NovelToon NovelToon
Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Action / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Liam Harrison

Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.

Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Titik Nadir di Ambang Keabadian

Gelombang kejut dari tebasan Kaelen meretakkan lantai batu lorong bawah tanah hingga hancur berkeping-keping. Serpihan batuan beterbangan di udara, terhisap ke dalam pusaran energi biru yang masih mengamuk di depan pintu dimensi. Liliyana melompat mundur dengan gesit, menghindari retakan tanah yang merambat cepat ke arahnya. Gaun hitamnya ternoda debu, dan rambutnya yang tergerai kini berantakan akibat terjangan angin spiritual yang luar biasa dahsyat. Napasnya memburu, sementara matanya menatap Kaelen dengan campuran rasa tak percaya, amarah, dan ketakutan yang mendalam.

Di sisi lain lorong, Lyra jatuh berlutut dengan satu tangan menopang tubuhnya. Bahu kanan gadis itu mengucurkan darah segar, membasahi jubah ungunya hingga berubah menjadi kelam. Meski kesadarannya mulai menipis akibat racun bayangan yang meresap ke dalam luka, ia tetap memaksa pandangannya tertuju pada sosok Kaelen yang kini melayang di ambang pusaran nebula. Energi biru pucat membalut sekujur tubuh pemuda itu, membuat penampilannya bagaikan dewa perang dari era mitologi yang bangkit kembali.

"Kaelen..." lirih Lyra, suaranya hampir tenggelam di tengah deru angin dimensi yang mengoyak dinding gua.

Kaelen tidak merespons panggilan itu secara fisik. Kesadarannya kini telah melayang menembus batas ruang, terseret ke dalam inti Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Di dalam ruang hampa kesadaran tersebut, waktu seolah berhenti. Ribuan memori dari peradaban kuno yang telah musnah berkelebat di depan matanya seperti gulungan gambar tanpa suara. Ia melihat kehancuran Sekte Langit, pengkhianatan dari para tetua yang menjual jiwa mereka demi kekuatan abadi, serta penderitaan entitas purba yang dijadikan tumbal oleh keserakahan manusia.

Apakah kau juga ingin memperbudakku, manusia?

Sebuah suara menggema di dalam benak Kaelen—berat, purba, dan dipenuhi luka mendalam. Suara itu bukan berasal dari tenggorokan, melainkan getaran langsung dari esensi kosmik artefak yang sedang bersemayam di dalam jiwa Kaelen.

Kaelen membalas lewat gelombang pikiran yang tenang, namun tegas. “Aku tidak datang untuk memperbudak atau merusak. Aku hanya ingin menghentikan mereka yang menggunakan masa lalumu sebagai alat kehancuran.”

Resonansi hening tercipta sesaat. Pusaran energi biru di luar mendadak mereda, berubah menjadi hamparan cahaya tenang yang menyelimuti seluruh ruangan. Pedang besi berkarat yang kini telah bertransformasi menjadi bilah transparan bercahaya itu menyatu sempurna dengan aliran darah di tangan Kaelen. Pengujian telah selesai. Artefak tersebut tidak lagi melihat Kaelen sebagai penusuk segel, melainkan sebagai wadah sejati yang dipilih oleh takdir.

Kembali ke dunia nyata, Liliyana menyaksikan perubahan drastis tersebut dengan jantung yang nyaris copot dari rongganya. Ia menyadari bahwa jika Kaelen berhasil menstabilkan kekuatan itu sepenuhnya, maka bukan hanya dirinya yang akan lenyap, tetapi seluruh jaringan Faksi Sekte Kuno di wilayah barat daratan ini akan musnah dalam sekejap.

"Tidak... Ini tidak boleh terjadi!" pekik Liliyana histeris. Ia merogoh kantung jubahnya dan mengeluarkan sebuah artefak hitam berbentuk cermin retak—Sebuah Cermin Pembalik Jiwa yang dilarang penggunaannya bahkan di kalangan sekte iblis.

Dengan gerakan kalap, ia menggigit ujung lidahnya sendiri dan memuntahkan setetes darah segar langsung ke permukaan cermin tersebut. Darah itu mendesis dan meresap ke dalam retakan, memancarkan cahaya ungu legam yang sangat pekat.

"Jika aku tidak bisa mendapatkan kekuatan itu, maka kita semua akan mati bersama!" teriak Liliyana dengan seringai mengerikan.

Cermin itu memancarkan gelombang suara frekuensi tinggi yang langsung menghantam kesadaran Lyra hingga gadis itu pingsan seketika, terkapar tak berdaya di atas lantai batu yang dingin. Tidak berhenti sampai di situ, gelombang kutukan dari cermin iblis tersebut melesat lurus ke arah Kaelen, mencoba merusak stabilitas energi biru yang baru saja terjalin antara pemuda itu dan Jiwa Artefak.

Kaelen membuka matanya lebar-lebar. Kilatan cahaya biru menusuk kegelapan lorong saat ia menyadari bahaya yang mengancam Lyra dan dirinya. Tanpa sempat menghindar, ia mengangkat tangan kanannya ke depan. Pedang transparan di genggamannya beresonansi dengan kehendak mutlak, menciptakan perisai berbentuk kelopak bunga teratai yang terbuat dari murni energi hampa.

Bum!

Benturan antara kutukan Cermin Pembalik Jiwa dan perisai teratai hampa menghasilkan ledakan astral yang menyapu bersih sisa-sisa pilar penyangga lorong. Atap gua runtuh secara masif, menjatuhkan batu-batu sebesar rumah ke lantai bawah tanah. Liliyana tertawa di tengah badai debu, tubuhnya terlempar beberapa meter ke belakang akibat tekanan balik dari artefak terlarang yang ia gunakan sendiri. Kulit wajahnya mulai mengeriput, dan rambutnya berubah menjadi kelabu dalam hitungan detik—sebuah harga mahal yang harus dibayar karena menggunakan Cermin Pembalik Jiwa tanpa basis kultivasi yang cukup.

