NovelToon NovelToon
Tawaran Sang Raja Mafia

Tawaran Sang Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Action
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.

Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.

Namun, kematian itu hanyalah awal.

Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.

Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?

Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 : Wulandari Kusuma

#

Forum ekonomi itu diadain di sebuah hotel bintang lima di pusat Jakarta, acaranya bertajuk "Masa Depan Investasi Asia Tenggara: Transparansi vs Kerahasiaan", dan Rendra Alief, atas saran Kirana, dateng sebagai salah satu peserta undangan, bukan pembicara, cuma duduk di antara ratusan pengusaha dan investor lain, tujuannya sederhana, mulai kenalin wajah Rendra Alief di kalangan bisnis Jakarta, pelan pelan, tanpa keliatan terlalu mencolok.

"Kenapa saya harus ikut acara kayak gini sih," Rendra ngeluh, di mobil, pagi itu, "kan lebih efisien kalo saya kirim perwakilan aja kayak biasa."

"Karena," Kirana jawab, dari kursi depan, sambil ngeliatin hp nya, "sekarang kamu udah balik ke Jakarta, Rendra, dan orang orang bisnis di sini butuh liat wajah kamu sekali sekali, biar nggak keliatan terlalu misterius, terlalu mencurigakan. Investor yang kelewat sembunyi malah bikin orang curiga."

"Ribet banget."

"Emang," Kirana ngangkat bahu, "tapi ini bagian dari rencana. Sabar."

Acara itu berlangsung di ballroom gede, penuh sama orang orang berjas rapi, dan salah satu sesi panel yang jadi sorotan hari itu ngebahas soal transparansi investasi, dengan salah satu pembicara tamu, seorang jurnalis independen bernama Wulandari Kusuma.

Begitu Rendra liat dia jalan naik ke panggung, dia langsung inget nama itu, nama yang udah dia simpen di catetannya bertahun tahun, dan sekarang, buat pertama kalinya, dia liat orangnya langsung. Perempuan itu keliatan tegas banget, cara jalannya, cara dia duduk di kursi panelis, matanya tajem, penuh kewaspadaan, kayak orang yang udah terbiasa berhadapan sama orang orang licik dan nggak gampang percaya begitu aja.

"Menurut saya," Wulan mulai, waktu moderator ngasih dia kesempatan ngomong, suaranya lantang, jelas, "investor asing tanpa identitas yang jelas, yang cuma diwakilin lewat perusahaan perusahaan cangkang berlapis lapis, itu bahaya banget buat ekonomi kita. Mereka bisa masuk, ngeruk keuntungan, dan kalo ada masalah, mereka bisa ngilang tanpa tanggung jawab, soalnya emang dari awal identitasnya sengaja disembunyiin."

Ada tepuk tangan dari beberapa orang di audiens, dan Rendra duduk diem, ngerasa sindiran itu, meski nggak langsung nyebut nama, kerasa banget kena ke dia sendiri.

Sesi tanya jawab dibuka, dan Rendra, entah kenapa, ngangkat tangan.

"Iya, silakan," moderator nunjuk ke arahnya.

Rendra berdiri, ngambil mik yang disodorin panitia, "saya mau tanggapi soal pernyataan Ibu Wulandari tadi," dia mulai, suaranya tenang tapi tegas, "menurut Ibu, apakah semua investor yang milih nggak tampil ke publik itu otomatis berarti punya niat jahat?"

Wulan natap ke arahnya, matanya menyipit sedikit, kayak lagi nilai nilai siapa orang yang nanya ini, "nggak semuanya," dia jawab, "tapi pola yang biasa kita liat, orang orang yang paling niat nutupin identitas, biasanya emang punya sesuatu yang mereka nggak mau publik tau. Kalo investasinya bersih, kenapa harus takut tampil?"

"Mungkin," Rendra jawab, "karena dunia bisnis itu keras, Bu. Ada orang orang yang punya alesan personal buat jaga privasi, bukan berarti mereka punya sesuatu yang jahat buat disembunyiin. Kadang, orang milih diem diem karena mereka udah pernah kena, hancur, gara gara terlalu terbuka di masa lalu."

Ada jeda sebentar, Wulan natap dia lebih lama, kayak lagi nangkep sesuatu dari cara Rendra ngomong itu.

"Menarik," Wulan bilang, "tapi menurut saya, itu cuma alesan buat nutupin ketakutan buat bertanggung jawab. Kalo Bapak punya bisnis yang bersih, transparansi itu bukan ancaman, itu justru kekuatan. Yang takut sama transparansi, biasanya emang punya sesuatu buat ditakutin."

