidak ikut makan karena memang tidak menyukai jamur. Sementara itu, Yun Xiao mengamati mangkuknya dengan curiga. ia tahu hanya sedikit orang desa yang bisa membedakan mana jamur hutan yang aman dan mana yang mematikan.
Namun, demi menghargai usaha Ling dan keinginannya untuk hidup sebagai orang biasa, Yun Xiao mencoba percaya 'Semoga saja tidak terjadi apa-apa,' batinnya saat mencicipi sup yang memang terasa lezat itu.
Beberapa saat kemudian, keraguan Yun Xiao terbukti. Mereka yang memakan sup itu tergeletak di ranjang dengan tubuh panas dan berkeringat hebat.
'Mencoba mempercayai orang lain memang pilihan yang bodoh,' keluh Yun Xiao dalam hati sambil menahan mual.
Meski tubuhnya sendiri tidak fit, Yun Xiao memaksakan diri untuk meracik obat penawar.
"I..ibu, Bi...bisakah aku meminta bantuan? Ambilkan aku akar alang-alang,Aiya tolong rendam kacang hijau , dan buatkan aku air tajin (air rebusan beras) ," ujar Yun Xiao. Suaranya rendah namun tidak menunjukkan keraguan sedikit pun.
Bibi Yun mengangguk. Tanpa bertanya untuk apa, ia segera berlari ke dapur dengan rasa cemas yang masih membayang di wajahnya.
Sambil menunggu bibi Yun menyiapkan ramuannya, Yun Xiao mulai menekan titik-titik krusial pada tubuh ketiga Yun bersaudara untuk menghambat penyebaran racun ke jantung
"Baiklah ini dia Titik Hegu (LI4)" Gumamnya
sembari meletakkan di antara jempol dan telunjuk tangan.
Yun Xiao menekan titik ini dengan kuat untuk meredakan nyeri hebat dan memicu tubuh membuang sisa racun melalui keringat.
"selanjutnya Pijatan Jalur Empedu" Yun Xiao dengan presisi menggunakan pinggiran telapak tangannya untuk mengurut sisi luar paha (jalur meridian empedu) dengan gerakan cepat dari atas ke bawah, memaksa empedu bekerja lebih keras membuang sisa makanan yang beracun.
Bibi Yun kembali dengan bahan-bahan itu.
"Nona, semuanya sudah siap." Ucap bibi Yun meletakkan bahan bahan itu di meja.
Yun Xiao segera bertindak. Ia menumbuk kasar kacang hijau—bahan yang sejak zaman nenek moyang dikenal sebagai pembersih racun panas (detoksifikasi) paling ampuh bagi rakyat jelata. Ia mencampurnya dengan air tajin yang kental untuk melapisi dinding lambung yang teriritasi oleh tajamnya racun jamur.
Ibu Yun tertegun melihat bagaimana Yun Xiao dengan cekatan meramu bahan sisa dapur tersebut.
"Nona, Anda sungguh jenius! Ibu yang sudah hidup bertahun-tahun di desa ini tidak menyangka bahan bahan ini ternyata bisa dibuat menjadi obat!"
"Aiya sudahlah Bu, jangan terus memujiku, jika ada waktu luang Aku dengan senang hati akan mengajarkan nya padamu."Ucap Yun Xiao.
"Yun Xiao..., apa belakangan ini kau bisa mengingat sesuatu?"
Yun Xiao terdiam sejenak.
"Yah..., belakangan ini aku baru bisa mengingat beberapa hal, aku berasal dari Yangzhai."
"Astaga Nona! Kekaisaran Yangzhai itu sangat jauh dari desa Luoyang! Jika dihitung berarti kau terombang ambing di sungai selama 5 hari! Pantas saja kau hilang ingatan!"
"Ah, sepertinya begitu, Mari bantu aku memberikan obat ini pada mereka.
...
