NovelToon NovelToon
The Secret of Love

The Secret of Love

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Fantasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:697.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: embun_senja

Menceritakan tentang kehidupan seorang gadis yatim piatu yang mengalami masa-masa sulit dalam kehidupannya.

Semua bermula sejak kematian kakeknya yang tewas terbunuh saat dia masih kecil, hingga dirinya yang dijual dan dijadikan sebagai gadis penghibur di sebuah rumah bordil ternama yang mengubahnya menjadi salah seorang wanita penghibur yang menjadi favorit para bangsawan dan pejabat istana.

Hingga suatu saat, dia harus memutuskan untuk masuk ke lingkungan istana karena kematian kekasihnya yang ternyata dalang dari seseorang yang tinggal di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embun_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 6

Lian menatap sepatu baru yang dibeli Mei Yin padanya. Di dalam hatinya, Lian mengakui kebaikan majikannya itu. Walau hari ini adalah hari pertamanya bekerja, tapi gadis itu memperlakukannya seperti mereka sudah mengenal sejak lama.

Sikap Mei Yin yang selalu ceria, baik, dan sopan kepada siapa saja, membuat Lian mulai mengagumi gadis itu. Dan mungkin saja, dia akan merasa betah bekerja pada majikan barunya itu.

"Lian, bagaimana kerjamu hari ini?" tanya seorang lelaki paruh baya padanya saat dia sedang duduk istirahat di ruangannya.

"Baik, Paman. Kenapa, Paman bertanya seperti itu?" tanya Lian dengan wajahnya yang sedikit terheran-heran.

"Bukan apa-apa. Kamu sebaiknya menjaga Nona Mei Yin dengan baik. Dia itu adalah aset berharga di tempat ini," jelas lelaki itu.

Lian mengangguk pelan. Dia tahu, keselamatan majikannya itu sangat penting dan dia akan menjaga gadis itu dengan sekuat kemampuannya.

Di dalam kamarnya, Mei Yin teringat kembali dengan sosok pemuda yang menunggangi kuda saat di jalan kota tadi. Dia merasa kalau wajah pemuda itu tidak asing baginya. Setelah mencoba-coba untuk mengingat, akhirnya dia tersenyum karena dia sudah mulai ingat siapa pemuda itu. "Dia itukan, pemuda yang bersama Paman Jenderal saat aku ke istana waktu itu," ucapnya pada dirinya sendiri.

Sementara Liang Yi yang sempat bertatap mata dengannya, juga merasakan hal yang sama. Dia merasa pernah tahu tentang gadis bermata biru itu, hingga dia akhirnya mengingat cerita ayahnya tentang seorang gadis kecil yang bermata biru.

"Apa mungkin gadis bercadar dan bermata biru itu adalah gadis kecil yang pernah diceritakan ayah padaku dulu?" ujar Liang Yi pelan.

"Kalau itu benar, sebaiknya aku ceritakan pada Ayah," ucapnya sambil keluar dari kamarnya dan menemui ayahnya yang sedang berada di ruang baca.

"Ada apa? Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan pada Ayah?" tanya Jenderal Chang Yi pada anaknya itu.

"Apa Ayah sudah tahu keberadaan gadis bermata biru itu?" tanya Liang Yi yang membuat ayahnya segera mengalihkan pandangannya dan menatap ke arahnya.

"Kenapa? Apa kamu pernah bertemu dengan gadis itu?" tanya Jenderal Chang Yi penasaran.

Mendengar pertanyaan ayahnya membuat Liang Yi mulai menceritakan pertemuannya dengan gadis itu.

"Apa kamu yakin mata gadis itu berwarna biru?" tanya Jenderal Chang Yi seakan kurang yakin dengan penuturan anaknya itu.

"Ayah, mata anakmu ini masih sangat baik. Apa Ayah tidak percaya padaku?" Mendengar perkataan anaknya itu membuat Jenderal Chang Yi sedikit berlega hati, karena setidaknya dia tahu kalau ternyata gadis itu masih hidup.

Jenderal Chang Yi merasa sangat bersalah pada gadis itu, hingga membuatnya tidak bisa hidup dengan tenang. Para perampok yang sudah membantai desa itupun sudah ditangkap satu persatu dan dihukum. Jenderal Chang Yi berusaha keras untuk menangkap mereka agar bisa mengurangi rasa bersalahnya pada gadis itu.

"Kalau memang gadis itu adalah gadis yang ayah maksud, maka aku akan kembali lagi ketempat itu untuk mencarinya. Aku akan coba bertanya pada orang-orang di tempat itu. Siapa tahu saja ada di antara mereka yang mengenalinya," ucap Liang Yi yakin.

