Tak memiliki apa pun selain namanya, Kenzo bertahan hidup di dunia yang kejam. Bagi orang lain, mimpi adalah sesuatu yang bisa dikejar. Baginya, mimpi hanyalah kemewahan yang selalu direnggut oleh kenyataan.
Hingga suatu hari, sebuah antarmuka emas muncul di hadapannya.
Sistem Gacha.
Jaminan 100%.
Setiap putaran selalu menghadiahkan sesuatu yang nyata. Kemampuan, artefak, teknik, bahkan kekuatan yang sanggup mengubah takdir. Dengan sistem itu, Kenzo tak lagi sekadar bermimpi. Ia akan menapaki jalan menuju puncak dan menyingkirkan siapa pun yang berani menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Sunyi memeluk lorong servis di bawah Hotel Grand Aster. Jarum jam digital pada ponsel pintar milik Kenzo berkedip, tepat menunjukkan angka 00:00.
Seketika, pendar emas dari layar antarmuka mekanis muncul di sudut matanya.
[Peringatan: Jatah Jaminan 100% Hari Ini telah di-reset.]
[Jatah Jaminan 100% Saat Ini: 3/3.]
Langkah pemuda itu terhenti di balik pilar beton yang dingin. Runtuhnya Gideon memang melegakan, namun lembar data rahasia tadi justru membuka tabir yang jauh lebih mengerikan. Sinode Obsidian namanya.
'Azzy adalah kehampaan mutlak. Mystrul adalah pembongkar hukum sihir,' batin Kenzo, menatap kosong ke depan. 'Sistem, berikan aku eksistensi yang mampu menjadi benteng perlindungan mutlak, penguasa wilayah, dan pelindung yang tak tergoyahkan.'
Ibu jarinya bergerak mantap, menekan tombol Gacha untuk melepaskan satu token kepastian hariannya.
[Menggunakan 1 Jaminan 100%. Sisa Hari Ini: 2/3.]
Berputar liar, layar virtual di depannya menyajikan kilatan warna. Cahaya emas itu melonjak, membelah kegelapan ruang bawah tanah, lalu meledak dalam pendar platinum yang menyilaukan mata.
[DING!]
[Gacha Selesai. Kualitas: Platinum.]
[Hadiah telah dipindahkan ke Penyimpanan Tak Terbatas.]
Siluet seekor naga kuno berselimutkan api abadi terpampang jelas pada layar emas tersebut. Tanpa membuang waktu, ia memilih opsi untuk mengeluarkannya.
Mendadak saja, suhu di lorong parkir itu melonjak naik secara ekstrem. Hawa panas yang menekan menyapu seluruh sudut ruangan, membuat udara bergetar hebat bagai fatamorgana di tengah padang pasir.
Dari pusaran api keemasan yang membakar tanpa merusak dinding beton, sesosok wanita melangkah keluar dengan anggun.
Ia mengenakan zirah bersisik merah tua dengan aksen emas yang memeluk lekuk tubuhnya dengan kokoh. Sepasang mata reptil emas miliknya memancarkan keagungan predator kuno yang telah hidup ribuan tahun. Di dahinya, terukir lambang mahkota naga yang menyala redup.
[Pelayan: Errinth (Sang Ratu Naga)]
[Status: Terikat Mutlak pada Pengguna.]
Pandangan liar Errinth menyapu sekeliling, sebelum akhirnya terkunci sepenuhnya pada sosok Kenzo. Detik itu juga, sorot matanya melunak, digantikan oleh rasa hormat yang teramat dalam.
Menekuk satu lututnya, Sang Ratu Naga menunduk takzim di hadapan Kenzo.
"Eksistensiku terbangun kembali atas panggilanmu, Tuanku," tutur Errinth. Suaranya terdengar bagai dentuman guntur yang lembut namun sarat wibawa. "Di hadapan kehendakmu, napasku adalah perisaimu, dan sisikku adalah bentengmu. Siapa pun yang berani mengancam keselamatanmu, akan menjadi abu di bawah kakiku."
Puas dengan hasil tersebut, Kenzo mengangguk pelan. Tiga Pelayan berkelas Platinum kini telah berada di genggamannya secara sempurna.
"Bangkitlah, Errinth," titah Kenzo tenang. "Kita punya urusan terakhir di ruangan sebelah."
"Sesuai perintahmu, Tuan," sahut Errinth sembari bangkit berdiri, memancarkan aura dominasi yang pekat.
Melayang di sisi kiri, Azzy hanya mendengus pelan sembari memeluk lengan Kenzo lebih erat. Sementara itu, Mystrul mengangguk hormat menyambut rekan barunya.
Di area parkir VIP, kepanikan tengah merajai suasana. Suara napas tersengal dan deru mesin mobil mewah yang gagal menyala memecah keheningan malam.
"Buka pintunya! Cepat!" teriak Adrian histeris. Tangannya yang gemetar membuat kunci mobil mewah di genggamannya berulang kali terjatuh ke lantai beton. Jas navy miliknya kusut masai, wajahnya basah oleh keringat dingin.
"Adrian, tolong katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?!" Siska menangis di samping mobil. Gaun sutra merah marun miliknya kini kotor terkena debu lantai. "Kenapa rekeningmu diblokir?! Kenapa polisi mencarimu?!"
