Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Pertama di Jalur Independen
Pagi di pertengahan November menyelimuti kota Oxford dengan kabut tebal yang dingin.
Dedaunan maple yang semula merah keemasan kini telah gugur sepenuhnya, menyisakan ranting-ranting hitam yang kontras dengan langit abu-abu. Di dalam Laboratorium Biokimia Lantai Tiga St. Jude’s College, aroma kloroform, etanol, dan udara berpendingin khusus menyambut Rory begitu ia mendorong pintu kaca tebal.
Pukul enam pagi. Suasana laboratorium masih sangat lengang. Hanya ada bunyi hum halus dari mesin centrifuge dan beberapa lampu LED meja yang menyala redup.
Rory melepas mantel tebalnya, menggantungnya di loker, lalu mengenakan jas laboratorium putih yang bersih. Saat ia membalikkan badan menuju meja kerja kelompoknya, ia tertegun sejenak.
Julian sudah ada di sana.
Pria itu mengenakan kemeja biru tua yang digulung hingga ke siku dan jas laboratorium putih yang terbuka di bagian depan. Di depannya, layar laptop hitam terpampang bersama tumpukan jurnal ilmiah bertulisan tangan, dua mikroskop elektro, dan cangkir kopi termal yang masih mengepulkan uap tipis. Mata hazel-nya tampak sangat fokus menatap susunan struktur molekul pada grafik tiga dimensi.
"Kamu datang terlalu pagi, Julian," kata Rory pelan, melangkah mendekat agar suaranya tidak bergema di ruangan yang sepi itu.
Julian mendongak. Garis-garis tegas di wajahnya yang tadinya tampak serius seketika mengendur begitu matanya menangkap sosok Rory. Sebuah senyuman tipis namun amat hangat terukir di bibirnya.
"Aku tidak bisa tidur nyenyak kalau ada hipotesis yang belum tuntas di kepalaku, Rory," jawab Julian, suaranya yang berat dan dalam terdengar sangat tenang di tengah heningnya laboratorium. "Lagipula, draf pengajuan hibah Helios Foundation harus dikirim sebelum pukul lima sore ini."
Rory menarik kursi beroda di sebelah Julian, lalu duduk di sampingnya. Ia melirik jam tangan peraknya masih pukul 06.15 pagi. "Berandai-andai kamu tidur berapa jam semalam? Tiga jam?"
"Empat jam," korupsi Julian tipis dengan binar jenaka di matanya. "Dan itu sudah lebih dari cukup untuk ukuran peneliti independen."
Rory menggelengkan kepala pelan, menahan kehangatan yang menjalar di dadanya. Ada sesuatu yang luar biasa berharga dari diri Julian Radcliffe yang baru ini. Dulu, Julian bekerja dengan ketelitian yang dingin karena tuntutan kesempurnaan keluarga Radcliffe. Kini, ia bekerja dengan gairah murni seorang ilmuwan yang memperjuangkan masa depannya sendiri.
"Mari kita periksa kembali bab metodologi," kata Rory sambil menggeser draf proposal setebal tiga puluh halaman ke tengah meja. "Proposal ini menargetkan pengujian efisiensi ikatan senyawa sintetik pada sel target. Kalau kita gagal menyajikan analisis risiko toksisitas yang presisi, dewan penguji Helios tidak akan melirik proposal kita."
Selama dua jam berikutnya, keduanya tenggelam dalam diskusi intensif. Tidak ada lagi jarak antara senior dan junior, tidak ada lagi sekat antara aristokrat dan mahasiswa beasiswa. Yang ada hanya dua pikiran brilian yang saling mengisi dan mengasah. Setiap kali Rory menemukan celah dalam perhitungan matematis, Julian memberikan landasan teori mekanisme reaksi yang kokoh. Dan setiap kali Julian terlalu fokus pada teori makro, pemikiran praktis Rory menariknya kembali ke realitas uji laboratorium yang efisien.
"Lihat ini," kata Julian tiba-tiba, menunjuk ke arah baris kode analisis molekuler di layarnya. Tangannya yang hangat secara alami terulur, menggenggam jemari Rory yang sedang memegang pulpen untuk mengarahkan pandangannya ke sudut kanan layar. "Kalau kita mengubah substituen hidroksil menjadi gugus fluorin pada posisi C-4, stabilitas metaboliknya naik empat puluh persen."
Sentuhan jemari Julian di punggung tangannya membuat napas Rory tertahan sejenak. Meski mereka sudah melewati momen-momen emosional di menara astronomi dan pelataran kampus, kedekatan fisik yang kasual seperti ini tetap membuat jantung Rory berdegup lebih cepat dari biasanya.
Rory menoleh sedikit, mendapati wajah Julian hanya berjarak belasan sentimeter dari wajahnya. Ia bisa melihat kilau kemilau hazel di mata pria itu dan aroma maskulin berpadu kopi yang samar.
"Perubahan itu" bisik Rory, mencoba menjaga fokus suara akademisnya, "akan meningkatkan biaya sintesis awal, Julian."
Julian menatap bibir Rory sejenak, lalu menatap matanya yang jernih. Senyum tipisnya makin dalam. "Tapi biaya itu sepadan dengan hasil jangka panjangnya, Miss Vance. Persis seperti investasi kepercayaan."
Sebelum Rory sempat membalas gurauan halus itu, pintu laboratorium terbuka dengan bunyi klik yang nyaring.
Profesor Evans melangkah masuk membawa map cokelat tebal, diikuti oleh dua dosen senior fakultas sains. Langkah Profesor Evans terhenti sejenak ketika melihat dua mahasiswa terbaiknya sudah berada di meja laboratorium di jam seragi ini, duduk berdekatan dengan tumpukan berkas yang berserakan rapi.