Keesokan harinya, Liang Yi mulai menyusuri setiap jalan di kota ataupun di pasar dan menanyakan perihal gadis bermata biru itu. Dia pikir, mungkin akan mudah menemukan gadis itu, karena dia adalah gadis satu-satunya yang memiliki mata biru di negeri itu.

"Maaf, Paman. Apakah Paman pernah melihat seorang gadis bercadar yang bermata biru di sekitar sini?" tanya Liang Yi pada seorang pedagang yang berjualan di tempat itu.

Pedagang itu menatapnya dan menggelengkan kepalanya, tanda kalau pedagang itu tidak tahu apa-apa. Dengan kecewa, Liang Yi kemudian pergi meninggalkan pedagang itu.

Sudah setengah hari Liang Yi mencari tahu keberadaan gadis itu, tapi dia tidak menemukan hasil. Dengan perasaan kecewa, Liang Yi akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumahnya.

*****

Di dalam kamarnya, Mei Yin mulai bersiap-siap, karena malam ini dia harus menari di depan tamu yang datang dari kalangan bangsawan. Setelah selesai memilih baju yang pas untuknya, Mei Yin kemudian keluar dan menemui Lian yang sudah menunggunya di depan pintu kamarnya.

"Ayo, kita pergi," ajak Mei Yin dan diikuti pemuda itu dari belakang.

Di sebuah ruangan terbuka yang terletak di dekat sebuah taman, duduk beberapa orang lelaki yang terlihat masih muda. Sepertinya, mereka adalah anak-anak dari keluarga bangsawan.

Melihat kedatangan Mei Yin membuat mereka menjadi heboh sendiri. Mereka penasaran dengan tariannya yang sudah sangat terkenal itu.

Walau mereka sudah ditemani oleh beberapa wanita, tapi perhatian mereka masih tertuju kepadanya, walau mereka sendiri tidak tahu seperti apa rupa wajahnya itu.

"Cepatlah! Kami sudah ingin melihatmu menari," ucap seorang pemuda yang terlihat mulai mabuk.

Melihat keadaan pemuda-pemuda itu yang mulai mabuk membuat Lian memilih berdiri di dekat Mei Yin. Dia tidak ingin pemuda-pemuda itu melakukan hal yang tidak pantas pada gadis itu.

Perlahan, seorang gadis mulai memainkan kecapi dengan lihainya dan diikuti dengan tarian yang mulai dilakukan oleh Mei Yin. Tarian itu terlihat sangat indah dan membuat pemuda-pemuda itu memandanginya. Liukan tubuhnya terlihat serasi dengan petikan kecapi yang membuat semua orang di tempat itu berdecak kagum padanya.

Melihat Mei Yin menari membuat pemuda-pemuda itu berdiri dan ikut menari bersamanya. Mereka terlihat mulai mabuk karena sedari tadi sudah disuguhi dengan arak.

Melihat tingkah pemuda-pemuda itu membuat Mei Yin mulai risih. Sementara Lian, mulai merasa kalau majikannya itu sudah merasa tidak nyaman.

Mei Yin masih terus menari karena dia tidak ingin tamu-tamu itu kecewa padanya. Karena itu, dia berusaha untuk tetap fokus hingga akhirnya, tangan salah seorang dari pemuda-pemuda itu melayang ke arahnya dan menarik penutup wajahnya hingga terlepas.

Dengan sekejap, Mei Yin kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi pemuda-pemuda itu sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Hingga akhirnya, dia melihat seseorang datang dan langsung mendekap tubuhnya ke dada bidang orang itu yang tidak lain adalah Lian. Sejenak, mereka berdua saling memandang dan wajahnya yang cantik itu dengan mudahnya dilihat oleh Lian. Melihat wajah Mei Yin dengan sorot mata yang begitu indah berdiri di depannya, membuat dia segera mengalihkan pandangannya ke tempat lain.

Tiba-tiba saja, suasana menjadi gaduh karena wanita-wanita itu mulai berlari meninggalkan ruangan itu. Mereka lari karena melihat Lian yang sudah menghunuskan pedangnya ke arah pemuda-pemuda tadi.

Beberapa orang penjaga juga mulai berdatangan dan mengamankan mereka. Sementara Hua Feng dan Jiya, juga sudah datang ke tempat itu.

"Mei Yin, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Hua Feng khawatir sambil memberikan penutup wajah yang tadi sempat terjatuh padanya.

Mei Yin yang masih menyembunyikan wajahnya di dada bidang Lian, hanya mengangguk dan mencoba memakai kembali penutup wajahnya itu.

Di balik penutup wajahnya, Mei Yin kembali menatap Lian yang masih berdiri di depannya. Andai tidak ada pemuda itu, mungkin saja mereka sudah melihat wajahnya.

