Lin Xuan, seorang pemuda modern penyuka novel web, tiba-tiba bertransmigrasi ke Benua Langit Surgawi. Sialnya, ia terbangun dalam tubuh Ketua Sekte termuda dari "Sekte Bintang Jatuh"—sebuah sekte yang dulunya merupakan penguasa benua, namun kini hanya menyisakan dirinya dan sebuah gunung usang karena diserang oleh aliansi musuh. Di saat musuh datang untuk mengambil alih tanah sektenya, Lin Xuan membangkitkan "Sistem Pembangunan Sekte Abadi".
Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang klan, membangun paviliun ajaib, hingga memanggil naga penjaga, Lin Xuan memulai perjalanannya untuk mengubah sekte bobroknya menjadi kekuatan nomor satu di seluruh alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Kehancuran Armada Emas dan Hukuman Wilayah Mutlak
Langit di atas Gunung Bintang Jatuh yang awalnya dipenuhi oleh Hujan Roh Cair kini berubah warna menjadi emas yang menyilaukan. Sepuluh kapal perang raksasa milik Kekaisaran Suci telah menembus batas awan, melayang dengan angkuh bagai dewa yang turun untuk menghakimi manusia fana.
Tekanan dari seratus ribu Pasukan Penghancur Surga dan tiga ahli Puncak Jiwa Baru Lahir menyatu, menciptakan badai hawa murni yang sanggup membuat gunung-gunung di sekitarnya retak dan runtuh.
Di dalam Paviliun Kitab Suci, Ye Chen dan Su Yue'er serentak membuka mata mereka. Wajah keduanya memucat.
"Tekanan ini... Jiwa Baru Lahir tingkat puncak! Dan ada tiga orang!" seru Ye Chen, tangannya secara naluriah mencengkeram gagang pedangnya meski ia tahu ia tidak akan bertahan satu detik pun melawan mereka.
Su Yue'er menggigit bibirnya, matanya memancarkan kewaspadaan ekstrem. "Bukan hanya itu... ada formasi pembunuh dari seratus ribu prajurit elit. Kekuatan gabungan ini bahkan bisa melukai ahli di ranah Transformasi Dewa! Kekaisaran Suci benar-benar mengirimkan seluruh kekuatan utama mereka!"
«Bocah, jangan keluar!» teriak Tetua Yan panik dari dalam cincin. «Tetaplah di dalam paviliun! Gurumu pasti memiliki cara untuk mengatasi ini. Jika kalian keluar, aura membunuh itu saja cukup untuk menghancurkan Inti Emas kalian!»
Di luar paviliun, Lin Xuan melangkah pelan menaiki udara, seolah ada anak tangga tak kasat mata di bawah kakinya. Tangannya bertaut santai di belakang punggung. Jubah putihnya berkibar, memancarkan cahaya suci yang menenangkan badai di sekitar gunung.
Di atas kapal utama, Jenderal Langit menatap ke bawah dan melihat sosok Lin Xuan. Ia mendengus meremehkan.
"Hanya satu pemuda yang berani keluar menantang armada Kekaisaran Suci? Di mana tetua dan ketua sektemu, Nak?! Suruh mereka menyerahkan benda purba itu, dan aku mungkin akan mengizinkan kalian mati dengan mayat utuh!" suara Jenderal Langit menggelegar, diperkuat oleh hawa murninya.
Lin Xuan menatap armada raksasa itu dengan mata setengah tertutup. "Mengotori udara di atas sekteku dan membuat keributan di saat murid-muridku sedang belajar... Kalian sungguh tamu yang tidak tahu sopan santun."
"Lancang!" raung Jenderal Bumi dari kapal di sebelahnya. "Seekor semut berani menceramahi Jenderal Emas?! Pasukan, isi meriam Qi! Ratakan gunung ini menjadi abu, jangan sisakan satu pun makhluk hidup!"
BZZZZT! WUUUNG!
Seratus meriam raksasa yang terpasang di sisi sepuluh kapal perang itu menyala terang. Energi dari seratus ribu prajurit dialirkan ke dalam meriam, menciptakan bola-bola cahaya penghancur bertenaga tinggi. Jika tembakan ini dilepaskan, bukan hanya Gunung Bintang Jatuh, tetapi daratan dalam radius seratus mil akan menguap seketika.
"Tembak!" perintah Jenderal Langit sambil mengayunkan tangannya ke bawah.
