Li Zie seorang dokter dari abad 21 justru mengalami kecelakaan, dan jiwanya justru berteransmigrasi ke tubuh seorang wanita lemah di jaman kuno.
Li Zie pun berniat membalas penderitaan wanita yang namanya juga sama, Li Zie. Ia pun menjadi tabib di sana dan fokusnya hanya mengumpulkan harta, ia juga memiliki ruang dimensi, Li Zie menyembunyikan identitasnya dengan sangat rapi.
Tapi bagai mana jadinya jika ketenangan itu hanya sesaat, karena pria yang berkuasa di dinasti Xuan. Yaitu Kaisar Xuan Long justru mengetahui identitas aslinya.
Seperti apa kelanjutannya? yuk mampir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Li Zie menelan suapan terakhirnya dengan puas. Perutnya akhirnya tenang. Dalam sekejap, insting dokternya dan kewaspadaan seorang ahli karate kembali tajam. Ia merasakan tatapan menusuk dari samping.
Dengan gerakan yang tiba-tiba tenang dan dingin, Li Zie mengambil kain saku, menyeka mulutnya dengan anggun, meskipun janggut palsunya makin miring, lalu kembali duduk tegak. Auranya berubah seketika dari gelandangan rakus, menjadi petapa misterius yang tak tersentuh.
Li Zie menoleh perlahan, menatap Yan dengan mata Dewanya yang berkilat tajam, sebuah tatapan yang bahkan membuat prajurit paling tangguh pun merasa telanjang.
"Kau," suara Li Zie keluar berat, serak, dan penuh ancaman, Li Zie kembali berkata, "Apa matamu sudah bosan berada di tempatnya sehingga kau terus menatapku seperti itu?"
Ji Yu yang ada di sampingnya langsung ikut memasang tampang galak, meskipun sebenarnya ia sedang sibuk menyembunyikan sisa makanan di mulutnya.
Li Zie mendengus dingin, tidak peduli dengan Hanfu mahal atau pedang giok yang dibawa pria itu, Li Zie berkata dengan nada yang di buat-buat namun terdengar berwibawa, "Jika kau ingin meminta sedekah, kau salah orang. Jika kau ingin mencari masalah, aku sarankan kau pergi sebelum nasib buruk menimpamu, Anak Muda."
Li Zie berdiri, mengibaskan lengan baju hitamnya yang kedodoran dengan gaya sombong, benar-benar tidak tahu bahwa pria yang ia panggil Anak Muda itu adalah orang paling berbahaya yang melayani Kaisar.
"Ji Yu, ayo pergi. Tempat ini mendadak terasa sempit karena ada orang asing yang tidak tahu tata krama," cetus Li Zie galak sambil melangkah pergi dengan dagu terangkat, sangat mirip petapa yang sedang turun gunung.
Yan hanya bisa terdiam di tempat, tangan yang tadinya hendak menyentuh gagang pedang tertahan di udara. Ia terpaku, bukan karena takut, tapi karena bingung. Berani-beraninya kakek tua ini membentak pengawal kaisar?
Yan sempat terpaku selama beberapa detik. Belum pernah ada orang di seluruh negeri yang berani membentaknya, apalagi menyebutnya tidak tahu tata krama. Namun, saat Li Zie melangkah pergi, Yan teringat akan kilatan mata kakek itu tadi, sebuah tatapan yang seolah bisa menembus tulang dan jiwanya.
"Itu dia. Hanya orang dengan kemampuan luar biasa yang memiliki tatapan seperti itu," batin Yan yakin.
Yan segera melangkah cepat, menghalangi jalan Li Zie dan Ji Yu. Kali ini, ia tidak berdiri tegak dengan angkuh, melainkan membungkuk dalam, sebuah gestur penghormatan yang jarang ia berikan pada siapa pun kecuali keluarga kekaisaran.
"Tabib Agung, mohon tunggu!" suara Yan berubah rendah dan penuh permohonan. Yan kembali berkata dengan sopan, namun berwibawa, "Saya memohon maaf atas kelancangan saya. Saya Yan, Saya datang bukan untuk mengganggu, melainkan memohon bantuan medis yang sangat mendesak. Untuk Tuan ku. Sesuai janji yang saya dengar, Anda akan dibayar dengan emas sebanyak yang Anda inginkan."
Mendengar kata 'Emas', telinga Li Zie seolah berdiri tegak. Ia berhenti mendadak, memutar tubuhnya perlahan dengan gaya tetap berwibawa. Li Zie tidak menyangka jika kehebatannya begitu cepat menyebar seperti tertiup angin.
"Emas, katamu? Hmph, nyawa memang tidak ternilai, tapi waktuku sangat mahal," ujar Li Zie, mencoba menahan senyum kemenangannya. Lalu kembali berkata, "Bawa aku ke sana. Tapi jika kau menipuku, pedangmu tidak akan cukup untuk melindungimu."
Yan segera memandu mereka keluar dari hiruk-pikuk pasar gelap, menuju sebuah hutan bambu yang rimbun di pinggiran kota.
Yan memandu mereka menembus jalan setapak di tengah hutan bambu yang rapat. Semakin dalam mereka melangkah, dedaunan bambu mulai nampak diselimuti kristal es tipis, padahal saat itu bukan musim dingin.
Di depan paviliun, berbaris sepuluh pengawal dengan zirah perak yang kokoh. Aura mereka begitu menekan, namun mereka semua tampak gemetar menahan dingin yang tidak wajar.
"Tabib Agung, suhu di dalam sangat berbahaya bagi orang biasa," bisik Yan dengan wajah cemas.
Benar saja, begitu pintu kayu berat itu dibuka, hawa dingin yang menusuk tulang menyambar keluar seperti badai salju. Ji Yu, yang hanya seorang pelayan biasa, meski memiliki ilmu bela diri sekarang. Tapi ia tidak memiliki kekuatan untuk sampai menahan dingin yang luar biasa ini.
Ji Yu langsung memeluk dirinya sendiri. Giginya gemertak hebat, wajahnya membiru dalam hitungan detik.
"G-Gu-Guru... a-aku... tidak kuat..." Ji Yu nyaris jatuh terduduk karena paru-parunya terasa membeku.
Li Zie melirik Ji Yu. Ia diam-diam menyalurkan sedikit energi qi panas dari ruang dimensinya ke punggung Ji Yu untuk melindunginya. "Tetaplah di luar, Ji Yu. Jaga pintu dengan baik. Biar aku yang masuk menghadapi 'naga es'.
Li Zie kemudian memusatkan energinya. Di dalam tubuhnya, kekuatan kultivasi Li Zie berputar, membentuk perisai energi tak kasat mata yang membakar hawa dingin di sekitarnya.
Yang Vote nya nganggur, lempar author aja ya, daripada anguskan