"Atau," Rendra ngelanjutin, suaranya makin tajem, "orang yang terlalu ngotot soal transparansi tanpa mikirin konteks, bisa jadi naif soal gimana dunia ini beneran jalan. Nggak semua yang tersembunyi itu jahat, Bu, dan nggak semua yang transparan itu jujur. Perusahaan perusahaan besar yang paling rajin bikin laporan tahunan rapi, seringkali justru yang paling pinter nyembunyiin kebusukan di balik angka angka yang keliatan bersih."

Ruangan itu jadi rada tegang, beberapa orang saling pandang, dan Wulan, yang keliatan agak kesel tapi juga penasaran, ngelanjutin, "Bapak bicara kayak orang yang punya pengalaman langsung soal itu. Boleh tau, perusahaan Bapak bergerak di bidang apa persisnya?"

"Investasi lintas sektor," Rendra jawab, senyum tipis, "dan saya rasa itu udah cukup buat jawaban hari ini."

Wulan ngangguk pelan, tapi matanya masih penuh kecurigaan, dan moderator buru buru motong, "baik, mari kita lanjut ke pertanyaan berikutnya," soalnya keliatan banget suasana debat itu udah mulai memanas.

Setelah sesi panel selesai, waktu jeda coffee break, Rendra lagi berdiri sendirian deket jendela, minum kopi, dan tiba tiba Wulan jalan ke arahnya, langsung, tanpa basa basi.

"Bapak tadi ngomong kayak orang yang defensif banget," Wulan bilang, langsung, "kayak ada yang Bapak sembunyiin."

"Semua orang punya sesuatu yang disembuyiin, Bu Wulan," Rendra jawab, santai, "termasuk Ibu sendiri, mungkin."

"Saya jurnalis. Kerjaan saya justru buat bongkar yang disembunyiin, bukan nyembunyiin."

"Menarik," Rendra ngangkat alis, "tapi Ibu tadi nyebut soal investor asing tanpa nama, seolah olah itu topik random. Saya denger, Ibu lagi ngangkat lagi kasus lama, kasus ledakan pabrik, iya kan?"

Wulan kaget sesaat, matanya melebar dikit, "Bapak tau dari mana soal itu?"

"Saya orang bisnis, Bu. Info itu barang dagangan saya," Rendra jawab, tenang, meski dalem hatinya jantungnya berdebar kenceng, was was jangan sampe kelepasan ngomong sesuatu yang salah.

"Kasus itu," Wulan bilang, suaranya berubah lebih serius, lebih dalem, "kasus itu ngerenggut belasan nyawa, dan orang yang dituduh, sampe sekarang, saya masih yakin dia cuma korban dari permainan yang jauh lebih besar. Saya nggak akan berenti sampe kebenarannya kebongkar."

Rendra diem sebentar, ngeliatin mata perempuan itu, dan dia liat, di baliknya, ada kesungguhan yang bener bener tulus, bukan sekedar ambisi jurnalistik biasa, tapi sesuatu yang lebih personal.

"Kenapa Ibu segitu ngototnya sama kasus itu?" Rendra nanya, pelan.

Wulan diem sebentar, kayak lagi mikir, apakah dia mau jawab jujur atau enggak ke orang asing yang baru dia kenal, dan akhirnya dia bilang, "karena bapak saya salah satu korban yang meninggal di ledakan itu."

Rendra ngerasa dadanya kayak dihantem sesuatu yang berat banget. Dia inget, jelas banget, malem ledakan itu, dia inget teriakan teriakan minta tolong, dia inget kain kain putih yang nutupin mayat mayat yang digotong keluar satu satu, dan sekarang, di depannya, berdiri anak dari salah satu korban itu, yang selama bertahun tahun berjuang sendirian buat cari kebenaran, sementara orang yang dituduh jadi penyebabnya, ternyata, juga korban dari kebohongan yang sama.

"Saya turut berduka," Rendra bilang, suaranya beneran tulus, meski dia sendiri nggak bisa cerita alesan sebenernya kenapa dia begitu tersentuh denger itu.

"Terima kasih," Wulan jawab, singkat, dan dia natap Rendra lama, sebelum akhirnya bilang, "tapi itu nggak ngerubah pendapat saya soal investor investor tersembunyi kayak Bapak. Dunia bisnis butuh lebih banyak keterbukaan, bukan lebih banyak bayangan."