Seratus sinar energi mematikan melesat dari langit, membawa kekuatan yang cukup untuk menenggelamkan sebuah benua kecil, menukik lurus ke arah Gunung Bintang Jatuh.
Di bawah, Lin Xuan bahkan tidak mengangkat tangannya. Matanya hanya berkilat dengan cahaya keemasan redup saat ia mengucapkan satu kata.
"Berhenti."
Kata itu diucapkan tanpa amarah, tanpa fluktuasi Qi yang dahsyat, hanya sebuah perintah datar. Namun, di dalam radius seratus kilometer dari Gunung Bintang Jatuh, kata-kata Lin Xuan adalah hukum mutlak dari alam semesta.
Seketika itu juga, ruang dan waktu di udara membeku.
Seratus sinar energi penghancur yang sedang melesat turun itu mendadak berhenti di tengah udara, jaraknya hanya beberapa puluh meter dari kepala Lin Xuan. Sinar-sinar itu bergetar hebat, seolah ditahan oleh tangan raksasa yang tak kasat mata.
"A-apa?!" Mata Jenderal Langit terbelalak lebar. "Sihir macam apa ini?! Dorong hawa murni kalian! Hancurkan pertahanannya!"
Namun, sebelum seratus ribu pasukan itu bisa memutar Dantian mereka, Lin Xuan menghela napas pelan.
"Hukum alam di tempat ini adalah milikku. Jika aku mengatakan berhenti, maka angin tidak boleh berhembus. Jika aku mengatakan hancur..."
Lin Xuan menjentikkan jarinya.
PRANG!
Suara pecahan kaca bergema di seluruh penjuru langit. Seratus sinar energi meriam itu retak dan hancur berkeping-keping menjadi debu cahaya, lenyap tertiup angin seolah-olah tidak pernah ditembakkan.
Ketiga Jenderal Emas terhuyung mundur. Keringat dingin seketika membasahi punggung mereka. Menghancurkan tembakan gabungan dari seratus ribu prajurit tanpa menggerakkan satu jari pun? Bahkan Kaisar Suci tidak memiliki kemampuan gaib semacam ini!
"D-dia... dia bukan di ranah Jiwa Baru Lahir!" Jenderal Manusia berteriak panik, pedang raksasanya bergetar di tangannya. "Ini adalah Otoritas Hukum! Dia adalah ahli Transformasi Dewa... atau bahkan lebih tinggi!"
"Mundur! Putar kapal! Kita harus melapor kepada Yang Mulia!" raung Jenderal Langit, seluruh kesombongannya telah menguap digantikan oleh teror yang mencengkeram jiwa.
Sepuluh kapal raksasa itu buru-buru memutar kemudi, mencoba merobek ruang untuk melarikan diri.
Lin Xuan tersenyum dingin. "Datang tanpa diundang, dan pergi tanpa pamit? Apakah kalian mengira Gunung Bintang Jatuh adalah taman bermain?"
Lin Xuan mengangkat tangan kanannya ke udara, lalu perlahan menggenggam kekosongan.
"Kurungan Kosmik. Hancur."
BOOOOOM!
Gravitasi di seluruh ruang angkasa dalam radius seratus kilometer meningkat jutaan kali lipat secara instan. Langit itu sendiri seolah runtuh menimpa armada emas tersebut.
Suara kayu patah dan besi yang melengkung terdengar memekakkan telinga. Sepuluh kapal perang raksasa kebanggaan Kekaisaran Suci itu diremukkan dari segala arah oleh dinding ruang yang tak kasat mata.
Jeritan histeris dari seratus ribu Pasukan Penghancur Surga terdengar sesaat, sebelum tubuh mereka meledak secara serempak di bawah tekanan mutlak. Seratus ribu kultivator elit, hancur menjadi kabut darah yang mewarnai lautan awan menjadi merah menyala!
Hanya dalam satu genggaman, sepuluh kapal raksasa itu diremukkan menjadi bola besi dan serpihan kayu yang melayang di udara, meneteskan hujan darah yang mengerikan.
Tiga Jenderal Emas yang berada di tahap Puncak Jiwa Baru Lahir tidak langsung mati berkat pelindung zirah pusaka mereka, namun mereka terhempas dari langit bagai burung yang sayapnya dipatahkan.
Bruk! Bruk! Bruk!
