Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.
Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.
Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Nadia menundukkan kepala. Matanya kembali berkaca-kaca. Di tengah banyak orang yang tega memanfaatkan kesulitannya, ternyata masih ada orang asing yang memilih membantu tanpa merendahkan.
***
Hari itu, Dila datang mengunjungi kontrakan Nadia. Begitu melihat tempat tinggal sahabatnya yang sederhana, hatinya semakin sesak. "Nad, kenapa kamu nggak pernah cerita?" tanyanya pelan.
Nadia hanya tersenyum tipis. "Nggak ada yang perlu diceritakan."
"Kamu masih nunggak SPP Kian?" Nadia menggeleng. Dila menghela napas panjang. "Jangan bilang... Reno juga nggak mau bayar?"
"Dia bilang itu bukan urusannya lagi."
Mendengar jawaban itu, wajah Dila memerah menahan amarah. "Benar-benar keterlaluan! Itu anaknya juga, Nad!"
Nadia menunduk. "Sudahlah. Aku nggak mau ribut. Yang penting Kian tetap sekolah."
Justru sikap pasrah Nadia membuat hati Dila semakin sakit. Selama ini sahabatnya memikul semuanya sendirian, sementara Reno hidup nyaman tanpa merasa bersalah. Malam harinya, setelah pulang dari kontrakan Nadia, Dila membuka media sosial. Berkali-kali ia menatap foto Nadia bersama Kian sebelum akhirnya mulai mengetik. "Aku mengenal seorang ibu luar biasa. Demi anaknya tetap bisa sekolah, ia bekerja tanpa kenal lelah. Mantan suaminya memilih lepas tangan, bahkan menolak membayar SPP anaknya sendiri. Namun ibu ini tidak pernah meminta belas kasihan. Ia hanya terus berjuang sambil menyembunyikan air matanya."
Dila sengaja tidak menyebut nama maupun identitas Nadia dan Reno. Ia hanya ingin orang-orang tahu bahwa masih ada ibu yang berjuang sendirian demi masa depan anaknya. Tak disangka, unggahan itu menyentuh hati banyak orang. Memang di negeri ini, urusan ayah menelantarkan anak adalah topik yang bisa membuat panas netizen, apalagi kalau ayahnya berselingkuh. Bisa habis dikuliti.
Dalam hitungan jam, ribuan akun membagikannya. Kolom komentar dipenuhi doa, dukungan, dan rasa geram kepada sosok ayah yang tega menelantarkan anaknya. Keesokan paginya, kisah tersebut telah viral di berbagai platform media sosial.
Tanpa sepengetahuan Nadia, perjuangannya menjadi perbincangan banyak orang. Simpati publik mengalir deras, sementara di sisi lain, badai perlahan mulai mendekati Reno.
Unggahan pertama Dila telah dibagikan puluhan ribu kali. Namun rasa geramnya kepada Reno belum juga reda. Malam itu, ia kembali membuka media sosial. "Aku tidak ingin lagi menyembunyikan identitas mereka. Terlalu lama Nadia dan anaknya menderita sendirian."
"Korban: Nadia."
"Mantan suami yang menelantarkan anaknya: Reno."
"Perempuan yang kini bersamanya: Karin."
"Mereka mengelola sebuah kafe yang lagi naik daun." Hanya itu. Dila tidak menuliskan alamat, nomor telepon, ataupun data pribadi lainnya. Namun, internet bergerak jauh lebih cepat daripada yang ia bayangkan.
Dalam hitungan jam, ribuan warganet mulai menyusun potongan-potongan informasi. Ada yang menelusuri media sosial, ada yang mencocokkan foto-foto lama, ada pula yang menemukan unggahan Reno dan Karin yang pernah memperlihatkan suasana kafe mereka.
"Sepertinya ini orangnya."
"Aku pernah lihat mereka."
"Bukannya ini pemilik Kafe Setia?"
Komentar demi komentar terus bermunculan. Tak lama kemudian, identitas Reno dan Karin menyebar luas di berbagai platform. Banyak akun yang mengunggah ulang foto mereka, lengkap dengan tangkapan layar unggahan lama yang dianggap menjadi bukti hubungan keduanya.
Keesokan paginya, media sosial Kafe Setia diserbu ribuan komentar. Sebagian besar mengecam Reno karena dianggap mengabaikan tanggung jawab sebagai ayah. Sebagian lainnya menyatakan kecewa dan memilih berhenti menjadi pelanggan.
