“Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali”
Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriarki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak dicintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi—majikan tempatnya bekerja.
Namun, kisah cinta Ana dan Huang Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Keberangkatan Ana
29 November, Bandara Taoyuan
“Cepat … cepat .…”
“Cepat sedikit jalannya .…”
“Jangan malas-malas ayo cepat .…”
Riuh suara petugas bandara menyambut saat Ana baru menginjakkan kaki di Negara yang ‘katanya’ syahdu, Taiwan. Rasa lega bercampur haru menyelimuti hati wanita paruh baya itu, dengan langkah mantap dia menyusuri lantai dingin bandara menghirup banyak-banyak udara yang terasa seperti kehidupan baru untuknya.
Tatapannya datar pada barisan koper yang menunggu di jemput pemiliknya, namun pikirannya menerawang kejadian dua hari silam, saat ia memberitahukan jadwal keberangkatannya pada sang suami.
“Mana mungkin orang PT bilangnya mendadak, sih, An. Pasti satu seminggu sebelumnya sudah ada info?!” berang Roy dari balik panggilan telepon.
“Bener, Mas. Aku baru sore tadi di kasih tau sama orang PT kalau lusa aku terbang. Ini aja aku sama temen yang barengan terbangnya sampe kedandapan(terburu-buru) nyari persiapannya,” dusta Ana.
“Halah! Itu pasti cuma alasan kamu biar aku nggak dateng ke Bekasi, kamu coba-coba mau bohong sama aku?! Kenapa? Sudah males ketemu suami sendiri?!” cerca Roy.
Ana menghela napas berat, menahan suaranya agak tidak terdengar bergetar. “Kok ngomongnya gitu, sih, Mas. Mana mungkin aku males ketemu kamu,” kilahnya kemudian. “Lagian ini yang kita tunggu ‘kan? Aku bisa cepet berangkat, cepet kerja.”
Roy yang masih terdengar menahan emosinya, mendengus kesal sembari memperingatkan sang istri. “Awas aja kamu sampe coba-coba bohong sama aku!”
“Ndak mungkin aku berani bohong, Mas,” jawab Ana pelan.
“Ya udah, kalau memang kamu lusa berangkat, berarti kamu nggak butuh duit rupiah ‘kan? Kirim semua duitmu yang di rekening,” pungkas Roy.
Ana menggeleng sembari tersenyum getir, ujung dari setiap perdebatan dengan sang suami sudah pasti uang. Wanita yang sudah berumur kepala tiga itu berdehem pelan sebelum menjawab pertanyaan sang suami.
“Nanti aku kirim sekarang aku harus piket masak dulu, Mas.”
Panggilan pun berakhir dengan getir yang mengiris pilu.
Ana yang masih bermain dengan pikirannya sedikit tersentak saat salah seorang teman menepuk pundaknya untuk segera mengambil koper miliknya. Ia menunduk pelan sebagai tanpa permintaan maaf karena sudah menghambat jalan temannya itu.
Perjalanan pun kembali di mulai, di tengah udara dinginnya negara Taiwan, Ana dan semua calon pekerja yang datang hari itu dibawa ke sebuah penginapan sementara untuk menerima pembekalan selama dua hari.
Sebuah proses yang wajib dijalani para pekerja migran dari semua negara yang masuk ke Taiwan sebelum proses akhir—medikal dan di kirim ke agensi masing-masing untuk di antarkan ke rumah majikan.
***
Gerimis mengalun lembut di pagi yang riuh, dari lepas subuh waktu Taiwan semua calon pekerja sudah bersiap menuju kota tujuan. Mobil-mobil van berjejer rapih di parkiran, para sopir sibuk dengan berkas-berkas dan nama calon pekerja yang akan diantarkan.
Ana yang masih bodoh dalam bahasa sedikit kebingungan saat sopir yang akan membawanya dan sepuluh orang yang di dominasi wanita memanggilnya sembari membentak-bentak.
Ia pikir sudah melakukan kesalahan, beruntungnya ada satu orang dalam rombongan Ana yang pintar berbahasa mandarin sehingga bisa membantu komunikasi. Mbak Ika namanya, usianya tak beda jauh dengan Ana dan kebetulan juga berasal dari pulau Sumatra.
“Jangan takut, orang sini memang begitu kalau ngomong,” ujar Mbak Ika, saat melihat raut bingung teman satu rombongannya. “Jangan melakukan apapun, kecuali dia panggil nama kalian,” lanjutnya setelah sopir itu dengan galak membentak satu orang yang mencoba membuka pintu mobil sendiri.
Ana yang kebetulan duduk tepat di samping Mbak Ika tersenyum ramah sembari menundukkan kepala. Ia pun memberanikan diri berbasa-basi menyapa.
“Mbak sudah Ex Taiwan(sebutan untuk orang yang sudah pernah bekerja sebelumnya) berapa tahun?” tanyanya pelan.
“Baru tiga tahun, Mbak,” sahut Mbak Ika sedikit berbisik. “Jangan bicara kenceng-kenceng, nanti itu sopir kalau ndak suka bisa marah,” imbuh Mbak Ika.
Seketika, Ana menutup mulutnya dengan tangan, matanya mengerjap pelan, takut kalau-kalau suaranya sampai ke bangku depan.
Mbak Ika yang melihat ekspresi Ana terkekeh pelan. “Kamu dapet job jaga apa,” tanyanya kemudian.
“Jaga Ama(sebutan untuk nenek), Mbak.”
“Daerah?”
Ana melihat ke arah depan sekilas, menunggu nama yang akan di panggil saat sang sopir berhenti dan mulia membuka berkas di depan kemudinya. Beruntungnya bukan namanya atau Mbak Ika yang di sebut oleh si sopir galak.
“Distrik Da’an, Mbak,” jawab Ana, melanjutkan obrolannya dengan Mbak Ika yang sempat terputus.
“Kita deket berarti satu arah, semoga satu agensi. Aku juga Distri Da’an,” ucap Mbak Ika, seolah memberi secercah harapan untuk Ana.
“Biasanya kita bisa lancar bahasa berapa lama, Mbak?” tanya Ana, memanfaatkan keadaan saat sopir sedang turun dan mengantar satu anak yang tadi di panggilnya.
“Kalau majikan sering ngajak ngobrol, enam bulan juga sudah lancar. Pelan-pelan aja belajar bahasa, majikan sini rata-rata sudah paham kok kalau belajar bahasa itu susah,” jelas Mbak Ika.
Sayangnya obrolan keduanya harus berakhir saat mobil kembali jalan dan nama Mbak Ika yang di panggil berikutnya. Sebelum turun keduanya sempat bertukar nomor telepon dan berjanji akan bertemu di hari mendatang.
Mobil pun kembali berjalan, membawa Ana menyusuri jalanan kota Taipe yang terasa asing namun menyimpan sejuta harapan. Tidak begitu lama mobil itu kembali berhenti, kali ini nama Ana yang di panggil.
Wanita paruh baya itu pun turun dengan perasaan sedikit takut kalau-kalau dia kembali di bentak karena tidak mengerti bahasa. Sopir yang sudah sedikit tua itu membawa Ana memasuki sebuah gedung dan memintanya untuk duduk di lobinya.
Setelahnya, tanpa mengatakan apapun sopir itu meninggalkan Ana sendiri, membuat ia plonga-plongo seketika.
Bersambung
awas 👊🏻
semangat thor untuk selalu berkarya. sehat selalu
klu yg kecil pasti anak'a roy kan?