Ketiganya menghantam pelataran giok Gunung Bintang Jatuh dengan keras. Zirah emas mereka hancur, tulang-tulang mereka patah di belasan tempat, dan darah terus menyembur dari mulut mereka.
Lin Xuan perlahan turun, mendarat di depan ketiga jenderal yang kini merangkak putus asa di atas genangan darah mereka sendiri.
"K-kau... Iblis macam apa kau?!" Jenderal Langit memuntahkan darah, menatap Lin Xuan dengan mata penuh ketakutan. "Kekaisaran Suci menguasai benua ini! Jika kau membunuh kami, Yang Mulia Kaisar Suci tidak akan membiarkanmu—"
Brak!
Lin Xuan meletakkan kakinya dengan santai di atas kepala Jenderal Langit, menekan wajah ahli Jiwa Baru Lahir itu ke lantai giok.
"Kaisar Suci?" Lin Xuan menyeringai dingin. "Kirimkan pesanku ini padanya saat kau menyeberangi jembatan akhirat. Jika dia berani melangkahkan kakinya ke timur... aku akan menjadikan istananya sebagai kandang untuk anjing penjagaku."
"Guk!" Xiao Hei, yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Lin Xuan, menyahut dengan ceria sambil menyemburkan sedikit api neraka dari hidungnya.
Lin Xuan tidak memberi kesempatan bagi dua jenderal lainnya untuk memohon. Ia menekan ujung kakinya sedikit.
BANG!
Kepala Jenderal Langit meledak bagai buah semangka yang terlindas kereta api. Bayi spiritual (Nascent Soul) miliknya mencoba melesat kabur dari tubuhnya yang hancur, namun Lin Xuan hanya mendengus, dan bayi spiritual itu langsung terbakar menjadi abu oleh api tak kasat mata.
Jenderal Bumi dan Jenderal Manusia menjerit histeris melihat kakak seperguruan mereka dihapus eksistensinya begitu saja. Sebelum mereka bisa merangkak mundur, Lin Xuan menjentikkan jarinya dua kali.
SYUT! SYUT!
Dua bilah angin hukum alam menembus Dantian mereka, menghancurkan Jiwa Baru Lahir dan tubuh fisik mereka sekaligus.
Ketiga Jenderal terkuat dari Kekaisaran Suci, tewas tanpa sisa di pelataran Sekte Bintang Jatuh. Sisa-sisa kabut darah di langit perlahan tersapu oleh Hujan Roh Cair, mengembalikan kesucian gunung tersebut seolah pembantaian massal tadi tidak pernah terjadi.
Di dalam Paviliun Kitab Suci, Ye Chen, Su Yue'er, dan Tetua Yan menyaksikan seluruh kejadian itu melalui jendela dengan tubuh gemetar tak terkendali.
Menghancurkan seratus ribu elit dan tiga ahli puncak hanya dengan beberapa kata dan satu genggaman? Su Yue'er kini seratus persen yakin, gurunya adalah seorang Dewa Pencipta yang menyembunyikan identitas aslinya dari hukum langit!
Sementara itu, melodi terindah yang pernah didengar Lin Xuan akhirnya berbunyi di kepalanya.
[Ding! Misi Pertahanan Epik: Dewa yang Murka Berhasil Diselesaikan!]
[Penilaian: Sempurna. Tidak ada kerusakan pada fasilitas sekte. Kerusakan moral musuh: Maksimal.]
[Hadiah Diberikan: 10.000 Poin Sekte!]
[Hadiah Diberikan: Tiket Undian Artefak Kosmik (1x)!]
[Hadiah Diberikan: Kartu Pemanggilan Tetua Sekte (Tingkat Transformasi Dewa)!]
Mata Lin Xuan berbinar terang. Sepuluh ribu poin! Dan yang lebih gila lagi, sebuah kartu pemanggilan Tetua tingkat Transformasi Dewa! Ini berarti ia akhirnya akan memiliki bawahan setingkat Kaisar Suci untuk melakukan pekerjaan kotor di luar batas wilayah sektenya!
Lin Xuan merapikan jubahnya, berbalik, dan berjalan kembali ke meja tehnya. Ia mengangkat cangkir teh yang ia tinggalkan beberapa saat lalu.
Tehnya masih hangat.
"Sistem," gumam Lin Xuan sambil menyesap tehnya dengan senyum puas. "Mari kita buka undian kosmik itu sekarang."