Sementara itu, Reno yang baru bangun tidur terkejut melihat ponselnya dipenuhi ratusan notifikasi. "Apa-apaan ini?" gumamnya.
Belum sempat memahami situasi, telepon dari Karin masuk. "Reno! Cepat ke kafe! Di sini kacau! Semua orang membicarakan kita!"
Tak butuh waktu lama bagi warganet untuk menyusun kepingan-kepingan informasi yang beredar. Dari unggahan lama di media sosial, foto-foto yang pernah dibagikan, hingga berbagai jejak digital yang masih tersimpan, mereka akhirnya mengetahui bahwa Reno adalah pemilik kafe Setia. Ironis.
Nama kafe itu adalah Setia, tetapi pemiliknya justru dituding tidak setia kepada istrinya dan mengabaikan tanggung jawab terhadap anaknya sendiri. Tagar tentang Reno dan Cafe Setia pun mulai bermunculan. Ribuan komentar membanjiri akun media sosial kafe tersebut.
"Kalau pada keluarga saja tidak setia, bagaimana pelanggan bisa percaya?"
"Saya batal datang."
"Anak sendiri ditelantarkan, tapi bisnis minta didukung?"
Gelombang kecaman itu berdampak besar. Rating Cafe Setia merosot dalam waktu singkat. Banyak pelanggan membatalkan reservasi dan memilih memboikot kafe tersebut. Di google maps bahkan ratingnya sudah bintang satu.
Beberapa rekan bisnis yang sebelumnya menjalin kerja sama mulai menjaga jarak. Bahkan, seorang investor yang sedang dalam tahap pembicaraan memutuskan mundur karena khawatir citra usahanya ikut terdampak oleh kontroversi yang terus membesar. Dalam hitungan hari, bisnis yang selama ini dibanggakan Reno mulai goyah. Semua itu berawal dari satu unggahan yang mengungkap perjuangan seorang ibu yang selama ini memilih diam.
Reno menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Notifikasi terus berdatangan tanpa henti. Ribuan komentar memenuhi akun media sosial Cafe Setia. Rating kafenya terus merosot. Pelanggan membatalkan pesanan, sementara telepon dari rekan bisnis tak putus-putus masuk. "Astaga... ini benar-benar hancur..." gumamnya dengan wajah pucat.
Baru kali ini Reno merasakan betapa dahsyatnya kekuatan warganet. Dalam waktu yang begitu singkat, bisnis yang ia bangun selama bertahun-tahun seakan runtuh berkeping-keping. Dadanya mulai terasa perih. Ia memegangi ulu hati, napasnya memburu. "Uh..." Rasa nyeri menjalar semakin hebat. Maghnya kambuh akibat kepanikan dan tekanan yang datang bertubi-tubi.
"Kang Reno!" seru salah seorang karyawan yang melihat wajahnya mendadak pucat pasi.
Reno berusaha berdiri, tetapi pandangannya mulai berkunang-kunang. Tubuhnya limbung hingga hampir terjatuh.
"Kursi... cepat..." Seorang karyawan segera menopangnya, sementara yang lain bergegas mengambil air minum.
Di tengah rasa sakit yang menusuk lambungnya, Reno hanya bisa menatap layar ponsel yang terus dipenuhi notifikasi. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Nadia dan Kian, ia benar-benar merasakan akibat dari semua keputusan yang pernah ia anggap sepele.
"Pak, sebaiknya kita tutup dulu kafenya hari ini," usul sang manajer dengan wajah tegang.
Reno menggeleng pelan sambil menahan nyeri di ulu hati.
"Nggak! Kalau tutup, orang-orang akan makin yakin kita bersalah."
"Tapi tamu yang datang cuma sedikit, Pak. Yang datang pun kebanyakan hanya memotret, lalu pergi. Ada juga yang sengaja merekam untuk diunggah ke media sosial."
Belum sempat Reno menjawab, ponselnya kembali berdering. Nama investor yang selama ini ia harapkan terpampang di layar. Dengan tangan gemetar, Reno mengangkat panggilan itu. "Selamat siang, Pak."
Suara di seberang terdengar dingin. "Maaf, Reno. Setelah mempertimbangkan situasinya, kami memutuskan menghentikan pembicaraan investasi."
"Pak, tunggu dulu. Ini hanya kesalahpahaman."
"Kami tidak bisa mengambil risiko. Reputasi perusahaan kami dipertaruhkan." Sambungan telepon terputus. Reno mematung.