"Diam kau, perempuan sialan!" bentak Adrian kalap. Ia mendorong bahu Siska hingga wanita itu tersungkur ke lantai beton. "Nexus Corp hancur! Seluruh asetku disita! Jika tertangkap, aku akan membusuk di penjara!"
Ketukan langkah kaki yang santai dan berirama tiba-tiba menggema dari arah lorong keluar.
Seketika, tubuh Adrian membeku. Siska menahan isaknya, lalu menoleh ke arah sumber suara dengan tubuh gemetar ketakutan.
Keluar dari kegelapan lorong parkir, Kenzo melangkah dengan tenang.
Namun, pemandangan di belakang pemuda itu membuat napas kedua orang itu seolah terhenti. Di sebelah kiri Kenzo, seorang pemuda berjubah hitam melayang dengan mata ungu menyala. Di sebelah kanannya, seorang pria berambut perak berjalan anggun dengan lingkaran sihir kecil yang berputar di jari-jarinya.
Tepat di belakang Kenzo, berdiri tegak seorang wanita berzirah sisik naga dengan mata emas yang menyala, mengirimkan gelombang hawa panas yang membuat lantai beton berderak pelan.
"K-Kenzo...?" bisik Siska dengan suara tercekat. Matanya terbuka lebar, tidak mampu mencerna kenyataan di hadapannya.
Pemuda yang dulu ia campakkan di tengah derasnya hujan, kini berdiri layaknya seorang penguasa mutlak yang dikawal oleh entitas-entitas di luar nalar manusia.
Lutut Adrian seketika lemas saat matanya beradu dengan tatapan dingin Kenzo. Kunci mobil di tangannya berdenting jatuh ke lantai.
Tersungkur ia di atas aspal dingin, tubuhnya gemetar hebat dalam ketakutan yang teramat sangat. "K-kau... kau yang menghancurkan Tuan Gideon... Kau anomali itu..."
"Aku kemari hanya untuk satu hal, Adrian," ucap Kenzo datar, berhenti tiga meter di depan mereka. "Token enkripsi cadangan untuk rekening transit Sinode. Serahkan padaku."
"I-ini! Ambil semuanya! Jangan bunuh aku! Tolong!" Adrian merogoh sakunya dengan panik, lalu melemparkan kepingan logam hitam berlambang Sinode ke arah Kenzo.
Dengan cekatan, Kenzo menangkap kepingan itu dan langsung memasukkannya ke dalam Penyimpanan Tak Terbatas.
Melihat Adrian yang berlutut tanpa sisa harga diri, pikiran Siska berputar kacau. Otak praktisnya mencoba mencari celah untuk menyelamatkan diri. Sembari meneteskan air mata, ia merangkak perlahan mendekati kaki Kenzo.
"K-Kenzo..." rintih Siska, mencoba memelas demi mengetuk kembali kenangan masa lalu mereka. "Kenzo, ini aku... Siska. Aku minta maaf... aku terpaksa melakukan semua itu dulu karena tuntutan hidup. Kau tahu aku selalu memikirkanmu, kan? Tolong... bawa aku bersamamu..."
Namun, Kenzo sama sekali tidak melirik ke arahnya. Baginya, wanita itu tidak lebih dari sebutir debu jalanan yang tak layak mendapatkan perhatiannya.
Akan tetapi, tindakan berani Siska yang merangkak mendekati tuannya memicu murka lain.
Gelombang panas yang luar biasa pekat mendadak meledak di udara. Errinth melangkah maju, memosisikan tubuhnya di antara Kenzo dan Siska.
Mata emas reptil milik Sang Ratu Naga menatap lurus ke bawah. Sorot matanya begitu dingin, memandang Siska bagaikan seekor naga abadi yang menatap kerikil tak berharga. Tekanan magis naga yang agung dijatuhkan tepat di atas bahu Siska, memaksa wanita itu mencium lantai beton yang dingin tanpa bisa mengangkat kepalanya.
"Sebuah wadah fana yang hina," ucap Errinth dengan suara berat yang menusuk langsung ke dalam jiwa Siska. "Kau menukar seorang raja demi sebutir debu berlapis emas palsu. Dan kini, setelah matamu yang buta melihat fajar keagungannya, kau berani merangkak memohon belas kasihan?"
Errinth mendengus pelan. Hembusan napas panasnya membuat beberapa helai rambut Siska hangus di ujungnya.
"Kau bahkan tidak layak menjadi abu di bawah telapak kaki Tuanku. Bersyukurlah atas kemurahan hatinya yang membiarkan serangga sepertimu tetap bernapas di dunia ini."
Kata-kata itu menghancurkan seluruh sisa ego, kesombongan, dan ilusi hierarki sosial yang selama ini Siska banggakan. Siska menangis histeris di atas lantai beton, mencengkeram kepalanya sendiri dalam penyesalan yang teramat dalam.
"Aparat pusat sudah mengepung tempat ini," ucap Kenzo tanpa emosi kepada Adrian yang masih bersujud. "Hukum yang kau beli selama ini, akan mengadili sisa-sisa kehancuranmu sendiri."
Berbalik arah, Kenzo melangkah pergi meninggalkan area parkir bawah tanah tersebut.
Azzy, Mystrul, dan Errinth berjalan beriringan di belakangnya, membentuk barisan pengawal mutlak yang tak tertembus. Mereka pergi meninggalkan dua manusia yang menangis meratapi nasibnya, melebur kembali ke dalam kegelapan malam kota metropolitan.