Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Parasit yang Mengetuk Pintu dan Ancaman Pemutusan Kontrak 30 Miliar
Kehadiran Kinara Inka di dalam kediaman mewah Menteng mengubah seluruh atmosfer kedamaian tempat itu dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Menggunakan alasan klise bahwa dirinya sedang berada dalam kondisi trauma psikologis yang hebat dan merasa terancam oleh jaringan pengawasan orang tua Kyle di luar sana, Kinara dengan kelicikan bicaranya yang luar biasa berhasil memanipulasi perasaan Kyle. Air mata yang terus mengalir di atas sofa beludru, diiringi tatapan mata yang rapuh, akhirnya membuat Kyle Ernest melanggar akal sehatnya sendiri.
Pria beraura es itu menyetujui permintaan Kinara untuk tinggal sementara waktu. Ia mengizinkan wanita seksi itu menempati salah satu kamar tamu VIP di lantai satu, tepat di bawah koridor utama, tanpa memedulikan kenyamanan atau meminta pendapat formal dari Nadine Lavena yang berstatus sah sebagai istrinya di mata hukum.
Sejak hari pertama menapakkan kaki di rumah itu, Kinara mulai menunjukkan tabiat aslinya. Wanita itu sengaja berjalan-jalan di sekitar lantai satu dengan mengenakan pakaian tidur sutra yang sangat tipis, minim, dan menantang, mencoba segala cara untuk menarik perhatian Kyle sekaligus memprovokasi emosi Nadine. Setiap kali berpapasan di koridor atau ruang makan, Kinara selalu melemparkan tatapan mata yang dipenuhi nada penghinaan dan senyuman sinis. Ia menganggap Nadine hanyalah seorang wanita pajangan yang tidak memiliki kekuatan apa pun untuk mempertahankan posisinya.
Nadine sendiri memilih bersikap acuh tak acuh secara total. Selama hak keuangan bulanan sebesar seratus juta rupiah mengalir lancar ke rekeningnya dan draf pasal kontrak dihormati, ia tidak memiliki alokasi waktu atau energi emosional untuk mengurusi keberadaan wanita parasit tersebut. Ia tetap menjalankan rutinitas memasak dan membacanya dengan ketenangan mutlak sebuah ketidakpedulian yang justru mulai membuat Kinara merasa kesal karena merasa provokasinya sama sekali tidak mempan.
Ketidaksenangan Kinara akhirnya berlanjut pada tindakan sabotase kecil. Mengetahui bahwa Kyle sangat menyukai kerapian dan ketenangan, Kinara dengan sengaja membuat beberapa kekacauan di area dapur bersih saat Nadine sedang tidak berada di tempat. Menumpahkan minyak masak di atas lantai marmer, hingga mengotori peralatan masak baja antikarat yang baru saja dibersihkan. Begitu Kyle pulang, Kinara dengan cepat membalikkan fakta, berakting seolah-olah Nadinelah yang ceroboh dan tidak bisa mengurus rumah dengan baik.
Kyle sempat mengernyitkan dahi beberapa kali saat melihat ketidakrapian di area dapurnya. Namun, setiap kali ia mencoba menanyakan hal tersebut di depan Kinara, Nadine hanya menyahutnya dengan seulas senyuman tipis yang dingin.
"Rumah ini adalah milik Anda, Pak Kyle. Jika Anda merasa performa kebersihan di tempat ini menurun sejak kedatangan tamu agung Anda, silakan potong saja gaji kurir pembersih Anda, bukan hak pelayanan kontrak saya."
Jawaban acuh tak acuh itu entah mengapa justru membuat Kyle merasa frustrasi di dalam dada. Ada sekat transparan yang terasa semakin tebal memisahkan dirinya dari Nadine sejak ia membawa Kinara masuk ke dalam rumah. Sebuah getaran ketidaknyamanan mulai tumbuh di dalam hati Kyle sebuah dilema emosional di antara bayang-bayang masa lalu yang ia yakini tulus dan realita kenyamanan baru yang perlahan mulai runtuh di bawah atap rumah Menteng.
Aroma tumisan cumi pedas dengan limpahan daun kemangi yang gurih menyengat, berpadu dengan wangi nasi pandan yang baru matang, memenuhi udara ruang makan lantai satu sore itu. Nadine baru saja selesai menata beberapa piring hidangan di atas meja makan kayu jati panjang saat langkah kaki manja Kinara terdengar berjalan mendekat dari arah koridor kamar tamu.
Malam ini, Kinara mengenakan sebuah gaun rumah pendek berbahan sutra tipis berwarna merah muda yang sangat ketat. Potongannya yang rendah mengekspos bagian dada dan paha secara terang-terangan. Wanita itu duduk di salah satu kursi makan dengan gerakan yang sengaja dibuat sensual, menatap jajaran hidangan buatan Nadine dengan pandangan mata yang dipenuhi nada meremehkan.
"Bahan makanan pedas dan berbau menyengat seperti ini sama sekali tidak cocok untuk kesehatan lambung Kyle yang sensitif, Nadine. Selama lima tahun di London, aku selalu memesankan menu salad sayur organik dan steak daging sapi premium tanpa lemak untuknya. Kamu ini... benar-benar tidak tahu apa-apa mengenai selera dan kebutuhan suamimu sendiri, ya?"
Nadine tidak segera memberikan tanggapan. Jemari lentiknya bergerak tenang menuangkan air putih hangat ke dalam gelas pribadinya, sebelum akhirnya mengambil posisi duduk di kursi ujung meja makan dengan keanggunan alami yang mutlak.