Yun Xiao yang sedang minum teh di beranda rumah segera menghampiri Yun Banxia, yang baru saja keluar sembari melakukan perenggangan.
"Bagaimana perasaanmu?"Tanya Yun Xiao dengan sedikit kecemasan.
"Aku baik baik saja, kau sendiri?."Ucap Yun Banxia.
Yun Xiao mengangguk.
"Aku baik baik saja, Syukurlah kau dan kedua adikmu baik baik saja, tapi sepertinya Yun Zhao masih terbaring."Ucap Yun Xiao menoleh kearah ranjang.
"jangan khawatir,dia juga baik baik saja, Hanya perlu istirahat lebih lama, ah, apa kau mau ikut aku gunung,dan ajari aku cara membedakan jamur yang aman dimakan."Ucap Yun Banxia.
"Baiklah"
....
Disepanjang jalan yang Mereka lewati Mereka tertawa mengenang kejadian sup beracun semalam.
"Astaga, kau kejam sekali pada adik kedua. Jelas sekali kau masih dendam padanya," goda Yun Banxia.
"Tentu saja!" sahut Yun Xiao ketus namun jenaka.
"Nona pendekar, kuucapkan selamat karena kau sudah mulai mengingat jati dirimu sedikit demi sedikit," ucap Yun Banxia tulus.
"Aiya! Apa apaan panggilan itu, panggil aku Yun Xiao. Ah, Sebaiknya kita berpencar dari sini," jawab Yun Xiao tenang.
Yun Xiao melangkah lebih jauh ke dalam hutan Pegunungan Bei yang lebat. Ia berhenti di sebuah celah tersembunyi. Dengan gerakan cepat, ia menarik anak panahnya, membidik seekor burung yang bertengger di dahan tinggi.
Srak!
Bukan burung yang jatuh, melainkan seorang pria berjubah hitam yang terperosok dari atas pepohonan. Wajahnya tersembunyi di balik tudung. Jantung Yun Xiao berdegup kencang saat ia mendekat dan menyingkirkan tudung hitam itu
"Tolong...." Ringisnya.
Yun Xiao tersentak dari lamunannya. Pemuda yang kini berada di pangkuannya dengan luka di sekujur tubuh. mulai mengerang pelan, mencoba bangkit sambil menghunuskan pedang dengan tangan gemetar.
"Siapa kau?!" tanya pemuda itu serak. "Apa kau dari pihak musuh?"
Yun Xiao hanya memasang wajah penuh tanda tanya.
"Hei..., Tenanglah, aku bukan musuh," jawab Yun Xiao,Mencoba menyakinkan pemuda itu.. "Kau jatuh dari pohon."
"Jangan berbohong. Aku melihatmu membidikkan panah ke arahku," tuduh pria itu tajam.
"Itu karena aku sedang berburu! Kau saja yang sial karena berada di jalur panahku," balas Yun Xiao tidak mau kalah.
Pria itu menatap Yun Xiao lama.
"Kenapa aku merasa familiar dengan nya?" Batinnya.
Akhirnya, pria itu menurunkan pedangnya. "Siapa namamu?"
"Yun Xiao," jawabnya singkat sembari membalut luka pria itu.
"Yun Xiao?" Pemuda itu mengulang nama itu seolah sedang mengingat sesuatu. "Aku Yu Zhang. Maaf atas kesalahpahaman ini, Nona Yun."
"Tidak masalah,tapi izinkan aku mengobati mu, kau sepertinya terluka cukup parah."Ucap Yun Xiao.
"Ah...ya...ma...maaf merepotkan mu."
Sambil membiarkan Yun Xiao meracik obat untuk lukanya, Yu Zhang terus memperhatikan wajah gadis itu.
Namun, tiba-tiba yu zhang menyadari apa yang ia ucapkan.
'Sial! Ada apa denganku?! Kenapa aku malah tunduk padanya?!'
Deg!
Deg!
"Perasaan apa ini?!"
....
lanjut thor