Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.
Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.
Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Vanessa menutup pintu kamarnya rapat-rapat, membiarkan punggungnya bersandar pasrah pada daun pintu kayu yang dingin. Napasnya masih terasa berat setelah konfrontasi panas dengan Alessio.
"Gila..." gumam Vanessa lirih, meremas jemarinya sendiri. "Pria itu benar-benar gila."
Ia melangkah ke arah meja rias, menatap bayangan dirinya di cermin. Otaknya berputar cepat, memutar kembali setiap ucapan Alessio, termasuk penawaran gila pria itu semalam di atas ranjang.
"Tidurlah denganku malam ini..."
Vanessa memejamkan mata. Haruskah ia menyerahkan dirinya pada Alessio? Apakah itu satu-satunya cara untuk membengkokkan pendirian pria iblis itu agar mau berdiri di pihaknya?
"Tidak, Vanessa. Kalau kau menyerahkan dirimu begitu saja, kau sama saja dengan wanita murahan diluar sana," bisiknya menguatkan diri.
Namun, pilihan untuk melarikan diri dari Kediaman Carlton pun sama sekali mustahil. Arthur Carlton bukan orang bodoh.
Seluruh penjaga di kediaman ini adalah mata dan telinga sang kepala keluarga. Vanessa tahu persis, satu langkah salah yang ia buat untuk kabur, Arthur akan menyergapnya dan menguncinya jauh lebih rapat atau bahkan mengurungnya bagaikan tahanan.
Ia terjebak. Dan untuk meruntuhkan Jordan, ia membutuhkan iblis yang lebih kuat dari Jordan.
*****
Sementara itu, di ruangan pribadi sayap timur yang redup dan dipenuhi aroma kayu cendana, Alessio sedang berdiri di dekat jendela kaca besar. Jemari panjangnya memegang segelas red wine beraroma pekat sambil menatap keindahan taman.
Di belakangnya, Pak Ben berdiri tegak dengan kedua tangan bertaut sopan.
"Tuan Muda..." panggil Pak Ben pelan, memecah keheningan. "Kenapa Anda tidak terus terang saja pada Nona Vanessa?"
Alessio tidak berbalik, hanya menyesap sedikit minumannya.
"Terus terang soal apa, Paman Ben?"
"Soal alasan utama Anda kembali ke rumah ini," jawab Pak Ben lembut. "Nona Vanessa tidak akan pernah tahu kalau Anda tidak jujur... bahwa sebenarnya Anda sudah jatuh cinta padanya sejak sepuluh tahun yang lalu."
Alessio terkekeh rendah, suara tawa yang dingin namun tersimpan kehangatan tersembunyi.
"Kau tahu bagaimana karakter Vanessa, Paman. Dia dibesarkan di lingkungan yang penuh kepalsuan. Dia tidak mudah percaya pada kata-kata manis. Jika aku tiba-tiba datang dan mengaku mencintainya sejak sepuluh tahun lalu, dia hanya akan menganggapku gila atau mengira ini hanya taktikku untuk memanfaatkan dirinya."
"Tapi cara Anda memprovokasinya..." Pak Ben mendesah pelan. "Itu sangat berisiko, Tuan. Nona Vanessa bisa membenci Anda sedalam-dalamnya."
"Biarlah dia membenciku untuk saat ini," sahut Alessio seraya memutar gelas anggurnya.
"Aku harus memaksa situasinya. Aku akan terus menekannya sampai dia sendiri yang sadar dan memutuskan untuk melempar dirinya padaku. Hanya dengan cara ekstrem seperti ini kehadiranku bisa menyita seluruh perhatiannya."
Pak Ben menatap punggung tegap Tuan Mudanya dengan pandangan haru.
"Bolehkah saya bertanya, Tuan Muda? Kenapa Anda bisa sesuka itu pada Nona Vanessa? Padahal saat itu Anda masih sangat muda."
Alessio menghentikan gerakannya. Matanya menatap ke luar jendela saat kenangan lama seketika berputar di kepalanya.
"Saat pertama kali tiba di luar negeri... hidupku sangat menyedihkan, Paman," bisik Alessio, suaranya melembut.
"Aku terlunta-lunta di jalanan London. Uangku habis, dan masa sewa apartemenku sudah berakhir. Malam itu... di sebuah gang sempit yang gelap dan dingin, aku terkapar kelaparan. Aku benar-benar nyaris mati."
Pak Ben menyimak dalam diam.
"Lalu dia datang," sambung Alessio dengan senyum tipis yang tulus. "Seorang gadis kecil bergaun putih mengulurkan tangannya. Dia memberiku sepotong roti dan segelas susu hangat yang dia beli dari kedai seberang jalan."