"Nona Kinara Inka yang terhormat, status keberadaan Anda di dalam rumah mewah ini hanyalah sebatas seorang tamu pelarian yang menumpang tidur di kamar tamu lantai bawah atas dasar belas kasihan masa lalu dari Pak Kyle. Tugas dan kewajiban saya di tempat ini hanyalah memasak makanan yang saya sukai untuk dinikmati secara pribadi. Jika Pak Kyle memilih untuk membayar mahal demi bisa ikut menikmati hidangan dari dapur saya, itu murni urusan transaksi bisnis di antara kami berdua. Jadi, kurasa Anda tidak memiliki kapasitas atau hak legal apa pun untuk mengurusi menu makanan di atas meja ini."
Wajah cantik Kinara mendadak memerah padam karena merasa terhina oleh jawaban dingin Nadine yang sangat logis. Namun, sebelum wanita itu sempat membalas, suara langkah kaki tegap Kyle terdengar berjalan memasuki area ruang makan.
Dalam sekejap mata, Kinara langsung mengubah raut wajahnya menjadi sangat sedih, rapuh, dan dipenuhi gurat ketakutan yang dramatis. Ia buru-buru memajukan kursi makannya mendekati posisi Kyle yang baru saja duduk di kursi utama, lalu menyentuh lengan kemeja pria itu dengan jemari tangan yang sengaja dibuat bergetar hebat.
"Kyle... maafkan aku. Aku tadi hanya mencoba memberikan saran baik kepada Nadine agar dia memasak makanan yang lebih sehat untuk kesehatan lambungmu yang sering bermasalah setelah pulang kerja. Tapi... tapi Nadine justru memarahi diriku dengan kata-kata yang sangat kasar, Kyle. Dia mengingatkan diriku bahwa aku hanyalah seorang wanita parasit yang menumpang hidup di rumah ini atas dasar belas kasihan. Aku... aku merasa sangat terhina dan takut berada di sini, Kyle..."
Tangisan Kinara pecah dengan sangat rapi, menyembunyikan wajahnya di balik bahu tegap Kyle seolah ia adalah korban yang teramat tertindas.
Kyle mengernyitkan dahinya dengan rapat, merasakan kepalanya mendadak pening mendengar drama tangisan di meja makan. Sepasang mata tajamnya yang sedingin es beralih menatap lurus ke arah wajah Nadine yang sedang menikmati sepotong cumi pedas dengan ketenangan yang mutlak. Wanita itu bersikap seolah-olah adegan tangisan di hadapannya hanyalah sebuah angin lalu yang tidak penting.
"Nadine, apakah benar kamu mengucapkan kata-kata kasar seperti itu kepada Kinara? Dia sedang berada dalam kondisi mental yang tidak stabil, kurasa kamu bisa bersikap lebih bijak dan menjaga kalimatmu di dalam rumah ini."
Nadine meletakkan sendok peraknya ke atas piring dengan ketukan pelan yang konstan. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata kelabu milik Kyle dengan seulas senyuman tipis yang dipenuhi keacuhan yang mutlak.
"Tuan Ernest yang terhormat, jika Anda memilih untuk memercayai seluruh skenario drama air mata dari wanita masa lalu Anda ini tanpa repot-repot memeriksa fakta realita yang ada, silakan saja. Itu adalah hak prerogatif Anda sebagai pemilik rumah ini. Namun, saya perlu mengingatkan Anda kembali mengenai draf perjanjian kontrak kita yang sah. Jika Anda merasa kehadiran saya di rumah ini mengganggu kenyamanan emosional wanita tulus Anda, silakan putuskan kontrak kita malam ini juga. Saya akan dengan sangat senang hati mengemas koper saya dan pergi dari tempat ini dalam waktu lima belas menit, sepanjang Anda membayar lunas hak sisa gaji saya dan tidak menuntut denda tiga puluh miliar yang konyol itu."
Mendengar jawaban telak yang keluar dari mulut Nadine, Kyle seketika terbungkam seribu bahasa. Ada rasa frustrasi dan kekesalan asing yang mendadak membakar dadanya melihat betapa ringannya Nadine mengucapkan kata pergi dan memutuskan hubungan pernikahan mereka tanpa ada beban emosional sedikit pun.
Pria beraura es itu menyadari dengan sangat pahit bahwa di dalam hati Nadine, posisinya sebagai seorang suami kontrak benar-benar tidak memiliki nilai sentimental sedikit pun selain sebaris angka nominal uang harian. Sementara di sebelahnya, Kinara menatap Nadine dengan kilat mata yang dipenuhi rasa dendam yang kian membara, menyadari bahwa wanita berparas unik ini adalah lawan yang jauh lebih cerdik dan sulit ditundukkan daripada yang ia duga sebelumnya.
{Aku benar-benar tidak peduli dengan drama rumah tangga kalian. Bayar sisa kontrakku, atau biarkan aku menikmati makan malamku dengan tenang. Tiga puluh miliar itu hanya gertakan murahan bagi orang yang tahu persis posisinya.}
Nadine kembali meraih sendoknya, melanjutkan makan malamnya dengan gerakan yang luar biasa tenang di bawah tatapan membeku dari dua orang di hadapannya. Keheningan dingin kembali merayap di ruang makan Menteng, namun kali ini, retakan pada dinding es milik Kyle Ernest terasa semakin nyata dan tak terhindarkan.