Joshua Adrian Waldgrave patah hati mengetahui calon istrinya mencintai pria lain dan jatuh terpuruk dalam kesedihan. Ia lebih memilih menghilang selamanya dari kehidupan wanita yang dicintainya dan menutup pintu hatinya untuk wanita lain. Setelah bertahun-tahun tidak mendengar kabarnya, mantan tunangannya meninggal, karena kecelakaan.
Sementara itu ditempat lain seorang gadis bisu dan memiliki cacat di wajahnya menyimpan dendam selama bertahun-tahun terhadap orang-orang yang telah menghancurkan kehidupan keluarganya. Jalinan takdir mempertemukannya dengan Joshua yang mengharuskan pria itu terikat kepadanya, karena janjinya kepada seseorang di masa lalu yang tidak dapat ia tolak. Janji yang mengharuskannya menjaga gadis itu seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman pertama
Angelica langsung menarik Phillippa begitu gadis itu tiba di toko bunga, lalu membawanya ke belakang toko dan mulai mengintograsinya mengenai Tristan. "Philly, kamu sudah bertemu dengannya, kan?''
Phillippa mengangguk."Apa dia tampan seperti yang dikatakan Charlotte yang menyebalkan itu?''
Phillippa mengangguk lagi. Angelica terlihat begitu senang.''Aku ingin bertemu dengannya dan berkenalan dengannya. Kamu mau kan mengenalkan aku kepadanya?''
Angelica menatap Phillippa dengan tatapan memohon. Gadis itu mengangguk dan Angelica langsung memeluknya dengan senang. Mereka kembali masuk dan para pembeli sudah mulai berdatangan. Seperti biasa toko bunga happy flower kembali dipenuhi oleh para pembeli dan keduanya kembali disibukkan untuk melayani para pembeli. Pada jam istirahat siang ,Phillippa keluar toko untuk membeli makan siang untuknya dan Angelica. Ketika ia melewati sebuah taman, ia melihat sekumpulan orang, karena penasaran Phillippa pergi ke sana. Di sana ia melihat Charlotte dan Tristan. Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Charlotte menatap marah kepada Tristan, sedangkan pemuda itu bersikap tenang dan tersenyum puas. Charlotte kemudian berbalik dan langsung pergi dengan rasa marah.
Phillippa baru tahu alasannya kenapa Charlotte tadi terlihat begitu marah, ketika ia mendengar pembicaran orang-orang disekitarnya. Tristan baru saja mempermalukannya di depan teman-temannya. Pria itu telah menolak cinta Charlotte untuknya. Harga dirinya telah terluka. Seharusnya Tristan tidak perlu berbuat seperti itu kepadanya meskipun Charlotte adalah gadis yang angkuh dan sombong, memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi bahwa tidak ada seorang pun pria yang dapat menolaknya, Charlotte seharusnya tidak diperlakukan seperti itu. Sesaat Phillippa melihatnya menangis setelah ia pergi dari taman. Gadis itu merasa kasihan kepadanya meskipun ia dan Charlotte tidak memiliki hubungan yang baik, karena wanita itu sering mengejeknya sejak ia datang ke kota ini.
♫♫♫♫
Ketika hari menjelang sore, Tristan datang ke toko bunga membuat Angelica terpana tidak percaya. Berkali-kali ia mengerjapkan matanya untuk menyakin dirinya ada makhluk tampan di depannya. Phillippa menghampiri Angelica, lalu memperkenalkan kepadanya kalau dia adalah Tristan. Angelica terkejut. Itu wajar karena ini pertama kalinya Angelica bertemu dengan Tristan. Hal itu juga sama yang dirasakan olehnya saat pertama kali melihatnya bahkan ia sempat berhenti bernapas ketika melihatnya.
"Halo Angelica!''sapa Tristan.
"Ha...halo!''
Tatapan Angelica masih terpaku kepada Tristan. Mata abu-abunya berkilat penuh kekaguman. "Kamu sungguh tampan,''kata Angelica blak-blakan. Tristan hanya tersenyum menanggapi perkataannya.
"Aku datang kesini untuk menjemput Philly."
Angelica melirik otomatis kepada Phillippa. Gadis itu hanya menundukkan kepalanya karena malu bercampur rasa bersalah kepada Angelica. Ia tidak tahu Tristan akan datang menjemputnya dan itu membuatnya sedikit terkejut. Tristan langsung meraih tangan Phillippa.
"Ayo kita pulang,''ujarnya dengan suara lembut.