"Kerja bagus, Lian," ucap salah satu penjaga yang biasa dia panggil paman.

Mei Yin kemudian meninggalkan tempat itu dan pergi menuju ke kamarnya bersama Lian yang mengikutinya dari belakang.

Sesampainya di kamar, dia sudah ditunggu oleh Jiya yang sepertinya sangat marah padanya. "Kenapa kamu tidak hati-hati? Kalau mereka sampai melihat wajahmu, pasti situasinya akan semakin sulit," ucap wanita itu yang membuat Mei Yin menundukkan kepalanya.

"Sudahlah, setidaknya mereka tidak sempat melihat wajahnya. Kasihan Mei Yin, dia juga pasti sangat terkejut," ujar Hua Feng yang mencoba untuk membelanya.

"Lian, apa benar pemuda-pemuda itu belum sempat melihat wajah Mei Yin?" tanya wanita itu pada Lian yang sementara berdiri di depan pintu.

"Benar, Nyonya. Saya yakin, mereka belum sempat melihat wajah Nona Mei Yin," jawabnya.

"Untung saja tadi ada Lian, kalau tidak ..." Wanita itu tidak lagi melanjutkan kata-katanya karena melihat Mei Yin yang sudah menundukkan kepalanya dari tadi.

Malam itu, Mei Yin benar-benar dimarahi oleh Jiya. Dia masih duduk di dalam kamarnya dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.

Lian yang sedari tadi berdiri di depan pintu masih setia berdiri dan mendengar isakan tangis gadis itu. Dia tahu, gadis itu tidak bersalah. Andai saja saat itu dia tidak bertindak dengan cepat, mungkin saja wajah cantik gadis itu akan terlihat.

"Terima kasih karena kamu sudah menolongku tadi," ucap Mei Yin pada Lian yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.

"Tidak perlu berterima kasih. Itu sudah tugasku untuk menjaga Nona," jawab Lian yang membuat gadis itu tersenyum walau sebenarnya hatinya menangis.

Selama ini, dia selalu dipaksa untuk menyukai sesuatu yang tidak disukainya. Dia dipaksa untuk menari, menyanyi dan bahkan tersenyum di depan orang-orang yang ingin melihat tariannya, tapi di dalam hatinya dia tidak ingin melakukan itu semua.

Andai dia punya keberanian, ingin rasanya dia meninggalkan tempat itu. Tempat yang baginya adalah neraka yang berkedok surga. Dia ingin kembali merasakan kehidupan seperti masa kecilnya dulu. Dia ingin kembali berkebun dan memetik hasil kebunnya. Dia ingin hidup di atas bukit seperti saat masih bersama kakeknya dulu.

Sejenak, air matanya kembali mengalir tatkala dia teringat kembali masa kecilnya. Dia teringat kembali dengan sosok kakeknya yang sudah lama dia rindukan. Dalam kamarnya, terdengar isakan tangisnya yang kian meratap yang membuat seseorang di luar sana mulai merasa simpati padanya.

"Nona, jangan menangis lagi. Mulai saat ini, aku janji akan menjaga Nona dengan baik. Aku mohon, berhentilah menangis," ucap Lian dari balik pintu dengan penuh rasa khawatir.

"Terima kasih," ucap Mei Yin sambil duduk menopang wajahnya di kedua lututnya sambil menunduk.

Lian masih berdiri di depan pintu kamar, karena lampu kamar gadis itu belum juga padam dan itu menandakan kalau gadis itu belum tidur.

"Kembalilah ke kamarmu. Aku sudah tidak apa-apa, terima kasih," ucap Mei Yin yang membuat Lian segera pergi meninggalkan tempat itu walau sebenarnya, dia masih belum ingin beranjak dari tempat itu.

Setelah melihat Lian pergi meninggalkan pintu kamarnya, Mei Yin kemudian memadamkan lampu. Perlahan, dia keluar meninggalkan kamarnya. Lian yang sebenarnya belum benar-benar pergi mulai mengikuti majikannya itu, hingga sampai di suatu taman kecil yang tersembunyi di antara pepohonan. Dia baru tahu kalau ada sebuah taman kecil yang tersembunyi di tempat itu.

Lian mengikuti langkah Mei Yin tanpa di ketahui oleh gadis itu. Lian hanya khawatir, kalau-kalau Mei Yin ingin melakukan suatu hal yang buruk.

Setibanya di taman, Mei Yin yang awalnya menutupi wajahnya perlahan mulai membuka kain penutup wajahnya itu. Lian yang melihat itu, langsung memalingkan wajahnya, tapi dia kembali melihat ke arah gadis itu yang perlahan mulai melakukan gerakan tariannya.