"Mr. Radcliffe, Miss Vance," sapa Profesor Evans, alis tebalnya terangkat terkejut. "Saya tidak menyangka menemukan kalian di sini sebelum petugas kebersihan selesai bertugas."
Julian dengan tenang melepaskan genggaman tangannya dari Rory tanpa terkesan gugup, lalu berdiri tegap memberi salam. "Selamat pagi, Profesor Evans. Kami sedang menyelesaikan tahap akhir proposal Helios Foundation."
Profesor Evans melangkah mendekati meja mereka, menatap tumpukan data dan simulasi molekuler di layar laptop Julian. Salah satu dosen di sampingnya menatap Julian dengan raut wajah penuh selidik.
"Saya mendengar kabar bahwa fasilitas laboratorium khusus Radcliffe Corp di kampus utara telah ditarik kembali oleh Ayahmu, Julian," kata Profesor Evans terang-terangan. Suaranya mengandung rasa prihatin sekaligus ketegasan seorang akademisi senior. "Banyak pihak di dewan fakultas meragukan kamu bisa melanjutkan riset skala besar ini tanpa sokongan dana dari keluargamu."
Rory ikut berdiri di samping Julian, tangannya di samping paha mengepal pelan. Ia siap membuka suara untuk membela tim mereka, namun Julian memegang ujung lengan jas laboratorium Rory pelan isyarat halus bahwa ia mampu menangani situasi ini.
"Keraguan itu sangat wajar, Profesor," jawab Julian datar, suaranya tenang tanpa ada nada defensif sedikit pun. "Namun sains tidak pernah dibangun di atas fondasi nama besar atau cek bank. Sains dibangun di atas metodologi yang valid dan pembuktian empiris. Proposal yang kami susun ini dirancang dengan efisiensi anggaran tinggi tanpa mengorbankan akurasi data sedikit pun."
Julian menyerahkan salinan draf proposal yang sudah dijilid rapi kepada Profesor Evans.
Profesor Evans menerima berkas itu, membolak-balik halamannya dengan teliti. Suasana di laboratorium menjadi sangat hening selama beberapa menit. Dua dosen pendamping ikut mengintip lembaran grafik dan persamaan kimia yang tertera di dalamnya.
Perlahan, ekspresi keras di wajah Profesor Evans luluh. Seulas senyum bangga yang langka terbit di wajah dosen senior berambut uban tersebut.
"Pendekatan gugus fluorin di posisi C-4 ini...ini ide yang sangat berani sekaligus cerdas," kata Profesor Evans, menatap Julian dan Rory bergantian. "Siapa yang merancang bagian ini?"
"Itu gagasan bersama, Profesor," jawab Rory mantap, mengambil alih pembicaraan. "Julian menemukan potensi Stabilitas metaboliknya, dan saya menyusun skema sintesis skala kecil agar biayanya tetap masuk dalam batas hibah Helios."
Profesor Evans mengangguk-angguk puas, merapatkan berkas tersebut di dadanya. "Sangat impresif. Kalian berdua membuktikan bahwa kolaborasi murni jauh lebih kuat daripada sekadar dana melimpah. Saya pribadi yang akan meletakkan tanda tangan rekomendasi fakultas pada proposal ini sebelum dikirim sore nanti."
"Terima kasih banyak, Profesor," kata Julian dengan nada penuh rasa hormat.
Setelah Profesor Evans dan rombongannya berlalu keluar laboratorium, ketegangan yang sempat menggantung di udara seketika menguap.
Rory bernapas lega, menyandarkan pinggulnya di tepi meja laboratorium. "Satu rintangan besar berhasil dilewati."
Julian berbalik menatap Rory. Tanpa kata-kata, ia melangkah mendekat, mengikis seluruh jarak di antara mereka hingga Rory berada di dalam jangkauan lengannya. Julian mengulurkan kedua tangannya, melingkari pinggang Rory dengan lembut dan menariknya ke dalam sebuah pelukan hangat.
Rory tertegun sejenak oleh tindakan spontan itu, sebelum akhirnya menyandarkan kepalanya di dada bidang Julian, menyerap kehangatan dan detak jantung pria itu yang teratur.
"Terima kasih, Rory," bisik Julian di dekat telinga gadis itu, suaranya sarat akan kelembutan yang hanya diperuntukkan bagi Rory seorang. "Tanpa kamu di sampingku, aku mungkin hanyalah pria sombong yang kebingungan mencari arah setelah kehilangan segalanya."
Rory mengangkat kepalanya, menatap mata hazel Julian dari jarak dekat. Tangannya terangkat, mengusap rahang tegas Julian dengan kehangatan murni.
"Kamu tidak pernah kehilangan segalanya, Julian," bisik Rory tulus. "Kamu hanya membuang apa yang tidak perlu, untuk menemukan siapa dirimu yang sebenarnya. Dan aku akan selalu ada di sini, di setiap langkah perjuanganmu."
Julian menatap mata cokelat jernih itu dengan binar cinta yang tak lagi tertampung. Ia menundukkan kepalanya, menyatukan kening mereka di tengah remang keheningan laboratorium tua St. Jude's.
Langkah pertama di jalur independen telah mereka jajaki bersama. Dan di balik ancaman badai yang mungkin masih disiapkan oleh keluarga Radcliffe di luar sana, dua jiwa ini telah siap mengarungi segalanya demi masa depan yang mereka bangun atas nama mereka sendiri.