Sebelum pergi Phillippa melihat Angelica masih berdiri di tempatnya sambil menatapnya penuh tanda tanya. Ia yakin Angelica akan banyak bertanya saat mereka bertemu lagi.Dalam perjalanan pulang, Trisatan mengayuh sepeda miliknya, sedangkan gadis itu duduk di belakangnya dengan setengah memeluk Tristan membuat wajah Phillipa merona merah. Ia sama sekali belum pernah berada sedekat ini dengan seorang pria apa lagi memeluknya kecuali ayahnya. Aroma sabun lemon tercium olehnya. Punggung Tristan begitu kuat dan kokoh. Gadis itu menyandarkan kepalanya di punggung Tristan dan sepertinya pria itu tidak keberatan.
Sebelum Phillippa masuk ke dalam rumah, mereka berbincang-bincang di halaman depan. Ia begitu terpesona dengan pria dihadapannya. Phillippa menyukai lesung pipi pria itu ketika tertawa maupun tersenyum. Rambut pirang yang sudah agak panjang dan menutupi dahinya semakin mempertegas ketampanannya. "Sebaiknya kamu masuk. Besok aku akan datang lagi,''ucapnya.
Phillippa mengangguk dan kembali menyerahkan secarik kertas kepada Tristan.
Terima kasih sudah mengantarkanku pulang.
Tristan tersenyum dan tanpa Phillippa duga pria itu mengecup pipinya.'' Sampai jumpa lagi!''
Gadis itu menatap kepergian pria itu sampai sosoknya tidak terlihat lagi. Ia terkejut ketika mendapati ayahnya telah berdiri di depan pintu. "Sepertinya kalian berdua sangat akrab. Apa kamu menyukainya? Apa kamu jatuh cinta kepadanya?''cecar ayahnya.
Pertanyaan ayahnya menohok hatinya. Apa benar ia sudah jatuh cinta kepadanya? Ia memang menyukai dan mengangguminya. Tristan adalah pria baik dan tidak pernah mempedulikan atas kekurangannya meskipun ia baru mengenal sosok pria itu tadi pagi.
"Ayah tidak melarangmu untuk dekat dengan seorang pria, tapi kamu harus hati-hati apa yang kamu rasakan kepada pria itu. Tristan Raven memang pria tampan banyak wanita yang menyukainya dan dia juga berasal dari keluarga yang cukup kaya di kota ini. Ayah tidak ingin kamu mimpi terlalu jauh sekalinya kamu terjatuh rasanya akan sakit. Mengerti!''
Phillippa mengangguk.
"Sekarang bersihkan badanmu sebentar lagi kita makan malam,''perintah ayahnya. Phillippa pun segera masuk ke dalam rumah .
♫♫♫♫
Sesuai janjinya Tristan datang keesokkan paginya. Dengan senyuman cerahnya pria itu menyapanya.''Hai!''
Hai!kata Phillippa disecarik kertas.
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan."
Dengan terburu-buru Phillippa menulis,lalu diperlihatkan kepada Tristan.
Aku harus meminta izin kepada ayahku dulu.
"Baiklah."
Baru saja Phillippa akan mencarinya di halaman belakang, Ayahnya sudah berada di hadapan mereka berdua. Aegenis menatap tajam Tristan.
"Selamat pagi tuan Bloomwood!''
"Pagi!''
"Aku datang kemari untuk mengajak jalan-jalan Philly sebelum ia pergi bekerja.'' Phillippa menatap ayahnya dengan memohon. Aegenis menarik napas panjang.
"Baiklah." Phillippa langsung merangkul ayahnya.
Tristan meraih tangan Phillippa. Mereka pergi dengan berjalan kaki. Pria itu tidak melepaskan genggam tangannya sejak pergi dari rumah. Tangannya begitu besar, kuat dan juga hangat. Diam-diam Phillippa menyukainya. Tristan belum mengucapkan sepatah kata pun selama mereka berjalan dan ia tidak tahu kemana Tristan akan membawanya. Tidak lama kemudian mereka sudah berada di alun-alun kota.
"Ayahmu kelihatannya sangat baik dan pria yang ramah. Kamu beruntung memiliki ayah seperti ayahmu."
Ayahmu juga baik.