Pandangan Lian masih tertuju ke arah Mei Yin yang mulai menari, tapi bukan itu yang membuat dia memandanginya. Akan tetapi, karena gadis itu menari dengan air mata yang membuat siapa saja akan terharu melihatnya.

Di bawah cahaya bulan purnama, Mei Yin menari dengan indahnya. Rambutnya yang panjang mulai terurai. Wajahnya yang putih dan cantik perlahan menampakkan auranya dengan sorotan matanya yang sebiru lautan. Perlahan, Lian terpana melihat gadis itu. Terbesit rasa kagum muncul di hatinya yang membuatnya bertekad untuk menjaga dan melindungi gadis itu.

Sementara Mei Yin, masih terus menari dengan gerakan berputar yang semakin dipercepat yang akhirnya membuat kakinya terkilir. Walau kesakitan, dia masih tetap menari yang akhirnya membuat dia terjatuh dan terduduk di tanah.

"Nona, Nona tidak apa-apa?" Sontak saja Lian yang sedari tadi bersembunyi langsung berlari dan mendekati gadis itu dengan perasaan cemas.

Melihat kedatangan Lian, membuat Mei Yin tersenyum, karena dia sebenarnya tahu kalau pemuda itu mengikutinya.

Lian yang terlihat begitu khawatir langsung memeriksa kaki majikannya itu.

"Aaahhh!!" jerit Mei Yin sambil memegang kakinya.

"Tidak, apa-apa. Kakiku, baik-baik saja," ucapnya sambil mencoba untuk berdiri. Karena kakinya terkilir cukup parah dan ketidakseimbangannya saat berdiri, membuat tubuhnya hampir terjatuh. Lian yang melihat itu, lantas meraih tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Perlahan, pandangan mereka saling bertemu. Sorot mata Mei Yin yang sebiru lautan, menatap lurus ke arah pemuda itu tanpa suara. Di bawah cahaya purnama, Mei Yin melihat sesosok wajah yang terlihat sangat menawan. Wajah Lian yang terlihat putih dengan alis tebal dan hidungnya yang mancung, sesaat menggoda gadis itu. Sementara Lian yang tidak sadar, seakan terhipnotis dengan kecantikan gadis yang berdiri di depannya. Inikah rupa gadis yang ingin dilihat semua lelaki di negeri ini. Sekarang, wajah cantik itu terlihat begitu nyata di depan matanya.

Tanpa Mei Yin sadari, dia lalu menenggelamkan kepalanya ke dada bidang pemuda itu dan mulai menangis. Lian yang tidak bisa menolak, hanya bisa mendekap tubuh gadis itu dan mengelus lembut punggungnya seolah mengatakan kalau dia akan selalu ada untuk gadis itu, kini dan nanti.

1
秦柔
this is very touching /Sob/
Yaser Levi
sampai episode ini, udah gak ada gregetnya, cinta kok pindah2 gak jelas..mn rajanya bego lagi ..udahan lah..
Kalief Handaru
ceritanya bagus
Purwanto Purwanto
sanfat menguras emosi
Novie Achadini
karya yg lainnya apa thor aku suka sama critanya
Novie Achadini
ceritanya bagus bgt thor
Oi Min
Ah.... Ruwet
Oi Min
Mei Yin cuma cinta ma putra mahkota saja?? Akankah dia bsa jatuh cinta lagi??
Oi Min
Jadi Liang Yi akan ttp jdi kakak dan sahabat Mei Yin
Oi Min
Apa Mei Yin akan jatuh cinta lagi.... Siapa yg akan jadi jodohnya Mei Yin??
Oi Min
Jdi.... Siapa yg memburu Mei Yin sampe2 Lian berkorban nyawa??
Oi Min
Nangis aq tor...... Syedih..... 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Oi Min
Ah.... Lian so sweet dech.....
Apa Lian itu kekasih yg di sebut di prolog itu.... Yg mati krna orang istana??
Oi Min
Jendral Cang Yi sdah lupa ma Mei Yin kah??
evilnasry_
aku bahagia mendengar meylin akhirnya hidup bahagia,,dan tak ku sangka season keduanya sdh lebih dulu selesai ku baca dibandingkan season pertamanya,,karyamu sngatt bguss thorr semangat lagi untuk berkarya👍💪
❤time traveller❤
sedia tissue
♥️♥️time travelers ♥️♥️
sedih bgt ceritanya . mudah mudahan happy ending
mejik tutik
yang benar itu yg gimanaaa?
Sri Farsan
kebanyakan bawang thor,,, nyesek ak
(*) 😑 Oppa gabut😁😐😤
di cerita ini tokoh utama nya siapa🤔
bingung aku🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!