Alessio menarik napas panjang. "Dia menggenggam tanganku yang dingin dan berkata, 'Jangan menyerah. Kau harus tetap bertahan dan hidup sebagai pria yang hebat dan luar biasa. Kau sangat tampan. Kalau suatu saat nanti kita bertemu lagi, aku ingin melihatmu dalam keadaan yang paling sempurna."
Pak Ben tersenyum hangat. Ia mengangguk perlahan.
"Nona Vanessa memang selalu memiliki hati yang baik. Dia suka membantu siapa saja. Sayangnya... saat tumbuh dewasa, dia justru jatuh ke tangan pria yang salah seperti Tuan Jordan."
"Karena itulah aku ada di sini, Paman Ben," tegas Alessio, berbalik menatap orang kepercayaan lamanya itu dengan iris mata menyala.
"Aku kembali untuk merebutnya dari tangan pria kejam seperti Jordan. Jordan tidak pernah pantas untuk menyentuh selembar benang pun dari dirinya."
"Saya mengerti, Tuan Muda. Saya akan selalu mendukung Anda," ucap Pak Ben tulus sebelum membungkuk hormat dan berjalan mundur meninggalkan ruangan.
****
Malam semakin larut membungkus Kediaman Carlton. Jarum jam dinding baru saja melewati angka dua pagi.
Di sudut koridor yang remang-remang, sebuah sosok bergerak perlahan. Yessika melangkah dengan kaki yang tertatih-tatih, memaksakan diri berjalan tanpa menggunakan kursi rodanya. Wajahnya meringis menahan sakit di pergelangan kaki, namun ambisinya jauh lebih besar.
Malam ini, ia mengenakan lingerie sutra tipis berwarna merah menyala yang menyingkap lekuk tubuhnya secara terang-terangan.
Yessika tahu betul, ia tidak akan pernah benar-benar menikah atau bertunangan dengan Alessio karena Jordan pasti akan melarang keras dan mengamuk.
Tapi Yessika tidak peduli.
Sebelum ia sepenuhnya dikuasai Jordan, ia ingin mencicipi Alessio walau hanya sekali. Pria setampan, sekuat, dan sesempurna Alessio... kapan lagi ia bisa merasakannya?
Dengan senyum menggoda yang terkembang, Yessika mendorong pintu kamar Alessio yang tidak terkunci rapat.
Alessio yang sedang duduk di tepi ranjang hanya mengenakan celana panjang hitam dan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka, mendongak kaget.
"Yessika? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alessio dingin, alisnya bertaut tajam melihat pakaian wanita itu.
"Dan di mana kursi rodamu? Keluar dari kamarku."
"Alessio..." bisik Yessika dengan suara manja yang dibuat-buat. Ia melangkah mendekat, menggoyangkan pinggulnya perlahan.
"Kakiku sudah agak mendingan... Aku tidak bisa tidur. Aku memikirkanmu sepanjang malam..."
Yessika mengulurkan tangannya, hendak mengusap dada bidang Alessio.
"Kubilang keluar, Yessika. Jangan buat masalah..."
Kata-kata Alessio terhenti seketika. Iris mata hitamnya menangkap sebuah bayangan di celah pintu kamarnya yang terbuka sedikit.
Di luar sana, di balik pilar koridor yang remang, Vanessa sedang berdiri mematung. Matanya membelalak menatap pemandangan di dalam kamar Alessio.
Sebuah seringai licik dan berbahaya seketika terukir di bibir Alessio. Rencana instannya langsung terbentuk.
Alessio menghentikan tangannya yang hendak mendorong Yessika. Menahan napasnya, ia mengubah raut wajahnya menjadi lebih tenang dan menurunkan pertahanannya.
"Kau yakin ingin berada di sini, Yessika?" tanya Alessio dengan suara serak yang sengaja ia kuatkan agar terdengar hingga ke koridor.
Yessika tersenyum puas, merasa godaannya berhasil.
"Tentu saja, Alessio... Biarkan aku menemanimu malam ini..."
"Baiklah," gumam Alessio santai, menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang seraya menatap lurus ke arah celah pintu, tepat ke arah mata Vanessa yang kini membeku menyaksikan wanita itu melangkah makin dalam ke kamarnya.
"Masuklah."
makin kesini makin seruuuuuuu ,,
penasaran kak ,,
lanjuut kak ,,
pgen liat si Jordan Dan yessika keluar dr keluarga Carlton dg kaos oblong Dan daster ,,
😏😏😏