"Kamu tahu, kamu berbeda dengan kebanyakan gadis yang pernah aku temui. Kamu cantik,''ujarnya sambil mengelus pipinya. Phillippa seakan terbang melayang saat Tristan menyebut dirinya cantik. Ini pertama kalinya ada seorang pria yang mengatakan itu kepadanya. Phillippa tersenyum malu-malu dan perlahan-lahan wajahnya bersemu merah. Tristan akhirnya bicara mengenai perkembangan yang ada di kota ini dan kemajuan apa saja yang ia lihat setelah ia kembali kesini.Semua mata memandang ke arahnya, terutama para wanita muda yang masih single menatap iri kepadanya, tapi Tristan seolah tidak peduli dan genggam tangannya seamakin erat. Mereka berjalan menjauhi alun-alun dan suasananya disekitar menjadi sepi hanya ada suara kicauan burung. Hampir semua orang di kota itu sudah terbiasa melihat wajahnya yang cacat, sehingga Phillippa sudah mulai terbiasa cara mereka memandangnya.
Tristan membawa Phillippa ke sebuah taman. Bunga-bunga sedang bermekaran membuat pemandangan disekelilingnya menjadi sangat indah. Tristan menyuruh Phillipa untuk duduk disebuah bangku kayu.
''Tunggu disini! Aku akan segera kembali."
Tristan pergi begitu saja dan sosoknya cepat menghilang. Angin sepoi-sepoi kembali berhembus membuat Phillippa merasa mengantuk. Ia memejamkan matanya mendengarkan suara desiran pohon yang tertiup angin.Mata hijau terangnya terbuka, ketika ia melihat Tristan membawa beberapa kuntum bunga mawar merah untuknya.
''Untukmu."
Terima kasih.
Tristan tersenyum ketika membacanya. "Kamu suka?''
Phillippa mengangguk, lalu menciumi dan menghirup aroma bunganya. Ia menyadari Tristan sedang memperhatikannya, tatapan mata caramelnya menatap tajam ke arahnya. Wajah Tristan sudah berada begitu dekat dengannya sehingga Phillippa dapat mencium aroma sabun cukur di wajah tampan Tristan. Rasa hangat dan lembap kemudian ia rasakan ketika bibir Tristan menyentuh bibirnya. Phillippa terkejut tidak tahu harus berbuat apa. Ini pertama kalinya ia dicium oleh seorang pria dan juga sekaligus ciuman pertamanya. Bibir Tristan mulai bergerak dengan lembut dan rasanya sangat menyenangkan.
Phillippa memejamkan matanya menikmati setiap gerakan bibir Tristan di bibirnya. Pria itu melepaskan ciumannya, lalu ia tersenyum kepadanya sambil mengelus pelan kepalanya.''Aku akan mengantarmu pergi bekerja."
Gadis itu menolaknya dan menyuruh Tristan untuk pulang dan dalam perjalanannya menuju toko bunga tempatnya bekerja, Phillippa kembali mengunjungi toko musik dan bermain piano kembali. Kali ini gadis itu memainkan Chopin etude op 10 no.4 dengan sangat indah. Mr. Smith sangat senang ketika gadis itu sukses memainkan musik itu.
"BRAVO!"
Mr.Smith bertepuk tangan dengan keras. "Siapa yang mengajarimu bermain piano?"
Ibuku.
"Pasti ibumu pintar bermain piano."
Phillippa mengangguk.
"Apa kamu pernah masuk ke sekolah musik?"
Phillippa menggelengkan kepalanya.
"Aku punya seorang kenalan dia pemilik sekolah musik. Aku akan merekomendasikanmu kepadanya. Aku yakin dia akan sependapat denganku tentang bakat musikmu."
Aku tidak memiliki uang untuk sekolah di sana.
"Jangan khawatir kamu bisa sekolah gratis di sana jika kamu mendapatkan beasiswa. Tentu saja harus lulus ujian dulu."
Gadis itu terlihat sangat senang.
"Aku akan mendaftarkanmu untuk mendapatkan beasiswa itu."
Terima kasih Mr. Smith. Anda sangat baik.
"Aku tak ingin orang mensia-siakan bakat musikmu."
Phillippa memeluknya sebagai ungkapan rasa terima kasihnya, lalu ia pergi menuju toko bunga. Gadis itu bertabrakan dengan seseorang ketika keluar toko.
"Kamu tidak apa-apa?"tanya pria itu.
Gadis itu mendongakkan kepalanya dan ia terkesiap melihatnya. Seorang pria tampan tinggi besar sedang memandang dirinya dengan mata turquoisenya yang indah. Ia langsung pergi begitu saja membuat pria itu terheran-heran. [ ]