"Rasakan itu... Kutukan kepunahan abadi..." gerus Liliyana dengan suara parau, darah segar mengalir deras dari kedua lubang hidungnya.

Namun, di tengah puing-puing reruntuhan yang runtuh dan debu yang menyesakkan, perisai teratai hampa milik Kaelen sama sekali tidak bergeming. Cahaya biru dari pedangnya justru semakin terang, menepis seluruh reruntuhan batu sebelum sempat menyentuh tubuhnya, sekaligus memancarkan gelombang penyembuhan lembut yang melindungi tubuh Lyra yang terkapar jauh di sudut lorong.

Kaelen melangkah maju menembus badai debu. Setiap langkah kakinya meninggalkan jejak pijakan bercahaya di atas batu yang hancur. Hukum gravitasi di sekitar tempat itu seolah tunduk di bawah kendalinya. Ia menatap Liliyana yang kini terkulai lemah, tak mampu lagi berdiri tegak akibat efek samping dari artefak terlarangnya sendiri.

"Kutukanmu tidak memiliki arti di hadapan esensi yang melampaui siklus hidup dan mati," ucap Kaelen datar. Suaranya terdengar begitu dingin, menghilangkan seluruh sisa kehangatan manusia dari diri pemuda tersebut.

Liliyana merangkak mundur, jemarinya mencakar lantai batu yang retak. Rasa angkuh dan haus kekuasaan yang selama ini melekat pada dirinya kini lenyap, digantikan oleh ketakutan primordial yang mendalam. Ia melihat bayangan kematian berdiri tepat di samping Kaelen, mengayunkan sabit tak kasat mata.

"Tunggu... Jangan bunuh aku..." bisik Liliyana memelas, air matanya bercampur dengan darah di pipinya. "Aku hanya... aku hanya pion dari tetua agung... Tolong ampuni aku..."

Kaelen berhenti tepat di depan wanita itu. Ia menurunkan ujung pedangnya, mengarahkan bilah transparan itu tepat ke dada Liliyana. Tidak ada amarah di matanya, yang ada hanyalah kehampaan mutlak—sebuah cerminan dari teknik yang telah ia kuasai hingga puncak kesempurnaan.

"Pion atau dalang, hukum alam tetap sama bagi mereka yang menebar kehancuran," jawab Kaelen tanpa keraguan.

Sebelum Liliyana sempat melontarkan permohonan terakhirnya, Kaelen mengibaskan pedangnya tipis-tipis. Tidak ada suara tebasan daging atau erangan kesakitan. Bilah hampa itu melintas begitu saja, memisahkan jiwa Liliyana dari raga fisiknya secara instan tanpa meninggalkan setetes darah pun. Tubuh wanita itu membeku sesaat, lalu berubah menjadi butiran debu hitam yang langsung tertiup angin dimensi dan lenyap tanpa bekas di dalam kegelapan lorong bawah tanah.

Seketika setelah kematian Liliyana, energi liar di dalam lorong itu mulai mereda. Pusaran nebula di depan pintu dimensi menyusut perlahan, menyerap kembali seluruh sisa kekuatan kosmik ke dalam inti artefak, sebelum akhirnya pintu batu besar tersebut tertutup rapat dengan sendirinya, meninggalkan ukiran naga langit yang kini bersinar lembut dalam kedamaian abadi.

Kaelen menarik napas panjang. Cahaya biru di tubuhnya berangsur-angsur meredup, kembali masuk dan bersemayam di dalam Pedang Besi Berkarat yang kini telah pulih dari rupa usangnya—berubah menjadi pedang baja gelap dengan ukiran purba yang memancarkan aura agung.

Ia segera berbalik dan berlari menuju sudut lorong tempat Lyra terbaring. Dengan gerakan hati-hati, Kaelen mengangkat tubuh gadis itu ke pangkuannya. Wajah Lyra sangat pucat, dan napasnya terasa sangat lemah. Racun bayangan dari sisa-sisa kekuatan Liliyana masih menggerogoti jalur Qi di sekujur tubuh gadis itu.

"Lyra, bertahanlah," bisik Kaelen, menyalurkan sebagian energi murni dari Jiwa Artefak ke dalam tubuh sahabatnya untuk menahan laju racun tersebut.

Lyra membuka matanya perlahan, menatap wajah Kaelen yang kini dipenuhi kekhawatiran. Senyum tipis terukir di bibirnya yang membiru. "Kau... berhasil melakukannya, Kaelen... Kita menang..."

"Jangan banyak bicara dulu. Kita harus keluar dari tempat ini," balas Kaelen, suaranya bergetar menahan emosi.

Dengan menggunakan kekuatan baru yang mengalir di dalam tubuhnya, Kaelen menghancurkan dinding batu di samping mereka dengan satu pukulan ringan, membuka jalur pintas langsung menuju permukaan tanah di luar reruntuhan kuil kuno. Sinar matahari senja yang hangat langsung menyambut mereka, menembus kabut tipis Lembah Bintang Kelabu yang mulai menipis.

Kaelen menggendong Lyra di punggungnya, melangkah mantap meninggalkan labirin bawah tanah yang kini telah terkubur oleh sejarah. Perjuangan mereka belum sepenuhnya usai, sebab di luar sana, masih banyak faksi lain yang mengincar rahasia dunia kultivasi. Namun untuk saat ini, lembaran baru telah terbuka, dan Kaelen siap menghadapi apa pun takdir yang menanti di depan mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!