"Kita beda pendapat kalo gitu," Rendra jawab, senyum tipis lagi, "tapi saya hargai kegigihan Ibu."

Wulan ngangguk, dan sebelum dia pergi, Rendra nyodorin kartu namanya, "kalo Ibu butuh info soal dunia bisnis, kadang, orang yang 'bersembunyi' kayak saya ini justru tau lebih banyak dari yang keliatan."

Wulan ngambil kartu itu, agak ragu, ngeliatin namanya sebentar, "Rendra Alief," dia baca pelan, "baik, saya simpen. Tapi bukan berarti saya percaya sama Bapak."

"Saya juga nggak minta dipercaya," Rendra jawab, "cuma nawarin."

Wulan pergi, jalan ke arah kerumunan lain, dan Rendra berdiri sendirian lagi deket jendela, ngeliatin punggung perempuan itu yang jalan dengan langkah tegas, penuh tekad.

Kirana, yang dari tadi ngamatin dari jauh, jalan mendekat, "gimana?" dia nanya.

"Dia nggak suka sama saya," Rendra jawab, jujur, "dia pikir saya arogan."

"Dan kamu?"

"Saya pikir dia naif," Rendra bilang, tapi ada nada lain di suaranya, nada yang bikin Kirana ngeliatin dia lebih lama, "tapi dia juga... keras kepala banget, gigih. Dia nggak tau, tapi dia lagi nyari kebenaran yang sama kayak saya."

Kirana diem sebentar, terus bilang, pelan, "hati hati, Rendra. Orang kayak dia, kalo terlalu deket sama kamu, bisa jadi bahaya buat penyamaran kamu."

"Saya tau," Rendra jawab, ngeliatin lagi ke arah kerumunan, ke sosok Wulan yang udah makin jauh, "tapi entah kenapa, saya ngerasa, kita bakal ketemu lagi."

Di sisi lain ruangan, Wulan berdiri sendirian sebentar, ngeliatin kartu nama yang baru aja dia terima, jarinya megang kartu itu erat, dan dia mikir, bukan soal ketertarikan personal atau apapun kayak gitu, tapi ada sesuatu di cara Rendra Alief ngomong tadi, cara dia terlalu tau banyak soal kasus ledakan pabrik itu, cara dia defensif banget soal investor investor tersembunyi, yang bikin insting jurnalistiknya, insting yang udah dia asah bertahun tahun, mulai berdenging kenceng.

Ada sesuatu yang janggal soal orang itu. Dan Wulandari Kusuma, kalo udah nyium sesuatu yang janggal, dia nggak akan pernah berenti sampe dia tau apa itu.

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lanjut kak... tetap semangat berkarya 💪🏻💪🏻🥰🥰🥰
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
iihhh aku gak mau nebak2 ah.. salah mulu giliran nebak nya🤭🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wuiihh gak nyangka komisaris dong😱😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
mungkinkah dia juga sama seperti kamu sekarang.... 🤔🤔🤔wah plot twist banget kak....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wah itak udang nya masih ada toh... kirain si Wisnu ini otak udang nya... 🤔🤔
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
sok lah Rendra hancurkan semua yang telah merampas juga menghancurkan hidup kamu juga ayahmu 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waahh ada udang dibalik bakwan tuh... enak... 🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: wali tuh.. 🤭🤭
total 2 replies
Wawan
Salam kenal buat Damar 👍
alunanfiksimalam
sepertinya dia di jebak
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kalau om Made tahu dia adalah anaknya Ariel,waah bakalan gimana dia senengnya ya🤭🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
ternyata masih banyak juga orang2 yang bener....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
mata hati seorang ayah 😥😥😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
dan doa2 tersebut menjadi kenyataan..
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
berasa anak sendiri😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apa mungkin Rendra sengaja mau nunjukin sedikit petunjuk buat om Made 🤔🤔👍🏼👍🏼👍🏼
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaaah om Made hebat. bisa nebak cuman dengan gaya bicara aja... se dekat itu kalian dulu sama Damar... semoga semua bisa cepat terungkap.. eh... jangan duku ketang . kalau terungkap ya ceritanya tamat dong🤭🤭🤭lanjut kak... tetap semangat💪🏻💪🏻👍🏼👍🏼
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
hati nurani mulai tergerak....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
takdir memang gak pernah ada yang tahu kan....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
insting pemburu berita🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
cakep..... lanjutkan 👍🏼👍🏼
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!